
Sebelum kalian membaca, mohon ditekan ya jempol dibawah dan vote. Like dan vote kalian membuat saya semangat berkarya. Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
*****
Kantor Keluarga Pratama.
"Kalau terus seperti ini, perusahaan ini akan bangkrut! Sudah banyak pemegang saham yang menjual sahamnya pada perusahaan. Bagaimana ini Pak Bagas?"
"Saya tidak mau perusahaan ini bangkrut, Pak! Anda sebagai pemimpin harus mencari solusi!"
"Kenapa semua terjadi? Anda harus intropeksi diri anda, Pak! Anda harus bertanggung jawab atas semua ini!"
"Cari solusi atau Bapak segera mengundurkan diri dari sini! Anda tidak becus dalam memimpin!"
Makian demi makian harus diterima Bagas. Bagas yang arogan harus menerima semua itu, walau semua masalah ini bukan kesalahan dia sepenuhnya. Bagas bersumpah dalam hatinya siapa pun orang yang telah melakukan ini, tidak akan dimaafkan olehnya.
*****
Rumah Sakit tempat Pak Freddy di rawat.
Bu Lina menengok kanan - kiri. Situasi sepertinya aman. Dia masuk ke sebuah ruangan VIP. Di sana terdapat Pak Freddy yang sedang asyik makan buah yang diberikan pihak rumah sakit.
"Papa enak sekali makan di sini. Mama sendirian di luar," sewot Bu Lina kesal.
"Bagaimana akting Papa? Hebat bukan?" tanya Pak Freddy bangga.
Bu Lina menghampiri suaminya, kemudian dia berkata lagi, "Papa memang hebat. Situasi sudah sesuai rencana. Aku harap Bagas segera putus dengan Evo, dan menikah dengan Dea. Pernikahan mereka harus dilaksana demi kemajuan Perusahaan Pratama."
"Benar kata Mama, kita bisa semakin jaya," senyum Pak Freddy.
"Bagaimana situasi di kantor?" tanya Mama.
"Sedang rapat pemegang saham dan para pejabat. Aku sudah mendesak mereka untuk memecat Bagas. Kita tunggu saja kelanjutannya," ucap Pak Freddy.
*****
Perusahaan Pratama di Malaysia.
"Apa? Kenapa bisa itu terjadi? Perusahaan Pratama bangkrut?" tanya Mbak Meli selaku salah satu pemimpin di Perusahan Pratama cabang Malaysia.
"Iya, Bu. Sudah ada beritanya di Indonesia. Ibu bisa cek beritanya," ujar salah satu karyawan yang bisa menggunakan bahasa Indonesia.
Mbak Meli langsung menyalakan laptonya, lalu dia streaming menggunakan salah satu aplikasi dari laptopnya. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihat olehnya. Kenapa tiba - tiba perusahaan yang besar ini harus bangkrut. Pasti ada sesuatu yang terjadi. Pasti ada aktor dibalik jatuhnya perusahaan ini. Mbak Meli merasakan ada yang tidak beres.
"Tolong saya untuk cari tahu apa yang terjadi di Indonesia. Sekarang!" perintah Mbak Meli.
"Baik, Bu. Saya akan segera cari tahu," ucap karyawan itu mendengar perintah bosnya itu.
"Aku harus bertanya pada, Evo."
*****
Rumah Maureen.
"Maureen, Maureen!" panggil Mamanya Maureen. Maureen keluar dari kamarnya. Dia bingung kenapa Mamanya begitu panik memanggil dirinya.
"Ini bukan perusahaanmu? Katanya ada skandal antara pemimpin perusahaan dengan salah satu karyawannya. Pemimpinnya berbuat mesum dengan para wanita," jelas Mama Maureen panik.
"Iya, Ma. Ini Perusahaan kantor Maureen bekerja," ucap Maureen kemudian duduk. Maureen melongo melihat pemberitaan yang tidak benar ini. Apa lagi perusahaan dia akan terancam bangkrut hanya karena masalah sepele ini?
Pemberitaan macam apa ini? Siapa maksudnya? Apa maksudnya Bagas dengan Evo? Bukankah mereka dulu sempat mau menikah? Bukankah mereka saling mencintai? Kenapa pemberitaan ini baru muncul sekarang? Aku harus menelepon Evo. batin Maureen.
Maureen segera mengambil telepon genggamnya. Dia langsung mencari kontak nama Evo. Lalu menekannya. Bunyi nada sambung, tetapi tidak diangkat.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak dapat dihubungi, mohon mencoba beberapa saat lagi," ucap operator.
"Kenapa di saat seperti ini malah Evo susah di hubungi? Sudah kemarin pergi tanpa izin," trungut Maureen tidak percaya.
*****
Rumah Sakit Akan Sehat.
Tok, tok, tok.
Bunyi suara pintu ketokan ruang kamar Dina. Mama Dina membuka pintu. Dia bingung yang datang seorang badut. Badut itu langsung masuk tanpa izin.
"Eh, Mbak atau Mas Badut, kenapa langsung masuk?" tanya Mama Dina heran. Dina yang melihat badut itu langsung kebingungan dan juga senang. Dina memang suka badut dari dulu.
Badut itu membawa gitar yang disangkutkan dalam tubuh. Kemudian dia menghampiri Dina yang tampak begitu bahagia dengan kehadiran badut itu. Badut ini mengambil sesuatu dari belakang tubuhnya. Dia memberikan bunga mawar pada Dina.
"Untuk aku?" tanya Dina tidak percaya. Badut itu mengangguk. Dina mengambil bunga mawar tersebut dari tangan sang badut.
Badut itu membalikkan gitar yang posisinya tadi ada di belakang tubuhnya. Badut meminta izin untuk menyanyikan satu lagu untuk Dina.
"Kamu mau bernyanyi untukku?" tanya Dina lagi.
Badut mengangguk, tanda dia mau bernyanyi untuk Dina. Badut sama sekali tidak bicara, dia hanya memberi isyarat dengan tubuhnya.
"Boleh! Aku sudah bosan di sini. Bernyayilah untukku," ucap Dina memberi izin.
Badut itu pun menyanyikan sebuah lagu untuk Dina.
"Maafkan aku tak bisa memahami maksud amarahmu.
Membaca dan mengerti isi hatimu.
Ampuni aku yang telah memasuki kehidupan kalianMencoba mencari celah dalam hatimu
Aku tahu ku takkan bisa menjadi seperti yang engkau minta.
Namun selama nafas berhembus aku kan mencoba menjadi seperti yang kau minta.
Ampuni aku yang telah memasuki kehidupan kalian.
Mencoba mencari celah dlm hatimu
Seperti yang kau minta.
Aku kan mencoba menjadi seperti yang kau minta.
Maafkan aku tak bisa memahami maksud amarahmu.
Membaca dan mengerti isi hatimu.
Ampuni aku yang telah memasuki kehidupan kalian.
Mencoba mencari celah dalam hatimu
Seperti yang kau mintaA.
ku kan mencoba menjadi seperti yang kau minta.
(Lagu ini diambil dari Chrisye - Seperti Yang Kau Minta)
Tes, tes, tes.
Air mata Dina menetes di pipi. Dina kenal betul dengan suara ini. Sang badut berhenti bernyanyi karena melihat Dina menangis. Badut kalang kabut melihat wanita itu menangis. Badut itu menghapus air mata Dina.
"Maafkan aku, Rafael. Maafkan aku," tangis Dina pecah. Mama Dina bingung dengan kelakuan anaknya. Rafael tidak ada di sini. Kenapa dia meminta maaf tanpa ada orang tersebut.
"Mama cari Rafael dulu ya, Nak," ucap Mama.
"Ma, tidak usah,"ucap Badut kemudian membuka kostumnya. Ternyata badut itu adalah Rafael. Rafael kemudian memeluk istrinya.
"Jangan marah padaku ya, Din. Beberapa hari tidak bertemu denganmu, rasanya aku ingin bunuh diri. Tolong kalau aku ada salah beritahu padaku, agar aku dapat memperbaiki kesalahanku," pinta Rafael. Dina menangis sejadi-jadinya.
"Maaf, maaf, maaf. Seharusnya aku tidak cemburu denganmu. Aku yang salah. Maafkan aku yang terpancing emosi dan tidak menanyakan kebenarannya." Dina terus menerus meminta maaf pada Rafael.
"Sudah, sudah. Jangan di bahas. Jaga kesehatanmu dan calon bayi kita yang sekarang ada di dalam kandungan kamu," ujar Rafael menghapus air mata istrinya itu.
Maureen dan Ibu benar, harusnya aku bertanya pada Rafael tentang kebenaran itu. Tidak mungkin Rafael dan Evo selingkuh dan main di belakangku. Mereka berdua tidak sehina itu. Aku harus belajar untuk tidak emosi.
*****
"Halo," sapa aku.
"Hai, Vo! Bagaimana kabarmu?" tanya seseorang yang sangat aku kenal suaranya.
"Mbak Meli! Senang aku mendengar suaramu," ucapku jujur.
"Ada apa dengan perusahaan? Mengapa jadi seperti ini?" tanya Mbak Meli lagi bingung.
Akupun menceritakan kejadiannya pada Mbak Meli.
"Gila. Siapa yang berani menyebarkan fitnah sekeji ini pada Bagas? Aku rasa ada yang sengaja ingin Bagas didepak dari perusahaan Pratama. Bagaimana keadaan Bagas sekarang?" kata Mbak Meli lagi.
"Hari ini Bagas rapat darurat dengan para pejabat dan para pemegang saham yang belum menjual saham mereka. Akupun lagi menunggu kabar," jelas aku.
"Kabari aku bila terjadi sesuatu pada kalian. Kami di sini juga harap - harap cemas mendengar berita itu. Doa aku menyertai kalian," ucap Mbak Meli. Kemudian dia menutup teleponnya.