
"Turun," perintah Bagas dingin. Aku tidak mau.
Kenapa dia seperti itu padaku? aku bukan siapa-siapa dia, kenapa begitu memaksa?
Bagas menarik tanganku dan memaksa untuk turun. Dia menyeretku dan membawaku masuk ke apartemennya.
" Bagas, sakit," jeritku. Dia tidak mempedulikanku.
Di Apartemen Bagas.
Bagas melepaskan tanganku setelah kami masuk apartemennya. Dia menutup pintu.
"Kenapa pesanku tidak di balas?" tanya Bagas geram. Aku diam.
"Siapa lelaki itu? Kenapa kalian berduaan?" Tak satupun pertanyaan Bagas yang ku jawab.
"Apa kau juga menjual dirimu padanya?"
"Aku tidak rendahan seperti itu Pak Bagas!" marahku. Aku benar-benar marah dengan tuduhan Bagas. Kemarin aku memang butuh uang untuk penyembuhan mama. Akupun terpaksa dan terjebak dengan ini semua.
"Papa benar, kamu wanita rendah. Kamu hanya suka dengan uang. Berapa harga yang harus aku bayar malam ini?" tanya Bagas semakin merendahkanku. Dia memandangiku dari atas hingga ke bawah. menjijikan.
Pak!
Aku menampar Bagas.
"Pikiranmu kotor Bagas. Tidak semua perempuan bisa kamu perlakukan seperti ini," ujarku. Aku menggigit bibir bawahku, menahan tangis.
Tuhan, jangan biarkan aku menangis di depan lelaki ini.
"Kamu munafik, Evo."
Bagas menarikku, lalu melemparku ke tempat tidur. Dia menciumku dengan kasar. Aku tak mampu melawan. Tenaga Bagas terlalu kuat untuk ku lawan.
"Lihat, betapa munafiknya dirimu. Mulutmu berkata tidak tapi tubuhmu berkata yang lain".
"Bagas, ku mohon jangan hancurkan hidupku lagi," Aku tahu aku sudah rusak, tapi aku masih punya harga diri. Ucapku berharap Bagas berhenti. Bagas melihat aku menangis. Dia menghentikan aksinya.
"Keluar! Pergi kamu dari sini!" usirnya. Aku segera memakai bajuku kemudian aku pergi meninggalkan Bagas.
"Betapa bodohnya aku ini," ucap Bagas menyesal setelah aku pergi.
.
.
.
.
.
Keesokan hari, di kantin.
"Vo, kamu lagi bertengkar ya sama Pak Bagas?"
"Kenapa bertanya seperti itu?"
"Perasaan Pak Bagas jelek hari ini. Tadi divisi kita lagi rapat, Pak Bagas marah-marah. Biasanya Pak Bagas santun dan ramah." Dina bercerita.
"Aku bukan siapa-siapa Bagas, Dina. Bagas sudah punya tunangan."
" Bukannya kamu tunangan Pak Bagas?" kata Dina. Aku menghardik Dina. Dina menghindar kabur mencari makan.
"Ada apa?" tanya Maureen.
" Tidak apa-apa," jawabku singkat.
"Bagaimana hasil penjualan novelmu?" Maureen mengalihkan topik.
"Kemarin Rafael baru kasih contoh bukunya yang dicetak. Semoga novel ini bisa mempertemukanku dengan Karel."
"Vo, Apa aku boleh memberimu saran?"
"Apa?"
"Lupakan Karel, Vo. Jangan begini terus. Selama ini kamu terus menunggu orang seperti dia. Maksudku kamu ngga tau kan Karel seperti apa dia, apakah sikapnya masih seperti dulu? Apakah dia masih mencintaimu? Apakah dia orang baik? Apa dia benar-benar pantas untukmu?"
Ucapan Maureen seperti tamparan keras buatku. Apakah penantianku selama sepuluh tahun ini ngga akan sia-sia?
"Jangan sampai, ketika ada yang cinta sama kamu, tapi karena kamu hanya mencari sosok yang belum tentu mencintaimu, kamu kehilangan orang itu. Contohnya Pak Bagas," lanjutnya lagi.
"Pak Bagas tidak cinta padaku, Maureen.Dia itu playboy. Kamu ngga tahu itu."
"Dia cinta padamu, Evo. Apakah kamu ngga berpikir, dia mengurusi semua pemakaman Mamamu. Dia yang menunggu jenazah Mamamu hingga tidak tidur. Dia mengeluarkan biaya semuanya, Vo. Sadar," Emosi Maureen keluar. Seandainya Maureen tahu, Bagas telah merenggut kehormatanku.
.
.
.
.
Sudah beberapa hari aku tidak melihat Bagas di kantor.
Dia kenapa ya? Apa dia sedang sakit? Tunggu, kok aku jadi cemas gini ya?
"Vo, Pak Bagas ke mana?" tanya Maureen saat kami sedang bekerja.
Aku mengangkat kedua bahu, lalu berkata, "Tidak tahu. Tidak peduli juga."
.
.
Di kantin.
"Gaessss, kalian tahu ngga?" Kode Dina mau menyampaikan gosip.
"Apaaa?" tanya kami berbarengan.
"Rabu kemarin Pak Bagas dan Nona Lisa resmi bertunangan. Tapi dirahasiakan. Itu kemauan Pak Bagas katanya."
Maureen melirikku, "Kamu tahu kabar ini, Vo?"
Aku menggeleng. "Nggak. Aku bukan siapa-siapanya, Maureen."
"Berarti selama ini aku salah paham ya. Padahal aku kira Pak Bagas itu cinta banget sama kamu. Ternyata cuma sebatas bos dan pegawai ya."
.
.
.
Malamnya di rumah kontrakan.
Tok, tok.
Aku melihat jam. Pukul 12 malam. Siapa yang datang selarut ini?
Tok, tok, tok.
Bunyi ketukan pintu. Aku membuka pintu kamarku. Aku mencari sapu, kalau pencuri aku bisa pukul dengan sapu.
"Siapa?" tanyaku. Tidak ada yang menjawab.
Tok, tok, tok.
Ketukan pintu terulang lagi.
Aku membuka pintu.
Bruk!
"Ya, Tuhan, PAK BAGAS?!" Aku mengangkat Bagas untuk masuk ke rumah. Kemudian aku menaruhnya di kamarku.
"Pak Bagas! Pak, kamu kenapa?" tanyaku panik. Aku mengecek suhu tubuhnya dengan tangan. Bagas panas sekali. Aku mengambil alat pengukur tubuh, segera memeriksa.
"Ya, ampun 40 derajat panasnya."
Aku segera mengambil kompres, dan obat yang biasa aku sediakan.
"Evo, Evo. Jangan tinggalkan aku," Bagas mengigau. Setelah mengambil, aku memberikan obat dan mengompres Bagas.
"Ada apa denganmu, Bagas? Apa yang terjadi?"
.
.
.
Keesokan paginya.
Bagas mengelus kepalaku, karena gerakan itu, aku terbangun.
"Bagaimana keadaanmu?" tanyaku. Bagas masih lemas. Aku memegang kepalanya memeriksa suhu badan Bagas.
"Masih panas," ucapku lagi. Bagas masih terdiam.
"Aku lapar," ucap Bagas.
"Apa yang mau kamu makan? Biar aku masak."
"Aku malas makan, Vo, tapi aku lapar."
"Kamu harus makan, aku masak bubur dulu ya. Kamu tunggu di sini."
Sebelum ke dapur, aku mengambil HP. Memberi kabar pada Mbak Meli kalau hari ini aku tidak masuk kerja. Kasihan Bagas kalau aku tinggal sendirian dengan keadaan sakit seperti ini.
Mbak Meli membalas : Oke, lekas sembuh untukmu.
Aku terpaksa berbohong. Selesai masak, aku kembali ke kamar.
"Makanlah," kataku sambil memberikan semangkok bubur.
"Suapin," ujarnya manja.
"Manja," ketusku. Kemudian aku menyuapi Bagas makan. Bagas menatapku terus menerus.
"Jangan melihatku seperti itu."
"You look so beautiful, Evo." Aku tersipu malu.
"Gombal. Habiskan makanan ini, lalu makan obat," perintahku.
"Baik Nyonya Pratama," Bagas tersenyum. Lalu dia menghabiskan makanan yang aku buat.
"Terima kasih, Vo. Kamu tidak kerja?" tanya Bagas.
"Kerja. Ini aku lagi kerja. Kerja bareng Pak Direktur Bagas Pratama," kataku jahil. Aku dan Bagas tertawa. Untuk pertama kalinya aku melihat Bagas tertawa. Bagas kelihatan ganteng.
"Wow."
"Kenapa?" tanya Bagas bingung.
"Untuk pertama kali ini aku melihat kamu tertawa."
"Aku juga manusia, Evo. Bisa tertawa."
Aku memberikan obat kepada Bagas. lalu aku berkata, "Kalau sampai siang ini tidak turun panasmu, kita berobat ya."
Bagas mengangguk setuju.
Aku mengambil piring bekas makanan Bagas untuk di cuci. Tangan Bagas memegang tanganku.
"Vo...." Panggil Bagas.
"Kenapa?"
"Terima kasih sudah merawatku," ucapnya tulus.
"Aku yang harusnya berterima kasih karena kamu, pemakaman ibuku berjalan dengan lancar. Jadi kita impas," Aku tersenyum. Aku melihat sisi baru seorang Bagas. Seorang direktur perusahaan ternama. Entah kenapa senyum itu mirip sekali dengan senyum Karel. Mata Karel seperti mata Bagaa saat tersenyum, memancarkan cahaya yang membuatku bahagia. Apa aku mulai jatuh cinta dengan Bagas?