MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Perasaan yang Mengganjal



Hai, hai! Bagaimana kabar kalian? Bulan ini MOY akan segera tamat. Tetap setia ya. Minta like dan votenya ya karena MOY mau tamat. Hehehehe. Selamat membaca.


*****


 


 


Kantor Pratama.


 


 


  Evo kembali ke kantor dengan perasaan kecewa. Kotak besi yang dicari olehnya tidak ditemukan. Dia menuju ke lift untuk naik ke lantai atas, ruangan Bastian. Lift pun terbuka, Evo masuk ke dalam lift tersebut.


 


 


Ketika pintu hendak tertutup, ada sebuah tangan menghalangi pintu tersebut. Evo terkejut karena tangan itu adalah tangan milik Bagas.


 


 


  Bagas masuk ke dalam lift, setelah itu pintu lift tertutup.


 


 


“Aku mau bicara padamu,” kata Bagas dengan nada dingin.


 


 


“Aku pikir tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan,” ucap Evo lebih dingin. Kala itu yang menggunakan lift saat itu hanya kami berdua.


 


 


  Bagas memegang tangan Evo, dia begitu marah karena mendengar perkataan Evo padanya.


 


 


  “Kenapa kamu melakukan ini semua padaku? Apa salahku padamu?” tanya Bagas kesal.


 


 


  Evo melihat Bagas dengan tatapan tajam, melepaskan genggaman Bagas dari tangannya. Dia sudah lelah dengan semua yang Bagas lakukan padanya.


 


 


  “Aku yang harus bertanya seperti itu, Gas, kepada kamu, dan keluargamu!” ujar Evo mulai memberanikan diri.


 


 


Lift berhenti di lantai lima. Bagas menarik tanganku untuk mengikuti dirinya, tapi aku menahan tubuhku agar tidak menurut.


 


 


  “Lepaskan tanganmu atau aku akan menjerit di sini!” ancam Evo. Wanita itu tidak ingin lagi kembali terjebak oleh Bagas. Sudah terlampau lama dia menahan diri untuk tidak melawan karena rasa cintanya pada Bagas, tapi saat ini, semua mau diakhiri oleh Evo.


 


 


  “Silahkan kamu menjerit, tapi kita butuh bicara!” kata Bagas semakin kasar.


 


 


“Apa kamu lupa kalau saat ini akulah pemegang saham di perusahaan ini? Aku tidak akan segan untuk mengusirmu, Gas!”


 


 


  Bagas menatap Evo penuh kemarahan, dengan kasar dia melepas tangan Evo. Dengan segera Evo menutup lift tersebut.


 


 


  Evo memegang dadanya. Jantungnya berdetak sangat kencang, untuk pertama kalinya, dia berani melawan Bagas. Wanita itu harus bertindak tegas pada Bagas, karena menurutnya Bagas sudah tidak mencintai dia lagi.


 


 


*****


Restoran.


 


 


   “Jadi? Siapa orang itu?” tanya Bastian penasaran.


 


 


  “Nama dia adalah Karel,” sebut Maureen.


 


 


Ada getaran di dalam diri Bastian. Perasaan yang tidak dapat dia deskripsikan sekarang. Rasa ini begitu menyenangkan hatinya. Ternyata selama dua belas tahun terakhir, Evo selalu menanti dirinya. Jadi selama dua belas tahun itu, Evo selalu mengingat janji diantara mereka berdua.


 


 


  “Namanya persis sekali dengan namamu. Aku dan Evo sempat berpikir kalau kamu adalah Karelnya Evo,” cerita Maureen lagi.


 


 


  Bastian terdiam membisu, rasanya dia ingin membongkar jati diri dia sebenarnya kepada Maureen.


 


 


  “Aku ingat sekali, usaha Evo mencari cinta pertamanya itu. Dia sampai menerbitkan novel agar bisa memenuhi janji dia terhadap cinta pertamanya itu,” kata Maureen.


 


 


  “Benarkah?”


 


 


  Ada perasaan bangga di dalam hati Bastian, ternyata selama ini ada yang menunggu dia selama dua belas tahun terakhir. Wanita yang bernama Evo itu menepati janjinya.


 


 


  “Ya, Bas. Saat itu aku berpikir Evo manusia yang tidak masuk akal. Dia benar – benar sangat menunggu pria itu. Sayangnya pria itu tidak bisa ditemukan.”


 


 


  Bastian meneguk kopinya. Dia menyimak setiap kata yang dilontarkan dari mulut Maureen. Bastian ingin mengetahui lebih dalam lagi tentang Evo dan cinta pertamanya.


 


 


  “Apakah menurutmu kalau Evo bertemu dengan cinta pertamanya itu, mereka akan bersatu?” tanya Bastian penuh pertimbangan. Dia ingin tahu sudut pandang dari sahabat Evo, agar Bastian dapat mengambil keputusan.


 


 


  “Entahlah, karena saat ini aku merasa Evo sangat mencintai Bagas,” ujar Maureen.


 


 


Perkataan Maureen membuat Bastian mengurungkan niatnya untuk memberitahu kebenarannya.


 


 


*****


Rumah Rafael.


 


 


  Hari ini banyak sekali pekerjaan rumah yang dikerjakan oleh Dina. Dari mencuci pakaian, memasak, hingga momong anak. Bagi dia menjadi seorang ibu adalah anugerah terindah diberikan Tuhan padanya.


 


 


  Dina sedang di dapur. Dia membuat susu untuk kedua anak kembarnya. Tiba – tiba Dina merasakan sakit di sekitar perutnya. Sakit yang begitu hebat, hingga Dina merasa tidak mampu untuk menahannya, hingga membuat Dina jatuh di dapur lalu pingsan.


 


 


 


 


  Mama Dina mulai tidak sabar ketika Mike dan Nay menangis kencang. Sambil dibawanya Mike, wanita paruh baya itu menghampiri Dina ke dapur.


 


 


  “Dina, di mana kamu?” tanya Mama Dina.


 


 


   Perempuan tua itu sangat terkejut melihat Dina tergelatak di lantai.


 


 


  “Dina!!” jerit Mama Dina.


 


 


  Mama Dina  mulai berteriak meminta tolong kepada adik sepupu Dina. Adik sepupu Dina yang sedang tidak kuliah, keluar dari kamar karena mendengar suara teriakan dari Mamanya.


 


 


  Adik sepupu Dina yaitu Ana,  juga tampak terkejut. Dia segera mengambil ponselnya menelepon ambulans, kemudian setelah menelepon ambulans, dia menelepon kakak iparnya, Rafael.


 


 


  “Halo,” sapa Rafael.


 


 


  “Mas Rafa, tolong!” katanya.


 


 


“Ada apa, Na?” tanya Rafael panik. Tidak biasanya adik sepupu Dina, Ana, menelepon dirinya. Rafael sangat yakin ada hal genting saat ini.


 


 


  “Mbak Dina, Mas! Mbak Dina!” panik Ana.


 


 


  “Kenapa dengan Dina?” Rafael semakin panik.


 


 


  “Mbak Dina pingsan, Mas!”


 


 


  Detik itu juga Rafael pulang ke rumahnya.


 


 


*****


Kantor Pratama.


 


 


  Bagas tampak gelisah. Dia sangat murka dengan perlakuan Evo padanya tadi di lift. Bagas tidak menyangka Evo akan menolaknya berbicara. Sejak pertama bertemu, baru kali ini Evo menolaknya dengan ancaman.


 


 


Tok, tok, tok.


 


 


    Pintu ruangan Bagas di ketuk. Bagas tidak merespon, dia sedang malas untuk bertemu dengan siapapun saat ini.


 


 


  Orang yang mengetuk pintu, membuka pintu tersebut. Orang itu adalah Dea. Bagas tampak malas melihat kehadiran Dea saat ini.


 


 


  “Apa kamu sudah makan siang?” tanya Dea. Perempuan itu menghampiri Bagas, lalu memeluk Bagas dari belakang.


 


 


  “Sudah, tadi. Kamu datang terlambat,” kata Bagas dengan acuh.


 


 


  “Sayang sekali, padahal aku sengaja datang ke sini dengan tidak makan siang terlebih dahulu. Bagaimana kalau kamu menemaniku makan?” Dea mencoba merayu.


 


 


  “Baiklah, ayo!” kata Bagas. Dia malas berdebat dengan Dea saat ini. Perasaannya sangat tidak baik larena Evo.


 


 


  “Aku sangat mencintaimu,” ucap Dea.


 


 


  Mereka berduapun pergi keluar kembali.


 


 


  Di saat bersamaan, Evo yang sedang di toilet lantai lima keluar dari toilet. Toilet yang berada di lantainya masih rusak sehingga dengan terpaksa Evo ke toilet tersebut.


 


 


  Ketika Evo keluar, Evo melihat Bagas dan Dea sedang menuju ke lift. Lift tersebut dekat dengan toilet. Melihat sepasang kekasih itu, Evo bersembunyi. Sayangnya, Dea melihat Evo yang sedang sembunyi.


 


 


  Pikiran jahat menghampiri Dea. Dia melihat keadaan di lantai lima tampak sedang kosong. Kesempatan perempuan itu ingin membuat Evo cemburu.


 


 


  “Aduh, sayang!” kata Dea sambil mengucek matanya.


 


 


  “Kenapa?” tanya Bagas.


 


 


  “Mataku sakit. Tolong lihat mataku,” ujar Dea.


 


 


  Bagas melihat mata Dea dengan seksama. Tubuh mereka sangat dekat. Detik itu juga Dea mencium bibir Bagas.


 


 


  Melihat itu Evo terkejut, entah kenapa ada sesuatu yang menganjal dihatinya. Ada rasa tidak rela melihat kejadian itu.


 


 


 


 


*****


Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya. Minta tolong banget dilike ya.


Spoiler dikit ya episode besok Bastian akan memberi tahu semuanya pada Evo. Bagaimana kisahnya? Nantikan ya. Bagi votenya donk biar aku semangaat.. hahahaha..