
Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
*****
Malamnya di kediaman Bastian.
Baru saja kami tiba di kediaman Bastian setelah seharian kami berjalan – jalan. Hari ini Bastian dan Mbak Meli membelikan aku banyak barang. Barang yang mereka beri adalah baju, celana, lipstik, dan parfum. Tidak lupa Bastian membelikan ponsel untukku.
“Ah, capek sekali aku. Aku pergi ke kamar duluan ya. Rasanya sudah kangen dengan bantal dan gulingku,” ucap Mbak Meli.
“Jangan lupa mandi, Mbak,” usulku pada Mbak Meli.
“Aku sangat menjamin kalau Mbak Meli akan langsung tidur tanpa mandi. Dia tidak suka mandi malam.”
Mbak Meli menghampiri Bastian, lalu mengacak – acak rambut adiknya itu. “Sudah semakin pintar adikku ini ya.”
Melihat keakraban keduanya membuat hatiku senang. Seandainya saja aku punya saudara pasti akan akrab seperti mereka.
“Mbak Meli! Aku bukan anak kecil lagi!” protes Bastian.
“Ya, ya, ya. Kalau sudah besar harusnya berani mengungkapkan cinta,” ledek Mbak Meli kemudian kabur ke kamar.
“Mbak Meli!” teriak Bastian malu.
Aku melirik ke arah Bastian. Wajahnya memerah karena malu. Aku tidak pernah lihat Bastian seperti ini sebelumnya. Tingkahnya malu – malu seperti anak SMA yang sedang merasakan jatuh cinta.
“Apa aku tidak salah dengar?” tanyaku sambil tersenyum geli. Seorang Bastian tidak berani mengungkapkan cintanya.
Bastian semakin malu mendengar ucapanku. Dia memalingkan mukanya, wajahnya merah padam seperti kepiting rebus.
“Siapa wanita itu sampai bisa membuat kamu seperti ini?” goda aku padanya.
“Ah, sudahlah, Moy. Kamu sama saja dengan Mbak Meli hanya menggoda diriku saja.”
Aku menengok ke arah muka pria itu. Dia menutup mukanya dengan tangan. Benar – benar sangat lucu.
“Bas? Aku sangat penasaran. Siapa wanita itu sehingga bisa membuat kami begini?” tanyaku lagi.
Aku terus menggoda Bastian, tanpa aku sadari kakiku kena kaki Bastian dan membuat keseimbanganku goyah. Dengan sigap Bastian menangkap tubuhku. Tangan kanan Bagas memegang tanganku, tangan yang lain memegang tubuhku agar tidak terjatuh.
Bastian menatap aku, begitu pula aku. Suasana beberapa saat hening, hanya terdengar debaran jantung kami yang saling menyahut.
“Eh, maaf!” ucap Bastian mengembalikan tubuhku seperti semula.
“Te... terima kasih, Bas,” ucapku kikuk, dan lagi kami menjadi diam.
Ketika diselamatkan Bastian tadi, aku merasa tangan Bastian mirip sekali dengan tangan yang pernah menyelamatkan aku dulu. Tatapan matanya sama persis dengan seseorang yang selama ini aku cari.
“A… aku per … gi ke kamar dulu, aku mau, e, aku mau mandi,” pamitku pada Bastian. Bastian hanya menjawab dengan menangguk. Akupun pergi ke kamar meninggalkannya.
*****
Kediaman Keluarga Pratama.
“Apa? Apa mama tidak salah dengar? Mengapa bisa begitu, Papa?” tanya Bu Lina tidak percaya.
Terjadi krisis di Perusahaan Pratama. Semakin banyak yang menolak bekerja sama dengan perusahaan tersebut. Saham diperusahaan dijual lagi oleh Pak Freddy, termasuk saham miliknya dan Bagas.
“Kalau begini terus perusahaan kita akan bangkrut Mama! Saham Papa sudah saya jual tadi pagi untuk mempertahankan perusahaan! Satu – satunya cara adalah Bagas harus segera menikahi Dea atau mencari investor untuk memberikan bantuan.”
Bu Lina tidak bisa memaksa Bagas sekarang untuk menikahi Dea, karena sampai saat ini Bagas belum sadarkan diri. Satu – satunya cara adalah mencari bantuan dana pada orang lain, lalu membujuk para pengusaha lain untuk tetap bekerja sama dengan perusahaan.
“Tenang Mama. Besok Papa akan mengadakan rapat dengan para pemegang saham. Papa akan membujuk para pemegang saham untuk mencairkan dana untuk perusahaan kita. Tugas kamu adalah membuat Bagas sadar agar segera kita menikahkan Bagas dengan Dea,” kata Pak Freddy.
Walau terlihat tenang, hati Pak Freddy sangat cemas. Perusahaan yang mereka dirikan 15 tahun yang lalu diambang kehancuran. Dia harap badai ini akan segera berakhir.
“Semua karena Evolet Rebecca. Mama sangat kesal dengan wanita itu!”
Api amarah mulai muncul di dalam hati Bu Lina. Sejak awal berjumpa dengan Evo, firasat dia menyatakan bahwa wanita ini akan membuat pengaruh buruk untuk keluarganya. Terbukti sekarang firasat buruknya.
“Apa kamu sudah menyuruh polisi untuk menangkapnya?” tanya Pak Freddy.
“Sudah, tetapi polisi mengatakan tidak ada cukup bukti untuk menangkap Evo.”
“Apa kamu tidak memberikan foto tersebut?” Pak freddy bertanya lagi.
“Aku memberikannya, tapi itu bukan bukti kasus pembunuhan. Sial sekali kita,” kesal Bu Lina. Dia berpikir Evo sangat beruntung.
Pak Freddy memandang istrinya dengan seksama. Semua rencana untuk membuat Evo dijebloskan dalam penjara gagal sudah. Pak Freddy sedang memutar otaknya lagi. Rencana apa yang bagus untuk membuat dia semakin jauh dengan Bagas.
“Apa Papa punya rencana lagi?” tanya Bu Lina penasaran.
Pak Freddy menggelengkan kepala. Dia tidak sanggup lagi untuk berpikir.
“Papa sangat bingung, Ma. Sebaiknya kita berpikir bagaimana caranya Bagas untuk sadarkan diri?” ucap Pak Freddy.
*****
Rumah Maureen.
Maureen memegang erat foto dirinya dengan Evo. Entah kenapa dia menyesal telah melakukan hal yang jahat pada Evo. Sudah bertahun – tahun mereka bersahabat, tidak sedikitpun Evo pernah melakukan kesalahan padanya. Evo jarang berbohong padanya. Evo pula yang selalu mendukung disaat dia jatuh dan terluka.
Maureen mengambil telepon genggamnya di meja yang terdapat di samping tempat tidurnya. Lalu dia membuka telepon genggam tersebut. Dia mencari nama sahabatnya itu yaitu Evolet Rebecca.
Kemudian Maureen menutup teleponnya. Dia ragu kalau Evo akan menerima telepon darinya. Dia menggigit bibir bawahnya menahan dilema. Apakah aku harus menghubungi Evo dan meminta maaf?
Maureen membuka kembali telepon genggamnya. Dia mencari lagi nama Evo di kontak telepon genggamnya. Dia menarik napas panjang untuk mengumpulkan keberanian., lalu kita cukup keberanian itu sudah ada, aku menekan tombol hijau buat menelepon Evo.
“Nomor yang anda hubungi di luar jangkauan. Silahkan mencoba beberapa saat lagi,” operator yang menjawab telepon.
Maureen menutup teleponnya. Dia sedikit lega karena telepon Evo mati. Itu berarti dia masih memiliki waktu untuk mengumpulkan keberanian meminta maaf pada Evo.
*****
Hai semua! Terima kasih telah membaca cerita Evo. Tetap setia ya dengan MOY. Jangan lupa Senin, 20 April 2020 – 26 April 2020 akan diberikan hadiah 50 koin untuk 2 orang pemenang yang memberikan vote terbanyak diceritaku ini.
NEWS!!
Ada cerita baruku judulnya : CINTAI AKU, MR. KANEBO!
Ada novel yang biasa aku baca nih, mampir ya:
My Heart is Only You
Nama Pena : Ergina Putri.
Silahkan dibaca, like, komment, bintang 5 dan share sebanyak - banyaknya. Terima kasih.
❤❤❤