
" Sampai kapan kau menghina aku terus? Mengapa kamu menyakitiku terus, Bagas? Apa salahku?" Ujarku pada Bagas.
" Aku....," Bagas bingung menjawabnya.
" Aku lelah dengan semua ini. Aku capek setiap hari harus kau hina."
" Evo, tunggu...," ujarnya ketika aku hendak pergi dari ruangannya.
" Maaf, maafkan aku, Vo," Bagas mengakui kesalahannya.
" Kamu benar, aku cemburu pada lelaki itu. Aku marah sangat marah, karena kamu dekat dengannya."
Aku terkejut mendengar perkataan Bagas. Aku tak percaya dia cemburu dengan Rafael.
" Mengapa kau cemburu pada Rafael?" tanyaku.
" Karena aku mencintaimu, Vo. Aku sangat mencintaimu," Bagas memeluk aku dengan lembut. Perkataan Bagas seperti mimpi bagiku. Kata-kata Maureen dulu tentang Bagas dan Rafael ternyata benar. Mereka berdua mencintaiku.
" Bagas...."
" Maukah kau memaafkanku? Bisakah kita memulainya dari awal?"
" Aku...."
" Aku akan segera meresmikan pernikahan kita. Biar kamu percaya, bahwa aku sungguh-sungguh mencintaimu," Bagas melepaskan pelukannya.
Dia menatapku, lalu dia berkata," Segeralah kembali ke apartemen. Aku menunggu jawabanmu. Berjanjilah secepatnya kamu memberikan jawaban."
Aku diam, tidak merespon perkataan Bagas. Aku masih tidak percaya. Pria kaya ini mencintaiku orang biasa. Seperti novel yang sering aku baca.
" Vo, Mengapa diam?"
" Aku tak percaya kau benar-benar mencintaiku. Sejak kapan?" ucapku akhirnya.
" Ketika aku mengerti bahwa aku telah menemukan sosok yang sangat berarti.... Sosok itu adalah kamu, Vo," Bagas memegang tanganku. Dia memandangku lebih lekat.
" Bisakah kau memberiku waktu?"
" Jangan terlalu lama. Aku hanya ingin kamu menjadi milikku."
Tanpa mereka sadari, ada orang yang mendengarkan percakapan mereka, membuat orang tersebut tampak marah.
.
.
.
Siangnya.
Drrtt.
Bunyi pesan masuk punya Evolet.
Rafael : Aku ada kabar baik untukmu. Bisakah nanti malam kita bertemu?
Aku : Baiklah. Di mana?
Rafael : Bagaimana kalau di restoran kemarin saja?
Aku : Cafe tempatku nongkrong aja ya. Aku lagi ingin ke sana.
Rafael : Baik. Aku akan menjemputmu. Aku sedang di dekat daerah kantormu.
Aku : Oke.
Aku menutup percakapan kami. Sekarang aku lagi bersama Maureen dan Dina di kantin.
" Rafael."
" Cie, cie. Enak ya jadi Evo, dicintai dua lelaki yang baik," iri Dina
" Loh, Dina masih jomblo?" tanyaku.
"Mau aku kenalkan ke Rafael?"
" Hush, sembarangan kamu Vo, jelas-jelas Rafael cintanya sama kamu." Maureen berpendapat.
" Siapa bilang?"
" Ya, ampun nyonya Evolet, masa iya kamu tidak sadar? atau pura-pura tidak tahu? Kelihatan sekali."
" Evolet memang suka begitu," timpal Dina. Lalu memasukkan makanan ke mulutnya.
" Tapi aku penasaran Vo. Siapa yang kamu pilih? Rafael atau Bagas?" tanya Maureen disertai anggukan kepala Dina. Mereka penasaran.
" Jujur saja, aku belum ada perasaan apapun sama kedua pria itu."
" Kenapa bisa seperti itu?"
" Aku bingung. Dua pria itu sudah menyatakan cintanya padaku," ungkapku pada mereka.
" Serius?" tanya mereka berbarengan. Aku mengangguk.
" Tapi...."
" Tapi apa?"
Karel. Aku masih mencari dia. Aku masih berharap padanya.
" Jangan bilang...," Aku menyetujui perkataan Maureen.
" Apa, apa?" tanya Dina penasaran. Aku tidak pernah cerita tentang Karel pada Dina.
" Jadi Din, teman kita ini kebanyakan nonton film korea. Dulu waktu SD dia punya sahabat kecil, namanya Karel. Mereka berdua janji kalau dua belas tahun mendatang akan bertemu lagi."
" Ih, Evo, Kamu manis sekali," puji Dina. Lalu dipukul kepalanya oleh Maureen.
" Aduh, sakit Maureen."
"Manis dari hongkong! Ini udah tahun kelima belas setelah perjanjian itu. Mana ada cowok itu datang bertemu dengan Evolet!"
" Ya, bagaimana cowok itu?" omel Dina. Aku dan Maureen menggeleng kepala, bingung dengan tingkah sahabat mereka.
" Sampai kapan kamu akan menunggu seperti ini, Vo?" Maureen bertanya lagi.
" Aku tidak tahu, Ren. Aku merasa masih ada harapan untuk bertemu dengannya."
" Kenapa aku merasa kamu seperti cewek pemberi harapan palsu pada mereka berdua." Maureen berkata.
" Benar kata Maureen, Vo. Aku jadi kasihan pada mereka. Aku juga kasihan padamu. Kamu sekarang hidup sendiri loh. Mending kamu pilih salah satu dari mereka," Dina menasehati.
" Seandainya boleh memilih, aku ingin bertemu Karel lagi, Ren, Din," ucapku berharap.
" Menurut pendapatku sebagai seorang wanita, lebih baik dicintai daripada mencintai. Kenapa? Karena ketika kita dicintai, kita akan merasa nyaman, serta aman sehingga rasa mencintai itu muncul untuknya." Dina berpendapat.
" Wow, keren sekali kata-katamu. Ambil dari mana tuh?" ledek Maureen.
" Ya, akukan memang puitis," ujar Dina membalas ledekan Maureen.
"Tapi kata-kata Dina bener juga, Vo. Kamu harus coba ya. Sudah cukup kamu menunggu hal yang tidak pasti."