MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Pekerjaan Baru Bagas



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


*****


"Apa? Aku? Jadi manager? Tidak, tidak aku tidak mampu. Itu bukan bidangku," tolakku pada Indra.


"Aku pasti membantu kamu, percayalah padaku. Kamu mau kan?" tanya Indra pantang menyerah.


Aku menarik napas panjang, dan menjawab pertanyaan Indra, "Aku akan pikirkan terlebih dahulu ya, Indra. Terima kasih untuk tawarannya."


Indra mengangguk kepala, "Aku yang harusnya berterima kasih kepadamu kalau kamu sampai mau membantuku di perusahaan."


"Aku pasti akan mengabarimu. Aku harus berpikir hati - hati karena ini bukan bidangku," aku menjelaskan lagi.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah 9. Indra melirik jam tangannya.


"Sebaiknya aku pamit dari rumahmu. Aku mau berangkat ke kantor. Aku harap aku mendapatkan berita baik darimu," pinta Indra.


"Aku tidak janji," kataku. Indrapun pamitan pulang. Dia segera berangkat ke kantornya. Akupun bergegas mandi karena akan ada acara di kantor Rafael.


*****


Kantor Perusahaan Hermawan.


Ruang Lobby.


"Permisi," ucap Bagas.


"Iya, Pak. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis pada Bagas.


"Saya mau bertemu dengan Pak Hermawan, Mbak," ujar Bagas.


"Apa Bapak sudah ada janji? Kalau belum, Bapak tidak bisa bertemu dengan Pak Hermawan," terang resepsionis.


Datanglah....


"Kamu yang sopan ya. Ini Pak Bagas Pratama. Dia akan menjadi manager di perusahaan ini. Tidak mungkin dia harus janjian sama Papa!" marah Dea.


"Alexandrea?" kaget Bagas.


"Maaf, Mbak. Saya tidak tahu kalau beliau adalah Pak Bagas. Maaf Pak Bagas, saya tidak tahu kalau Bapak adalah tamu yang saya tunggu," pinta resepsionis.


"Lain kali kalau kamu dapat informasi dari Papa diingat baik - baik," omel Dea lagi.


"Sudah Dea. Jangan marah - marah lagi. Ayo antarkan aku ke ruangan Om Hermawan," pinta Bagas.


"Oke. Ayo ikuti aku," ucap Dea.


Dea berjalan menuju ke ruangan Pak Hermawan diikuti oleh Bagas. Sesampainya di depan pintu ruangan tersebut, Dea mengetuk pintu.


Tok, tok, tok.


"Silahkan masuk," ucap Pak Hermawan daei dalam. Dea dan Bagas masuk setelah diizinkan oleh yang punya ruangan.


"Halo anak kesayangan Papa. Hai, Bagas," sapa Pak Hermawan untuk kedua orang tersebut.


"Selamat pagi, Om," sapa Bagas balik.


Bagas dan Dea menghampiri Pak Hermawan. Bagas duduk di depan Pak Hermawan dan Dea duduk di samping Bagas.


"Bagaimana? Apa kamu sudah siap membantu Om di sini?" tanya Pak Hermawan pada Bagas.


"Tentu saja, Om. Bagas sudah siap," tegas Bagas.


"Pertanyaan macam.apa itu, Pah? Bagas pasti profesional dalam menjalankan tugasnya. Papa jangan khawatir akan hal itu," bela Dea.


"Tentu saja, Papa percaya dengan Bagas. Dia sangat perofesional," puji Pak Hermawan.


Bagas tersenyum mendengar pujian Pak Hermawan. Kepercayaan diri Bagas yang kemarin sempat runtuh akibat Papanya sedikit pulih.


"Ayo, sebaiknya kita langsung ke ruanganmu. Lalu bertemu dengan para karyawanmu untuk saya perkenalkan," ajak Pak Hermawan.


"Benar kata Papa," kata Dea.


"Kamu juga ikut, Dea. Hari ini kamu harus bantu Bagas dan mengajarkan Bagas tentang aturan di perusahaan ini," pinta Pak Hermawan pada anak gadisnya.


"Siap, Pak Bos!"


Tanpa disuruh Papapun aku pasti bantu Bagas, ujar Dea dalam hatinya.


Bagas, Dea, dan Pak Hermawan berjalan menuju ke ruangan Bagas. Pak Hermawan mengadakan rapat kecil untuk karyawan Bagas. Rapat dilakukan untuk memperkenalkan Bagas pada staffnya.


Para karyawan memandang ke arah Bagas. Ada yang menebak bahwa pengganti bos mereka adalah orang tersebut.


"Namanya adalah Bagas Pratama," kata Pak Hermawan memperkenalkan diri.


"Silahkan Bagas perkenalkan diri kamu," Pak Hermawan mempersilahkan Bagas untuk memperkenalkan diri.


"Nama saya Bagas Pratama. Saya akan membantu Bapak dan Ibu untuk bekerja di sini. Mohon bantuan juga agar kita saling bekerja sama untuk mengembangkan perusahaan ini," ujar Bagas.


Para anggota rapat memberi tepuk tangan pada Bagas. Hari ini secara resmi Bagas merupakan bagian perusahaan keluarga Hermawan.


Terima kasih Tuhan atas kesempatan untuk mendapatkan Bagas kembali. Semoga Bagas kembali dalam pelukanku.


*****


Kampus Charlotte.


Hari inu Charlotte ke kampus tanpa ditemani oleh Evan. Kekasih Charlotte itu sedang ada keperluan mendesak yang tidak dapat ditinggalkan, tapi dia janji akan menjemput Charlotte ke kampus.


Charlotte ke ruang administrasi untuk mendaftarkan diri buat ujian. Minggu depan kalau tidak ada halangan dirinya akan mengikuti sidang.


"Selamat pagi, Charlotte," sapa Pak Dirly dosen pembimbing Charlotte. Entah hanya perasaan Charlotte saja tapi Pak Dirly selalu memandang dirinya begitu lekat.


"Pagi, Pak Dirly," ucapku juga.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Pak Dirly padaku.


"Aku sedang daftar untuk ujian, Pak. Baru saja selesai daftarnya," jawab Charlotte.


"Kalau begitu, maukah kamu menemani Bapak sarapan di kantin? Bapak belum sarapan. Nanti Bapak traktir deh," ucap Pak Dirly.


Charlotte menggigit bibir bawahnya. Aduh, bagaimana ini? Kalau aku terima nanti tidak enak dengan teman - teman yang lain. Kalau ditolak pasti Pak Dirly akan marah padaku, ujar Charlotte dalam hati.


"Jadi Bagaimana?" Pak Dirly mengulang pertanyaannya.


"Eh, itu, Pak, aku ...," ucap Charlotte bingung.


"Jadi? Apa kamu mau?"


"Charlotteee!" panggil seseorang dari belakangku. Aku menengok ke arah belakang. Orang itu adalah Siska.


"Siska?" kejutku.


"Selamat pagi, Pak Dirly," sapa Siska sopan.


"Pagi, Siska. Wah, kalian sudah baikan rupanya. Bapak senang melihatnya," puji Pak Dirly.


"Terima kasih, Pak. Char, kamu mau ke mana? Ada yang harus aku bicarakan denganmu!" ucap Siska.


"Itu tadi aku...,"


"Kalau kamu tidak bisa tidak apa- apa, Char. Bapak pergi dulu ya," pamit Pak Dirly.


Huft, syukurlah Pak Dirly pergi. Untung saja Siska datang di saat yang tepat.


"Oh, iya, Pak. Maaf ya, Pak," ucap Charlotte sopan.


"Hati - hati di jalan, Pak," kata Siska. Pak Dirly pergi meninggalkan Charlotte dan Siska.


"Ada apa kamu mencariku?" tanya Charlotte setelah Pak Dirly pergi.


"Aku tadi hanya menolongmu. Berhati - hatilag dengan Pak Dirly, dia bukan dosen yang baik," pesan Siska.


"Terima kasih telah menolongku tadi. Kenapa kamu malah menolongku? Bukankah kamu membenciku," tanya Charlotte.


"Itu balasan dari semua kebaikanmu padaku. Jadi kita impas," ucap Siska.


"Apa kita tidak bisa menjadi sahabat lagi?" tanyaku pada Siska.


"Aku ...."


*****


Akankah Siska mau memaafkan Charlotte?


Bersambung ke episode selanjutnya.


*****


Hai kamu, iya kamu! Terima kasih sudah membaca kisah Evo. Tetap setia ya membacanya. Evo tunggu kalian di episode selanjutnya. Jangan lupa gabung juga di group chat aku. ❤❤❤