
**Hai, semua mohon dukungan tekan jempol di bawah, vote, bintang lima. Dukungan kalian sangat membuat saya tambah semangat. Terima kasih sudah mencintai MOY.
🌹🌹🌹🌹**
Rumah keluarga Pratama.
"Mama senang kalian datang ke rumah. Ayo silahkan duduk di ruang makan," ajak Bu Lina. Kami yang baru datang disambut hangat oleh Bu Lina.
"Terima kasih, Mama," ucapku kemudian duduk di ruang makan.
"Ke mana Charlotte, Mam?" tanya Bagas tidak melihat adik kandungnya.
"Dia ada pesta dengan teman - temannya. Mungkin dia akan menginap di rumah temannya."
Bagas duduk di kursi makan, kemudian dia berkata lagi," Lain kali Mama jangan izinkan dia untuk menginap. Aku tidak mau terjadi hal yang buruk padanya."
"Mama yakin dia bisa menjaga diri. Charlotte tidak akan menjual kehormatannya demi uang," ucap Bu Lina sambil melirikku tajam. Aku tahu sekali dia sedang menyindirku.
"Sudah, sudah jangan membahas orang yang tidak ada," Pak Freddy memotong pembicaraan Bu Lina dan Bagas.
"Ayo kita makan," ajak Pak Feddy.
"Sebentar, Pa. Kita kedatangan tamu," ujar Bu Lina.
Bu Lina berjalan ke depan. Kemudian dia membuka pintu, setelah itu dia berkata, "Silahkan masuk sayang."
"Terima kasih, Tan."
"Siapa Ma yang datang?" tanya Bagas.
"Hai, Om Freddy. Hai, Bagas," sapa perempuan itu.
"Dea?" ucap Bagas terkejut dengan kehadirannya. Bagas berdiri lalu memeluk wanita itu.
"Apa kabar? Kenapa kamu tidak bilang kalau akan pulang ke sini?" tanya Bagas tidak percaya.
Wanita yang bernama Dea itu melepaskan pelukan dari Bagas, lalu dia berkata, "Kabarku baik. Sekarang kita impas ya, kamupun tidak memberitahu aku kalau akan menikah."
Siapa Dea? Kenapa dia begitu akrab dengan Bagas. tanyaku dalam hati.
"Kamu itu ya kerjaannya hanya balas dendam padaku," Bagas tertawa. Bagas melepaskan pelukannya pada Dea.
"Ehm," aku mengeluarkan suara.
"Eh, sayang. Aku sampai lupa. Kenalkan ini Alexandrea. Dipanggil Dea. Dea ini Evolet Rebecca, calon istriku," kata Bagas kemudian merangkulku.
Dea menghampiriku lalu menjabat tanganku, "Senang berkenalan dengan kamu, Vo."
"Sudah, sudah berkenalannya. Dea belum sapa Om Freddy loh," ujar Pak Freddy lalu berdiri memeluk gadis itu.
"Hai, Om. Om selalu kelihatan gagah dan tampan. Pantas saja Tante selalu mencintamu," goda Dea.
"Bisa saja kamu. Hahaha," tawa Pak Freddy meledak.
"Jangan memuji Om kamu. Nanti dia besar kepala," canda Bu Lina. Kami semua tertawa mendengarnya kecuali aku. Aku masih bingung.
Sepertinya Dea begitu akrab dengan keluarga Pratama.
"Silahkan duduk sayang," Bu Lina mempersilahkan Dea duduk.
"Terima kasih Tante," ucap Dea kemudian dia duduk.
"Ayo, ayo. Silahkan dimakan hidangan ini," Bu Lina menawarkan. Kamipun segera memulai makan.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau mau balik ke sini?" tanya Bagas disela kami sedang makan.
Wanita itu makan terlebih dahulu, kemudian menjawab pertanyaan Bagas," Aku ingin buat kejutan padamu, tapi malah kamu yang membuat aku terkejut."
"Itu salahmu karena kamu ganti nomor dan sok sibuk. Bagaimana cara aku menghubungimu?" bantah Bagas.
"Kamu tidak berjuang, Tante Lina saja bisa menghubungiku. Benarkan Tante?" ucap Dea.
"Bagas patah hati padamu. Dia sedih sehingga tidak mau menghubungimu," ujar Bu Lina sambil tertawa. Aku tersendak mendengar ucapan Bu Lina.
Aku mengangguk menjawab pertanyaan Bagas.
"Apa kamu baik - baik saja?" tanya Dea. Dea yang didepanku memberikan tissue padaku.
"Aduh, Evo. Kamu harus belajar makan dengan baik. Kebiasaan kamu yang kampungan ini harus segera dihilangkan," Bu Lina mengomentari.
"Maaf, Mama. Aku tidak akan mengulang lagi."
Pak Freddy melihatku sambil menggeleng kepala, kemudian dia berkata padaku, "Kamu harus belajar tata krama pada Alexandrea. Dea sudah lama tinggal di luar negeri."
"Iya, Papa. Maaf," ucapku lagi. Hatiku sedih mendengar ucapan kedua orang tua Bagas.
"Aduh, Tante sama Om berlebihan sekali. Aku biasa saja," ujar Dea.
Bagas masih mengusap punggungku. Aku menghentikan tangannya.
"Aku sudah tidak apa - apa, Bagas. Terima kasih," ucapku.
"Mama sama Papa benar sayang. Kamu bisa belajar banyak dengan Dea. Maksudku...."
Aku memotong omongan Bagas, " Ya, Bagas. Aku memang harus belajar lebih baik agar bisa sederajat dengan kamu."
Mendengar perkataan itu Bagas langsung diam. Dia tahu sepertinya aku mulai marah. Beberapa saat kami diam, tidak ada topik pembicaraan.
"Terima kasih kamu sudah mulai sadar. Kamu calon menantu di keluarga Pratama, jadi bersikaplah menjadi wanita yang pantas untuk Bagas." tegas Bu Lina.
"Mam, kenapa arah pembicaraan kita seperti ini? Ayo kita lanjutkan makan," ucap Bagas.
"Hmm, benar kata Bagas, Tante. Aku lapar. Bolehkah kita melanjutkan makan malam kita?" tanya Dea. Bu Lina langsung setuju dengan ucapan Dea.
"Apa kesibukan kamu selama di luar negeri?" tanya Pak Freddy membuka topik baru.
"Aku hanya bantu Papa mengurusi cabang perusahaan Papa di Singapura. Papa membuka cabang baru di sana. Beliau bilang aku harus belajar karena suatu hari nanti aku yang akan menggantikan Papa," cerita Dea.
"Kamu memang luar biasa, sayang," puji Bu Lina.
"Sudah berapa cabang perusahaan Papamu? Om sudah lama tidak menghubungi Papamu," ucap Pak Freddy.
"Sepertinya sepuluh cabang, Om," ucap Dea mengingat - ingat.
"Kalah kamu Bagas. Kita baru buka satu cabang di Malaysia," kata Pak Freddy pada anaknya.
"Ya ampun Papa, mana bisa aku mengalahkan Papa Dea? Mereka orang hebat," puji Bagas.
"Benar kata Bagas. Saham perusahaan mereka selalu naik. Apalagi mempunyai anak gadis yang cantik," puji Bu Lina pada Dea lagi.
Dea tersipu malu, kemudian dia berkata, "Terima kasih atas pujiannya, Tante."
Aku tidak mengerti topik pembicaraan mereka. Aku pun tidak mengenal Dea. Siapa Dea bagi keluarga ini? Mengapa mereka begitu menyukai Dea?
"Bagaimana keadaan Papa dan Mamamu?" tanya Bu Lina lagi.
Dea mengambil daging yang ada di depannya. Kemudian memotong menjadi kecil, setelah itu dia memasukan daging itu ke mulutnya. Dagingnya begitu enak.
"Kabar Papa dana Mama baik. Papa ikut aku ke Indonesia. Kalau Mama, Mama masih di korea." cerita Dea lagi.
"Kenapa Om tidak ikut kita makan malam?" tanya Bagas. Bagas mengambil minum kemudian meneguknya.
"Papa harus bertemu dengan rekan bisnisnya. Padahal aku sudah mengajaknya tadi."
"Papamu itu benar - benar pekerja keras dari dulu. Om mengaku kalah," puji Om Freddy.
"Keluarga Dea memang keluarga terpandang, Pa. Mereka keluarga pekerja keras, dermawan dan tidak ada tandinganya," Bu Lina ikut memuji.
"Benar kata Mama dan Papa, kecuali Dea. Aku tidak merasa dia seorang pekerja keras," ledek Bagas.
Dea manyun, kemudian membalas perkataan Bagas," Enak saja kamu. Aku selalu bantu papa ya."
Mereka bertiga tertawa kecuali aku. Aku benar - benar tidak di ajak bicara.
🌹🌹🌹