
02.00
Di rumah sakit.
"Bagaimana keadaan mama saya, Dok?" Ujarku panik. Satu jam yang lalu pihak rumah sakit menghubungiku. Mama sekarat.
"Kita harus segera mencangkok jantung mama."
"Apapun, dok, apapun. Saya mohon bantu saya untuk menyembuhkan mama."
" Baik, semoga kita segera mendapatkan donor jantungnya ya, Mbak Evo."
Tuhan, tolong selamatkan mama. Semoga mama segera mendapatkan donornya.
Aku mengecek saldo di ATM. Sudah hampir dua minggu mama di sini. Saldo di bank sudah mulai menipis. Aku bingung harus bagaimana.
.
.
.
.
Di Aula Hotel.
"Di mana Evo?" tanya mbak Meli.
"Mamanya sekarat mbak, tapi dia akan datang." jawab Maureen sedih.
Beberapa jam kemudian, akupun tiba di aula, lalu berkata, "Maaf mbak, aku telat."
"Tidak apa-apa Vo. Ayo kita kerja," ajak Mbak Meli ramah.
Persiapan ulang tahun bos kamipun penuh kemewahan. Semua orang penting akan datang menghadiri pesta tersebut. Pesta harus disiapkan dengan baik.
"Bagaimana keadaan Tante?" tanya Maureen berbisik.
"Harus donor jantung, Maureen," jawabku sedih. Maureen menepuk pundakku. Dia ikut prihatin.
Siangnya.
"Kita istirahat dulu. Jam dua kalian ke sini lagi untuk menyelesaikan sisanya."
Kami berdua mengangguk sepakat.
"Jadi ketemu sama penerbit?"
"Jadi, Ren. Doain ya. Aku membutuhkan sekali uang."
"Aku mendoakanmu, Vo. Sukses, Vo."
Aku pergi secepat kilat. Janjian jam setengah satu dengan orang penerbit.
"Evo butuh uang untuk apa Maureen?"
Tiba-tiba dari belakang terdengar suara lelaki. Laki-laki itu Bagas.
.
.
.
"Selamat siang Mas, saya Evo," sapaku lalu menjabat tangannya. Untung aku ngga terlambat.
"Oke, untuk mempersingkat waktu, coba mbak ceritakan secara singkat, novel ini tentang apa, dan mengapa pihak kami harus menerbitkannya?"
Akupun menceritakan secara singkat cerita novelku. Ini kisahku. Kisah antara aku dengan Karel. Aku berharap bila novel ini terbit, dia datang menemuiku.
"Wah, bagus ya. Jadi ceritanya tentang seorang gadis yang menunggu cinta pertamanya," Rafael berpendapat.
"Semoga bisa masuk di pasaran ya, Mbak. Saya dan tim editor membaca dulu hasil karyanya, Mbak." ujarnya lagi. Aku mengangguk.
Drrrtt.. Drrrttt..
Bunyi telepon masuk.
"Selamat siang, Mbak Evo. Ini dari pihak rumah sakit. Mbak mohon segera ke sini, pendonor jantung sudah ada."
Baru beberapa jam, tapi pendonor sudah ada. Aku cepat-cepat berpamitan kemudian langsung ke rumah sakit.
.
.
.
Di rumah sakit.
"Bagaimana Dokter? Apa benar sudah ada pendonor jantung untuk mama?"
" Ya, mbak Evo. Tadi pagi ada kecelakaan, tabrak lari. Identitas sudah ditemukan. Jantung masih berfungsi dengan baik. Keluarga pun setuju untuk mendonor tetapi ada syarat, Mbak."
"Apa syarat itu?"
"Pihak keluarga meminta untuk dibayar."
Seperti disambar petir, aku bingung harus berbuat apa.
"Berapa yang mereka minta, Dok?"
"Lima ratus juta Mbak Evo." Air mataku terjatuh. Uangku tinggal tiga ratus juta.
"Itu belum termasuk biaya operasi."
Mama, apakah aku harus merelakanmu? Tuhan bantu aku.
"Biar aku saja yang membayar semuanya, Dok."
Aku menengok ke arah suara tersebut, lalu berkata, "Pak Bagas."
"Pak Bagas, apa kabar?" Dokter menyalami Bagas.
"Baik, dokter. Tolong segera bantu Ibunya ya Dok."
"Siap, Pak. Saya pasti akan bantu. Mbak Evo harusnya bilang ke saya kalo Mbak kenal Pak Bagas."
"Iya, saya kenal. Dia adalah...."
"Suster, siapkan semuanya. Pak Bagas ini penyumbang rumah sakit terbesar sewaktu rumah sakit ini hampir bangkrut," jelas Dokter tersebut kemudian lekas mempersiapkan operasi.
"Terima kasih, Pak," ucapku tulus.
"Tak ada yang gratis di dunia ini, Evo." senyum licik Bagas.
"Apa yang kau mau dari diriku?"
"Datanglah ke pestaku. Kau akan tau apa yang aku mau dari dirimu."