MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Masalah Baru



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, Saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. Dukungan kalian sangat berharga buat saya. Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


*****


Apartemen Bagas.


Bagas ke luar dari kamar mandi, kemudian dia bertanya padaku,"Siapa yang menelepon selarut ini?"


"Mbak Meli yang nelepon, Gas." jawab aku.


Bagas meraih telepon genggamnya dari tanganku. "Halo, Mel. Ini aku Bagas. Ada apa?"


"Semoga kamu tidak kaget dengan apa yang aku beritahu sekarang," ucap Mbak Meli hati - hati.


"Katakanlah, jangan berbelit - belit." kata Bagas ingin segera tahu apa yang terjadi.


"Kantor kita terbakar, Bagas!" ucap Mbak Meli akhirnya memberitahu pada Bagas.


"APA?" tanya Bagas tidak percaya dengan apa yang dia dengar. "Kenapa bisa terjadi?"


"Ada apa, Bagas?" tanya aku melihat wajah Bagas yang tiba - tiba pucat.


"Aku belum tahu sebab kebakaran tersebut. Aku baru saja dikabari oleh bagian keamanan di sana. Aku akan memberi kabar lagi padamu," jelas Mbak Meli.


"Aku menunggu kabar darimu. Usut secepat mungkin sebab terjadi kebakaran tersebut!" ucap Bagas lagi.


Kebakaran? Apa yang terbakar? tanyaku dalam hati.


"Baik, Bagas. Aku sedang menuju ke lokasi. Sampai nanti," ucap Mbak Meli kemudian dia menutup telepon mereka.


"Ada apa sayang?" tanya aku setelah Bagas menutup telepon dari Mbak Meli.


"Perusahaan Pratama di Malaysia terbakar, Evo," ucap Bagas dengan lemas.


"APA?" kataku terkejut. Aku tidak percaya. Bencana apa lagi yang harus dihadapi Bagas?


"Kenapa bisa terbakar?" tanya aku lagi. Aku mengelus punggung Bagas. Dia sangat terpukul dengan semua ini. Baru saja dia mendapatkan kabar baik, tapi tiba - tiba datang berita buruk untuknya.


"Meli sedang ke sana untuk menyelidikinya," ucap Bagas.


*****


Flash Back.


"Karel, Karel. Di mana kamu Karel?" tanya aku.


Hari ini murid kelas 6 SD mengadakan PERJUSA (Perkemahan Jumat Sabtu) di sekolah. Kami menginap di sekolah, dan tidur mengenakan tenda. Kegiatan ini dilakukan untuk melatih kemandirian kami. Aku beruntung sekali karena aku sekelompok dengan Karel. Satu kelompok terdiri dari dua orang. Kami harus mengeliling sekolah kami untuk mencari sebuah petunjuk yang telah disebar oleh pada guru kami.


Aku mencari Karel yang terpisah denganku. Aku sangat takut, karena banyak sekali gosip yang aku dengar bahwa di sekolah kami banyak hantunya.


"Karel, Di mana kamu? Kenapa malah tinggalin aku sendirian sih? Sudah lampunya tidak dinyalakan. Senter yang aku gunakan sudah mulai redup lagi," rungutku.


"HUAAAA!" teriak seseorang dari belakang. Aku pun ikut teriak mendengar teriakan tersebut. Aku sangat ketakutan.


"Haha, hahaha, hahaha, hahaha," tawa Karel senang berhasil menakuti diriku.


"Karel! Kamu jahat sekali padaku!" omelku.


"Masa sih aku jahat?" goda Karel.


"Iya, kamu jahat! Aku beneran kaget tahu!" kesalku padanya.


Karel masih tertawa terbahak - bahak melihat aku yang ketakutan, "Serius kamu takut? Bukannya kamu seorang yang pemberani?"


"Tidak lucu, ah bercanda kamu!" ucapku kesal. Aku pergi meninggalkan Karel.


"Eh, Moy! Kenapa pergi? Apa kamu marah?" tanya Karel mengejar diriku.


"Bercanda kamu keterlaluan, Karel. Sebentar lagi waktu kita akan berakhir. Kita belum dapat apa - apa!" rungutku kesal. Aku terus pergi meninggalkan Karel. Karel tetap mengejar diriku.


"Aku minta maaf, Moy! Jangan marah ya." Karel berhasil menangkat tanganku ketika kamu sudah diujung jalan dekat tangga.


"Aku mohon," pinta Karel dengan muka memelasnya.


"Baiklah, aku memaafkan kamu, tapi janji ya jangan melakukan hal itu lagi!" pinta aku padanya. Kami pun mengkaitkan jari kelingking kami untuk berjanji.


"Teman baik tidak akan ingkar janji," janji Karel.


Tiba - tiba aku hilang keseimbangan, aku mau jatuh ke tangga, aku berteriak,"AGHHHHHH! Karel tolong aku."


Karel dengan sigap menarik tanganku ke bagian depan akar aku tidak jatuh ke bawah tangga. Aku terjatuh di badan Karel. Aku gemetaran karena takut. Debaran jantung aku dan Karel saling menyahut. Aku langsung bangkit.


"Terima kasih, Karel," ucapku. Aku membantu Karel untuk bangun. Dia tersenyum padaku, sepertinya dia lega melihat aku dalam keadaan baik.


"Sama - sama Moy. Ayo, kita lanjutkan kegiatan kita. Sebentar lagi waktu akan habis," ucap Karel. Tumben dia tidak marah dengan kelakuaan bodohku tadi.


"Rel, boleh aku bertanya satu hal padamu?" tanyaku padanya sambil berjalan mencari tugas yang diberikan oleh para guru kami.


"Apa?" katanya.


"Kenapa Karel begitu baik padaku?" tanya aku penasaran.


Karel berhenti melangkah, kemudian dia memandangku tajam dan berkata, "Pertanyaan bodoh apa ini, Moy?"


Aku kaget Karel marah padaku. Dia jarang mengatakan kata kasar padaku seperti itu."Maksudku, aku...."


"Karena kamu teman baikku, Moy! Sahabat untuk selamanya!" ucap Karel. Aku tersenyum senang. Karel selalu bisa menyejukkan hatiku.


Aku menarik tangan Karel lagi, lalu berkata, "Aku mau tanya lagi."


"Aduh, Moy apa lagi? Nanti kita tidak ke buru mengumpulkan tugas dari para guru." kesal Karel.


"Kenapa sih kamu selalu memanggil namaku dengan sebutan Moy?" tanya aku lagi. Kemarin Karel tidak mau memberikan alasannya padaku.


Karel tampak berpikir keras. Dia memandangku dengan seksama. "Apakah begitu penting jawabanku itu?" tanya Karel pada akhirnya.


Aku menggangguk, tanda aku sangat ingin tahu jawaban dari Karel.


"Kalau suatu hari nanti kita bertemu, aku akan jawab pertanyaanmu itu," jawab Karel.


"Kenapa tidak sekarang?" desakku.


"Waktu kalian tinggal lima belas menit lagi. Segera temukan tugas yang kami suruh!" bunyi peringatan dari salah satu guru kami.


"Sepertinya kamu sudah tahu jawabannya. Apa kamu mau kita dihukum?" tanya Karel tersenyum. Kamipun segera mencari tugas tersebut. Lagi - lagi aku tidak dapat menemukan jawabannya.


*****


Aku terbangun dari mimpiku. Hari ini aku bermimpi tentang Karel lagi. Aku menghela napas panjang, lalu menengok ke sebelahku. Bagas sudah tidak ada di sampingku.


Aku segera mengambil telepon genggam ku untuk menghubungi Bagas. Aku mencari dan menekan nama Bagas di dalam telepon genggam ku. Nada sambung terdengar di telepon genggam ku.


" Nomor yang anda diluar jangkauan, segera hubungi beberapa saat lagi, " jawab operator.


Amu mencoba untuk menghubungi sekali lagi, tetapi yang menjawab adalah operator lagi. Akupun merapikan tempat tidur kami, lalu aku mencoba keluar dari kamar. Siapa tahu Bagas memberikan berita kepadaku melalui pesan singkat yang dituliskan Bagas di selembar kertas seperti waktu dulu.


Beberapa menit kemudian, telepon genggam ku berbunyi. Aku segera mengambil dan mengangkat telepon genggam ku itu. Aku merasa bahwa yang menelponku adalah Bagas.


Dugaanku tepat, aku melihat di telepon genggam ku nama Bagas yang meneleponku.


"Halo," sapaku pada Bagas.


"Kamu hati - hati ya. Jangan lupa makan dan jaga kesehatan." ucapku sedih.


" Hei, aku akan balik nanti sore. Jangan khawatir ya. Aku mencintaimu." ucapnya padaku. Bagas kemudian menutup teleponnya.


*****


Rumah Keluarga Pratama.


"MAMA! MAMA!" teriak Charlotte memanggil Bu Lina.


Bu Lina yang mendengar teriakan Charlotte keluar dari kamarnya. Bu Lina bingung apa yang terjadi dengan anaknya?


" Apa yang terjadi sayang? Kenapa kau begitu khawatir?" tanya Bu Lina pada anak perempuannya.


"Aku baru melihat berita. Perusahaan kita terbakar di Malaysia, Mam!" ucap Charlotte panik.


"APA?" tanya Bu Lina pura - pura kaget. bu Lina pun memanggil suaminya Pak Freddy. Pak Freddy yang dipanggil dengan histeris oleh Bu Lina keluar dari kamarnya. Pak Freddy bingung melihat wajah Bu Lina dan anaknya yang begitu panik dan pucat.


"Ada apa Mama? Kenapa kamu begitu histeris?" tanya Papa.


" Kebakaran terjadi di kantor Pratama di Malaysia, Pak. Habis kita! Hancur kita, Pak!" tangis Bu Lina pecah.


Charlotte yang melihat Bu Lina menangis langsung memeluk Mamanya.


" Mama, tolonglah tenang. Mas Bagas pasti akan menemukan jalan keluar untuk mengatasi masalah ini. Mas Bagas tidak akan membiarkan kita hancur," Charlotte menenangkan Mamanya.


Pak Freddy berpura-pura lemas, dia mencari tempat duduk untuk dia duduk.


Charlotte melepaskan pelukannya dari Bu Lina. Dia menghampiri Papanya yang terduduk lemas di sofa.


" Apa Papa baik-baik saja? Papa jangan khawatir ya, Mas Bagas pasti akan mencari jalan keluarnya. kita tidak akan dibiarkan hancur oleh Mas Bagas, " ucap Charlotte percaya pada Bagas kakaknya.


" Apa yang Bagas pikirkan saat ini? Kenapa dia masih begitu kerasnya mempertahankan hubungan dia dengan? Andai saja dia cepat memutuskan untuk memenuhi persyaratan tersebut pasti tidak ada bencana apapun yang akan menimpa keluarga kita. Evo hanyalah wanita pembawa sial buat Bagas kakak," kesal Bu Lina.


" Perkataanmu benar Mama. Bagas harus menerima persyaratan tersebut atau dia akan menghancurkan hidup banyak orang," ucap Pak Freddy.


Mendengar ucapan orang tuanya, Charlotte begitu sedih. Bencana apa lagi yang akan diterima oleh Bagas? Masalah demi masalah harus dihadapi Bagas. Masalah yang paling buruk adalah dia harus melepaskan Evolet Rebecca kekasih hatinya.


*****


Kantor Pratama.


Sesampainya Maureen di kantornya, salah satu anak buahnya menghampiri dia.


"Pagi, Bu. Saya mau memberitahu kepada ibu kabar buruk yang saya dapat tadi pagi," ucapnya.


" Ada kabar buruk apa yang harus kamu laporkan pagi-pagi begini? " ucap Maureen sedikit kesal.


"Kantor kita cabang Malaysia terbakar tadi pagi, Bu!"


katanya.


mendengar berita itu Maureen benar-benar terkejut. berita ini seperti petir di pagi hari baginya. dia tidak menyangka apa yang dia dengar di pagi hari ini. baru kemarin diam membantu Bagas untuk mempertahankan jabatannya sebagai pemimpin tetapi pagi ini dia mendengar berita yang benar-benar membuat dia sedih dan terkejut.


" Apa Pak Bagas udah tahu akan hal ini? " tanya Maureen dengan panik.


" Saya kurang tahu Bu, tapi pagi ini sudah banyak para pejabat dan pemegang saham datang ke kantor untuk menemui beliau. " jelas anak buah Maureen.


"Kamu boleh ke luar. Terima kasih untuk info yang kamu berikan padaku." ucap Maureen lagi.


Maureen menaruh tasnya, lalu kemudian dia mengambil ponsel dari tas dia. Maureen mencari nama Evolet, kemudian dia menghubungi sahabatnya itu untuk mencari tahu kebenaran dari berita yang dia dengar barusan.


Bunyi nada sambung dari telepon genggam Maureen kemudian terdengar sapaan dari seberang sana.


"Halo?" sapa Evolet.


"Evo! Di mana Bagas? Di sini sudah banyak berkumpul pemegang saham dan para pejabat lainnya untuk mendengar kebenaran dari berita yang mereka dengar hari ini, " kata Mauren.


" Benar, Maureen. Perusahan Pratama yang ada di Malaysia terbakar. Pagi tadi Bagas pergi ke Malaysia untuk mengecek sebab terjadinya kebakaran tersebut, "jelas aku.


" Ya ampun! Aku tidak percaya akan hal ini. Kenapa masalah ini datang? Padahal baru kemaren Bagas cerita padaku bahwa beberapa perusahaan menjalin hubungan kerjasama lagi dengan perusahaan kita. Kalau begini jadinya, pasti mereka akan meninggalkan kita lagi dan tidak mau bekerja sama dengan perusahaan kita." ujar Maureen dengan sedih.


"Kamu benar, Maureen. Aku sudah bingung. Kita tunggu saja kabar dari Bagas," kataku pada akhirnya.


"Ya, kita tunggu saja. Semoga kebakarannya tidak melumpuhkan perusahaan ini," doa Maureen.


*****


Kuala lumpur, Malaysia.


Setibanya Bagas di bandara, Bagas segera berangkat ke perusahaan Pratama yang terdapat di Kuala Lumpur.


Setengah jam kemudian Bagas sudah tiba di kantor tersebut. Bagas terkejut melihat keadaan yang terjadi pada gedung kantor perusahaan miliknya. Gedung tersebut hancur terbakar. Bagas menggigit bibirnya, menahan diri untuk tidak menangis.


"Bagas," panggil Mbak Meli.


" Kenapa apa kantor ini bisa terbakar? Apakah kamu sudah menemukan sebab terjadinya kebakaran ini?" tanya Bagas pada Mbak Meli.


" Polisi sedang menyelidiki kasus ini. Aku harap beberapa hari kedepan kita menemukan jawaban dari polisi," jelas Bagas.


Bagas dengan mata yang begitu sedih, dia melihat betapa menyedihkannya kantor tersebut titik Bagas yakin tidak ada yang tersisa.


"Apakah ada korban jiwa dalam kebakaran ini?" tanya Bagas lagi.


Mbak Meli menggeleng, kemudian berkata pasa bosnya itu," Tidak, Bagas. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini."


"Syukurlah," ucap Bagas bersyukur.


Drt.... Drtt...


Bunyi panggilan masuk dari telepon genggamnya Bagas. Bagas melihat ke arah layar telepon genggam nya dia membaca siapa gerangan yang menelpon dia. Pak Freddy yang menelpon Bagas.


Bagas segera menerima telepon tersebut, "Halo, Pa."


" Di mana kamu sekarang? "tanya Pak Freddy pada anak lelakinya itu. Bagas merasa bahwa Pak Freddy sudah tahu kabar tersebut titik Bagas menghela nafas mencoba untuk menenangkan dirinya. Bagas yakin bahwa Papanya akan memaksa dia untuk menerima persyaratan yang diberikan oleh Pak Hermawan dan Bu Heni.


" Bagas sekarang sedang di Malaysia, Pa. Bagas sedang mengecek sebab terjadinya kebakaran Ini," ucap Bagas pada Pak Freddy.


" Papa minta dengan sangat kamu segera pulang dari Malaysia. Masalah ini harus segera diselesaikan. kalau kita berlarut-larut seperti ini ini kamu akan menghancurkan banyak orang, Bagas, " Pak Freddy memperingatkan anaknya itu.


"Bagas akan pulang sore ini," janji Bagas. Pak Freddy kemudian menutup teleponnya.


"Siapa?" tanya Mbak Meli.


"Papa," ucap Bagas dengan tidak bersemangat.


"Kenapa?" tanya Mbak Meli lagi.


" Ada orang yang akan membantu kami untuk menyelamatkan perusahaan ini. Aku harus memenuhi persyaratan itu, Mel, "jawab Bagas.


" Apa persyaratan itu? " tanya Mbak Meli kepada atasannya itu.


" Aku harus meninggalkan kan Evolet, " jawab Bagas lagi pada Mbak Meli.


"APA?" Mbak Meli tidak percaya.


*****


Hai, kamu! Iya, kamu. Terima masih sudah membaca karyaku. Semoga kalian terus membacanya sampai akhir.