MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Apa Kamu Bahagia?



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


*****


Di Rumah Keluarga Pratama.


"Terima kasih untuk hari ini sayang. Aku bahagia sekali hari ini. Ternyata suara kamu tidak kalah bagus dengan penyanyi aslinya ya," puji Evan pada Chatlotte.


Charlotte dan Evan tiba di rumah Pratama ketika bulan sudah tersenyum di langit. Mereka ada di dalam mobil. Seharian ini mereka berdua menikmati gelombang asmara yang ada dihati mereka.


"Terima kasih buat pujiannya. Terima kasih juga sudah menghantar aku ke rumah," ucap Charlotte sambil menatap kekasihnya. Beberapa saat mereka saling menatap. Mereka saling mengucapkan kata cinta melalui mata mereka.


"Aduh, aduh sayang, mata aku kelilipan!" jerit Evan kesakitan.


"Aduh! Mata yang mana? Kenapa bisa kelilipan? Sini aku tiup," ujar Charlotte.


"Mata yang sebelah kanan sayang. Aduh, sakit!" jerit Evan lagi.


Charlotte mendekatkan dirinya untuk meniup mata Evan. Tiba - tiba dengan cepat Evan mencium bibir Charlotte.


"Evan! Kamu nakal!" kaget Charlotte.


"Habis bibir kamu dekat banget sama aku, jadi pengen aku cium," ledek Evan.


"Jadi tadi itu kamu bercanda ya? Jahat! " kesal Charlotte.


"Tidak! Aku tidak bercanda. Aku serius tadi. Mata aku kelilipan," jujur Evan.


"Bohong! Kenapa bisa kelilipan coba di mobil?" tanya Chalotte heran.


"Karena di mobil aku ada wanita cantik yaitu kamu. Mata aku tidak kuat lihat wanita cantik itu," gombal Evan.


Muka Charlotte menjadi merah. Mendengar kata - kata kekasihnya itu dia tersipu malu. Evan tersenyum melihat Charlotte sang kekasih menjadi malu.


"Aku mencintai kamu, Charlotte," ungkap Evan.


"Aku juga mencintai kamu, Evan," kata Charlotte lalu mencium sang kekasih.


*****


Rumah Kontrakan.


"Bagas," panggil aku.


Bagas sedang membantuku merapikan beberapa barang yang bisa dia selesaikan hari ini.


"Apa?" tanya Bagas.


"Apa kamu bahagia?" tanya aku.


Bagas menghentikan kegiatannya. Dia memandang tajam diriku, lalu berkata padanya," Kenapa kamu bicara seperti itu?"


"Tidak. Aku hanya sedih melihat kamu tinggal di gubuk kecil ini," kataku jujur.


Aku sangat tahu bahwa Bagas tidak pernah tinggal di tempat kecil seperti ini. Walaupun katanya waktu kecil kehidupan Bagas tidak sekaya sekarang, tapi aku sangat yakin ukuran rumahnya tidak sekecil ini. Apalagi karena aku, dia harus tinggal di tempat seperti ini.


Bagas menghela napas panjang. Dia memandang wanita yang sangat dicintainya sekarang. Dia tahu bahwa aku pasti sedang sedih.


Bagas memegang tanganku, kemudian dia berkata padaku, "Aku selalu bahagia karena ada kamu di sisiku. Kalau aku tinggal di rumah besar tapi tidak ada kamu, mungkin aku tidak akan bahagia."


"Bagas, kamu manis sekali. Terima kasih," ucapku. Semoga saja kebahagian kami terus begini sampai selamanya.


*****


Rumah Keluarga Pratama.


"Halo, Dea. Apa kabar kamu sayang?" tanya Bu Lina.


Bu Lina menelepon Dea. Bu Lina yakin kalau Dea pasti sedang sedih diperlakukan seperti itu oleh Bagas.


"Akhirnya Tane Lina menghubungi aku juga. Tante aku sedih. Bagas tidak pernah seperti ini sama aku," cerita Dea pada Bu Lina.


"Ini bukan salah Bagas, Tan! Ini sala Evo. Seharusnya Evo tahu diri untuk pergi dari kehidupan Bagas," kesal Dea.


"Iya sayang. Tante tahu bagaimana perasaanmu sekarang. Tante harap kamu tetap berusaha mendekati Bagas. Rebut Bagas dari tangan Evolet. Tante tahu sekali kalau kamu yang paling berhak menjadi pendamping hidup Bagas," bujuk Bu Lina.


"Siap, Tan. Dea pasti akan bantu, Tante untuk merebut Bagas," janji Dea pada Bu Lina.


"Kamu memang calon mantu yang baik. Jangan lupa makan. Bu Lina dengar dari Mama kamu tidak mau makan," ucap Bu Lina.


"Aku kesal sama Papa. Kenapa dia tidak membelaku kemarin? Kenapa dia mendesak Bagas dengan pertanyaan seperti itu? Lebih baik kan Papa tidak bertanya. Paksa saja Bagas menikah denganku," ceritaku.


"Mungkin maksud Papa kamu baik. Jadi Tante mohon kepada calon mantu Tante yang paling baik dan cantik ini untuk segera makan. Tante tidak mau kamu jatuh sakit," pinta Bu Lina.


"Iya, Tante, Dea akan makan. Terima kasih. Sampai berjumpa lagi," ujar Dea kemudian menutup telepon.


"Iya, sayang, sampai kita bertemu lagi."


Tanpa Bu Lina sadari, Charlotte mendengar obrolan dia dengan Dea.


"Apa maksud Mama barusan?" tanya Charlotte tidak percaya.


"Eh, Charlotte anak Mama sudah pulang."


"Jawab pertanyaan Char, Mama! Apa yang Mama lakukan pada Mas Bagas?" tanya Charlotte lagi dengan tegas.


"Mama melakukan apa yang seharus Mama lakukan sejak dulu," ucap Bu Lina dingin.


"Mas Bagas itu anak Mama. Kenapa Mama bisa setega itu benar - benar memecat dan mengusir Mas Bagas?" kata Charlotte lagi.


"Bagas yang tega sama Mama. Sejak kecil Mama yang merawat dia, tapi apa yang dia berikan sama Mama? Dia berani melawan Mama dan Papa. Mama dan Papa hanya minta satu darinya menikah dengan Dea," tegas Bu Lina.


Mendengar ucapan Bu Lina, Charlotte menjadi diam. Dia tidak bisa membela Bagas lagi.


"Mama tidak banyak menuntut darinya. Apa susahnya melepaskan Evo dan menyelamatkan perusahaan? Papa kamu sudah tua. Siapa lagi yang bisa mengganti Papa kamu selain kakak kamu itu?" kesal Bu Lina.


"Aku tahu Mas Bagas salah, paling tidak Mama tidak menghukum Mas Bagas seberat ini," sedih Charlotte.


"Kamu tidak akan mengerti perasaan Mama karena kamu masih anak kecil. Sudah cukup pembahasan ini, masuk kamar kamu!" perintah Bu Lina pada anaknya.


Charlotte pun masuk ke kamarnya. Dia menghela napas sangat panjang. Hati Charlotte sedih mendengar pembicaran Bu Lina dengan Dea. Senadainya dia punya kekuasaan yang cukup tinggi, pasti Dea akan membantu Bagas.


Buru - buru Charlotte mengambil telepon gengganya. Lalu dia menelepon kakaknya itu.


"Halo," sapa Bagas dari rumah kontrakannya.


"Hai, Mas Bagas. Bagaimana kabarmu?" tanya Charlotte pada Bagas.


"Halo, Char. Aku baru selesai pindahan. Kabar aku baik. Bagaimana keadaanmu?" tanya Bagas balik.


"Aku baik, Mas. Aku dengar kabar Mas Bagas udah tidak kerja di perusahaan kita?" Charlotte bertanya dengan hati - hati.


"Beritanya sudah tersebar ya. Iya, Mas Bagas sudah tidak kerja di perusahan. Mas Bagas juga sudah tidak di apartemen lagi," jelas Bagas.


"Lalu di mana Mas Bagas tinggal?" tanya Charlotte.


"Mas tinggal di rumah kontrakan Evo. Rumahnya cukup bagus untuk kami tinggal berdua. Kamu datanglah ke sini berkunjung," ajak Bagas pada adiknya, Charlotte.


"Iya, Mas. Charlotte pasti akan mampir. Ya, sudah ya, Mas sudah malam. Besok kita lanjut lagi. Salam buat Mbak Evo, dan jaga kesehatan kalian ya," pamit Charlotte.


"Kamu juga sayang. Jaga diri dan kesehatanmu. Jangan pikirkan Mas Bagas. Mas Bagas pasti akan baik - baik saja," Bagas menasehati Charlotte.


"Iya, Mas," ucap Charlotte kemudian menutup telepon dari Bagas.


Semoga Papa dan Mama segera memaafkan Mas Bagas dan mau menerima Mbak Evo, ucap Charlotte dalam hati.


*****


Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.