MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Cinta Evo



"Bas, terima kasih atas pertolonganmu kemarin," ucapku tulus.


"Aku tulus, Vo. Jangan sungkan."


"Bastian benar, Vo. Itu tragedi yang kita tidak bisa hindari," ujar Mbak Meli.


"Aku sependapat denganmu, Meli," kata Bagas. "Sesama manusia harus saling bantu. Bukan begitu?"


"Bukan," jawabku kesal. Bagas benar - benar seperti anak kecil. Bastian dan Mbak Meli tertawa melihat tingkah kami.


"Aku sampai lupa bertanya, sejak kapan kalian kenal satu sama lain?" tanya Mbak Meli penasaran.


"Ceritanya panjang, Mbak. Aku saja kaget Mbak Meli kenal Evo."


"Dia teman kantorku. Pak Bagas adalah bosku."


"Iya, Mbak ceritanya panjang bisa dibikin novel," candaku.


"Aku mau dengar ceritanya," Bagas penasaran.


"Tidak perlu," aku yang menjawab.


"Kalau begitu mari kita pulang, dia harus istirahat," kata Bagas.


"Iya, benar kata Pak Bagas. Bastian harus istirahat, Vo," ucap Mbak Meli.


"Baiklah, kami pamit ya, Bas. Lekas sembuh. Biar kita berjumpa lagi."


"Ya, pasti. Aku tunggu undangan kalian."


❣❣❣


"Jadi kapan acara pernikahan kita adakan ulang?" tanya Bagas saat kami di restoran.


"Jangan untuk saat ini, Gas. Biarkan semua kembali tenang. Aku tidak mau hal ini terulang lagi."


Jujur aku masih trauma dengan kejadian kemarin. Siapa yang sangka acara pernikahan kami menjadi tragedi? Ada korban pula dalam tragedi tersebut.


Bagas memegang tanganku, lalu dia berkata, "Apa kamu berniat untuk berpisah?"


"Tidak Bagas. Aku sama sekali tidak berpikiran seperti itu. Aku hanya trauma."


"Sudah tidak ada penghalang lagi, Vo. Lisa sudah masuk penjara."


Aku terdiam. Bagas menghela nafas panjang. "Apa yang membuatmu ragu?"


"Kenapa kamu tidak mengerti juga?" tanyaku. Aku melepaskan pegangan tangan Bagas. Sekarang aku yang menghela nafas panjang. Bagas benar - benar tidak mengerti. Aku tidak ingin gagal lagi menikah.


"Bukan aku yang tidak mengerti, Vo, tapi kamu. Sudahlah, kita tidak usah bicara lagi. Kita akan bertengkat. Mari kita makan saja," ucap Bagas menghentikan pembicaraan.


❣❣❣


"Rencana kamu berhasil, Ma," ucap Pak Freddy.


Bu Lina meneguk tehnya, lalu dia tersenyum, " Siapa sangka dalang dari semua ini adalah kita, Pa."


Pak Freddy bangkit dari tempat duduknya," Kita tidak boleh berleha dengan keadaan ini, Ma. Rencana kedua harus segera kita laksanakan. Entah siapa lagi yang akan menjadi korban, yang terpenting mereka berdua tidak boleh bersatu."


Bu Lina mengangguk setuju dengan ucapan suaminya. Lalu dia menekan sebuah nomor, dan meneleponnya. "Hai, sayang. Apa kabarmu?"


❣❣❣


Apartemen Bagas


"Sayang, aku harus balik ke Malaysia besok pagi," ujar Bagas. Sekarang kami sudah di apartemen.


"Untuk apa kamu ke sana?" tanyaku sambil mencuci piring.


"Ada beberapa dokumen yang harus aku periksa. Aku tidak akan lama. Aku hanya beberapa hari di sana."


Aku menghampiri Bagas setelah selesai mencuci piring. "Apa kamu tega aku tinggal sendirian di sini?"


Bagas memandangku, dia menaikkan alisnya. Bingung dengan aku yang tiba-tiba manja tidak mau ditinggal.


"Apa kamu mau ikut?" tanya Bagas.


"Tidak," ucapku mantap.


"Lalu apa maksudmu?"


"Kamu tidak boleh pergi," ucapku sambil tersenyum jahil.


"Evolet Rebecca sayang, kalau aku tidak pergi perusahaan akan mengalami masalah. Apa kamu tega membuat para karyawan pensiun dini?" tanya Bagas.


Aku menaruh kepalaku dibahu Bagas. Entah mengapa aku jadi begitu manja padanya. Apa karena pertengkaran kami tadi siang?


"Ada apa denganmu?"


"Aku tidak tahu, yang aku tahu aku cinta dengan Bagas Pratama."


Mata Bagas membelalak, dia terkejut. Untuk pertama kalinya aku mengungkapkan cinta duluan. Biasanya hanya Bagas yang berkata seperti itu.


Bagas mengangkat wajahku. Dia memandangku, lalu memegang kepalaku," Apa kamu sedang sakit?"


Aku memukul tangan Bagas. "Bagas!"


Bagas tersenyum melihat aku cemberut. Kemudian dia memelukku, memberikan ciuman kecil didahiku," Akupun mencintaimu, Evolet Rebecca."