MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Belahan Jiwa



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


 


 


*****


Jakarta di sebuah Mall


"Wah, jadi Mas Bagas dan Mbak Evo sekarang berada di villamu? Apakah Papa dan Mama kamu tahu?" tanya Evan.


Evan dan Charlotte sedang berjalan - jalan. Mereka sekarang sedang berhenti di salah satu kafe yang ada di Mall tersebut.


"Mama dan Papa tidak tahu. Kalau mereka tahu pasti mereka akan mencegah Mas Bagas pergi. Aku kasihan sama Mas Bagas. Segala yang diberikan Papa dan Mama padanya ditarik oleh Papa dan Mama," cerita Charlotte.


"Seandainya aku jatuh miskin seperti Mbak Evo, apakah Papa dan Mama kamu akan menerima aku?" tanya Evan sedih melihat kejadian ini.


"Kalau itu terjadi, aku akan kabur dari rumah, dan tetap bersama dengan kamu," janji Charlotte lalu memegang tangan Evan.


Evan tersenyum mendapat jawaban seperti itu pada Charlotte. Charlotte memang wanita kaya yang rendah hati. Dia tidak pernah menuntut apapun pada Evan. Beda dulu dengan Siska yang setiap hari menelepon dia hanya untuk meminta dirinya untuk menemani pergi ke belanja. Charlotte selalu pengertian padanya. Dia memang pantas untuk jadi istriku kelak.


"Van, Evan?" panggil Charlotte.


"Eh, iya sayang. Kenapa?" jawab Evan yang dari tadi hanya memandangi Charlotte saja.


"Ada apa dengan kamu? Kenapa bengong?" tanya Charlotte.


"Tidak, tidak. Aku hanya memikirkan sesuatu. Itu tidak penting, Eh, tapi ada hal yang ingin aku tanyakan padamu," ujar Evan.


"Apa?"


"Sejak kapan kamu baikan dengan Siska?" tanya Evan penasaran.


"Eh, itu ..., aku ...."


"Ada yang kamu sembunyikan padaku ya?" curiga Evan. Charlotte tersenyum kaku. Charlotte tidak ingin Evan tahu kalau Siska telah menolong dirinya dari Pak Dirly yang hendak melecehkan dirinya.


"Ayo, katakan padaku!" desak Evan.


"Tapi kamu harus janji padaku untuk tidak marah atau mengamuk di sini," pinta Charlotte.


"Kenapa aku harus janji seperti itu?"


Charlotte jadi ragu untuk menceritakan Kalau dia ceritakan pada Evan, pasti dia akan menendang lelaki itu. Kalau aku berbohong apa akan ketahuan ya?


"Kenapa malah diam? Ayo cerita!" paksa Evan lagi.


"Iya, tapi kamu harus janji sama aku untuk tidak marah padaku!" paksa Charlotte.


"Aku janji!"


"Jadi ...."


Flash Back


 


 


"Sudah lama aku ingin mengatakan ini semua padamu. Aku sudah lama memendam perasaan ini padamu, aku sangat mencintai kamu."


 


 


"A...apa maksud Pak Dirly?" tanya Charlotte mulai pucat. Sepertinya Pak Dirly sudah mulai gila.


 


 


"Aku sangat mencintai kamu, Char. Sekali saja, aku ingin merasakan dirimu. Aku ingin mencium bibir merahmu. Menyentuh lembut kulit tubuhmu," ucap Pak Dirly sambil menyentuh dengan perlahan tubuh Charlotte.


 


 


"Tolong, Pak. Jangan begini!" pinta Charlotte tambah takut.


 


 


Pak Dirlypun tidak mendengarkan perkataan Charlotte. Dia mencium Charlotte dengan paksa. Charlotte menggigit bibir bawah Pak Dirly.


 


 


"AGH!" teriak Pak Dirly. Lalu Charlotte dengan segera pergi ke luar dari ruangan tersebut.


 


Kembali ke dunia nyata


"Siska menolongku kemudian dia membantuku untuk membalas dendam pada Pak Dirly," kata Charlotte bercerita.


BRUK!!


Evan menggebrak meja yang ada dihadapannya. Mukanya berubah menjadi marah. Charlotte menelan ludah karena takut melihat pacarnya itu.


"Sayang, kamu udah janji sama aku untuk tidak marah." Charlotte mengingatkan pacarnya.


"Bagaimana hal penting seperti ini tidak kamu beritahu padaku?" bentak Evan. Evan berdiri lalu hendak pergi. Charlotte mencegah kepergian Evan.


"Aku marah! Sangat marah! Kamu benar - benar tidak menganggap aku sebagai pacar kamu!" bentak Evan lagi pada Charlotte.


Tes, tes, tes.


Air mata Charlotte menetes di pipinya. Evan yang melihat Charlotte menangis reda amarahnya kemudian panik melihat itu semuanya.


"Aduh, Charlotte. Kenapa kamu menangis?" tanya Evan panik lalu kembali duduk.


"Kamukan sudah janji sama aku untuk tidak marah, tapi kenapa kamu malah marah sama aku?" tanya Charlotte masih menangis.


"Iya, maaf. Maafkan aku. Aku marah karena aku tidak terima kamu diperlakukan seperti itu," ujar Evan meminta maaf pada Charlotte. Evan kembali duduk lalu memeluk Charlotte.


"Evan jahat!"


"Maaf, sayang. Maafkan Evan ya. Evan tidak bisa lihat Charlotte menangis. Begini aja, Charlotte mau minta apa sama Evan biar berhenti menangis?" tanya Evan masih memeluk Charlotte.


Ampuh juga tangisanku. Amarah Evan reda, ujar Charlotte dalam hati. Charlotte ingin ketawa rasanya melihat Evan yang kelabakan karena dirinya menangis.


"Benar? Apapun yang aku minta Evan akan berikan?" tanya Charlotte.


"Iya. Apapun," ujar Evan menyakinkan Charlotee.


"Aku mau dibelikan es coklat lagi. Aku haus," ucap Charlotte kembali ceria.


Kenapa gampang sekali dia kembali ceria? Apa Charlotte sedang mengerjai aku? batin Evan.


"Kamu pura - pura menangis ya?" curiga Evan. Evan menyipitkan matanya.


Charlotte pura - pura menangis lagi, kemudian berkata, "Siapa bilang? Jadi kamu mau lihat aku menangis lagi? Tadi memarahi aku, sekarang menuduh aku. Aku benar - benar sedih sekali."


"Iya, iya. Maafkan Evan. Evan pesan es coklatnya ya. Jadi jangan menangis lagi."


Charlotte tertawa dalam hati. Evan benar - benar bisa di tipu.


*****


Malam hari di Villa.


Kala itu hujan sedang turun. Aku dan Bagas tidak dapat memandangi indahnya langit di malam hati. Aku juga tidak bisa melihat bintang jatuh lagi.


"Sayang sekali hujan turun. Kita tidak bisa melihat indahnya bintang di angkasa," ujarku.


Bagas merangkul diriku. Kami sedang ada di ruang tamu menikmati film yang kami pasang sejak tadi.


"Apa kamu mau lihat bintang jatuh lagi?" tanya Bagas.


"Kenapa kamu bisa tahu apa yang aku pikirkan?"


"Karena aku belahan jiwa kamu. Jadi ketika kamu sakit, aku juga akan sakit. Kalau kamu bahagia, pasti aku akan bahagia," ucap Bagas sambil tersenyum. Aku membalas senyuman Bagas.


"Kapan kamu akan pergi ke Inggris?" tanya aku lagi. Aku ingin memastikan satu hal padanya.


"Minggu depan. Aku menunggu visa turun dari kantor baru akan berangkat."


"Sama siapa kamu pergi?" kataku. Sejak kemarin aku ingin tahu apakah Dea akan ikut dengan Bagas ke luar negeri?


"Om Hermawan hanya menyuruhku saat ini. Ada apa?" tanya Bagas lagi.


"Jangan lama - lama. Aku pasti akan merindukan kamu," pinta aku.


"Aku akan menyelesaikannya sesegera mungkin. Lalu setelah itu kita akan ke KUA untuk mendaftarkan pernikahan kita."


Aku mengangguk setuju. Aku mau segera mengikat hubungan kami ke jenjang pernikahan. Aku sangat yakin sekali kalau Bagas adalah pria yang ditakdirkan untuk menjadi teman hidupku selamanya.


 


 


 


 


*****


 


 


Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


 


 


*****


 


 


NEWS!!


Ada cerita baruku judulnya : CINTAI AKU, MR. KANEBO!


Silahkan dibaca, like, komment, bintang 5 dan share sebanyak - banyaknya. Terima kasih.


❤❤❤