MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
MOY



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


 


 


 


 


*****


Kediaman Bastian, kamar Evo.


 


 


  Aku merebahkan tubuhku di ranjang. Mataku memandang ke atas. Aku menarik napas panjang lalu mengeluarkannya. Setelah sekian lama akhirnya aku bisa tertawa. Bastian dan Mbak Meli sungguh membuat harinya bahagia.


 


 


Kebahagianku hancur ketika wajah Bagas kembali hinggap dipikiranku. Beberapa hari yang lalu aku berkunjung ke rumah Bagas dan melihat kondisinya yang membuat hatiku terkoyak. Bagaimana keadaan Bagas sekarang? Apa dia sudah bangun dari tidurnya?


 


 


  Aku mengambil telepon genggamku di meja samping tempat tidur. Kemudian mencari nama Evan di dalam kontaknya.


 


 


 


 


“Ah, aku lupa! Aku baru beli ponsel tadi sore,” kataku sambil menepuk jidat. Pikiranku yang melayang kepada Bagas membuat aku tidak bisa tidur.


 


 


  Aku bangkit dari tempat tidur. Lalu berjalan menuju ke jendela. Kutatap langit yang kala itu awan penuh menutupi langit. Tidak terlihat sama sekali bintang di sana. Bulan juga malu – malu memunculkan dirinya.


 


 


“Apa kabar kamu, Gas? Aku rindu. Apa kamu dengar suara hati ini memanggil nama kamu? Aku mohon bangunlah, aku tidak ingin kamu pergi meninggalkanku,” ucapku.


 


 


*****


Keesokan paginya.


 


 


“Selamat pagi, Vo,” sapa Bastian ketika melihatku yang muncul di ruang makan.


 


 


“Pagi, Bas.”


 


 


“Ayo sarapan dulu,” ajak Bastian.


 


 


Aku melihat sekeliling. Mbak Meli tidak tampat terlihat di rumah ini, hanya Bastian yang sedang asyik makan.


 


 


“Ke mana Mbak Meli?” tanyaku.


 


 


“Dia sudah pergi dari tadi pagi,” jawab Bastian. Cowok itu meneguk jus yang ada di depannya. Lalu melanjutkan sarapan paginya.


 


 


Bastian melihat diriku, lalu dia berkata,”Jangan bengong saja. Ayo makan, hari ini ada banyak kegiatan yang harus kita kerjakan. Ayo segera mengisi tenagamu.”


 


 


Aku mengangguk setuju. Aku menarik kursi, lalu aku duduk. Roti yang ada di meja aku pilih untuk sarapan pagiku.


 


 


“Apa yang akan kita lakukan hari ini?” tanyaku setelah mengoles selai untuk roti.


 


 


“Hanya memberi sedikit pelajaran pada keluarga Bagas,” jawab Bastian seperti tadi malam. “Kamu cukup mengikuti aku saja. Hari ini mereka pasti akan terkejut.”


 


 


“Bas…”


 


 


“Ya?” jawab Bastian lalu menatap mataku.


 


 


“Jangan terlalu kejam dengan mereka ya,” pintaku.


 


 


  Bastian hanya tersenyum. Dia sangat kagum dengan sikap Evo. Wanita yang ada di depannya ini benar – benar memiliki hati yang mulia. Bastian hanya merencanakan tetapi belum melakukan, Evo sudah memberikan peringatan.


 


 


“Kalau kamu menghancurkan mereka, aku takut Bagas akan semakin hancur,” ucapku lagi.


 


 


“Seharusnya mereka bisa berpikir sebelum menyiksa orang yang tidak bersalah seperti kamu. Jangan menghalangiku hari ini. Aku akan memberikan sedikit pelajaran buat mereka.”


 


 


“Tapi…”


 


 


 


 


“Kenapa kamu begit baik padaku?”


 


 


Bastian diam sejenak. Dia menatap mata Evo dengan tatapan yang tidak dapat dilukiskan. Rasanya dia ingin memberitahu semua perasaannya pada Evo, tapi dia tahu kalau di hati Evo hanya ada Bagas.


 


 


“Karena sesama manusia harus saling menolong,” jawab Bastian asal.


 


 


“Sepertinya nilai PPKn kamu selama di sekolah bagus ya, Bas," dugaanku.


 


 


“Apa maksud kamu?” tanya Bastian bingung.


 


 


“Buktinya kamu mengaplikasikan pelajaran tersebut di kehidupan kamu,” jawabku sambil tertawa kecil.


 


 


“Hahaha, kamu bisa saja! Kamu benar waktu SD nilai PPKn aku selalu seratus,” cerita Bastian.


 


 


  Tiba – tiba terbesit di pikiranku untuk bertanya kepada Bastian. Aku memberanikan diri untuk bertanya lagi pada Bastian,” Di mana kamu sekolah dulu waktu SD?”


 


 


Drt… Drt…


 


 


Bunyi ponsel milik Bastian. Bastian mengambil ponsel tersebut dari kantong celananya.


 


 


“Halo,” sapa Bastian.


 


 


“Semua sudah siap, Pak. Tinggal menunggu Bapak untuk datang ke sini,” ucap seseorang di sebrang telepon.


 


 


“Kerja kamu bagus. Aku akan segera ke sana.” Bastian tersenyum senang.


 


 


“Ada apa?” tanyaku.


 


 


“Ayo sudah saatnya kita pergi,” ajak Bastian.


 


 


Tiba – tiba dia memandang ke arahku. Lalu memanggil pelayan dan menyuruh sesuatu. Beberapa saat kemudian pelayan tersebut datang membawakan sebuah kotak. Bastian memberikan kotak tersebut padaku.


 


 


“Apa ini?”


 


 


“Bukalah,” perintah Bastian.


Sesuai perintah Bastian, aku membuka kotak tersebut. Ada gaun, perhiasaan, dan sepatu yang terdapat dalam kotak tersebut.


 


 


“Gantilah pakaian kamu. Kita harus berangkat. Musuhmu sudah menunggu kita. Mereka menunggu kamu. Saatnya menyerang mereka.”


 


 


  Aku segera ke kamar untuk mengganti pakaianku. Apa sebenarnya rencana Bastian? Kenapa dia tidak menceritakan rencananya itu padaku?


 


 


 


 


*****


Hai semua! Terima kasih telah membaca cerita Evo. Tetap setia ya dengan MOY. Jangan lupa Senin, 20 April 2020 – 26 April 2020 akan diberikan hadiah 50 koin untuk 2 orang pemenang yang memberikan vote terbanyak diceritaku ini.


 


 


 


 


NEWS!!


 


 


Ada cerita baruku judulnya : CINTAI AKU, MR. KANEBO!


 


 


Silahkan dibaca, like, komment, bintang 5 dan share sebanyak - banyaknya. Terima kasih.


 


 


❤❤❤