MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Sebuah Konspirasi



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


*****


Anganku selalu mikirkan dirimu.


Cinta ini selalu ada untukmu


Mengapa kamu begitu kejam padaku?


Hanya sebesar inikah cintamu padaku?


Apakah tidak ada kesempatan untuk aku?


Aku tidak mengerti dengan keadaan ini.


Aku tidak tahu siapa yang dapat disalahkan untuk kejadian ini.


Apakah aku yang bertahan untuk selalu mencintaimu


atau takdir yang memang menginginkan kita untuk berpisah?


*****


Dina begitu gelisah dengan keadaan ini. Sudah beberapa orang yang dia telepon untuk mencari Maureen tapi tidak ada hasil.


"Apa mungkin DIna diculik?" gumam Dina mengeutkan dahinya.


Dina pamitan dengan karyawan Maureen untuk kembali ke ruangannya. Hati Dina masih gelisah. Pikirannya melayang ke arah yang menakutkan. Maureen tidak pernah begini sebelumnya. Dina menggigit bibir bawahnya menahan rasa takut yang ada dipikirannya.


BRUK!


Dina yang berjalan sambil berpikir menabrak seseorang. Wanita itu menengok ke arah orang yang ditabraknya. Dina tertegun melihat orang tersebut.


"Selamat pagi, Bu Lina," sapa Dina sambil tersenyum.


Bu Lina memandang Dina. Wanita paruh baya itu berhenti sesaat. Dia sedang berpikir seperti mengenal gadis itu.


"Bukankah kamu temannya Maureen dan Evo?" tanya Bu Lina. Dina mendengar pertanyaan Bu Lina terkejut. Ternyata atasannya itu mengenal dirinya dan Maureen.


"I - iya, Bu," ucap Dina agak sedikit takut.


"Apa kamu tahu tadi malam Maureen masuk rumah sakit?" ujar Bu Lina lagi. Dina semakin terkejut, matanya membelalak. Dia berpikir dalam hatinya, mengapa Bu Lina bisa tahu keadaan Maureen?


Dina menggelengkan kepala, kemudian berkata, "Kenapa dia bisa masuk rumah sakit?"


"Sepertinya kamu harus bertanya sendiri pada Maureen. Kasihan wanita itu dikhianati pacar dan sahabatnya sendiri," ujar Bu Lina dan pergi begitu saja.


Dina semakin bingung dengan ucapan Bu Lina. Otaknya berpikir keras mencerna setiap kata yang dikeluarkan dari mulut wanita yang sudah lanjut usai itu.


Dari belakang Bu Lina ada seorang perempuan cantik mengikutinya.


"Tante Lina, tunggu! Aku ingin tahu kabar Bagas," panggil wanita itu. Bu Lina berhenti sejenak, dia menengok ke belakang dan tersenyum.


"Aduh, calon mantu Tante pagi - pagi sudah datang. Selamat pagi, sayang," sapa Bu Lina hangat.


Dina yang mendengar itu terkejut untuk ketiga kalinya. Kepala Dina menjadi pusing karena banyak kejutan yang dia dapatkan hari ini.


"Bagaimana keadaan Bagas setelah kejadian semalam, Tan?" tanya orang itu khawatir.


"Bagas masih mengurung diri di kamar, Dea. Tante sedih melihat Bagas seperti itu. Evo memang jahat telah selingkuh dengan lelaki itu!" marah Bu Lina.


Untuk keempat kalinya Dina terkejut. Kepalanya semakin sakit dengan kabar yang dia dengar hari ini. Ada apa ini?


"Ayo masuk ruangan Tante. Tidak enak mengobrol di sini. Takut ada yang mencuri dengar," ajak Bu Lina sambil memandangku dengan sengit. Dina hanya membalas dengan tersenyum


Dina berpikir keras siapa yang harus dia hubungi sekarang? Dina memutuskan untuk menghubungi Indra. Dina mencari kotak pesannya. Maureen pernah sekali menghubungi Indra melalui telepon genggamnya.


Terima kasih, Tuhan pesannya belum ke hapus. Nomor Indra ada. Dina segera menghubungi nomor telepon tersebut. Bunyi nada sambung. Dina sangat bersyukur kalau Indra menerima teleponnya.


"Halo," jawab Indra dari seberang.


"Halo, Indra ini Dina."


"Ada apa, Dina?" tanya Indra.


"Apakah kamu bersama Maureen?" ucap Dina.


"Ya. Aku dan Maureen sedang di rumah sakit. Rumah sakit Sehat Selalu."


"Aku akan segera ke sana," ucap Dina. Dia menutup teleponnya, kemudian menghubungi atasannya untuk izin pergi. Setelah selesai dengan atasannya, Dina menghubungi suaminya dan memberitahu bahwa dirinya akan ke rumah sakit.


"Kenapa dengan kamu? Apa kamu sakit?" tanya Rafael khawatir.


"Bukan aku sayang, tapi Maureen. Bisakah kamu menemani aku ke rumah sakit?" tanya Dina.


"Baik. Kebetulan aku masih dekat dengan kantor kamu," jawab Rafael. Rafael membelokkan mobilnya kemudian melajukan mobil tersebut ke kantor istrinya, Dina.


*****


Rumah Kontrakan.


Perlahan aku membuka mataku. Aku melihat ke samping tempat tidur. Sosok Bagas kekasihku tidak ada di sana. Perlahan air mataku mengalir dipipi. Kejadian tadi malam pasti membuat Bagas sangat membenci diriku. Aku menyentuh seprai tempat tidurku. Aku membayangkan bahwa Bagas hadir disitu.


"Aku tidak mengkhianati kamu, Bagas. Indra telah menjebak aku. Mereka telah menjebak aku," kataku sambil berurai air mata.


Beberapa menit, aku mencoba untuk menenangkan diri. Kejadian ini seperti kekalahan dalam perang bagiku. Mereka memiliki senjata yang benar - benar membuat aku jatuh telak. Mereka menyerangku saat aku sedang lengah.


Aku berdiri dan beranjak dari tempat tidur. Aku berjalan menuju ke lemari baju. Aku membukanya dan memandangi baju Bagas yang ada di lemari. Aku mengambilnya lalu memeluk baju tersebut. Aroma tubuh Bagas menempel di baju tersebut.


"Mengapa kamu tidak percaya padaku, Bagas? Mengapa?" tanyaku sedih.


Air mata yang tadi sempat berhenti, kemudian keluar lagi. Aku tidak bisa mendustai hatiku. Hatiku layaknya gelas. Indra membanting hatiku hingga jatuh kemudian pecah berkeping - keping.


"Mengapa semua orang jahat padaku? Mengapa Indra melakukan ini padaku? Mengapa tadir begitu kejam padaku? Apa salahku Tuhan sehingga aku mendapat cobaan seperti ini? Mengapa Tuhan mempertemukan aku dengan Bagas? Mengapa bukan Karel saja yang Tuhan pertemukan dengan aku?" kataku sedih.


 


Air mataku ini terus menerus mengalir tidak berhenti. Mengapa takdir selalu mempermainkannya? Siapa yang dapat disalahkan? Apa cinta atau takdir yang mempermainkan diriku? Bagaimana caranya aku melalui semua kejadian ini?


*****


Rumah keluarga Pratama.


Tok, tok, tok.


Charlotte mengetuk pintu kamar Bagas, kakaknya. Dari dalam yang punya kamar tidak menyahut. Charlotte benar - benar khawatir dengan kakaknya itu. Bagas jarang sekali mengurung diri di kamar. Charlotte sangat yakin kalau kejadian tadi malam membuat Bagas terpukul telak.


"Mas..., Mas Bagas," panggil Charlotte.


Bagas tidak menyahut panggilan Charlotte. Kekhawatiran Charlotte semakin besar. Dia coba untuk mengetuk pintunya. Lagi - lagi Bagas menghiraukan Charlotte.


Pasti ada sesuatu yang terjadi antara Mbak Evo dan Mas Bagas. Aku harus mencari tahu! ucap Charlotte dalam hati.


Di kamar Bagas.


Sejak tadi Bagas sudah bangun dari tidurnya yang tidak lelap. Bagas masih berpikir keras tentang kejadian yang dia alami. Bagas mengepalkan tangannya.


"Agh," ringis Bagas kesakitan.


Tadi malam Bagas memukul tembok kamarnya hingga pecah. Dia luapkan rasa sakit hati dan kesalnya dengan memukul tembok itu.


Bayangan Evo sekarang ada di benaknya. Evo yang lugu. Evo yang polos yang sangat dicintai oleh Bagas. Bagas menggigit bibirnya hingga berdarah.


"Pengkhianat! Kamu mengkhianati aku Evo!" geram Bagas. Bagas mengambil gelas lalu melemparnya.


PRANG!!


Bunyi pecahan gelas yang dilempar oleh Bagas. Charlotte yang masih di pintu kager mendengar bunyi itu.


"Mas Bagas, apa yang kamu lakukan? Jangan melakukan hal yang berbahaya!" pinta Chalotte dengan suara keras, dan lagi Bagas tidak menghiraukan ucapan Charlotte.


*****


Rumah Sakit.


Dina dan Rafael yang baru tiba di rumah sakit langsung ke ruang informasi untuk mengetahui letak kamar yang diberikan Indra padanya.


"Sabar. Jangan lari - lari. Ingat kamu harus menjaga kondisi kamu yang sedang hamil ini," Rafael mengingatkan istrinya. Dina mengangguk setuju. Setelah mendapatkan letak kamarnya, Dina dan Rafael langsung menuju ke kamar perawataan Maureen. Tanpa mengetuk pintu Dina masuk ke kamar tersebut.


"Maureen!" ucap Dina yang baru saja datang lalu memeluk Maureen. Di kamar tersebut hanya ada Maureen.


"Kenapa kalian bisa tahu aku ada di sini?" tanya Maureen.


"Aku menelepon Indra. Dia yang memberitahu aku kalau kamu ada di sini. Ada apa dengan kamu? Kenapa kamu bisa di rumah sakit? Kenapa juga kamu bohong pada Mama kamu?" Dina memberikan banyak pertanyaan pada Maureen.


"Hey, sayang, mengapa banyak sekali pertanyaan yang kamu ajukan pada Maureen? Bagaimana cara dia menjawab?" Rafael mengingatkan.


Maureen tersenyum menjawab pertanyaan Dina. Maureen masih sedih dengan kejadian semalam. Walau dia berusaha untuk ikhlas untuk Indra, tapi seharusnya Evo dan Indra tidak membohonginya seperti itu.


Tiba - tiba air mata Maureen mengalir. Dina dan Rafael yang melihat Maureen menangis terkejut.


"Ada apa sebenarnya, Maureen?" tanya Dina lagi dengan lembut.


"Tadi malam...."


Flash Back


"Apa maksudnya semua ini, Evo? Kenapa kamu berduaan dengan Indra di atas tempat tidur dengan setengah telanjang?" pekik Maureen tidak percaya.


Tidak, Maureen. Tidak ini semua salah paham," ujarku menjelaskan.


"Sudahlah Evo, kita harus berterus terang pada mereka. Aku sudah tidak sanggup untuk menjalani hubungan seperti ini," pinta Indra.


"Apa yang kamu bilang? Jangan mengarang cerita!" amukku pada Indra.


Tes, tes, tes.


Air mata Maureen menetes dipipinya. Dia tidak sanggup melihat kenyataan ini. Maureen tidak menyangka dugaan Dina yang menjadi kenyataan


"Kamu jahat, Vo! Kalian berdua jahat!"


Aku menghampiri Maureen, lalu memegang tangannya. Maureen menepis tanganku. Dia menatap mataku dengan penuh kebencian.


"Maureen, aku mohon percayalah padaku. Aku mohon."


"Kenapa kamu tidak bisa jujur, Vo? Sudahlah, katakan saja sejujurnya pada mereka bahwa kita sudah lama berhubungan seperti ini," ucap Indra lagi.


"Diam kamu, Indra! STOP! Jangan mengarang cerita!" marahku pada Indra.


Aku memegang tangan Bagas, lalu berkata, "Kenapa kamu diam Bagas? Kenapa kamu tidak bicara apapun padaku?"


"Apa kamu sudah gila bertanya seperti itu, Vo? Aku tidak menyangka kamu mengkhianati Bagas yang selalu membelamu. Bagas selalu bercerita bahwa Evonya adalah wanita yang baik. Evonya selalu setia padanya. Evonya adalah seorang bidadari yang turun dari langit yang diberikan Tuhan padanya. Ternyata cerita Bagas tidak benar. Aku sungguh kecewa padamu, Vo!" maki Dea.


"Bagas...." panggilku.


"Sudahlah, Vo. Jangan berpura - pura lagi. Aku sudah lebih kaya dari pada Bagas. Orang tua Bagas tidak pernah setuju dengan hubungan kalian. Sudah terlanjur ketahuan. Kita akui saja pada mereka."


"Jangan mengarang terus, Indra!" bentakku.


"TIdak. Indra tidak mengarang. Aku putus dengan Indra karena kamu. Indra tidak mau kembali padaku karena Indra mencintai kamu. Indra tidak bohong. Dia benar," ungkap Maureen.


"Tidak, Ren. Kamu salah paham. Tolong dengarkan aku, kamu salah paham."  kataku.


Aku tidak mampu berkata apa - apa lagi. Situasi saat ini sangat membuat aku terpojok. Bagas hanya diam saja. Bagas, bicaralah. Apa aku tidak pantas untuk dipercaya?


PAK!


Bu Lina menampar aku. Wanita tua itu kesal dengan kelakuanku.


"Diam wanita murahan! Kamu tidak pantas untuk bicara lagi. Apa kamu tidak berpikir dahulu sebelum mengkhianati Bagas? Bagas selalu membela kamu dihadapan kami. Dia rela meninggalkan jabatannya demi kamu! Dia juga melawan kami demi kamu. Sekarang apa balasan yang kamu terima?" marah Bu Lina.


."Hei, Tante tua! Apa yang kamu lakukan padanya?" bentak Indra.


"Jangan membentak orangtuaku!"  bentak Bagas.


"Wah, akhirnya Tuan muda sudah bisa bicara juga. Maaf tapi Evomu sudah jadi milikku."


"Brengsek!" maki Bagas.


"Apa? Apa yang kamu katakan? Aku sama sekali tidak mendengarnya! Apa sebegitu lemahnya kamu sehingga tidak bisa mengeluarkan suara? Dasar cowok lemah!" ledek Indra.


BUK!


Bagas memukul Indra. Indra tersungkur jatuh. Dari tadi Bagas  menahan diri untuk tidak memukul Indra. Emosi dia sudah sangat tinggi.


Indra memegang bibirnya. Terdapat luka kecil di bagian pinggir bawah bibir Indra.


"Apa hanya  segini saja tenagamu, Bagas?" ejek Indra lagi.


"Aku bisa membunuhmu di sini kalau kamu mau," ucap Bagas.


"Aku tidak segampang itu untuk mati, Bagas."


Bagas mendekati Indra. Lalu memberikan pukulan demi pukulan kepada Indra. Mereka berkelahi satu sama lain. Bagas meninju perut Indra, Indra membalas pukulan Bagas.


"Berhenti!! Bagas berhenti!" teriakku.


"Bagas, cukup!" perintah Pak Freddy.


"Jangan Bagas!" pinta Bu Lina.


Maureen yang melihat Indra dipukuli Bagas menjadi gemetaran. Dia sangat takut kalau Indra nanti mati. Jauh di dalam lubuh hati Maureen, nama Indra masih terukir.


Aku harus menolong, Indra.


Maureen berlari ke tengah diantara Bagas dan Indra.


BUK!


Bagas yang tidak melihat kedatangan Maureen lalu memukul Maureen hingga pingsan.


Kembali ke cerita.


Selesai bercerita air mata Maureen semakin membanjiri pipinya. Dia tidak kuasa menahan tangisnya. Dia sangat terluka karena dibohongi.


"Apa? Apa aku tidak salah mendengar cerita kamu?" tanya Dina tidak percaya. Rafael yang mendengar hal tersebut ikut tercengang.


"Aku tidak bohong. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Di sana ada Bu Lina, Pak Freddy, dan Bagas. Aku tidak sanggup melihat semua itu semalam."


"Kenapa kamu tidak membiarkan Bagas membunuh Indra? Dia benar - benar lelaki jahat!" ujar Rafael.


"Aku tidak mau Indra terbunuh tadi malam," ucap Maureen.


"Bagaimana keadaan Evo?" tanya Rafael.


"Kenapa kamu tanyakan Evo? Biarkan saja dia. Dia sudah melakukan hal buruk dengan sahabatnya!" kesal Dina.


"Aku tidak tahu. Aku sudah tidak peduli dengannya."


"Bagus! Memang sudah sepantasnya kamu bersikap seperti itu," dukung Dina.


Rafael mencium adanya sesuatu yang mencurigakan. Seperti ada sebuah konspirasi kejadian tadi malam. Ada yang tidak beres dengan kejadian ini.


"Ini ada yang tidak beres," kata Rafael.


"Kenapa kamu selalu membela Evo? Apa jangan - jangan kamu masih mencintai Evo?" tanya Dina yang kesal dengan Rafael. Dina mulai terpancing emosinya.


 


 


 


Saksikan kelanjutan di episode berikutnya. Jangan lupa ya untuk LIKE, dan VOTEnya. Terima kasih telah sayang sama MOY.


 


 


*****


 


 


 


 


 


 


NEWS!!


Ada cerita baruku judulnya : CINTAI AKU, MR. KANEBO!


Silahkan dibaca, like, komment, bintang 5 dan share sebanyak - banyaknya. Terima kasih.


❤❤❤