
Satu tahun kemudian.
Evo sedang menikmati makan siangnya. Dia memandang indah langit di Singapura.
“Apa langit di Indonesia sama indahnya dengan langit di Singapura?” tanya Evo.
Sudah satu tahun berlalu, sekarang Evo tinggal di Singapura. Dia memutuskan untuk pergi meninggalkan Indonesia dan semua kenangannya.
Evo melihat ke jam tangannya,”Oh, tidak! Aku akan terlambat kembali kerja! Ms. Karline pasti akan menggantungku kalau aku datang terlambat!” kata Evo. Dia memukul jidatnya.
Karena terburu – buru, Evo meninggalkan dompetnya di meja makan tersebut. Seseorang mengambil dompet kemudian membukanya. Dia mengambil kartu nama yang ada di dalam dompetnya.
“Evolet Rebecca,” ujar orang itu sambil tersenyum.
*****
“Evo!! Kenapa kemu begitu lama hanya untuk makan siang?” tanya Ms. Karline.
Di kantor Evo, yang bisa bicara bahasa Indonesia hanya pimpinanya saja, Ms. Karline. Bosnya itu suka sekali menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan Evo.
Evo menaruh kedua tangannya di telinga,”Maaf, Ms. Karline. Tadi aku melihat langit di Singapura sangat indah. Aku berpikir apakah di Indonesia langitnya juga seindah ini?”
“Kalau sudah selesai pidatomu itu kembalilah bekerja.”
Evo nyengir, kemudian kembali ke tempat duduknya. Teman sekantor Evo menghampirinya dan meminta Evo membayar tagihan sepatu yang kemarin dia titip beli.
“Wait, I will get my wallet,” ucap Evo.
Evo mencari dompet di tasnya, tapi dia tidak menemukan dompetnya. Ke mana dompetnya?
“What’s wrong with you, Evo?” tanya temannya itu.
“I cannot find my wallet. I lost my wallet. I sure put my wallet in here,” ujar Evo panik.
Drt, drt, drt.
Telepon genggam Evo berbunyi. Dia langsung menerima telepon tersebut.
“Halo,” sapa Evo.
Evo kaget mendengar suara orang yang meneleponnya. Dia merasa mengenal suara ini, tapi segera dia menepis perasaan itu, karena tidak ada seorang pun tahu Evo pindah ke Singapura.
“Yes?”
“Sorry, I found your wallet,” ucapnya.
Evo sangat senang mendengar dompetnya ditemukan oleh seseorang. Merekapun berjanjian untuk bertemu setelah dia pulang dari kantornya. Uang tidak masalah baginya, tapi di dalam dompet itu tersimpan satu kenangan yang tak dapat tergantikan.
*****
Pulang kerja, Evo segera kembali ke restoran yang dia datangkan tadi siang. Evo janjian dengan orang yang menemukan dompetnya.
Sambil menunggu, Evo memesan minuman. Dia datang terlalu cepat. Evo mengigit bibirnya untuk menenangkan kecemasannya, dia cemas kalau nanti orang yang menemukan dompetnya tidak datang.
Evo meneguk minumannya. Tiba – tiba datanglah seseorang dengan membawakan bunga berwarna merah padanya.
“Apakah anda Nona Evo?” tanya orang itu.
Evo merasa heran, mengapa ada orang yang begitu lancar bahasa Indonesia? Dia menyingkirkan bunga tersebut untuk melihat orang yang memberikan bunga padanya.
“Bastian?” tanya Evo tidak percaya. “Ba… bagaimana mungkin?”
Bastian memberikan bunganya pada Evo. Evo masih tercengang dengan semua ini. Ternyata dugaan dia sebelumnya sangat tepat. Orang yang meneleponnya benar – benar seperti yang dipikirkannya. Suara itu, suara Bastian.
“Aku sudah pernah bilang padamu, ke manapun kamu pergi, aku bisa menemukanmu.”
Bastian duduk tepat di depan Evo. Dia menatap Evo dengan penuh cinta. Satu tahun sudah dia mencari wanita ini. Evo hilang bagaikan di telan bumi.
“Kenapa pergi? Kenapa pergi meninggalkanku dan yang lain?” tanya Bastian tanpa basa – basi.
“Aku... waktu itu….”
*****
Satu tahun yang lalu.
Rumah Sakit.
Bastian berlari dengan kencang ke ruang IGD, setelah dia menerima kabar kalau Evo mengalami kecelakaan.
“Bagaimana keadaan Evo, Mbak?” tanya Bastian panik.
“Dokter sedang memeriksanya. Mereka sudah sejam di ruang IGD, belum keluar,”jelas Mbak Meli.
“Mereka?”
“Evo dan Bagas. Bagas menyelamatkan Evo dalam kecelakan tersebut.”
Bastian menjadi diam. Ternyata Bagas masih mencintai Evo. Dia rela meyelamatkan Evo dengan merenggang nyawanya.
Bastian duduk di bangku depan IGD. Dia merasa akan kehilangan Evo selamanya. Mbak meli menghampiri adiknya itu, lalu merangkulnya.
“Jangan berpikir yang tidak – tidak. Pikiran kamu tidak tepat,” kata Mbak Meli.
Bastian tidak membalas, dia sudah tidak ada tenaga untuk bicara pada kakak perempuannya itu.
Dari ujung sana, Maureen berlari. Dia menemukan Mbak Meli dan Bastian di depan tuang IGD.
“Bagaimana keadaan Evo dan Bagas?” tanya Maureen kepada Bastian dan Mbak Meli.
“Evo dan Bagas masih di dalam. Apa kau sudah memberitahu keluarga Bagas?”
Maureen mengangguk, setelah Mbak Meli mengabari tentang kecelakan itu, Maureen segera memberitahu keluarga Bagas.
“Terima kasih,” ucap Mbak Meli.
Mereka bertiga menunggu dengan gelisah. Mereka berdoa untuk kesembuhan Evo dan Bagas.
Dari kejauhan, Maureen melihat sosok Rafael. Semakin dekat, dugaannya semakin benar, itu adalah Rafael.
“Kenapa kamu ke sini?” tanya Maureen.
“Aku khawatir dengan Evo,” ucap Rafael.
“Evo dan Bagas masih di IGD. Kita tunggu saja kabar dari dokter, semoga mereka baik – baik saja.”
“Ya, harus. Aku tidak mau ketinggalan orang yang aku sayang lagi,” kata Rafael.
Perkataan Rafael barusan, membuat Maureen menjadi sedih. Ternyata Rafael masih memendam rasa sayangnya pada Evo.
Beberapa saat kemudian, Dokter keluar dari IGD.
“Bagaimana keadaan keduanya, Dokter?” tanya Mbak Meli.
“Pasien bernama Evo dapat kami tolong, tapi….”
“Syukurlah!” ujar kami berbarengan.
“Tapi apa, Dok?” tanya Bastian. Dia sempat yang mendengar kalimat terakhir dari Dokter tersebut.
“Matanya mengalami benturan yang sangat keras, sehingga kedua matanya tidak berfungsi lagi,” jelas Dokter.
“A… apa maksudnya, Dok?” tanya Maureen ngeri.
“Dia mengalami kebutaan.”
Keterangan Dokter barusan, membuat semua yang mendengarnya tidak percaya. Evo tidak dapat melihat. Sekarang dia buta.
“Bagaimana dengan anak yang dikandungnya, Dok? Apakah selamat?” tanya Mbak Meli. Perempuan itu sudah bisa menenangkan dirinya. Dia teringat kalau Evo sedang mengandung sekarang.
“Anak? Siapa yang hamil?”
“Bu… bukankah Evo sedang hamil?” tanya Bastian.
Dokter menggeleng kepala menyatakan kalau Evo tidak hamil.
“Mas Bastian!” panggil Charlotte. Perempuan itu melihat Bastian, dan segera menghampirinya. Charlotte ditemani Evan kekasihnya.
“Bagaimana kamu bisa tahu?” tanya Bastian.
“Rumah sakit ini milik keluarga temanku. Pihak rumah sakit tadi menghubungiku.”
“Hai, Charlotte!” sapa Dokter tersebut.
Charlotte menatap Dokter tersebut,”Mas Michael?”
“Ya, aku Michael. Kakak Reta, apakah kakakmu adalah Mas Bagas?”
Charlotte mengangguk cepat.
“Pantas saja, aku seperti mengenalnya.”
“Bagaimana keadaan, Mas Bagas?” tanya Charlotte khawatir.
“Kita harus bicara mengenai keadaan Bagas. Ini sangat darurat,” ucap Michael. Michael mengajak Charlotte. Evan mengikutinya dari belakang.
“Hanya keluarga Bagas yang boleh ikut,” ucap Michael.
“Dia tunanganku, Mas. Aku rasa dia boleh ikut,” kata Charlotte.
“Tunggu, Dok,” cegah Bastian. Dia merasa tidak puas dengan penjelasan Michael tersebut.
“Ya. Apa ada yang ingin ditanyakan lagi?”
“Bagaimana caranya agar Evo bisa melihat kembali?” tanya Bastian.
“Kita harus mencari pendonor mata agar Evo bisa melihat lagi.”
“Apa? Apa katamu, Mas?”
Charlotte merasa gemetar mendengar penjelasan Michael. Evo mengalami kebutaan. Sebenarnya apa yang terjadi?
“Ya, karena kecelakan itu Evo mengalami kebutaan, dan Bagas mengalami kritis.”
Charlotte terbelalak, dia menutup mulutnya. Dia benar – benar tidak percaya.
“Tolong, Mas. Tolong pertemukan aku dengan Mas Bagas. Aku mohon,” pinta Charlotte. Jantungnya berdebar sangat keras. Charlotte tidak mau kehilangan Bagas.
Beberapa hari kemudian setelah kejadian kecelakan itu, Bagas meninggal dunia. Dia menyumbangkan matanya untuk Evo. Bagas membuktikan cinta pada Evo disaat – saat terakhir hidupnya.
Tersangka kecelakaan sudah ditangkap. Pelakunya adalah Dea.
Evo tidak hamil, karena ternyata hasil test pack tidak akurat. Evo hanya mengalami sakit biasa sehingga merasakan mual dan terlambat datang bulan.
Evo yang merasa sedih dengan kepergiaan Bagas, memutuskan untuk pergi meninggalkan semua orang termasuk Bastian. Dia tidak bisa mengkhianati Bagas, karena Bagas telah menyumbangkan mata untuk dirinya. Dia juga tidak bisa menerima Bastian, karena Bastian akan selalu melihat Bagas dalam dirinya.
Evo pergi tanpa memberi tahu siapapun. Dia hanya memberikan pesan diselembar kertas yang dia taruh di meja kamarnya. Surat itu ditujukan kepada Bastian.
Dear Bastian,
Maafkan aku pergi tanpa memberitahumu sebelumnya. Terima kasih telah melindungiku dan mencintaiku selama ini. Terima kasih karena selalu percaya padaku.
Dear Bastian, ketika kamu membaca pesan ini, aku telah pergi meninggalkanmu selamanya. Aku tahu kepergianku ini akan melukai hatimu, tapi percayalah waktu akan membantumu untuk melupakanku.
Bas, carilah wanita lain yang lebih pantas untukmu. Sekarang kamu bebas. Aku kembalikan cincin itu padamu. Kita sudah tidak ada hubungan apapun lagi.
Sekali lagi, maafkan aku karena aku memilih mundur. Jangan mencariku.
Dari aku yang tidak akan pernah melupakanmu,
Evo.
*****
“Maaf, Bas. Maafkan aku. Aku merasa tidak pantas untukmu. Bagas telah mengikatku. Dia mengikatku dengan mataya,” jelas Evo.
“Kamu salah! Bagas tidak mengikatmu. Pikiranmu yang membuat kamu seperti itu! Bagas ikhlas mendonorkan matanya untukmu!”
“Aku….”
Bastian memegang wajah Evo dengan lembut, sambil menatap wanita itu.
“Aku mencintamu, Vo! Aku sangat mencintaimu! Aku tidak mau kamu pergi lagi! Jangan pergi lagi, Vo. Aku mohon,” pinta Bastian.
Setahun sudah Evo berusaha melupakan Bastian, tapi ternyata Evo tidak mampu untuk melupakan Bastian.
Bastian mengeluarkan kembali kotak merah, dan membukanya.
“Maukah kamu menikah denganku?” tanya Bastian. Dia mengulang pertanyaan yang pernah dia lontarkan dulu pada Evo.
Dengan berurai air mata, Evo menerima lamaran Bastian padanya. Bastian menghampiri Evo dan memeluknya. Kali ini Bastian bersumpah, tidak akan melepaskan Evo lagi.
“Aku mencintaimu, Bas,” ucap Evo.
Akhirnya Evo dan Bastian kembali bersatu.
“Bayar! Aku menang!” ucap Maureen pada Rafael.
“Kenapa kamu memeras suamimu sendiri sih?” kesal Rafael.
“Sst, apa kalian bodoh? Nanti Evo akan mendengar kita!” ujar Mbak Meli takut ketahuan.
“Suami ya suami, tapi kamu kalah taruhan! Jadi harus bayar!” tuntut Maureen.
Mbak Meli menepuk jidatnya melihat tingkah pasangan suami istri itu.
“Aku mau ke meja itu. Aku sudah kangen dengan Mbak Evo,” ucap Charlotte.
“Eh, eh, Charlotte! Jangan!” cegah Mbak Meli.
Evo yang mendengar ada yang memanggilnya, mencari suara itu. “Bas, kayanya aku mendengar ada yang manggil namaku.”
Bastian tersenyum, sepertinya mereka sudah tidak sabar untuk berbicara pada Evo.
“Mereka semua ada di sini,” terang Bastian.
“Mereka? Siapa maksudmu?” tanya Evo
“Charlotte, Evan, Mbak Meli, Maureen dan Rafael.”
“Apa?”
“Mbak Evo!!!!” panggil Charlotte makin keras. Di belakangnya ada Evan, Mbak Meli, Maureen dan Rafael.
“Ya, ampun! Ternyata kalian di sini!” kata Evo tidak percaya. Dia memeluk mereka satu persatu.
Mereka akhirnya bergabung dengan Evo dan bastian. Evo bahagia karena melihat semua menjadi bahagia. Maureen menikah dengan Rafael. Evan meminang Charlotte. Mbak Melipun akan segera menikah dengan pria yang dia jumpai saat liburan di Paris.
Tiba – tiba Evo dapat melihat Bagas. Bagas tersenyum bahagia karena melihat Evo bahagia.
“Terima kasih, Gas. Terima kasih,”ucap Evo sambil tersenyum.
*****
Tunggu, tunggu! Ini belum tamat! Evo melupakan sesuatu! Dia harus bertanya pada Bastian suatu hal.
“Bas,” panggil Evo.
“Kenapa dulu kamu memanggil namaku dengan MOY?” tanya Evo penasaran.
“Itu singkatan, Vo. Singkatan dari My Only You (hanya aku, kamu). Karena hanya aku, dan kamu. Kita selamanya.”
THE END
Jangan lupa kasih Vote, dan Like ya. Terima kasih buat kalian yang selalu membaca kisahku dari awal hingga terakhir. Aku sangat menyayangi kalian! Kalian reader terhebat yang pernah saya punya! Ditunggu ceritaku yang lain ya!
Terima kasih buat teman- teman penulis yang selalu menyemangati khususnya tim hello author! Aku sangat mencintai kalian!