MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Badai Masalah



Sebelum kalian membaca, mohon ditekan ya jempol dibawah dan vote. Like dan vote kalian membuat saya semangat berkarya. Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


 


*******


"Dea, apa - apaan kamu ini?" tanya Bagas marah.


"Kenapa? Biasanya juga kita selalu melakukan hal ini," jawab Dea santai.


"Aku tidak mau ini terulang lagi. Kita sudah sama - sama dewasa. Aku sudah punya tunangan dan segera menikah," tegas Bagas.


"Sayangnya tunangan kamu itu tidak mencintai kamu seperti aku mencintai kamu!" Dea menegaskan. "Dia menjual tubuhnya untuk uang. Dia mau sama kamu karena uang. Dia tidak mencintaimu, Bagas!"


"Aku yang tahu perasaan Evo padaku. Aku yang tahu bagaimana hubungan kami sampai sekarang. Aku harap kamu tidak mendengar Mama. Mama salah menyampaikan informasi padamu!" tuduh Bagas. Bagas sangat sedih Mama pasti memberikan informasi yang tidak benar pada Dea.


"Tante tidak pernah cerita apapun padaku. Aku bisa menilai Evo. Dia sama dengan wanita yang selama ini kamu tiduri. Mereka hanya memanfaatkanmu karena uang. Aku sayang padamu, Bagas. Aku tidak mau kamu mendapatkan wanita yang salah," Dea tidak mau kalah memberikan argumen.


Bagas menghela napas panjang. Dia berdiri lalu melangkah ke arah pintu, kemudian berkata, "Aku tidak mau membahas ini. Aku juga tidak mau bertengkar denganmu dan membuat kita menjadi musuh. Aku minta kamu pulanglah."


Dea melangkah dengan perasaan kesal, dia berhenti tepat di depan Bagas,"Aku yakin kamu akan menyesal Bagas tidak mendengarkanku. Evo tidak mencintaimu. Dia mencintai pria lain, dan itu bukan kamu!"


Bagas menutup pintu setelah kepergian Dea. Ada apa ini? Mengapa semua orang menentang hubungan aku dengan Evo? Apa mereka tidak tahu kalau akulah yang telah menjebak Evo, bukan Evo yang menjebak aku. Mengapa begitu rumit?


*****


Apartemen Bagas


Drt.


Bunyi pesan masuk dari telepon genggamku.


Indra :


Aku mencintaimu. Aku senang dengan ciuman kita di tangga. Semoga nanti aku mendapatkan lebih dari sekedar ciuman. Ingat, kebahagian Maureen di tanganku, kalau kamu mau Maureen bahagia turuti aku.


Aku menghapus pesan itu. Indra benar - benar menakutiku. Dia benar - benar sudah gila. Apa aku harus menceritakan ini pada Bagas? Apa nanti mereka akan bertengkar? Tidak. Jangan ceritakan ke Bagas. Aku khawatir Bagas akan memukulnya dan Maureen akan membenci Bagas. Ayo, Evo berpikir. Berpikirlah, Vo. Aku mencoba menghubungi Bastian lagi, tapi tidak bisa. Akupun mengetik pesan singkat untuknya.


Tolong aku, Bas. Aku membutuhkan dirimu. Benar - benar membutuhkanmu.


 


 


Aku sangat bingung. Tiba - tiba nama Rafael muncul di benakku. Aku harus cerita pada Rafael. Aku tidak dapat menyelesaikan ini sendirian. Aku mengambil telepon genggamku, kemudian menekan nomor Rafael. Bunyi nada sambung dari telepon genggamku.


"Ya, Vo. Ada apa?" tanya Rafael.


"Aku butuh bantuanmu. Aku ingin bertemu denganmu," pintaku. Rafael menyetujui permintaanku. Siang ini kami bertemu di kafe yang biasa kami bertemu.


*****


Siangnya di kafe.


"Ada apa? Sepertinya kamu cemas sekali," tanya Rafael melihat muka aku yang begitu pucat. Tidak biasanya Evo menelepon dia.


"Maaf aku telah menganggu waktumu." ucapku. Akupun menceritakan semuanya pada Rafael. Indra yang selalu menerorku melalui pesan singkat. Indra yang memutuskan Maureen karena mencintaku. Indra yang menciumku dengan paksa tadi pagi.


"Apa? Aku tidak mengira Indra bisa senekat itu," ujar Rafael. Tanganku bergetar karena takut. Rafael yang melihat seperti itu, memeluk tubuhku. Memegang tanganku untuk menenangkan hatiku.


"Tenang, Vo. Tenang," ucap Rafael menenangkan diriku.


"Aku takut, Rafa. Aku takut. Aku tidak mau Bagas tahu dan mereka akan bertengkar. Maureen pasti terluka," ceritaku.


Tes, tes, tes.


"Tolong katakan pada Indra bahwa itu perbuatan yang tidak benar." pintaku. Aku melepaskan pelukan Rafael.


"Aku akan bantu, Vo. Pendapatku juga kamu harus cerita dengan Bagas. Bagas harus tahu keadaanmu! Dia kekasihmu," ucap Rafael.


"Aku akan cerita, Fa, tapi nanti setelah kondisi Maureen membaik"


"Baiklah. Aku akan bertemu dengan Indra. Aku akan membantu," ucap Indra pada akhirnya. Aku lega Rafael membantuku. Rafael memang pria yang baik.


Tanpa aku sadari, ada yang memotret aku dan Rafael.


"Memang Tuhan baik padaku. Ini pasti bukan kebetulan aku bertemu dengan Evo dengan lelaki ini. Benar - benar wanita murahan. Kemarin mau dicium dengan Indra, sekarang pelukan dengan lelaki yang sudah beristri." ujar Dea sambil tersenyum penuh kememenangan.


"Sebentar lagi Bagas dan teman - temanmu akan mengetahui sifat aslimu," ujar Dea lagi.


*****


Rumah keluarga Pratama.


"Kita tidak bisa tinggal diam, Pa. Bagas dan Evo harus segera kita pisahkan. Mama benar - benar tidak menyukai wanita itu. Aku heran mengapa Bagas begitu mencintainya?" ucap Bu Lina bergebu - gebu.


Pak Freddy bangkit berdiri, dia menepuk bahu istrinya kemudian berkata, "Ada apa? Mengapa kamu begitu marah hari ini?"


"Dea cerita kalau anak itu diusir oleh Bagas dari ruangannya. Bagas membela Evo terus, membuat hatiku jengkel saja," cerita Bu Lina lagi.


"Jadi apa yang mau Mama lakukan sekarang?" tanya Pak Freddy dengan sabar.


"Aku mau Dea yang menjadi menantuku kelak. Dia yang pantas bersanding dengan keluarga kita. Kita sudah tahu bibit, bobot, dan bebet Dea."


"Baik, baik. Papa akan lakukan rencana kita sekarang," ucap Pak Freddy.


"Apa tidak akan membahayakan perusahaan kita?" tanya Bu Lina.


Pak Freddy tersenyum pada istrinya, kemudian berkata, "Perusahaan kita tidak tergoncang, Ma. Bagas yang akan tergoncang dengan ini semua."


 


*****


Drrt.


Pesan masuk dari telepon genggam Dina. Wanita itu tidak mengenali nomor yang mengirim pesan. Dina membuka pesan tersebut. Mata Dina terbelalak kaget. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihat.


"Ini bukannya foto Rafael dan Evo? Mengapa Rafa memeluk Evo? Mengapa Rafa menghapus memegang tangan Evo?" ujar Dina. Nada suaranya mulai meninggi. Wanita hamil ini terpancing emosi. Emosinya memuncak.


"Rafa dan Evo selingkuh?" pekik Dina dengan emosi yang sudah diubun - ubun. Dina menjerit, dia lupa kalau dia sedang hamil. Tiba - tiba perut Dina berkontraksi. Dia merasakan sakit yang luar biasa. Dina menjerit kencang di kantor karena mehanan sakit. Darah keluar dari kakinya.


"Tolong! Tolong aku!" jerit Dina. Teman - teman kantor Dina melihat keadaan Dina yang keluar darah. Mereka ikut panik dengan keadaan Dina. Ada yang menelepon ambulans, dan ada yang menghubungi Rafael. Dina berdoa pada Tuhan agar dia tidak keguguran.


 


*****


Apa yang direncanakan Om Freddy dan Bu Lina terhadap perusahaan Bagas? Bagaimana nasib kehamilan Dina? Saksikan kisah Evo di episode selanjutnya.


 


Dukung MOY (My Only You) dengan cara tekan jempol dipaling bawah, vote, kasih bintang lima dan komentar. Pemberian kalian sangat berharga sekali buat saya. Salam sayang dari aku untuk kamu. Iya, kamu!