
Sebulan sudah berlalu, novel karya keduaku sudah terbit. Kali ini aku menerbitkannya bukan di kantor Rafael, tetapi dipenerbit lain yang ada di kota Bandung. Penghasilankan pada novel pertama cukup untuk menghidupiku selama sebulan ini. Sambil menulis, aku mencari pekerjaan yang baru. Melamar sana sini untuk menambah pendapatanku, tetapi belum juga dapat. Semoga novel keduaku mendapat respon yang baik seperti dinovel pertama.
Kring, kring.
Bunyi teleponku.
" Guten morgen, "sapa seseoarang disebrang sana. Suara cadel yang sangat ku hapal. Ya, dia Bastian. Selama sebulan ini hubungan kami semakin dekat. Bastian selalu menghubungiku, bertanya keadaanku, dan memberikan apa yang aku butuhkan.
"Ini sudah siang, Bas," protesku padanya.
"Haha, masa iya?" tawa renyah Bastian mengeluarkan aura positif padaku, akupun ikut tertawa.
" Nanti sore aku akan ke Indonesia, tepatnya ke Jakarta," Bastian memulai pembicaraan. "Bisakah kita bertemu?"
"Kenapa mendadak?" tanyaku.
" Tidak mendadak, aku hanya lupa mengabarimu. Di mana kamu sekarang? Masih di Bandung?" tanya Bastian lagi.
" Iya, aku masih di Bandung. Aku akan pesan travel dari sini. Jam berapa pesawatmu?"
" Aku tiba jam 6 sore nanti."
" Baiklah, aku akan langsung ke Bandara," ucapku.
" Sampai ketemu Moy," pamit Bastian lalu menutup telponnya. Semenjak aku mengganti nama, Bastian suka memanggil nama samaranku, Moy. Padahal aku sudah protes agar dia tidak memanggil dengan sebutan itu lagi. Aku bergegas merapikan bajuku. Memesan travel untuk balik ke Jakarta. Sebulan sudah aku menghilang tanpa ada kabar. Aku menguatkan diriku, sudah saatnya aku kembali ke Jakarta. Semoga aku tidak bertemu dengan Bagas. Semoga dia sudah punya penggantiku.
Bandara Soekarno Hatta, pukul 6 sore.
Aku sudah sampai di Bandara. Pesawat Bastian dari Malaysia baru saja mendarat. Aku menunggu Bastian di salah satu cafe yang ada di Bandara. Aku sudah memberi pesan padanya untuk mengunjungi aku di sini.
" Evoo!!" seru Bastian yang baru masuk di cafe. Semua orang memandangi lelaki itu. Bastian merupakan salah satu lelaki tampan di dunia. Badannya tinggi, putih, dan memiliki senyum yang aduhai. Aku paling menyukai mata Bastian, karena matanya itu mirip sekali dengan Karel.
" Hai, Bas. Akhirnya kita bertemu juga," ucapku disambut pelukan Bastian.
" Aku merindukanmu, Vo," jujur Bastian.
" Aku juga, apalagi makan nasi lemak yang ada di pinggir apartemenmu itu," ujarku lalu melepas pelukan Bastian.
" Tenang saja, aku membawanya khusus untukmu." Bastian mengeluarkan sebuah kotak makanan. Dia memberikannya padaku.
" Terima kasih banyak, Bas! Aku benar-benar rindu dengan nasi lemak ini," aku membuka kotak makan tersebut, lalu melihat isinya. Benar itu nasi lemak kesukaanku.
" Ayo kita pulang, supirku sudah menjemput," ajak Bastian.
" Pulang? Pulang ke mana?" tanyaku.
" Ke rumahku. Memang ke rumah siapa lagi?"
" Hmm, Bas, boleh minta sesuatu?"
" Apa?" Bastian menatapku lama.
" Aku ingin ke rumah. Apa kau mau menemaniku? Aku ingin mengambil sesuatu di sana."
" Boleh."
Kami pun berangkat dari Bandara menuju ke kontrakanku. Perjalanan memakan waktu cukup panjang, karena ini jam pulang kantor. Kami tiba di rumah kontrakanku pukul 9 malam. Aku membuka pintu rumah tersebut. Sudah satu bulan lebih aku meninggalkan rumah ini. Rumahnya sudah banyak debu karena tidak terurus.
" Wah, Vo, kamu tinggal sendirian di sini?" tanya Bastian yang dari tadi mengikutiku dari belakang.
" Dulu aku tinggal dengan Mama, Bas. Papa sudah lama meninggal, kemudian mama menyusul. Mama meninggal enam bulan yang lalu."
" Maaf, aku tidak tahu. Aku turut berduka, Vo."
" Sudah? Ayo ke rumahku," ajak Bastian. Aku mengangguk. Bastian membantuku membawa perlengkapanku. Kami berjalan keluar. Tanpa sengaja, aku menginjak sesuatu. Sebuah undangan pernikahan.
" Tunggu sebentar, Bas," aku mencegah pria itu pergi. Buru-buru aku membuka surat undangan tersebut. Ada nama Dina dan Rafael tertulis di sana. Sepucuk surat terlampir didalamnya. Aku membuka surat itu.
Dear my lovely friend, Evolet Rebecca
Aku tidak tahu harus mencarimu di mana.
Aku tidak mengerti bagaimana cara aku menyampaikan surat undangan ini padamu.
Vo, berkatmu aku dan Rafael bertemu kembali.
Karena dirimu, aku bisa menemukan dan memaafkan Rafael lagi.
Aku dan Rafael bingung mencarimu.
Setelah kamu pergi ke Malaysia, kau tidak kembali lagi untuk selamanya.
Aku memutuskan untuk menaruh surat undangan ini di rumahmu.
Berharap kau membaca, dan datang ke pesta pernikahan kami.
Aku, Maureen, dan Rafael merindukanmu Evo.
Begitu juga Bagas.
Kembalilah bila kau membaca ini.
Datanglah bila kau merindukan kami.
Salam sayang dari aku, Rafael, dan Maureen.
Membaca surat dari Dina, lagi-lagi air mataku menetes. Bastian yang melihatku menangis, memelukku erat.
" Ada apa, Vo?" tanya Bastian sambil mendekapku dalam pelukannya.
" Dari sahabatku di Jakarta, Bas. Dia mengirimku surat undangan," aku menjelaskan, lalu aku melepaskan pelukan Bastian. Aku merindukan teman-temanku. Ya, Bagas juga aku rindukan.
❣❣❣
Sesampainya di rumah Bastian, aku langsung dipersilahkan masuk. Aku terkagum-kagum melihat rumah lelaki itu. Rumah Bastian tiga kali lipatnya dari rumah kontrakanku. Aku dan Bastian disambut oleh para pembantu dia.
" Selamat datang tuan muda,".sapa pembantu yang pertama.
" Wah, wah, tuan muda bawa siapa ini? Bawa calon nyonya ya?" ledek pembantu kedua, membuat Bastian tertawa.
" Maunya sih begitu, tapi kayanya dia ngga mau sama aku, soalnya dia udah punya tunangan. Kenalkan, Bi dia Evo," ungkap Bastian membuat kami tertawa. Para pembantu itu membawa tas kami.
" Kakak mana, Bi?" tanya Bastian.
" Loh, bukannya nona menyusul tuan ke Malaysia? Dia bilang dia di pindahkan ke Malaysia. Katanya lagi mau tinggal sama tuan di sana," jawab pembantu pertama.
" Tidak, dia tidak menghubungiku. Coba nanti aku akan menelpon dia. Tolong taruh tas dia di kamar tamu, karena untuk beberapa hari dia akan tinggal di sini bersama kita."
" Siap tuan," jawab mereka, lalu mengangkat semua barangku.
" Bastian." Panggilku. Bastian menengok. Aku diam untuk beberapa detik.
" Kenapa?" tanya Bastian pada akhirnya.
" Aku ingin datang ke pesta pernikahan Dina, Bas. Maukah kau menemaniku?"