MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Cinta Pertama Evo



Hai, hai! Bagaimana kabar kalian? Bulan ini MOY akan segera tamat. Tetap setia ya. Minta like dan votenya ya karena MOY mau tamat. Hehehehe. Selamat membaca.


*****


“Apa ada lagi yang mau kamu tanyakan padaku?” tanya Bastian membuka pembicaraan lagi. Beberapa lama kami terdiam. Hanya detak jarum jam di kamar Bastian yang terdengar.


 


 


  Evo masih tidak percaya, dia akhirnya menemukan Karelnya. Hatinya sangat berbunga – bunga. Kebahagian tiada tara yang dia rasakan sekarang.


 


 


  Bastian melambaikan tangannya di depan muka Evo sambil berkata, “Vo? Kenapa malah bengong?”


 


 


  “Eh, tidak, tadi aku hanya, aku tidak percaya kalau Tuhan mempertemukan kita lagi, Bas. Aku sangat senang,” ujar Evo dengan menangis.


 


 


  Tiba – tiba Bastian memeluk Evo, tembok penahan diri Bastian runtuh karena melihat Evo menangis kembali. Dia juga tidak menyangka Tuhan memberikan kesempatan pada dia untuk bertemu Evo.


 


 


  “Sudah, jangan menangis lagi. Maafkan aku sekali lagi karena telah membuatmu menunggu lama. Terima kasih untuk penantianmu dan janjimu yang telah kamu penuhi.”


 


 


  Evo melepaskan pelukan Bastian, dia tersenyum pada Bastian.


 


 


  “Sst, kamu tidak salah, Bas. Tidak salah sama sekali. Janjimu juga sudah kamu penuhi untukku.”


 


 


  “Oh, ya? Aku tidak merasa kalau aku telah memenuhi janjiku padamu,” ucap Bastian lagi.


 


 


  “Mungkin kamu lupa, kamu dulu pernah janji padaku akan selalu melindungi aku. Ya, kamu sudah melindungiku selalu, Bas. Pertama, saat kita di Malaysia, kamu menolongku saat penculikan, kedua….”


 


 


  “Aku tidak pernah ingat aku berkata seperti itu,” potong Bastian.


 


 


“Jangan memotong omonganku dulu,” ucap Evo.


 


 


“Baik, baik!” ujar Bastian. Pria itu selalu ingat kalau Evo tidak suka dipotong kalau sedang berbicara.


 


 


“Kedua saat pernikahanku yang digagalkan oleh Lisa, dia mencoba membunuhku tapi kamu menyelamatkanku. Ketiga saat aku akan diperkosa oleh beberapa pemuda, kamu melindungiku lagi. Apa semua itu tidak berarti bagimu? Kamu sudah menepati janjimu padaku.”


 


 


  Bastian memandang Evo dengan tatapan takjub. Dia tidak pernah menyangka bahwa Evo selalu mengingat dirinya begitu dalam.


 


 


  “Aku sudah bilang padamu, Vo, kamu adalah sahabatku, aku tidak bisa kalau tidak melindungimu,” ucap Bastian mendustai dirinya. Bastian tidak bisa menganggap Evo hanya sahabatnya saja, bagi Bastian Evo adalah segalanya.


 


 


  Mendengar ucapan Bastian barusan, ada perasaan sedih yang tertanam di dalam perasaan Evo. Jadi selama ini Bastian hanya menganggap sahabat, apa waktu kemarin dia menyatakan cintanya hanya sebuah lelucon?


 


 


*****


Beberapa hari kemudian.


 


 


  Hari ini Dina melakukan biopsi. Evo, Maureen, dan Bastian ikut menunggu operasi tersebut. Rafael mondar – mandir di depan ruang operasi. Perasaannya begitu cemas, karena sudah lebih dari empat jam operasi belum selesai.


 


 


  Evo menghampiri Rafael, dia memegang bahu Rafael memberikan semangat. Bagi Evo, Rafael sudah seperti sahabat.


 


 


  “Tenanglah, operasinya pasti berjalan dengan lancar,”kata Evo memberikan semangat.


 


 


  Dulu Evo pernah diposisi seperti ini. Waktu itu, Mama Evo sakit keras. Dia harus menemani Mamanya untuk operasi. Evo mengerti sekali perasaan Rafael.


 


 


  “Terima kasih, Vo. Kamu benar, aku harus tenang. Operasi ini baru awal untuk pemulihan Dina, aku harus tenang dan kuat,”kata Rafael dengan mata berkaca- kaca.


 


 


Pikiran negatif muncul dalam benaknya. Seandainya setelah operasi, dia menerima kabar yang tidak enak, bagaimana Rafael harus menghadapinya?


 


 


  Maureen memberikan minum dan makanan ringan pada Rafael. Sudah empat jam lebih, Rafael tidak memasuki makanan atau minuman ke dalam tubuhnya.


 


 


  “Aku tidak lapar dan haus, Ren. Terima kasih,” tolak Rafael.


 


 


  “Jangan menolak, sudah beberapa jam ini tubuhmu tidak masuk makanan atau minuman. Kita tidak mau kamu sakit, Fa,”ucap Maureen khawatir.


 


 


  “Maureen benar, Fa. Kamu masih butuh energi untuk berjuang bersama Dina menyembuhkan penyakit Dina. Jadi harus sehat!” kata Evo membujuk Rafael.


 


 


  Akhirnya setelah beberapa kali bujukan Rafael mau menerima makanan dan minuman dari Maureen.


 


 


  Selang beberapa jam kemudian, operasi yang dilakukan Dina sudah selesai. Pintu ruang operasi terbuka, Dina masih tertidur karena obat bius.


 


 


 


 


Sesampainya di ruangan Dina.


 


 


  Dina masih tertidur akibat obat bius. Wajahnya tampak lelah menghadapi operasi tersebut.


 


 


  “Bila pasien terbangun dan ingin minum, tolong jangan diberikan banyak, hanya beberapa tetes saja,” saran perawat.


 


 


  “Baik, Sus,” jawab Rafael mengerti.


 


 


  Setelah memberikan banyak pesan, perawat kembali bertugas ke pasien yang lainnya.


 


 


  “Terima kasih, Tuhan, operasinya berjalan dengan lancar,” ujar Rafael bernapas lega.


 


 


  Maureen dan Evo mengangguk setuju. Perasaan mereka juga sebenaenya cemas hanya saja mereka tidak ingin menunjukkannya pada Rafael.


 


 


  “Kapan hasil biopsinya akan keluar?” tanya Evo.


 


 


  “Dua hari lagi hasilnya akan keluar. Aku minta doa kalian kalau hasilnya tidak buruk,” kata Rafael.


 


 


  “Pasti, Rafael. Kami pasti akan mendoakan Dina.”


 


 


  Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Evo memandang Bastian. Cowok itu tampak lelah. Bastian yang dari pagi bekerja, kemudian menyempatkan ke rumah sakit untuk menjemput dirinya. Hari ini aku dan Maureen tidak ikut kerja dengan Bastian karena menemani Rafael.


 


 


  “Fa, aku balik ya. Hari sudah malam. Besok aku akan balik lagi ke sini menjenguk Dina,”ucap Evo dengan lembut.


 


 


  “Iya, Fa. Kami akan datang lagi besok,” ujar Maureen berjanji.


 


 


  “Kalau terjadi apa – apa, hubungi kami saja,” pinta Bastian.


 


 


   Rafael mengangguk untuk menjawab ucapan ketiganya. Maureen dan Evo memang sahabat terbaik Dina, mereka rela menunggu Dina dari pagi hingga malam ini.


 


 


*****


Keesokan harinya, sebuah restoran.


 


 


  “Serius? Apa aku tidak salah mendengar?” tanya Maureen tidak percaya. Evo mengangguk dengan mantap.


 


 


  Hari ini Evo dan Maureen baru ada kesempatan berdua untuk bertemu. Hari ini Bastian pergi rapat dengan klien di luar kantor. Evo menyempatkan diri untuk mengobrol dengan Maureen. Evo tidak sanggup untuk tidak mengungkapkan jati diri Bastian pada Maureen. Dari dulu hanya Maureen yang tahu kisah cinta pertamanya.


 


 


  “Kenapa kamu baru memberitahu aku sekarang? Kamu sungguh mengecewakanku, Evo! Itu berita yang sangat mengembirakan! Kita harus pesta!” ucap Maureen penuh kebahagiaan. Maureen tahu pasti bagaimana Evo jatuh bangun mencari sosok cinta pertamanya itu, ya, Karel.


 


 


  Evo tersenyum, dia sudah menduga ekspresi dari sahabatnya itu. Dia paham kalau Maureen pasti senang, dan tidak percaya mendengar kabarnya itu.


 


 


  “Tapi tunggu dulu, Vo! Ini gawat!” kata Maureen mengingat sesuatu. Maureen ingat sekali kalau dirinya telah bercerita panjang tentang Karel pada Bastian. Dia telah membongkar rahasia Evo kepada Bastian.


 


 


  “Apa yang gawat?”


 


 


  Maureen menggigit bibirnya, dia mulai panas dingin. Kenapa dia malah memberitahu kapada Karel langsung kalau Evo selalu menantikan Karel? Maureen mengutuk dirinya karena telah membongkar rahasia itu.


 


 


  “Reen? Apa yang kamu rahasiakan padaku?” tanya Evo sambil menatap Maureen dengan tajam.


 


 


“E, itu, Vo, aku…, aku bilang pada Bastian kalau Bastian adalah cinta pertama kamu,” ucap Maureen dengan suara pelan.


 


 


  “Apa?”


 


 


*****


Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya. Minta tolong banget dilike ya.


 


 


❤❤❤