
Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
*****
Kantor Perusahaan Hermawan.
"Terima kasih, Dea, kamu telah membantuku hari ini," ucap Bagas.
"Sama - sama, Gas. Aku bantu kamu ikhlasku," kata Dea.
Bagas dan Dea sedang makan siang di salah satu restoran dekat kantor mereka. Hari ini adalah hari pertama Bagas bekerja membantu Pak Hermawan.
"Aku tahu kamu selalu ikhlas membantuku."
Dea memandang Bagas dengan tatapan penuh cinta. Dia tersenyum pada Bagas. Dea tidak menyangka kalau dirinya bisa bersama dengan Bagas lagi.
"Di mana sekarang kamu tinggal?" tanya Dea.
"Aku dan Evo tinggal di rumah kontrakan, De. Rumahnya tidak cukup besar seperti apartemen aku, tapi aku sangat nyaman tinggal di sana," jelas Bagas.
Inilah sisi yang Dea sukai dari Bagas. Dia mudah beradaptasi dan selalu bersyukur dengan keadaan yang dia alami sekarang.
"Aku senang mendengar ucapanmu. Bagaimana keadaan, Evo? Maafkan aku sempat menuduh Evo sembarangan padamu," ucap Dea lagi. Dea mengambil daging yang dia telah potong kecil, lalu memasukkan ke dalam mulutnya.
"Evo baik - baik saja. Aku yang harusnya minta maaf padamu. Aku tahu ini semua perbuatan Mama. Maafkan aku ya, De, telah menyakiti hatimu kemarin," pinta Bagas.
Dea memegang tangan Bagas, lalu berkata,"Sudahlah, jangan meminta maaf terus padaku. Lupakan masalah kemarin. Kita mulai dari awal sebagai sahabat ya?"
Bagas tersenyum mendengar ucapan Dea, dan berkata,"Sahabat."
"Apapun yang terjadi ceritalah sama aku. Mungkin aku bisa membantu kamu," ucap Dea lagi.
"Kamu sudah banyak membantuku. Carilah pria yang lebih baik dari aku walau aku memang terbaik sih," canda Bagas.
"Lelucon yang basi, Bagas. Hahahaha, aku pasti bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik dari kamu," dusta Dea. Tapi aku hanya mau kamu, Bagas. Hanya kamu, ucap Dea dalam hati.
Drt, Drt.
Bunyi telepon masuk dari telepon genggam Bagas.
"Halo," sapa Bagas.
"Halo, sayang! Bagaimana kabarmu?" tanya aku.
"Aku sedang makan siang bersama ...," ucapan Bagas terputus. *Sebaiknya aku tidak usah bilang sedang makan dengan Dea, nanti Evo berpikiran yang aneh tentang diriku, *ujar Bagas dalam hati.
"Siapa? Suara kamu tidak aku dengar," ucapku lagi.
"Aku sedang makan siang dengan Om Hermawan. Bagaimana denganmu? Apa kamu sudah makan?" tanya Bagas mengubah topik pembicaraan aku dan dia.
*Kenapa Bagas berbohong pada Evo? *tanya Dea dalam hati.
"Aku baru selesai makan dengan Rafael. Setelah ini aku akan pulang ke rumah. Baiklah, kamu teruskan saja makan siangmu. Aku tunggu kamu di rumah ya," kataku lagi.
"Iya, sayang. Sampai ketemu nanti malam," pamit Bagas kemudian menutup teleponnya.
"Siapa yang menelepon"?" tanya Dea. Dea ingin meyakinkan dirinya bahwa yang menelepon itu adalah Evo. Kalau benar itu Evo, berarti Bagas sedang berbohong pada Evo.
"Evolet," jawab Bagas singkat.
Dea tersenyum dengan dugaannya. Bagas sudah mulai berbohong, pasti terjadi sesuatu semalam sehingga Bagas harus berbohong dengan Evo.
"Ayo segera kita selesaikan makan kita, aku khawair Om Hermawan akan mencari kita. Pekerjaanku juga belum banyak selesai," ajak Bagas. Mendengar ucapan Bagas, Dea mempercepat makannya, tapi dalam hati dia senang karena hari ini Bagas berbohong dengan Evolet.
*****
Rumah Keluarga Pratama.
"Apa Mama sudah menemukan lokasi rumah kontrakan Bagas dan Evo?" tanya Pak Freddy pada istrinya itu.
"Tentu saja. Mama sudah tahu tempat mereka tinggal. Sore ini Mama akan datang ke rumah mereka. Mama ingin memberi perhitungan pada Evo!" ucap Bu Lina.
"Jangan, Ma. Jangan sekarang! Bagas akan segera pulang dari kantor. Lebih baik kita mendatangi mereka besok ketika Bagas tidak ada di tempat," Pak Freddy memberikan pendapat.
"Mama setuju dengan pendapat Papa. Besok pagi, Mama akan bicara dengan Evo. Jangan Bagas saja yang diberi pelajaran, tetapi wanita itu juga. Evolet Rebecca tidak dapat dimaafkan!" ucap Bu Lina.
*****
Kantor Rafael.
"Aku akan naik taksi. Sepertinya Bagas belum selesai bekerja," jawabku.
"Baiklah, hati - hati di jalan. Aku harus kembali bekerja," pamit Rafael kemudian kembali ke rungannya.
Aku berjalan menuju ke lobby depan, lalu ke luar untuk mencari taksi. Sulit juga mencari taksi di sini. Sudah beberapa menit aku menunggu.
Tin, tin.
Bunyi klakson mobil seseorang. Aku seperti mengenal mobil tersebut. Aku menghampiri ke arah mobil tersebut.
"Hai, Vo," sapa seorang lelaki setelah membuka kaca mobilnya.
"Indra? Kenapa kamu bisa ada di depan kantor Rafael?" tanya aku tidak percaya.
"Masuklah, nanti aku akan jelaskan padamu," ajak Indra. Aku pun masuk ke dalam mobilnya.
"Jadi kenapa kamu bisa di sini?" tanyaku lagi setelah di dalam mobil.
"Sepertinya kamu lupa dengan kantorku. Kantorku ada di dekat sini. Kebetulan aku melihat kamu ke luar dari kantor Rafael. Sebagai sahabat yang baik aku ingin mengantar kamu pulang," ucap Indra.
"Hahaha, kamu memang sahabat yang baik. Terima kasih ya telah mengangkut aku untuk diantar pulang," ucap aku pada Rafael.
"Sedang apa kamu di kantor Rafael? Apa kamu bekerja di sana?" tanya Indra.
"Tidak. Tadi aku hanya membantu dia untuk mempromosikan beberapa buku novel termasuk bukuku," jelasku.
"Wow, kamu keren sekali. Jadi benar kamu seorang penulis novel?" tanya Indra tidak percaya.
"Kenapa kamu tidak percaya? Apa muka aku tidak kelihatan seperti penulis ya?" kataku sambil cemberut.
Indra tertawa melihat tingkahku," Hahahaa, maafkan aku Evo. Bukan itu maksudku, aku tidak menyangka saja punya teman penulis seperti kamu."
"Hehehe, terima kasih atas pujiannya ya! Bagas aja tidak pernah memuji seperti itu padaku," kataku lagi.
"Oh, ya? Padahal menurut aku, kamu keren sekali bisa membuat sebuah tulisan. Pasti banyak penggemarmu ya," ucap Indra.
"Tidak, tidak. Aku baru penulis pemula, belum banyak penggemar," kataku.
"Tapi sudah ada penggemarkan? Apa mereka mengirim surat padamu?" tanya Indra.
"Ya, ampun!" Jeritku.
"Ada apa?" Indra kaget mendengar jeritanku.
"Aku lupa membaca surat dari penggemarku! Sudah setengah tahun yang lalu Rafael memberikan surat tersebut padaku. Untung kamu mengingatkan padaku," ucapku.
"Mengapa tidak kamu cantumkan saja alamat emailmu di bukumu? Jadi merekakan bisa berinteraksi dengan kamu," ide Indra.
"Sudah, tapi aku sudah lama tidak membukanya karena kesibukanku ini. Terima kasih telah mengingatkan aku tentang hal ini."
"Sama - sama. Aku harap kamu membalas setiap surat yang diberikan oleh para pembacamu. Aku yakin sekali bahwa mereka ingin dapat balasan surat dari kamu. Membahagiakan orang pahalanya besar sekali loh!" ucap Indra.
"Kamu benar. Tujuan awal aku menulis juga begitu. Aku tidak mencari uang untuk menulis, tapi aku mencari kesan mereka pada ceritaku. Apakah pesan dalam novelku tersampaikan olehnya?" terang aku.
"Hati kamu memang mulia ya, Vo," puji Indra. Evo benar - benar wanita idamanku. Semoga Evo segera putus dengan Bagas dan datang kepelukanku, batin Indra.
Tidak terasa Indra dan aku tiba di rumah. Indra turun lalu membuka pintu mobilnya, "Silahkan turun,"
Aku menurunkan kakiku, tiba - tiba aku terjatuh, Indra menangkap tubuhku. Tubuhku dan tubuh Indra sangat dekat. Aku dapat merasakan detak jantung Indra. Beberapa saat mata kami saling memandang.
"Apa kamu baik - baik saja?" tanya Indra masih memegang tubuhku.
Aku langsung menyadarkan diriku kemudian melepaskan tangan Indra yang memegang tubuhku, "Terima kasih, Indra lagi - lagi kamu menolongku."
"Sama - sama."
Ya, Tuhan! Aroma tubuh Evo membuat aku makin cinta padanya. Mata Evo yang indah membuat aku terpukau dan terpesona. Ternyata bidadari itu ada. Aku melihatnya sendiri. Bidadari itu sekarang di depan mataku, batin Indra.
"E-eh, aku masuk dulu. Terima kasih telah mengantarku pulang," ucapku pada Indra.
"Aku balik ya. Kalau butuh bantuanku segera hubungi aku aja," kata Indra kemudian dia kembali ke mobilnya. Lalu Indra melajukan mobilnya meninggalkan rumah kontrakanku.
*****
Hai kamu, iya kamu! Terima kasih sudah membaca kisah Evo. Tetap setia ya membacanya. Evo tunggu kalian di episode selanjutnya. Jangan lupa gabung juga di group chat aku. ❤❤❤