MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Rumit



Sebelum baca, mohon tekan jempol, dan berikan vote ya. Terima kasih.


❣❣❣❣❣


"Akupun mengira seperti itu. Apa kamu tahu kenapa aku putus dengannya?" ucap Indra.


"Aku tidak ingin tahu, Ndra. Itu masalah kalian. Aku harap apapun masalah kalian, kalian bisa bersatu kembali," kataku tulus.


Indra memegang tanganku. Aku terkejut dengan kelakuannya padaku.


"Aku bisa kembali padanya, tapi aku punya syarat." ucapku.


Aku melepas tangan Indra. Indra kelihatan aneh. Ini seperti Indra yang tidak aku kenal.


"Syarat? Kenapa harus aku yang mendengarkan syarat itu? Apa hubungannya denganku?" tanyaku tidak percaya.


"Ada, Vo. Ada hubungannya, karena aku mencintaimu."


Mataku terbelalak. Aku benar - benar terkejut mendengar ucapan Indra. Kenapa dia bicara seperti itu? Apa dia sudah gila?


"Kamu gila, Indra."


Indra meraih tanganku lagi. Kemudian berkata padaku, "Sudah lama aku mencintaimu dalam diam, Vo. Ketika kamu menikah, hatiku hancur mendengarnya. Hingga aku tak sanggup datang untuk melihat pernikahanmu. Ketika mendengar pernikahanmu gagal rasanya Tuhan memberikan kesempatan padaku."


Aku melepaskan tanganku lagi untuk kedua kalinya, "Ini tidak benar, Indra. Aku sudah punya tunangan. Lagi pula kamu adalah pacar sahabatku. Jangan gila kamu!"


Semua orang memandang kami karena suaraku terlampau keras.


"Aku gila karena cinta sama kamu. Tolong jangan seperti ini padaku," Indra memelas.


"Tapi aku tidak.mencintaimu, Ndra. Aku tegaskan sekali lagi padamu. Maureen sangat mencintamu. Dia selalu ada untukmu. Sadarlah akan hal itu!" tegasku.


Aku mengambil semua barangku, lalu pergi meninggalkan dia. Indra sangat keterlaluan. Kenapa dia membuat semua ini menjadi rumit?


"Aku pasti akan mendapatkanmu, Vo. Walau hanya sekali saja."


❣❣❣


"Halo, Vo. Tumben ke kantor bukannya kamu mau ke kafe cari ide?" tanya Bagas kaget melihatku sudah di ruangannya.


"Aku nulis di sini saja ya, Gas. Bolehkan?" jawabku.


"Haruskah aku menjawab pertanyaan konyolmu itu?" tanya Bagas heran. "Tentu saja aku senang kamu di sini."


Aku tersenyum. Aku tidak bisa menceritakan hal ini pada Bagas. Indra sudah gila. Kenapa dia tiba - tiba bilang cinta padaku? Hati Maureen pasti sakit mendengar ini semua.


Tok, tok, tok.


Pintu ruangan Bagas ada yang mengetok. Bagas membuka pintu.


"Selamat siang menjelang sore," sapa seseorang. Ya, betul sekali seseorang itu Dea.


"Hai, Alexandrea. Silahkan masuk," ucap Bagas mempersilahkan Dea masuk.


"Hai, Evo, Bagas. Aku membawa pizza untuk kalian," ujar Dea ramah. Dea menaruh pizza tersebut di meja.


"Kenapa begitu repot membawa makanan ke sini? Kitakan bisa pesan makanan dari sini," kata Bagas lalu membuka kotak pizza tersebut. Lalu dia mengambil sepotong pizza tersebut.


"Tidak repot. Ini aku bawakan sebagai ucapan terima kasih karena tempo hari kamu membantu keluargaku. Oh, iya, Evo, ikut makan pizza ya," ajak Dea.


Akupun mengambil sepotong pizza tersebut dan memakannya. Untung saja Dea membawa makanan. Aku lapar sekali, tadi tidak sempat menyelesaikan makan siang karena Indra. Indra sangat menyebalkan hari ini.


"Bagaimana keadaan Om Hendrawan?" Bagas membuka topik.


"Keadaan Papa sudah membaik. Tadi pagi pulang dari rumah sakit," cerita Dea. Dea ikut mengambil potongan pizza tersebut dan memakannya.


Oh, nama Papa Dea adalah Hermawan. Ucap aku dalam hati.


Bagas mengambil minuman dingin yang dibawa Dea, kemudian meneguknya. "Kenapa tidak bilang padaku? Aku bisa mengantar kalian pulang atau aku bisa menyuruh supir untuk mengantar kalian," ide Bagas.


Dea tersenyum, lalu menjelaskan, "Mama sudah balik dari Korea. Jadi sudah ada bala bantuan untuk kami. Kami tidak perlu merepotkan kamu."


"Aku sama sekali tidak merasa direpotkan, Dea."


"Terima kasih," ucap Dea begitu manis.


Dea memandangku, dia melihat laptopku, "Apa yang sedang kamu kerjakan, Vo?"


"Evo lagi buat novel, Dea. Dia seorang penulis, " jelas Bagas.


"Apa? Kamu menulis novel?" tanya Dea tidak percaya.


"Iya, tapi hari ini aku tidak punya ide sama sekali," curhatku pada Dea.


"Kamu keren, Vo. Jenis novel apa yang kamu buat?" tanya Dea penasaran.


"Tiga buku aku sebelumnya tentang percintaan, De. Buku ke empat aku, mau mencoba aku ganti tentang horor tapi ternyata susah ya," aku menjelaskan.


"Calon istrimu ini hebat sekali, Gas. Kenapa ya, Evo mau sama kamu? Jangan - jangan kamu menjebak dia ya?" tanya Dea sambil bercanda. Dea memasukkan kembali pizza ke mulutnya.


Deg. Jantung aku berdetak. Kenapa Dea bisa tahu? Apa Bagas cerita tentang diriku? Begitu akrabnyakah mereka sampai Bagas menceritakan hal seperti ini?


"Tebakan kamu benar sekali. Aku menjebak Evo. Apa kamh puas?" tanya Bagas kesal. Dea tertawa, Bagas ikut tertawa. Aku hanya tersenyum kecut. Mereka sangat akrab sekali. Melihat mereka hatiku seperti terluka.


Selalu saja begitu, walau ada aku, mereka hanya bicara berdua. Aku seperti tidak dianggap.


Tiba - tiba aku mengingat sesuatu. Aku harus bertemu dengan Maureen. Aku segera makan sisa terakhir pizzaku. Kemudian merapikan laptopku.


"Kamu mau ke mana sayang?" tanya Bagas melihat aku merapikan laptop.


"Aku ketemu Maureen dulu ya, mumpung aku di sini," ucapku. Aku meneguk segelas air. Tenggorokan aku kering karena habis makan pizza.


Bagas mengangguk, lalu dia mengizinkan aku pergi. Setelah mendapatkan izin Bagas aku ke luar dari ruangan Bagas.


"Sepertinya Bagas Pratama sudah bertekuk lutut ya dengan Evolet Rebecca," Dea berpendapat. Bagas tersenyum mendengar perkataan Dea.


"Kenapa kamu cemburu dengan Evo?" tanya Bagas bercanda.


Dea menghampiri Bagas. Wanita itu merapatkan tubuhnya ke tubuh Bagas. "Seandainya aku tahu kamu juga mencintaiku, pasti waktu itu aku akan memilihmu."


Bagas melangkah mundur, menjaga jarak pada Dea. Kemudian pria itu berkata, "Masa lalu hanya masa lalu. Jangan di umbar lagi, Dea. Kita adalah sahabat sekarang."


Dea menatap Bagas tajam, kemudian berkata pada lelaki itu, "Mungkin kamu merasa aku masa lalu kamu, tapi yang aku rasakan beda, Bagas. Kamu adalah masa depanku."


Bagas tertawa menanggapi perkataan Dea. Dia mengambil sepotong pizza terakhir lalu memasukkan ke dalam mulutnya.


"Kenapa kamu tidak menanggapi ucapanku?" tanya Dea gemas melihat tingkah teman kecilnya itu.


"Apa yang harus ditanggapi?" tanya Bagas balik.


Dea melangkah ke arah Bagas. Kemudian dia mendekap tubuh Bagas lagi.


"Apa di hatimu sudah tidak ada nama aku lagi?" goda Dea.


"Ya, sudah tidak ada. Di dalam hatiku sudah terukir nama Evolet Rebecca. Puas dengan jawabanku?" tanya Bagas kesal. Dia mendorong Dea dengan lembut. Bagas sudah terpengaruh dengan Evo. Aku tidak bisa tinggal diam. Mereka harus dipisahkan. Untung saja pernikahan mereka gagal kemarin. Evo cewek matre yang tidak pantas untuk Bagas.