
Hai, hai! Bagaimana kabar kalian? Bulan ini MOY akan segera tamat. Tetap setia ya. Minta like dan votenya ya karena MOY mau tamat. Hehehehe. Selamat membaca.
*****
Rumah Bastian.
Evo dan Bastian baru saja tiba di rumah setelah mereka menjenguk Dina di rumah sakit. Ketika Evo hendak ke kamarnya, Bastian memanggilnya.
“Ya?”
“Ada apa?” tanya Bastian. Sebenarnya Bastian tahu saat di ruangan Dina, Evo sedang berbohong padanya, tapi Bastian tidak mau membongkarnya.
“Apa maksudnya, Bas?” Evo berbalik nanya. Dia menghentikan langkahnya, Evo bingung dengan apa yang Bastian bicarakan.
“Waktu kamu menerima pesan dari seseorang, siapa orang itu sehingga kamu pergi?”
“Oh, itu, maaf aku jadi berbohong pada kalian.” Evo mulai mengingat.
Evo berjalan ke sofa, dan duduk di sana, Bastian mengikuti langkah Evo.
“Tadi Rafael yang memberikan pesan padaku,” lanjut Evo setelah nyaman duduk.
“Apa katanya?”
“Dia menyuruhku menemui dia. Rafael memberitahu penyakit yang diderita Dina. Dina menderita penyakit kanker stadium 4A,” cerita Evo.
“Apa? Apa aku tidak salah mendengar?” tanya Bastian lebih jelas.
Evo menggeleng kepala, memastikan Bastian tidak salah bicara, sama seperti Bastian, Evo juga tidak percaya apa yang dia dengar dari mulut Rafael tadi.
“Lalu apa kata Dokter? Apa tindakan para dokter?”
“Dokter akan segera melakukan tindakan tetapi mereka minta berdoa agar Tuhan mau memberikan keajaiban pada Dina,” lanjut Evo dengan wajah sedih.
“Aku turut sedih mendengarnya, Vo. Walau aku belum lama mengenal merea, tapi aku merasa mereka adalah sahabatku.”
Evo tersenyum, Dina dan Rafael pun sudah menganggap Bastian sahabat mereka.
“Semoga Dina segera sembuh dari penyakitnya. Kasihan kedua anak mereka nantinya.”
“Kamu benar, Bas. Mike dan Nay masih butuh Dina.”
*****
Keesokan Harinya.
“Sayang! Hari ini kita melakukan fitting terakhir baju kita. Kamu selesai jam berapa nanti?” tanya Dea di sebrang telepon.
“Makan siang kita akan bertemu,” ucap Bagas sekenanya.
“Oke. Sampai ketemu nanti,” ujar Dea dengan gembira.
Bagas menghela napas panjang, sebenarnya dia malas berhubungan dengan Dea lagi, tapi karena janji Bagas pada orang tuanya, dia harus meladeni Dea.
Bagas mengambil telepon genggamnya. Dia mencari nama Evo di kontak teleponnya. Bagas memandangi nomor Evo. Dia sangat rindu dengan Evo saat ini. Padahal mereka satu gedung saat ini, tapi bertemu dengannya saja bisa dihitung dengan jari. Bagas mengurungkan niatnya untuk menghubungi Evo.
Siangnya.
Dea sudah tiba di ruangan Bagas. Dia mengetuk pintu ruangan tersebut, lalu masuk ke dalam.
“Hai, sayang! Ayo kita pergi!”
Dengan perasaan malas, dia keluar dari ruangan bersama Dea. Tanpa sengaja dia bertemu dengan Maureen. Maureen yang melihat Bagas tersenyum.
“Hai, Gas!” sapa Maureen.
“Yoi,” balas Bagas.
“Aku dengar kamu akan menikah dengan Dea. Selamat ya!” ucap Maureen tulus pada Bagas. Bagas hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan selamat dari Maureen, Dea senang mendengarnya.
“Terima kasih, Maureen. Besok aku akan titipkan undangan untukmu, dan Evo pada Bagas, tapi aku sangsi kalau Evo akan menghadiri pesta pernikahan kami.”
Maureen yang kesal dengan ucapan Dea, membalas ucapan Dea,”Tenang aja, Dea. Aku yakin Evo pasti akan menghadiri pesta pernikahanmu, ya kalau itu jadi.”
Muka Dea merah karena menahan marah mendengar ucapan Maureen yang menyumpahi pesta pernikahan dirinya dan Bagas akan gagal.
“Lagi pula, aku rasa Evo sudah melupakan Bagas.”
Bagas menatap Maureen dengan tatapan tajam, “Apa maksudnya?”
“Ups, aku keceplosan!” kata Maureen sambil menutup mulutnya. Maureen membalikkan badannya dan hendak pergi, tapi dicegah oleh Bagas.
“Coba lanjutkan bicara kamu,” pinta Bagas sambil memegang tangan Maureen, Bagas mencoba untuk mencegah sahabat Evo itu untuk pergi.
Sudah kepalang tanggung, Maureen pun membeberkan semuanya pada Bagas. Dia tidak mau Bagas merasa besar kepala berpikir kalau Evo masih mencintainya.
“Menikah? Jadi benar? Aku pikir itu hanya bohongan. Aku sungguh senang mendengarnya,” ucap Dea dengan gembira. Saingannya jadi tidak ada. Dia tidak perlu lagi capek – capek mengejar Bagas.
“Buat apa mereka berbohong? Tidak ada gunanya. Aku beritahu satu hal sama kamu, mungkin kamu tidak tahu kalau Bastian adalah cinta pertama Evo.”
“Wah, benarkah? Jangan bilang waktu Bagas dan Evo pacaran, Bagas hanya sebagai pelarian untuk Evo,” sindir Dea.
Hati Bagas tertusuk mendengar ucapan Dea. Dia tidak menyangka kalau Evo tidak pernah mencintai dirinya selama ini. Bagas terdiam tidak menanggapi omongan kedua gadis itu.
“Jadi aku mohon padamu untuk tidak menganggu Evo lagi. Dia sudah mendapatkan kebahagiannya dengan lelaki lain, bukan lelakimu.”
“Maaf, kami sudah bahagia, kami tidak akan menganggu siapa – siapa lagi,” ucap Dea lalu menggandeng Bagas. Dia mengajak Bagas untuk pergi.
“Kamu memang bahagia, Dea, tapi tidak untuk Bagas,” lirih Maureen.
Maureen sebenarnya prihatin melihat wajah Bagas, tapi dia juga tidak mau Evo menderita. Dia ingin Evo bahagia dengan Bastian.
*****
Drt, Drt.
Telepon genggam Evo berdering. Wanita itu mengambil telepon genggamnya, dia membaca nama yang tertera di layar teleponnya. Bagas.
Evo pergi keluar sambil membawa telepon genggamnya. Dia tidak ingin Bastian mendengar pembicaraan mereka.
“Aku ingin bicara denganmu.”
“Tidak ada yang harus kita bicarakan,” kata Evo dengan tegas.
“Aku mohon, sekali ini saja,” pinta Bagas.
Evo menarik napas, inilah kelemahan Evo dia paling tidak bisa untuk menolak ketika orang memohon padanya.
“Kapan?” tanya Evo pada akhirnya
“Nanti malam. Di café yang pertama kali kita bertemu.”
“Setuju. Terima kasih,” ucap Bagas tampak senang.
Setelah selesai bicara, Evo kembali ke ruangan Bastian. Dia duduk, lalu sedikit gelisah. Evo bingung untuk meminta izin pada Bastian. Dia menghela napas panjang, berusaha memutar otaknya.
Bastian melirik ke arah Evo, dia melihat gelagat Evo yang bingung sejak tadi.
“Ada apa?” tanya Bastian.
“Eh?”
“Siapa yang meneleponmu barusan?” tanya Bastian lagi.
Evo terkejut mendengar pertanyaan dari Bastian. Evo merasa kalau Bastian bisa membaca pikirannya.
“Bagas,” jawab Evo.
“Apa katanya hingga membuatmu merasa tidak nyaman? Apa dia berkata kasar padamu?” ucap Bastian.
“Tidak, Bas. Dia tidak menyakitiku. Tadi dia mengajakku bertemu,” jelas Evo.
Bastian terdiam, ternyata Evo dan Bagas masih berkomunikasi sampai saat ini. Hatinya Evo masih untuk Bagas.
Evo mengigit jarinya, dia tampak gugup ingin bertanya pada Bastian.
“Bas.”
“Ya?” jawab Bastian sambil pura – pura sibuk dengan pekerjaannya.
“Apakah aku boleh bertemu dengan Bagas?” tanya Evo dengan perasaan ragu.
Bastian terdiam sesaat. Dia tidak mau kalau Evo pergi bersama Bagas, tapi apa hak Bastian untuk melarang Evo pergi? Bastian bukan siapa – siapa.
“Bas?”
Bastian tersenyum, lalu menjawab pertanyaan Evo,” Ya, Vo. Pergilah, aku tidak berhak untuk melarangmu pergi dengan Bagas.”
Sekarang Evo yang menjadi diam, sebenarnya Evo ingin jawaban yang beda dari Bastian.
*****
Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya. Minta tolong banget dilike ya.
❤❤❤