
Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
*****
Rumah keluarga Pratama.
PAK!
Rafael menampar Dina. Laki – laki itu sudah tidak tahan dengan omongan Dina istrinya.
“Rafael!” kataku terkejut dengan perbuatan Rafael.
“Rafa…, kamu jahat! Kamu benar – benar jahat!” ujar Dina juga tidak percaya dengan perbuatan suaminya itu.
“Maaf, maafkan aku, tapi kamu sudah keterlaluan, Dina!” Rafael meminta maaf. Dia memegang tangan istrinya tersebut, tetapi dihempaskan oleh Dina.
“Aku tidak percaya kamu lebih membela dia dari pada aku istrimu!” bentak Dina. Emosi Dina terpancing. Air matanya mulai mengalir.
“Cukup, Rafael, Dina!” cegahku. Aku tidak ingin ada kejadian buruk lagi menimpa sahabatku. Dina dan Rafael berhenti.
Air mataku juga jatuh di pipi. Rasanya sangat sakit melihat keadaan ini. Rafael dan Dina bertengkar karena aku. Maureen masuk rumah sakit karena aku. Apakah aku tidak bisa membuat orang – orang di sekitarku bahagia.
“Aku datang ke sini hanya ingin meminta maaf padamu, Maureen. Aku berani bersumpah padamu kalau aku tidak selingkuh dengan Indra. Setelah kalian putus aku bertemu dengan Indra, lalu dia katakana padaku bahwa dia putus denganmu karena dia jatuh cinta padaku. Semakin hari Indra semakin tidak waras. Dia selalu mengejarku. Aku ketakutan karena hal itu. Aku tak mampu bercerita padamu dan Bagas,” ceritaku panjang lebar.
Aku menarik napas kemudian melanjutkan ceritaku, “Akhirnya aku memutuskan untuk bercerita pada Rafael. Aku tidak menyangka bahwa ada yang sengaja foto kami berdua dan mengirimkan pada Dina. Maafkan aku Dina.”
Dina diam mendengarkan ceritaku. Masih ada rasa marah di dalam hatinya.
“Setelah aku bercerita pada Rafael, Rafael bertemu dengan Indra di rumah sakit. Rafael memukul Indra. Setelah kejadian itu Indra meminta maaf padaku. Dia bersikap seperti biasa. Waktu pindahan pun dia mau datang membantu. Aku senang dengan perubahan sikapnya,” ceritaku lagi.
Maureen menyimak setiap kata yang keluar dari mulutku. Wanita itu ingin tahu kisah yang sebenarnya terjadi.
“Terlebih lagi Indra menawarkan pekerjaan untuk Bagas hari itu. Keesokan padi setelah pindahan, Bagas mendapatkan pekerjaan dari Om Hermawan. Dia menolak pekerjaan dari Indra sehingga Indra menawarkan padaku. Aku diskusi dengan Bagas tentang penawaran tersebut. Bagas mengizinkan aku bekerja di perusahaan Indra.”
Aku kembali menarik napas. Air mataku sekarang ikut mengalir ketika aku bercerita pada ketiga sahabatku itu.
“Hingga sore hari aku tidak menaruh curiga pada Indra, ternyata malamnya Indra memberikan obat tidur padaku. Setelah itu aku tidak tahu apa yang dilakukan Indra padaku.”
“Bohong! Kamu bohong! Indra tidak seperti itu! Dia tidak akan memaksa berhubungan kalau wanita itu tidak mau! Aku paham sekali dengan Indra,” bela Maureen.
“Aku tidak meminta kamu percaya padaku. Terserah kamu mau percaya atau tidak, yang terpenting aku sudah menceritakan hal yang sebenarnya padamu,” kataku masih berurai air mata.
Dina memandang Rafael. Dina bingung dengan semua ini. Cerita mana yang harus dia percaya? Bukti sudah menunjukkan bahwa Evo bersalah dalam kejadian ini. Dia selingkuh dengan Rafael dan Indra.
“Simpan air matamu itu, Vo. Aku kecewa padamu. Kamu berbohong padaku dan Dina. Apa itu namanya sahabat?” piluh Maureen.
“Be….” Dina ingin berbicara, tapi tangan Rafael memegang Dina tanda bahwa Dina tidak boleh bicara.
“Benar kata Rafael, sebaiknya aku pergi. Aku harus menenangkan diriku. Terima kasih telah memberikan kesempatan padaku untuk bercerita hal yang sebenarnya pada kalian. Terima kasih telah menganggapku selama ini sahabat kalian. Sampai kapanpun kalian adalah sahabatku,” ucap aku lalu melangkah pergi.
“Evo, tunggu!” cegah Rafael.
“Kalau kamu pergi mengejar Evo, kita cerai!” ancam Dina. Rafael berhenti melangkah.
“Kenapa kamu begitu kejam pada Evo?” tanya Rafael pada Dina.
“Apa kamu tidak sadar? Evo mau merebut kamu dari tanganku! Sadar Rafael!” jerit Dina.
“Kamupun harus sadar Dina, kalau bukan karena Evo kita tidak akan bersatu seperti sekarang ini,” ujar Rafael mengingatkan istrinya itu.
Dina terdiam mendengar ucapan Rafael.
“Aku sangat berharap kalian tidak menyesali perbuatan kalian saat ini. Evo tidak bersalah. Ternyata persahabatan kalian begitu lemah. Kalian lebih percaya dengan apa yang kalian lihat dari pada apa yang ada di hati kalian. Aku juga sangat kecewa padamu, Dina!” keluh Rafael kemudian pergi.
“Rafa, Rafa! Tunggu, Rafa!” panggil Dina. Rafael tidak mendengarkan Dina.
“AGH!” jerit Dina.
Rafael yang mendengar jeritan Dina kembali ke Dina.
“Rafa, jangan tinggalkan aku. Jangan,” pinta Dina.
Rafael memeluk istrinya. Dia merasa bersalah karena telah memarahi istrinya tersebut, tapi kali ini Dina salah. Rafael sebagai suami harus mengingatkan kesalahan Dina atau Dina akan terjerumus dalam dosa yang besar.
“Maafkan aku, sayang. Maaf aku telah memarahi kamu. Aku tidak akan meninggalkan kamu,” ucap Rafael meminta maaf.
*****
Sorenya di rumah keluarga Pratama.
Dea, Bu Lina, dan Pak Freddy sudah tidak di kamar Bagas. Charlotte masuk ke kamar. Dia menjenguk kakaknya itu.
“Mas Bagas bangunlah. Kondisi kamu sebenarnya baik – baik saja. Kenapa kamu tidak mau bangun?” tanya Charlotte.
Charlotte memegang wajah Bagas.
“Evo …, Evo …,” panggil Bagas lagi. Bagas masih belum sadarkan diri. Dia terus mengigau menyebutkan nama Evolet.
“Kamu mau ketemu Mbak Evo kan Mas? Kalau iya, ayolah bangun. Mbak Evo dalam bahaya. Kamu akan kehilangan dia nanti,” pinta Charlotte.
Charlotte menarik napas panjang. Dia tidak mungkin membawa Evo ke sini. Bu Lina dan Pak Freddy pasti tidak setuju dan mengusir Evo.
Drt, Drt.
Bunyi telepon genggam Charlotte. Telepon dari Evan, kekasihnya.
“Halo, sayang,” sapa Evan dari rumahnya.
“Evan, aku rindu,” ucap Charlotte. Hari ini Charlotte dan Evan tidak bertemu. Evan memang mengajaknya, tapi Charlotte tidak bisa meninggalkan Bagas untuk saat ini.
“Aku juga sangat merindukanmu.”
“Maafkan aku. Hari ini kita tidak bisa bertemu. Itu sangat membuat aku sedih,” kataku.
“Tidak masalah sayang. Kamu harus menjaga Mas Bagas. Dia sangat memerlukanmu saat ini. Bagaimana keadaan Mas Bagas sekarang?” tanya Evan.
“Belum sadarkan diri. Padahal kata dokter tadi pagi Mas Bagas tidak apa – apa. Seharusnya dia sudah sadar,” cerita Charlotte.
“Jasmaninya sehat, tetapi kondisi jiwanya yang tidak baik. Kamu harus bersabar untuk hal itu,” saran Evan.
“Benar kata kamu. Sejak tadi Mas Bagas menyebut nama Mbak Evo. Aku bingung harus bagaimana untuk membantu Mas bagas sadarkan diri?” Charlotte menghela napas panjang.
“Satu – satunya jalan adalah mempertemukan mereka berdua. Aku sangat yakin Mas Bagas akan sadar kalau bertemu dengan Mbak Evo,” usul Evan.
“Tapi bagaimana caranya? Aku sangat yakin kalau Mama dan Papa tidak mengizinkan Mbak Evo untuk datang ke sini.”
“Jangan memberitahu mereka. Mungkin aku bisa membantu untuk hal itu. Kamu handel di rumah, aku akan membawa Mbak Evo ke rumah kalian nanti malam,” ucap Evan.
“Sepakat. Terima kasih sayang untuk bantuannya. Aku sayang kamu.”
Semoga Evan bisa membawa Mbak Evo ke sini agar Mas Bagas bisa sadarkan diri.
*****
Hai kamu, iya kamu! Terima kasih sudah membaca kisah Evo. Tetap setia ya membacanya. Evo tunggu kalian di episode selanjutnya. Jangan lupa gabung juga di group chat aku.
*****
NEWS!!
Ada cerita baruku judulnya : CINTAI AKU, MR. KANEBO!
Silahkan dibaca, like, komment, bintang 5 dan share sebanyak - banyaknya. Terima kasih.
❤❤❤