
Hai, semua mohon dukungan tekan jempol di bawah, vote, bintang lima. Dukungan kalian sangat membuat saya tambah semangat. Terima kasih sudah mencintai MOY.
🌹🌹🌹🌹
Karena caraku mencintamu adalah melepaskanmu.
Caraku memelukmu dengan berdoa untukmu.
Jangan salahkan cinta karena perpisahan ini.
Jangan salahkan aku karena kepergiaan ini.
Semua ini karena takdir yang harus kita jalani.
Cara setiap orang menunjukkan rasa cintanya berbeda - beda.
Ini adalah caraku, semoga kamu tidak melupakan aku.
❣❣❣
"Kenapa kamu menangis?" tanya Bagas yang baru bangun tidur. Shock melihat aku menangis.
"Tidak. Aku tidak menangis. Tadi kelilipan," dustaku.
Bagas menyipitkan matanya. Curiga denganku. "Apa kamu yakin?"
Aku mengangguk. Kemudian berkata pada Bagas, "Aku siapkan makan siang buat kamu."
"Boleh. Aku sudah lapar," ujar Bagas. Aku langsung ke dapur menyiapkan makanan.
"Hmm, Evo...," panggil Bagas.
"Kenapa?" tanyaku.
"Tidak. Tidak. Kamu siapkanlah makan siang kita," ucap Bagas. Sebaiknya aku tidak bertanya, mungkin obat ini sisa kemarin yang lupa dia buang. Hari ini juga dia sepertinya perasaannya kurang baik.
Lima belas kemudian makanan sudah siap di meja makan. Kami makan tanpa suara. Tidak ada pembicaraan apapun. Hatiku pun sedang sedih. Perkataan Bastian masih terngiang dipikiran aku. Kenapa perasaanku begitu sedih ketika Bastian mengucapkan kata pisah? Apakah hatiku telah mendua?
"Nanti aku akan menjenguk Papa Dea. Apa kamu mau ikut?" tanya Bagas membuka pembicaraan.
"Tentu. Jam berapa kita akan berangkat?" tanyaku. Aku makan dengan lahap.
"Bersiaplah setelah kita selesai makan," perintah Bagas.
Hari ini aku membuat roti bakar dan susu vanila yang hangat.
Beberapa menit kemudian kami selesai makan siang. Akupun merapikan piring kotor kami. Lalu bersiap - siap untuk pergi ke rumah sakit mengunjungi Papa Dea.
❣❣❣
Di rumah sakit
"Hai, Dea. Bagaimana keadaan Papa?" tanya Bastian. Kami sudah sampai di ruang inap Papa Dea. Dea menyambut hangat kehadiranku dan Bagas.
"Masuk, Bagas. Papa sudah sadar. Papa ini Bagas."
"Hai, Bagas. Terima kasih sudah membantu Dea tadi malam," kata Papa Dea. Keadaan Papa.Dea masih lemas. Dia masih kesulitan bicara. Napasnya masih kurang stabil.
"Sama - sama, Om. Bagaimana keadaan, Om sekarang?" tanya Bagas. Kami berdiri di samping Papa Dea.
"Sudah membaik, Nak Bagas. Siapa dia?" tanya Papa Dea.
"Ini Evo, Om. Calon istri Bagas," Bagas memperkenalkan diriku.
"Saya Evolet Rebecca, Om," ucapku kemudian menjabat tangan Papanya Dea.
Dea mengambil minuman untuk Papanya. Lalu memberikannya untuk minum obat. Kemudian Dea berkata, "Sebenarnya Bagas kemarin hampir menikah, Pap. Hanya saja kata Tante ada yang menggagalkan pernikahan mereka."
"Mama benar -benar menyebalkan," umpat Bagas.
"Hai, jangan salahkan tante. Aku yang penasaran kenapa kamu bisa batal menikah?" ucap Dea membela Bu Lina.
Bagas manyun karena Dea membela Mamanya. Kami tertawa melihat tingkah Bagas.
"Lekas sembuh, Om. Kami berdoa untuk kesembuhan, Om. Dea kamu jaga kesehatan ya juga," nasehatku, mengalihkan topik.
Dea mengangguk. Kemudian dia berkata pada aku dan Bagas, "Terima kasih kalian sudah datang. Apa kalian sudah makan? Ini ada beberapa kue yang diberikan oleh pengunjung Papa sejak semalam."
"Tidak terima kasih. Sebelum kami ke sini kami sudah makan," tolak aku dengan lembut.
"Wah, sayang sekali. Aku takut makanan ini busuk," ucap Dea kecewa.
"Di mana mamaku, De?" tanya Bagas lagi.
"Tante Lina baru saja pulang. Nanti sore dia akan datang lagi dengan Charlotte katanya. Tante bilang ada pekerjaan yang harus dia selesaikan," jelas Dea.
Wah, Charlotte juga kenal dengan wanita ini. Siapa dia sebenarnya? Mengapa seluruh keluarga Bagas mengenal Dea. Apa hubungan mereka sebenarnya?
"Jangan khawatir, Bagas. Papa sudah sehat. Kamu tidak perlu menyuruh seluruh keluargamu datang ke sini," ucap Dea tertawa kecil.
"Om kira kalian berdua ini bakal jodoh. Ternyata Om salah." kata Papa Dea tiba - tiba.
"Aku? Menikah dengan Bagas? Papa jangan berandai seperti itu ya. Tidak baik ada calon istri Bagas di sini," omel Dea.
"Maafkan Papa sayang. Maaf ya, Evo. Om hanya bercanda," ucap Papa Dea meminta maaf.
"Tidak apa, Om. Saya udah kebal." ucapku membuat mereka tertawa. Padahal di dalam hati seperti teriris. Sakit banget.
"Kapan - kapan kalian mainlah ke rumah kami. Sekedar makan siang atau malam," undang Papa Dea.
"Aku setuju kata Papa. Kalian harus berkunjung ke rumah kami."
"Tenang saja, Om. Pasti kami datang, tapi setelah Om sembuh ya," janji Bagas.
"Itu sudah pasti," jawab Papa Dea.
"Iya, Papa cepat sembuh ya. Dea bosen di rumah sakit. Papakan tahu Dea tidak suka bau rumah sakit," rengek Dea.
"Iya manja Papa. Kamu itu bukan anak kecil lagi loh," canda Papa Dea.
"Benar kata Om. Ubah ya sikap kamu yang kaya anak kecil itu," Bagas ikut bercanda. Dea menghampiri Bagas lalu memukulnya. Bagas menangkis pukulan Dea. Wah, wah pemandangan yang indah, membuat aku cemburu.
"Papa dan Bagas selalu mengodaku. Menyebalkan! Kapan sih kalian berubah untuk tidak menggodaku?"
"Makanya kamu ubah sikap kamu yang suka gonta - ganti pasangan. Pilih satu untuk menjadi pelabuhan terakhirmu," nasehat Bagas.
"Mentang - mentang kamu sudah punya pacar ya. Dasar Bagas menyebalkan!" sewot Dea.
Bagas dan Papa Dea tertawa melihat tingkah Dea. Aku hanya ikut tertawa menanggapi kisah kasih mereka di rumah sakit.
Mereka pun saling berbincang. Banyak obrolan yang tidak aku mengerti. Merekapun tidak mengajakku dalam topik yang mereka bahas. Ada yang bahas masa lalu. Kemudian bahas politik. Lalu bahas bursa saham yang benar - benar tidak aku pahami.
Aku melihat wajah Bagas yang bahagia. Kalau bersama Dea dia selalu tertawa bahagia. Entah kenapa perasaanku sedih melihatnya. Bagas tidak pernah bicara lama seperti ini padaku.
Aku hanya sebagai pendengar saja. Dea memang baik padaku. Wanita yang ramah, tapi entah mengapa aku merasa ada jarak diantara kami. Jarak yang tidak bisa aku pecahkan.
Aku dan Dea bagaikan langit dan bumi. Apa suatu hari nanti Dea akan merebut Bagas dari sisiku? Apa suatu hari nanti Bagas akan mencampakkanku? Apa wanita ini yang dicintai Bagas? Banyak pertanyaan yang silih berganti dipikiranku. Tidak satu pun yang bisa aku jawab. Hanya waktu yang bisa menjawab ini semua.
Semoga pikiran jelekku ini tidak menjadi kenyataan. Aku berdoa biar Tuhan menjaga hubungan kami. Semua hati, pikiran, dan tubuhku sudah aku berikan pada Bagas. Semoga Bagas tidak mencampakkan aku. Sekarang Bagas adalah harta satu - satunya yang aku miliki.
🌹🌹🌹
Apa yang terjadi selanjutnya? Silahkan baca kelanjutan Evo di episode berikutnya. Terima kasih