MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Penyamaran



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


 


 


 


 


*****


Rumah keluarga Pratama.


 


 


“Mbak Evo, ingat ya apa yang aku katakan tadi. Mbak tinggal ikuti saja aku. Jangan ikut bicara. Biar mereka tidak curiga,” perintah Evan.


 


 


Aku dan Evan baru saja sampai di rumah Bagas. Evan menyuruh aku memakai kaos laki – laki untuk menyamar.


 


 


“Kalau dilihat – lihat Mbak Evo mirip sekali dengan lelaki, hahahaha,” canda Evan.


 


 


“Ah, benarkah? Semoga penyamaran ini berhasil.” Kataku gugup.


 


 


“Tenang saja, Mbak. Rencana ini pasti berhasil. Sebentar aku akan menelepon Charlotte untuk memberitahu dia, bahwa kita sudah di depan rumahnya.”


 


 


Evan mengambil telepon genggamnya, lalu menekan nomor Charlotte.


 


 


“Halo,” sapa Charlotte.


 


 


“Hai, sayang,” sapa Evan juga.


 


 


“Kamu ada di mana sekarang? Papa dan Mama sudah tertidur,” ucap Charlotte.


 


 


“Wah, ternyata pacarku berhasil memberikan obat tidurnya. Aman kalau begitu. Aku dan Mbak Evo sudah di depan rumahmu.”


 


 


“Aku akan ke sana menjemput kalian,” kata Charlotte lalu mematikan teleponnya.


 


 


“Apa yang kalian lakukan pada Bu Lina dan Pak Freddy?”


 


 


“Hanya satu butir obat tidur, Mbak. Mereka tidak akan mati. Merekakan calon mertuaku,” ucap Evan sambil tertawa kecil.


 


 


“Dasar kalian ini, ternyata kalian lebih hebat dibanding aku dan Bagas.”


 


 


“Jangan terlalu memuji, Mbak Evo. Aku merasa kalianlah yang lebih hebat dari pada kami. Kami hanya butiran debu yang masih harus belajar.”


 


 


“Terima kasih telah mengasihiku dan Bagas,” ucapku.


 


 


“Ayo kita masuk sebelum obat tidur itu tidak berfungsi lagi,” ajak Evan.


 


 


Evan membuka pintu mobilnya. Dari sebelah kanan, Charlotte berlari menuju ke arah kami. Setibanya di tempat kamu napas Charlotte tidak beraturan.


 


 


“Kenapa kamu harus lari? Lihat napas kamu jadi tidak beraturan,” kata Evan.


 


 


“Aku khawatir kalau Mama dan Papa terbangun nanti. Di mana Mbak Evo? Tadi kamu bilang dia sudah bersama dengan kamu.”


 


 


“Memang sudah. Ini di sebelahku,” kata Evan sambil menunjuk ke arah seorang pria. Charlotte menatap pria itu. Aku membuka kaca mata aku, dan tersenyum padanya.


 


 


“Ya ampun, Mbak Evo!” kata Charlotte tidak percaya. Charlotte lalu memelukku.


 


 


“Penyamaranmu sungguh luar biasa, aku sampai tidak mengenal kamu,” puji Charlotte.


 


 


Aku tersenyum mendengar ucapan Charlotte, kemudian berkata, “Ini ide pacarmu. Dia benar – benar luar biasa.”


 


 


“Jangan memuji aku seperti itu, Mbak. Nanti Charlotte tambah cinta sama aku,” goda Evan. Kami bertiga tertawa.


 


 


“Ayo kita segera masuk! Aku takut efek obat tidurnya akan segera berakhir,” ujar Charlotte pada aku dan Evan.


 


 


Aku dan Evan mengikuti Charlotte masuk ke dalam. Ruang tamu tidak ada orang dan aman untuk kami lalui.


 


 


“Ini kamar Mas Bagas. Mbak Evo masuklah. Aku dan Evan akan berjaga – jaga di sini,” kata Charlotte.


 


 


“Tapi….”


 


 


“Tenang saja, Mbak. Calon adik ipar kamu ini pasti bisa menghalangi Papa dan Mama,” ujar Charlotte.


 


 


Calon adik ipar? Mendengar perkataan Charlotte, hatiku merasa nyaman. Dia sungguh menerimaku menjadi istri Bagas. Hanya dia saja yang mendukungku saat ini.


 


 


“Terima kasih, Charlotte, Evan,” ucapku.


 


 


“Cepat masuklah, Mbak. Kami memberimu waktu setengah jam,” Evan mengingatkan.


 


 


Aku segera masuk ke kamar Bagas. Aku menghampiri lelaki itu. Bagas tampak tidur di ranjangnya.


 


 


“Hai, sayangku,” sapa aku padanya. Aku menyentuh wajah Bagas. Aku perhatian dia yang sedang berbaring di ranjang tersebut.


 


 


“Bangunlah, Gas. Sudah seharian ini kamu tertidur. Apakah kamu tidak merindukan aku?” kataku lagi. Bagas tidak menyahut.


 


 


“Apa kejadian kemarin malam membuat hatimu hancur? Bagas, aku tidak selingkuh. Aku hanya mencintai kamu. Evolet Rebecca hanya mencintai Bagas. Hanya Bagas Pratama.”


 


 


 


 


“Evo…, Evo….” Bagas mengigau.


 


 


“Aku ada di sini, Gas. Di samping kamu. Aku mohon bangun ya. Kamu harus bangkit. Banyak orang yang menyakitiku Bagas, tolonglah aku,” pintaku. Air mataku kembali keluar. Aku terus menggenggam tangan Bagas.


 


 


“Apa kamu lupa dengan janji kamu padaku? Waktu di villa Charlotte kita udah bersumpahkan, Gas kalau kamu akan selalu ada untukku. Kamu juga bilang kita akan segera menikah. Bangunlah, penuhi janji itu.”


 


 


Bagas tetap tidak bangun. Tubuhnya baik – baik saja tetapi jiwanya tidak. Kejadian semalam pukulan yang sangat telak bagi dirinya.


 


 


Ceklek.


 


 


Pintu kamar Bagas terbuka. Evan masuk ke dalam kamar dengan muka panic.


 


 


“Mbak Evo, kita harus segera keluar. Keluarga Dea datang berkunjung,” ucap Evan memberitahu.


 


 


“Tapi…, tapi aku belum selesai bicara pada Bagas,” kataku.


 


 


“Aku akan mengaturnya lagi lain waktu, tapi sekarang kita harus keluar dari sini. Jangan sampai kita tertangkap dan kamu tidak bisa bertemu dengan Mas Bagas lagi,” Evan menjelaskan.


 


 


“Satu menit. Aku ingin pamitan dengan Bagas,” pintaku.


 


 


“Baiklah tapi cepat ya. Aku takut Charlotte tidak bisa berlama – lama untuk mengulur waktu mereka,” pinta Evan.


 


 


Aku mengangguk, lalu berkata pada Bagas, “Aku harap kamu segera bangun. Aku sangat mencintai kamu.”


 


 


Setelah berkata seperti itu, aku mencium bibir Bagas. Evan menarik tanganku. Dia menuju ke jendela kamar Bagas.


 


 


“Kenapa kita lewat sini? Kenapa kita tidak lewat pintu utama saja?” tanya aku.


 


 


“Lebih seru lewat sini, Mbak. Aku malas basa – basi dengan keluarga Dea,” kata Evan. Kamipun keluar dari jendela.


 


 


Ceklek.


 


 


Charlotte membuka pintu kamar Bagas dan masuk bersama keluarga Hermawan. Dia melihat ke dalam dan menghela napas panjang. Untunglah mereka sudah keluar.


 


 


“Kenapa kamu menghela napas panjang begitu?” tanya Bu Heni.


 


 


“Ah, ti- tidak, Tante. Aku hanya sedih melihat Mas Bagas belum sadarkan diri,” dustaku.


 


 


“Aduh, kenapa jendela kamar Bagas terbuka seperti itu?” tanya Dea lalu melangkah menuju ke jendela.


 


 


“KYAAAAA!” teriak Charlotte membuat orang di kamar Bagas terkejut.


 


 


“Charlotte, kenapa dengan kamu?” tanya Dea menghampiri Charlotte.


 


 


“A…, aku barusan seperti melihat hantu,” ucap Charlotte. Charlotte tahu sekali kelemahan Dea sejak dulu. Dea paling takut dengan hantu.


 


 


“Ha …, hantu? Di mana hantunya?” tanya Dea lagi.


 


 


“Di jendela, Kak,” ujar Chalotte. Seperti dugaan Charlotte, Dea tidak berani lagi ke jendela. Dia mengubah topic bertanya kondisi keadaan Bagas. Charlotte tertawa di dalam hati. Mana ada hantu zaman sekarang?


 


 


“Om sarankan kalau sampai Bagas tidak bangun sampai besok pagi, kalian harus segera membawa Bagas ke rumah sakit,” ucap Pak Hermawan pada Charlotte.


 


 


“Iya, Om. Charlotte juga berpikiran seperti itu. Aku akan menyuruh Papa dan Mama untuk membawa Mas Bagas ke rumah sakit.”


 


 


“Tante tidak menyangka bahwa calon istrinya itu selingkuh. Benar – benar menyusahkan saja.”


 


 


“Sudah jangan membahas apa yang kamu tidak tahu,” ujar Pak Hermawan memarahi istrinya.


 


 


Keluarga Pak Hermawan terus berbincang di kamar Bagas. Dalam hati Charlotte bersyukur Evan dan Evo sudah keluar dengan selamat.


 


 


Di mobil Evan.


 


 


“Terima kasih telah membantuku, Evan. Tanpa kalian aku tidak akan bertemu dengan Bagas,” ucapku lagi.


 


 


“Aku hanya merasa kalau Mbak Evo dan Mas Bagas adalah cinta sejati. Kalian seperti kisah Romeo dan Juliet,” kata Evan sambil menyetir.


 


 


“Kalau kisahku dan Bagas seperti Romeo dan Juliet, berarti kami tidak bisa bersatu ya?” tanyaku sedih.


 


 


“Eh, bu- bukan begitu maksudku.”


 


 


“Mbak hanya bercanda,” kataku sambil tersenyum.


 


 


Kalau memang kami tidak bersatu, cuma satu pintaku padamu, Tuhan, jaga Bagas untukku.


*****


Hai, kamu! Iya kamu, terima kasih telah setia dengan MOY. Mulai hari Senin 20 April 2020 - 26 April 2020 aku akan memberikan 50 koin bagi para pembaca yang memberikan vote terbanyak untuk 2 orang yang paling banyak memberikan voting. Baca kisahnya dan menangkan hadiahnya!


NEWS!!


Ada cerita baruku judulnya : CINTAI AKU, MR. KANEBO!


Silahkan dibaca, like, komment, bintang 5 dan share sebanyak - banyaknya. Terima kasih.


❤❤❤