
Hai, hai! Bagaimana kabar kalian? Bulan ini MOY akan segera tamat. Tetap setia ya. Minta like dan votenya ya karena MOY mau tamat. Hehehehe. Selamat membaca.
*****
Rumah Sakit.
Maureen berlari kencang ke UGD. Setengah jam yang lalu Rafael menelepon dia dan mengabari kalau Dina koma. Maureen mempertajam sudut pandangnya, dia mencari sosok Rafael di depan pintu UGD.
“Rafael,” panggil Maureen.
Maureen sudah tepat disamping Rafael. Wanita itu memegang bahu Rafael, tampak sekali tubuh Rafael bergetar karena takut.
“Apa yang terjadi?” tanya Maureen.
“Hari ini jadwal Dina kemoterapi pertamanya, selama kemo Dina baik – baik saja, tapi setelah beberapa jam kemudian, Dina mengalami kejang- kejang lalu tidak sadarkan diri,” terang Rafael.
Maureen duduk di sebelah Rafael, dia mengelus punggung Rafael. Maureen sangat mengerti kecemasaan yang ada di dalam hati Rafael.
Sejak tadi Rafael menghentakkan kakinya ke lantai. Tidak berhenti dan terus mengulangi, di depan matanya dia melihat Dina kejang, lalu menutup matanya. Rafael sangat takut, dia benar – benar takut akan ditinggalkan oleh Dina.
Mama Dina datang dengan berlari, perempuan paruh baya itu terkejut mendengat kabar dari menantunya. Dengan segera setelah menerima kabar tersebut, beliau datang ke rumah sakit.
“Mama?” kata Rafael melihat ibu mertuanya.
“Ba… Bagaimana ke…adaan Dina?” tanya Mama Dina.
Wajah Mama Dina begitu pucat, sama seperti Rafael, kecemasan melanda dirinya.
“Setelah beberapa jam kita saling menelepon, Dina kejang – kejang, Mam. Dokter memutuskan membawa Dina ke ICU,” jelas Rafael.
“Apa kata Dokter? Mengapa Dina bisa sampai seperti itu?” tanya ibu mertunya itu. Mama Dina tidak terima dengan kondisi Dina saat ini.
“Dokter bilang tubuh Dina tidak menerima obat sehingga terjadi hal seperti itu, Mam. Sebelumnya Dokter juga bilang padaku bahwa kemoterapi ini belum tentu akan menyembuhkan Dina karena penyakit Dina sudah menyebar di seluruh tubuh Dina,” terang Rafael.
“Apa?” ucap Mama Dina tidak percaya.
Rafael tidak menceritakan hal tersebut pada keluarganya, dia hanya menceritakan kalau penyakit kanker Dina masih dapat disembuhkan.
“Kenapa kamu tidak cerita dari awal, Fa? Kenapa?” Mama Dina mulai menitikan air mata. Maureen yang berada di sana, ikut menangis.
“Maafkan, Rafa, Ma. Rafa tidak ingin membuat Mama menjadi cemas,” pinta Rafael.
“Ya, Tuhan, tolong sembuhkan anakku.”
*****
Sebuah Kafe.
“Maaf sayang, aku datang terlambat,” ucap Evan yang baru sampai di kafe.
Hari ini Evan dan Charlotte sedang janjian bertemu. Setelah sekian lama mereka tidak bertemu karena kesibukan Evan.
“Tidak apa – apa sayang. Aku juga baru selesai.”
Evan memanggil pelayan kafe, lalu memesan makanan buat dirinya. “Apa kamu mau nambah pesanan, Char?”
Charlotte menggeleng kepala, dia sudah merasa cukup dengan pesanan makannya. Evan pun menyelesaikan pesanan makanannya.
“Terima kasih, mohon tunggu sebentar,” ujar pelayan kemudian meninggalkan keduanya.
Evan memegang tangan Charlotte, dia melihat meja mereka tertumpuk laptop, dan beberapa buku.
“Apa yang sedang kamu kerjakan?” tanya Evan penasaran. Evan mengambil buku yang ada di meja mereka. Dia membaca judul buku itu satu- persatu. Buku- buku tersebut mengenai fashion dan hal – hal berbau model.
“Charlotte Gelardine merupakan salah satu designer muda yang mulai mengepakkan sayapnya. Apa itu kamu?” Evan membaca salah satu majalah tersebut.
Sudah beberapa tahun ini Charlotte mengikuti berbagai lomba, lomba dari dalam negeri maupun luar negeri. Dia menggunakan nama Charlotte Geraldine agar orang – orang tidak menyadari dirinya ikut dalam lomba.
Baru – baru ini Charlotte memenangkan juara satu dalam lomba design di luar negeri sehingga nama dia tercantum di majalah yang bergengsi itu.
“Kamu luar biasa, Char! Aku bangga padamu!” ucap Evan bangga pada pacarnya itu. “Kenapa kamu tidak cerita?”
Charlotte menggaruk kepala. Dia tidak mau cerita pada siapapun karena dia mau berusaha dari awal. Charlotte ingin merasakan prosesnya, dia tidak mau instan. Apalagi keluarga Charlotte adalah keluarga terpandang, takutnya orang menganggap kalau kemenangannya adalah hasil dari korupsi, bukan karena usahanya.
“Aku hanya iseng saja, tapi ternyata malah menang,” cerita Charlotte.
Evan kembali memegang tangan pacarnya. Charlotte memang wanita yang tidak mudah ditebak. Banyak sekali kejutan – kejutan yang dia dapatkan dari pacarnya itu.
“Ternyata pacarku ini selalu membuat hal – hal yang tidak terduga ya. Kamu luar biasa sayang,” puji Evan tulus.
Charlotte mengeratkan pegangan tangan Evan. Dia tahu Evan akan selalu mendukungnya, beda halnya dengan Papa dan Mamanya, mereka hanya ingin Charlotte meneruskan perusahaan Pratama bersama Bagas.
“Kamu teruskanlah hobi kamu, tidak usah bekerja di perusahaan,” saran Evan.
“Mama dan Papa pasti tidak akan setuju. Dari dulu mereka ingin aku dan Mas Bagas meneruskan perusahaan keluarga. Mas Bagas memang penurut, dia mau menerima permintaan Papa dan Mama, tapi kalau aku, aku sempat bertengkar dengan mereka,” cerita Charlotte.
“Ya, aku mengerti perasaan kamu.”
Evan tahu sekali sifat kedua orang tua Charlotte yang otoriter. Mereka tidak mau mendengar masukan dari anaknya, maupun keinginan anaknya. Kadang Evan merasa kasihan dengan Charlotte dan Bagas.
“Bagaimana kalau kita menikah?” tanya Evan.
Charlotte hendak minum, jatuh gelasnya karena terkejut mendengar lamaran dari Evan yang begitu tiba – tiba.
Charlotte dan Evan segera merapikan dan membereskan tumpahan air agar tidak mengenai buku mau pun laptop Charlotte.
“Ka … kamu membuat a… aku terkejut, Van!” kata Charlotte jujur.
Evan dan Charlotte sudah selesai membersihkan tumpahan air yang ada di meja mereka. Evan kembali fokus pada Charlotte. Pacar Evan itu masih terkejut dengan lamaran Evan.
“Maafkan aku yang tiba – tiba melamar kamu, aku pikir sudah saatnya kita menikah,” aku Evan pada Charlotte.
Charlotte belum mampu menanggapi lamaran Evan, air matanya berkaca – kaca. Dia tidak menyangka akan di lamar secepat ini oleh Evan.
“Kenapa kamu tidak romantis begini? Kenapa kamu malah melamarku dengan cara seperti ini?” tanya Charlotte. Air mata Charlotte terurai, dia terharu dengan Evan.
“Maaf, maafkan aku ya. Aku malah melamar kamu seperti ini.”
Evan menghapus air mata Charlotte, maksud Evan baik pada Charlotte. Dia ingin menikahi pacarnya itu agar Charlotte bisa meneruskan hobinya tanpa terhalang dari orang tua Charlotte.
“Tidak, jangan meminta maaf. Aku menangis bukan karena aku sedih tapi karena aku senang karena kamu melamarku,” kata Charlotte.
“Jadi apakah kamu bersedia menikah denganku?” tanya Evan.
“Ya, Evan. Aku mau,” jawab Charlotte.
“Terima kasih, Charlotte. Aku mencintaimu, tapi maaf aku tidak membawa cincin untuk melamarmu.”
“Evan, kamu benar – benar tidak romantis!” keluh Charlotte, tapi perasaan Charlotte sangat bahagia.
*****
Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya. Minta tolong banget dilike ya.
❤❤❤