
Detik - detik MOY akan tamat! Terima kasih yah tetap setia dengan MOY. Terharu banget sampai saat ini kalian tetap bersama dengan MOY. Kira - kira Evo sama siapa ya? Saksikan terus kisahnya sampai akhir bulan ini!
*****
“Tenang saja. Aku sudah tidak minat denganmu. Calon istrimu tidak akan marah padaku, karena aku membawa calon suamiku ke sini,” kataku. Aku kaget bisa mengeluarkan pernyataan seperti itu.
Matas Bagas terbelalak, dia terkejut mendengar setiap kata yang aku lontarkan dari mulutku. Bagas tidak menyangka kalau aku dan Bastian akan menikah.
“Selamat. Aku tidak menyangka kalian bisa secepat ini menikah,” ucap Bagas kemudian memberikan tangannya untuk menjabat tanganku. Aku meraih tangannya untuk menjabat tangan Bagas. Sudah lama sekali kami tidak bersentuhan sejak kejadian itu.
“Terima kasih,” jawabku.
Setelah selesai bersalaman, Bagas pergi dari tempat itu. Aku menatap punggungnya dengan sedih. Ternyata Bagas dan Dea akan segera menikah.
Bastian mengamati wajahku. Bastian bingung dengan ucapan yang diberikan aku barusan. Apakah aku mau menikahinya?
Merasa dilihat terus oleh Bastian, aku menatap matanya. Bastian memberikan senyumnya padaku. Aku tidak bisa membaca reaksinya saat ini ketika dia mendengarkan pernyataanku barusan.
“Maaf,” kataku.
“Kenapa meminta maaf?” tanya Bastian.
“Seharusnya aku tidak bicara seperti itu pada Bagas. Aku telah menyulitkanmu lagi,” jelasku pada Bastian.
Bastian memegang tanganku. Dia mentap diriku dengan penuh kasih sayang. Pria itu sebenarnya berharap kalau aku menjadi istrinya.
“Bagaimana kalau aku mewujudkan permintaanmu?” tanya Bastian.
“Apa maksudmu?”
Bastian mengedipkan matanya,”Maukah kamu menikah denganku?”
“Apa? Apa aku tidak salah dengar? Kenapa kamu melamarku di tempat seperti ini? Tidak romantis sama sekali,” kataku malu. Evan yang sayup – sayup mendengar perkataan terakhir dari mulutku tertawa geli.
“Wah! Jadi aku harus melamarmu di tempat romantis? Kemarin aku mengungkapkan perasaanku saja kamu sudah melarikan diri. Kalau aku melamarmu, aku takut kamu akan menghilang,” ungkap Bastian dari dalam hatinya.
“Bastian! Kenapa kamu malah membicarakan hal itu lagi? Akukan sudah meminta maaf padamu,” sewotku.
“Maaf, maaf. Aku hanya bercanda!” kata Bastian.
Untuk pertama kalinya Evan melihat kecerian terpancar dari Evo. Dia tidak menyangka perpisahan Bagas dengan Evo membuatnya gembira. Sepertinya cita – cita Charlotte untuk membuat mereka bersatu akan sia – sia.
Dua jam berlalu.
Charlotte keluar dari ruangan tersebut. Mukanya tampak lesu dan kecewa.
“Bagaimana ujiannya tadi sayang?” tanya Evan. Charlotte tidak menjawab pertanyaan Evan. Evan semakin cemas.
“Bagaimana?” tanyaku melihat Charlotte keluar. Aku dan Bastian menghampiri Charlotte yang sudah keluar ruangan.
“Aku lulus Van, Mbak Evo!” jerit Charlotte membuat kami senang mendengarnya. Evan memeluk Charlotte lalu mencium dahinya.
“Selamat sayang!” ucap Evan.
“Terima kasih, sayang. Ini karena kamu selalu mendukungku,” kata Charlotte. Evan melepaskan pelukannya.
“Selamat Charlotte cantik,” ucapku dan memeluknya.
“Terima kasih, Mbak,” kata Charlotte lalu melepaskan pelukannya. Charlotte memandangi sekitarnya. Dia mencari sosok sang kakak. Mata Charlotte tidak menemukan kakaknya tersebut.
“Sepertinya ada yang mencari aku,” ucap Bagas dari belakang Charlotte, “apa adikku ini punya kabar baik untukku?"
Charlotte mengangguk keras, dia berlari menuju ke arah kakak lelakinya itu. Satu – satunya keluarga yang sangat peduli dengannya.
“Aku lulus, Mas!” ucap Charlotte dengan bangga.
“Mas Bagas bangga padamu. Selamat sayang,” kata Bagas.
Hari ini Charlotte sungguh bahagia. Perjuangannya di bangku kuliah akhirnya bisa dia selesaikan hari ini.
“Hari ini aku akan mentraktir kalian!” ajak Charlotte riang.
Aku sangat senang melihat Charlotte sudah lulus, tapi aku tidak mau terlibat lagi dengan keluarga Pratama.
“Kenapa begitu?” tanya Charlotte sedih.
“Aku…, aku,”
Bastian melirik ke arah diriku. Dia tahu aku sedang kesulitan mencari alasan untuk tidak gabung dengan mereka.
“Hari ini kami sudah ada janji dengan seseorang untuk mencari gaun pernikahan buat Evo,” ujar Bastian membantu diriku.
“Apa kalian mau menikah?” tanya Charlotte tercengang mendengar penuturan Bastian.
“Ya,” jawabku singkat. Lagi – lagi Bastian membantuku berbohong.
Charlotte sedih mendengar ucapan tersebut. Usaha dia dan Evan untuk membuat keduanya balik akan sirna.
Aku dan Bastian pamit pergi dari tempat itu.
*****
Sore hari di kantor Pratama.
“Hari ini aku ada pertemuan dengan teman lamaku sampai malam. Sebaiknya kamu pulang duluan, aku akan menyuruh supir untuk mengantamu pulang,” perintah Bastian.
“Aku dengan Maureen saja. Pasti dia bersedia untuk mengantarku,” kataku. Bastian dan aku bersiap – siap untuk pulang. Setelah siap, kami berjalan ke lift. Aku turun terlebih dahulu karena ruangan Maureen lebih dahulu dilewati.
“Hati – hati,” kataku.
“Sampai jumpa nanti malam,”ucap Bastian, lalu pintu lift tertutup.
Dari belakang seseorang memeluk tubuhku. Sontak aku kaget, dan melepaskan pelukan orang tersebut. Aku membalikkan badanku, mataku melotot, ternyata orang tersebut adalah Bagas.
Belum aku mengucapkan kata – kata, Bagas menarik tanganku. Dia membawaku ke ruangannya. Aku menahan badanku untuk tidak mengikuti dirinya.
“Lepaskan tanganku, Bagas!” pintaku.
“Ada yang harus kita bicarakan,” katanya. Dia menambah kekuatannya menarik tanganku. Tibalah kami di ruangan Bagas yang baru. Ruangan Bagas ternyata satu lantai dengan ruangan Maureen.
Bagas mengunci pintu ruangannya. Dia menatapku dengan tajam. Aku tahu Bagas sedang emosi. Semoga dia bisa mengontrol dirinya.
“Katakan padaku apa yang aku dengar tadi pagi adalah salah!”
Aku memutuskan untuk diam. Aku tidak berani menatap wajah Bagas yang sedang marah.
“Jawab pertanyaanku, Vo! Jangan membuatku semakin gila karena ini!” teriak Bagas. Pria itu mengiringku ke sudut tembok.
“Kenapa kamu begitu kejam padaku, Vo?” tanya Bagas.
“Aku? Kejam? Bukan aku yang kejam tapi keluargamu dan kamu, Gas!” jawabku. Aku sangat tersinggung dengan ucapan Bagas.
“Jangan menuduhku, bukankah kamu yang duluan berselingkuh dengan Indra? Jangan mengambing hitamkan keluargaku!” marah Bagas.
“Aku tidak pernah berselingkuh! Aku tidak pernah mengkhianati kamu! Kenapa kamu tidak percaya padaku?” terangku. Tidak terasa air mata ini ikut main dalam pembicaraan kami. Aku tidak sanggup dituduh seperti itu oleh Bagas. Dia harus tahu semua kebenaran ini.
Bagas membalikkan badan. Dia menggepalkan tangan. Ia marah terhadapku, tapi disisi lain Bagas tak mampu melihat diriku menangis.
Dengan segera aku menghapus air mataku. Kejadian di hotel harus dituntaskan sekarang, Bagas harus tahu kejadian sebenarnya. Aku tidak peduli kalau nantinya Bagas tidak percaya dengan kata – kataku.
“Malam itu Indra mengajakku ke acara peresmian perusahaan temannya. Aku tidak curiga karena Indra bilang bahwa itu merupakan rekan bisnis kami. Sebagai sekretaris aku menurut, karena tidak ingin menjatuhkan perusahaan tempatku bekerja. Sayangnya, aku tidak tahu kalau Indra telah mencampurkan obat tidur diminumanku,” ceritaku.
Bagas melihatku dengan tatapan menyelidik. Apakah aku harus mempercayaimu, Vo?
*****
Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya. Minta tolong banget dilike ya.
❤❤❤