MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Ciuman Tidak Langsung



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


*****


Krucuk, krucuk. Perutku mulai berdemo. Jam dinding menujukkan pukul 3 sore. Aku baru sadar ternyata sejak pagi kami belum mengisi perut kami.


 


 


   “Sepertinya aku mendengar bunyi raungan dari perut seseorang.”


 


 


   Aku tersipu malu. Ternyata bunyi perutku terdengar sangat kencang hingga Bastian mendengarnya. Bastian menutup dokumen milik perusahaan Pratama, lalu dia berdiri menuju ke sofa tempat aku duduk.


 


 


   “Kamu mau ke mana, Bas?” tanyaku.


 


 


   “Tentu saja mengisi perut, sejak pagi kita belum makan. Aku takut isi dalam perutmu akan keluar karena kamu menahan lapar.”


 


 


  Aku tertawa geli ketika Bastian berkata seperti itu. Aku segera menutup laptopku, lalu mengikuti dia. Bastian membukakan pintu ruangan untukku.


 


 


   “Silahkan,” kata Bastian mempersilahkan.


 


 


   “Terima kasih, Bas,” ucapku.


 


 


   Bastian dan aku menuju ke lift. Beberapa saat pintu lift terbuka, dan kami masuk. Ternyata kalau pergi sekarang, lift tidak penuh.


 


 


   “Kamu mau makan apa hari ini?” Bastian menawarkan padaku.


 


 


   Aku menggaruk kepala karena bingung. Kalau ditanya makan apa, aku suka makan semua jenis makanan yang halal. Aku bukan tipe pemilih makanan.


 


 


   “Apa aja, Bas. Aku ikut denganmu,” jawabku.


 


 


   Pintu lift terbuka, tandanya kami sudah sampai di lantai paling bawah.


 


 


  “Mbak Evo!” ujar seseorang melihat kami keluar dari lift.


 


 


   “Charlotte? Evan?”


 


 


   Bastian menuntun aku untuk menepi agar tidak menghalangi jalan. Charlotte dan Evan mengikuti langkah kami.


 


 


  “Kenapa kalian bisa di sini?” tanyaku.


 


 


  Charlotte melirik Bastian. Dia merasa terganggu dengan kehadiran Bastian. Melihat Charlotte menatapnya Bastian memberikan senyuman dengan sopan.


 


 


  “Ah, aku sampai lupa. Perkenalkan dia Bastian. Bastian, kenalkan ini adiknya Bagas, Charlotte, dan ini Evan pacarnya Charlotte,” kataku memperkenalkan.


 


 


  Bastian menjabat tangan Charlotte dan Evan secara bergantian. “Bastian, pacar Evo.”


 


 


  Ucapan Bastian membuat Charlotte kaget. Secepat itukah Evo memiliki pacar?


 


 


“Halo, Mas,” sapa Evan.


 


 


 


 


 


 


  “Vo, aku menunggu kamu di mobil,” pamit Bastian. Aku mengangguk setuju. Setelah kepergian Bastian, aku mengajak Charlotte dan Evan ke salah satu ruang tunggu tamu yang disediakan perusahaan.


 


 


 


 


“Ada apa kalian berdua datang ke sini?” tanyaku.


 


 


  “Mbak, apa aku tadi tidak salah dengar? Dia pacar kamu?” tanya Charlotte tidak percaya.


 


 


  Diam adalah jawaban yang tepat dari pertanyaan Charlotte. Kalau aku menjawab hal yang sebenarnya, aku takut Charlotte akan keceplosan bicara pada orang tuanya. Biarkanlah Charlotte salah paham dengan ini semua.


 


 


  “Kalau Mbak Evo tidak mau menjawab itu tidak masalah tapi aku mohon padamu, temuilah Mas Bagas sekali lagi!” mohon Charlotte, “Mas Bagas belum sadarkan diri sampai sekarang.”


 


 


  Aku menatap adik perempuan Bagas dengan tatapan sedih. Aku juga sangat merindukan Bagas. Rasanya aku ingin memeluk kakak laki – laki Charlotte itu. Kalau boleh, ingin rasanya aku merawat Bagas.


 


 


  “Aku….”


 


 


  “Charlotte janji sama Mbak Evo ini permohonan terakhir. Charlotte tidak akan mengganggu Mbak Evo lagi. Aku sadar kalau Mama dan Papa sudah cukup keterlaluan dengan Mbak,” aku Charlotte.


 


 


  Terbesit di mata Charlotte harapan yang sangat besar untukku. Sebenarnya akupun sangat ingin bertemu Bagas, tapi aku diminta untuk menunggu oleh Bastian. Rasa bimbang masuk ke dalam hatinya.


 


 


  “Aku harus membicarakan terlebih dahulu pada Bastian,” kataku akhirnya.


 


 


  “Tapi, Mbak….”


 


 


  Evan meraih tangan pacarnya, lalu berkata, “Mbak Evo benar, sayang. Dia harus izin dengan pacarnya. Kita tidak boleh membuat masalah baru pada Mbak Evo.”


 


 


  Charlotte mengangguk mendengar usulan kekasihnya itu. Pendapat Evan benar juga, Evo sudah banyak masalah, jangan sampai mereka menambah masalah untuk Evo.


 


 


 


 


  Charlotte mengambil ponsel aku dan menyimpan nomor dia serta Evan. Setelah selesai Charlotte mengembalikannya padaku.


 


 


  “Terima kasih untuk nomor kalian. Aku berjanji akan segera menghubungi kalian kalau aku sudah mendapatkan izin dari Bastian,” ucapku.


 


 


  Anggukan kepala Charlotte menjadi jawaban bahwa dia paham perkataan diriku. Setelah berkata seperti itu aku pamit kepada mereka berdua. Sudah setengah jam Bastian menungguku di mobil.


 


 


  Charlotte melihat ke arah pacarnya, dia sedih. Harapan satu – satunya untuk membangunkan Bagas sepertinya kecil.Ternyata Mbak Evo sudah memiliki pacar baru.


 


 


  Evan yang mengetahui perasaan hati Charlotte, memegang tangan pacarnya itu lalu menciumnya.


 


 


  “Jangan khawatir, aku sangat yakin sekali kalau Mbak Evo pasti mau bertemu dengan Mas Bagas. Dia sangat mencintai Mas Bagas.”


 


 


  Charlotte sangsi dengan ucapan Evan. Di depan matanya dia melihat Evo dengan lelaki lain. Pendengarannya pun tidak salah, kalau orang yang bernama Bastian itu adalah pacar Evo.


 


 


*****


Restoran.


 


 


  Bastian dan aku sudah tiba di restoran. Kami memilih restoran yang dekat dengan perusahaan Pratama. Alasan kami memilih tempat ini karena kami sudah lapar, dan makanannya juga enak. Restoran ini tempat makan favorit aku dan Maureen.


 


 


Waktu menunjukkan pukul 4 sore, kami baru bersiap untuk makan siang. Perut kami berdua sudah berdemo untuk diisi. Setibanya kami di restoran, kami segera memesan makanan.


 


 


  “Apa hanya itu saja, Pak? Apa ada tambahan yang lain?” tanya pelayan tersebut.


 


 


  Bastian mengembalikan menu kepada pelayan seraya berkata, “Ya, hanya itu. Mohon segera antarkan makanannya. Kami berdua sudah mati karena kelaparan.”


 


 


  Pelayan itu tersenyum lalu mengangguk. “Ditunggu 10 sampai 20 menit pesanan akan segera datang.


 


 


  Setelah kepergian pelayan itu, kami berdua hening. Entah kenapa suasana menjadi agak kaku? Bastian juga tidak banyak bicara saat menuju ke restoran ini.


 


 


  “Bas?” kataku mencoba untuk membuka topik.


 


 


  “Ya?”


 


 


  “Tadi adik Bagas datang,” kataku lagi. Aku berhenti sebentar melihat ekspresi muka Bastian, tidak ada perubahan dalam raut wajahnya. “Dia minta aku untuk bertemu dengan Bagas.”


 


 


  “Bukankah itu bagus?” tanya Bastian sambil menatap diriku.


 


 


  “Tapi aku harus izin kamu, aku takut karena pertemuan ini aku akan menghancurkan rencana yang kamu sudah susun.”


 


 


  Bastian mengacak – acak rambutku. Dia tersenyum padaku dan berkata,”Jangan pikirkan hal itu, kamu sudah ada kesempatan untuk bertemu dengan Bagas, jadi silahkan bertemu.”


 


 


  “Tapi….”


 


 


  Aku sangat ragu. Disatu sisi aku rindu pada Bagas, tapi disisi lain aku takut kalau usahanya membantuku akan rusak karena kebodohan yang aku perbuat.


 


 


  “Percaya saja padaku. Rencana Bastian tidak akan pernah gagal untuk melindungi dan memperbaiki nama baikmu. Kalau terjadi sesuatu, kamu tinggal panggil namaku, pasti aku akan segera datang menemui kamu,” janji Bastian padaku.


 


 


  Sungguh perlakuan yang sangat beda yang aku dapatkan dari Bastian. Dia sangat memperlakukanku dengan sopan dan penuh perhatian.


 


 


Selama aku bersama dengan Bagas tak ada sedikit pun Bagas memperlakukan aku seperti ini. Seandainya Bastian lebih awal bertemu denganku, pasti aku akan sangat bahagia.


 


 


  Pelayan datang membawa makanan dan minuman pesanan kami. Dia meletakkan makanan dan minuman di meja.


 


 


  “Pesanan semua sudah dikeluarkan. Selamat makan,” ucap pelayan tersebut.


 


 


  “Terima kasih,” ujar Bastian, “Ayo kita segera makan, jangan sampai seluruh isi diperut kita kaluar.”


 


 


  Kamipun segera menyantap makanan yang telah tiba. Aku memesan makanan nasi ayam lada hitam. Makanan ini merupakan menu kesukaanku kalau aku sedang ke sini dengan Maureen.


 


 


  “Vo.”


 


 


  “Ya?” tanyaku.


 


 


“Ada nasi di bibir kamu,” ucap Bastian sambil tersenyum. Mukaku menjadi merah padam karena malu. Umur sudah tua tapi makan saja masih belepotan.


 


 


  “Eh? Di mana? Di sini? Ini?” tanyaku gelagapan. Bastian menggelengkan kepala, karena yang aku tunjuk salah.


 


 


  Bastian mengulurkan tangannya ke bibirku. Dia menyentuh bibir mungilku, kemudian mengambil butiran nasi tersebut. Setelah mendapatkannya, dia memakan nasi tersebut. Aku mengerutkan dahiku. Kenapa dia memakannya?


 


 


  “Ini disebut ciuman tidak langsung,” goda Bastian. Dia berhasil membuatku jadi salah tingkah.