
Sebelum kalian membaca, mohon ditekan ya jempol dibawah dan vote. Like dan vote kalian membuat saya semangat berkarya. Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
*****
Rumah Keluarga Hermawan.
"Berita apa ini? Kenapa perusahaan Pratama bangkrut?" Tanya Pak Hermawan tidak percaya. Dia mematikan televisinya. Mengapa Freddy tidak cerita padanya?
"Dea! Dea! Alexandrea!" panggil Pak Hermawan panik. Dea yang baru sampai rumah langsung ke luar dari kamarnya.
"Ada apa, Papa? Kenapa teriak seperti itu?" tanya Bu Heni panik.
"Kenapa sama Papa? Kenapa memanggil Dea seperti ada bencana?" tanya Dea juga ikutan panik.
"Pemberitaan apa ini? Kenapa Papa baru tahu kalau perusahaan Freddy mengalami kebangkrutan? Katanya lagi anak laki - lakinya melakukan skandal video tidak baik? Kenapa kamu tidak cerita sama Papa?" Pak Hermawan bertubi - tubi bertanya pada anak gadisnya.
"Pap, santai. Dea bingung harus menjawab pertanyaan Papa yang mana?" ujar Dea. Dia menyuruh Pak Hermawan untuk duduk kembali di sofa. Bu Heni ikut duduk di sofa.
Dea menghela napas panjang, kemudian bercerita kepada orang tuanya, "Ini semua kesalahan Evo, Pap, Mam. Evo telah menghancurkan masa depan Bagas. Kebangkrutan ini kesalahan dia! Dia yang menyebarkan video tersebut. Dia bertengkar dengan Bagas, karena Bagas belum menikahinya sampai sekarang."
"Apa? Mama tidak menyangka dia sejahat itu!" kaget Bu Heni.
"Benar, Ma. Om Freddy sampai masuk rumah sakit karena hal ini," ungkap Dea dengan berapi -api.
"Dari mana kamu tahu semua ini? Anak Papa tidak terlibat dalam hal ini kan?" curiga Pak Hermawan.
Dheg. Jantung Dea berdetak kencang. Kenapa Papa bisa berkata seperti itu? batin Dea.
"Kamu itu aneh - aneh saja!" bela Bu Heni.
"Dea tahu dari tante Lina, Pa," ucap Dea.
"Papa harus segera ke rumah sakit menemui Freddy. Kamu tahu di mana Freddy di rawat?" tanya Pak Hermawan pada anaknya.
"Dea tahu, Papa!" kata Dea.
Pak Hermawan berdiri, lalu berkata, "Antarkan Papa ke sana. Mama bersiaplah, kamu harus ikut juga."
Pak Hermawan dan Bu Heni menuju ke kamar mereka untuk bersiap - siap. Aku mengambil telepon genggamku dari kantong celanaku. Lalu menuliskan pesan kepada seseorang.
Misi berhasil. Papa dan Mama menuju rumah sakit bersama diriku.
*****
Kantor Pratama.
"Bapak, Ibu yang terhormat. Terima kasih atas saran terhadap saya selaku pemimpin perusahaan ini. Beri waktu kepada saya untuk mengembalikan keadaan ini semua," pinta Bagas.
"Tidak! Kamu sama sekali tidak becus menjadi pemimpin! Ganti pemimpin! Ganti!" tolak seseorang dengan keras.
"Saya setuju dengan Pak Bagas. Berikan dia waktu, paling tidak sampai tiga hari ke depan. Dia harus bertanggung jawab dengan ini semua. Bila dia tidak bisa, dia harus mundur dari jabatan sebagai bos di sini!" ucap seseorang membela Bagas.
"Rapat hari ini selesai. Kami menunggu keputusanmu tiga hari lagi, Pak Bagas Pratama," ujar seseorang lagi.
Bagas menggigit bibirnya. Dia benar - benar frustasi. Apa yang bisa dia lakukan selama tiga hari ini? Bagaimana dia mengembalikan ini semua dalam satu hari? Bagaimana?
*****
Rumah Sakit.
Keluarga Dea sudah tiba di rumah sakit untuk menjenguk Pak Freddy. Bu Lina yang masih di luar menyambut keluarga Dea dengan muka sedih.
"Terima kasih Hen, kamu dan keluarga datang mengunjungi kami," ujar Bu Lina.
"Bagaimana keadaan Freddy, Lin?" tanya Pak Hermawan. Mereka sudah terbiasa memanggil nama dalam berkomunikasi.
"Masih belum bisa di jenguk. Dia masih belum sadarkan. Dokter belum mengizinkan sama sekali untuk kami melihatnya," jelas Bu Lina.
"Kenapa bisa terjadi seperti ini?" tanya Bu Heni tidak percaya," Kamu bangkrut?"
Bu Lina meneteskan air mata. Dia memeluk Bu Heni. Perempuan itu berpura - pura menangis di depan keluarga Dea. "Sabar, Lin. Sabar ada kami yang bisa membantu kamu di sini," ucap Bu Heni.
"Benar kata istriku, Hen. Kami akan bantu kamu untuk menyelamatkan perusahaan kalian." ujar Pak Hermawan mau menolong.
"Tidak. Jangan! Ini harus menjadi pembelajaran buat Bagas. Dia sudah menghancurkan keluarganya hanya demi wanita murahan itu!" geram Bu Lina. Dia melepaskan pelukan Bu Heni.
"Kenapa tidak? Kalian sudah kami anggap saudara sendiri!" tegas Pak Hermawan.
"Kalian sudah sering membantu kami. Kami tidak bisa membalas budi baik kalian," ucap Bu Lina.
"Jangan begitu donk, Tante. Aku sudah mengganggep Tante Lina itu keluarga aku sendiri, apalagi Bagas. Walau Bagas tidak mencintai diriku, aku tetap menganggapnya sebagai kakakku sendiri," ucap Dea memeluk Bu Lina. Dea langsung melepaskan pelukannya
Apa? Dea mencintai Bagas? tanya Bu Heni dalam hati. Kemudian dia mempunyai ide cemerlang agar Dea bisa menjadi istri Bagas. Dia pun dapat membantu keluarga Pratama.
"Hush, jangan ngomong sembarangan pada Tante Lina. Bagas sudah punya calon istri!" bentak Pak Hermawan tidak suka dengan sikap anaknya, Dea.
"Seandainya Dea dan Bagas bersatu, aku akan senang sekali. Bagas itu tidak cinta dengan Evo. Bagas hanya mencintai Dea dari dulu. Hanya saja sekarang Bagas diguna - guna oleh Evo. Saya bingung harus bagaimana?" kata Bu Lina.
"Begini saja, Lin. Kami bantu keluargamu tapi dengan syarat agar kamu tidak merasa kalian punya utang budi pada kami." kata Bu Heni. Perkataan Bu Heni menjadi perhatian mereka semua.
"Apa syarat itu, Hen?" tanya Bu Lina.
Pak Hermawan memandang tajam istrinya. Sepertinya dia tahu apa yang dipikirkan istrinya itu.
"Nikahkan Bagas dengan Dea. Kamu tidak punya utang budi, Dea senang dan kita bersatu menjadi keluarga. Bagaimana syaratku?" saran Bu Heni. Bu Lina dan Dea tampak bahagia.
"Saya tidak setuju! Ini tidak benar!" ujar Pak Hermawan.
"Apanya yang tidak benar, Pap? Dea dan Bagas saling cinta," tegas Bu Heni,
"Apa kamu tidak mendengar cerita Bu Lina? Dea dan Bagas saling mencintai. Kita harus bantu mereka bersatu. Apa kamu tidak mau melihat anak gadismu bahagia dengan pria yang dicintainya? Bagas pilihan yang tepat untuk anak kita," lanjut Bu Heni.
"Benar, Hermawan. Bagas mencintai Dea. Aku tahu itu," Bu Lina meyakinkan Pak Hermawan.
"Pap, aku mohon," Dea memohon dengan memelas. Entah kenapa hati kecil Pak Hermawan bilang ini tidak benar? Tapi dia tidak mau anak semata wayangnya bersedih.
"Papa setuju tapi Papa harus bicara dengan Bagas mengenai syarat ini!" ujar Pak Hermawan. Mereka semua setuju dengan keputusan Pak Hermawan. Itu yang diinginkan Bu Lina dan Pak Freddy selama ini. Bersatu dengan keluarga Hermawan.
*****
Rumah Sakit Akan Sehat.
"Sayang aku," panggil Rafael manja, "Ayo aku suapin kamu makan siang."
"Rafael, malu ah, ada Ibu!"
"Ibu senang kalian kembali akur. Ibu berdoa hubungan harmonis kalian sampai maut memisahkan," ujar Mama Dina.
"Amin, Bu," jawab Rafael dan Dina berbarengan. Mereka saling memandang satu sama lain. Pandangan penuh cinta dan kasih.
Drt. Drt.
Panggilan masuk dari telepon genggam Dina.
"Sayang, tolong ambilkan ponsel aku bunyi," pinta Dina. Rafael mengambil ponsel tesebut di tas Dina, kemudian memberikan kepada istrinya itu.
"Siapa?" tanya Rafael.
"Dari kantor sayang. Tumben ada apa ya?" jawab DIna sebelum mengangkat telepon dari kantornya.
"Coba kamu angkat," saran Rafael. Dina mengangguk lalu menjawab teleponnya.
"Halo," sapa Dina.
"Mbak, aku mau kabari kalo....," cerita salah satu teman kantor Dina. Muka Dina berubah menjadi sedih. Dia tidak menyangka apa yang barusan dia dengar.
"Ada apa?" tanya Rafael melihat perubahan muka dari istrinya itu.
"Baik, baik. Terima kasih infonya," ucap Dina lalu menutup teleponnya. Dina pucat pasi. Dia bingung dengan apa yang terjadi?
"Sayang, kenapa? Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Rafael tidak sabaran.
"Bagas bangkrut, Fa. Kantorku bangkrut." ucap Dina.
"Apa?" tanya Rafael terkejut mendengar ucapan istrinya. Pasti terjadi kesalahan.
*****
Apartemen Bagas.
"Akhirnya aku bisa menghubung kamu, Vo! Dari pagi aku meneleponmu, baru malam ini kamu mengangkat telepon aku!" kesal Maureen.
"Hai, Maureen. Maafkan aku, hari ini aku sangat sibuk," sapaku. Benar sekali, aku sangat sibuk hari ini. Hampir seharian ini aku di telepon, diteror oleh orang yang tidak aku kenal. Belum lagi para wartawan yang mengejar meminta penjelasan padaku. Untung saja pihak apartemen bisa diajak bekerja sama untuk mencegah para wartawan masuk ke apartemen kami.
"Bagaimana keadaan kamu dan Bagas? Aku mendengar dari berita televisi kalau tersebar video kalian berdua. Siapa yang menyebarkan hal bodoh seperti itu? Di mana kamu sekarang?" tanya Maureen tidak percaya.
"Aku baik - baik saja. Kalau keadaan Bagas aku belum tahu. Setelah Bagas meninggalkan aku untuk rapat, sampai sekarang dia belum mengabari diriku. Aku lagi di kamar. Di apartemen Bagas," aku menjelaskan pada Maureen.
"Kenapa jadi begitu rumit?" tanya Maureen, "Aku harap semua ini bisa di atasi oleh Bagas."
"Aku harap juga begitu. Banyak pemegang saham yang menjual saham perusahaan. Itu yang membuat perusahaan semakin menurun," cerita diriku lagi.
"Badai pasti berlalu, Vo. Aku bantu dengan doa. Jaga dirimu dan kesehatanmu. Kalau butuh bantuan, jangan segan menghubungiku," ujar Maureen.
"Ya, Maureen. Terima kasih," ucapku kemudian menutup telepon kami.
Drt.
Bunyi pesan masuk di telepon genggamku.
**Indra : Aku mencintaimu. Jangan membenciku, aku tidak sanggup. **
Melihat pesan masuk itu dari Indra, aku langsung menghapusnya. Indra benar - benar tidak tahu situasi.
Ceklek.
Pintu depan terbuka. Aku langsung ke luar dari kamar. Aku sangat yakin sekali, kalau itu Bagas.
"Hai, sayang," sapaku. Bagas terlihat lemah saat ini. Dia langsung duduk di sofa tanpa melepaskan sepatunya. Bagaimana cara aku meninggalkan Bagas dengan kondisi seperti ini? Charlotte maafkan aku, aku tidak bisa pergi dari kehidupan Bagas sekarang.
"Bagaimana?" tanyaku cemas.
Bagas menatap diriku dengan sedih. Matanya begitu sayu. Dia benar - benar sedang dalam keterpurukan. Bagas menghela napas, tapi tidak menjawab pertanyaanku.
"Apa kamu baik - baik saja, Gas?" tanya aku lagi.
"Hancur sudah karierku, Vo. Sebaiknya aku mundur dari jabatanku. Itu satu - satunya cara aku menyelamatkan para karyawan." cerita Bagas.
"Apa tidak ada cara lain, Gas?" kataku lagi.
"Ada, Vo. Kalau ada yang membeli saham perusahaan kita. Aku akan selamat begitu juga perusahaan," jelas Bagas, "Tapi itu mustahil sekali. Tidak akan ada yang mau membeli saham kita sebesar itu."
"Berapa banyak saham yang harus di beli agar kamu selamat dan juga perusahaan selamat?" aku bertanya lagi pada Bagas.
"Cukup besar dana yang harus dikeluarkan. Sepuluh triliun, Vo. Aku harus mencari bantuan dana sebesar sepuluh triliun selama tiga hari,"katanya lirih.
"Sepuluh triliun?" kaget diriku. Banyak sekali uang yang diperlukan Bagas. Bagaimana cara aku membantunya?
*****
Keesokan harinya masih di apartemen Bagas.
"Bagas, bangun sayang," kataku membangunkan dirinya. Bagas nampak lemah. Bagas bangun dari tidurnya.
"Apa yang ingin kamu makan pagi ini? Aku akan memasakkannya untukmu," tanyaku.
"Terserah," ujarnya. Kemudian Bagas diam. Aku langsung ke luar kamar untuk membuat sarapan.
Drt, Drt, Drt.
Panggilan masuk dari ponsel Bagas. Bagas mengambil dengan rasa malas. Dia yakin telepon itu pasti dari salah satu pemegang saham yang ingin memaki dia.
"Halo," sapa Bagas dengan ogah-ogahan.
"Hai, Bagas. Ini aku Dea. Bagaimana kabar dirimu?" tanya Dea di seberang sana.
"Aku lagi malas untuk bicara dengan siapa pun, De," ucap Bagas. Pria itu malas harus menjawab pertanyaan Dea seputar kebangkrutan perusahaannya.
Bagas hendak mematikan teleponnya, tapi suara Dea di seberang sana mencegahnya,"Papa dan Mama mau bertemu denganmu. Apa kamu bisa bertemu dengan mereka di rumah?"
"Ada apa?" tanya Bagas.
"Aku tidak tahu, tapi aku mohon datanglah ke rumah sebelum kamu berangkat ke kantor."
"Baiklah, aku akan datang," ucap Bagas.
*****
Hai, semua! Terima kasih telah membaca kisah Evo. Di tunggu kelanjutannya ya. Bantu doa biar cepat up. Jangan lupa gabung di group author! Aku sayang kalian.