MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Makan Siang



“ Bagas Pratama! Jangan keluar kamu!” teriak Pak Freddy marah. Kamipun ikut bubar. Kami tidak ingin mendapatkan masalah.


“Ren, aku kejar Bagas dulu ya,” Aku berbisik pada Maureen. Lalu aku segera berlari


mencari Bagas. Aku berlari mengejar Bagas di ruangannya. Nihil. Kemudian aku berlari ke


tempat parkir, siapa tahu Bagas ada di sana. Nihil juga. Akhirnya aku


memutuskan untuk pulang ke apartemen.


.


.


.


Apartemen Bagas.


Berjam-jam aku menunggu Bagas. Dia tidak kunjung datang. Aku khawatir sekali padanya.


Bagas tipe orang yang nekat. Aku takut dia akan bunuh diri. Sejak tadi aku


selalu menghubungi Bagas, tetapi tidak diangkat. Aku melihat jam dinding, sudah


pukul 12 malam.


Ceklek.


Bunyi pintu terbuka. Bruk!


“Bagas!!” aku mengangkat tubuh Bagas, kemudian menaruh dia ke tempat tidur. Melepaskan sepatu, dan jasnya.


“Ehmmm….,” Bagas mengigau. Mulut dia begitu bau, Bagas mabuk berat. Kenapa Bagas ngga mau dijodohkan ya? Apa wanita yang dijodohkan itu tidak cantik? Aku sedih memandang Bagas seperti itu.


Keesokan hari, pukul 5 pagi.


“ Selamat pagi,” aku menyapa Bagas. Bagas baru saja bangun. Aku sudah menyiapkan sup


untuk dimakan oleh dia.


“Kepalaku pusing,” ujar dia sambil memegang kepala.


“Makan dulu ya. Biar kamu makan obat,” kataku sambil memberikan sup padanya. Bagas


menerima makanan itu. Dia makan dengan lahap. Beberapa menit kemudian, sup itu


habis. Aku memberikan obat padanya.


“Kamu ke mana semalam?” tanyaku.


“ Bukan urusanmu.” jawab Bagas dingin. Lalu dia berdiri, bersiap pergi ke kantor. Aku


memegang tangan dia.


“Memang bukan urusanku, tetapi aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu,” ucapku tulus padanya. Bagas melepaskan tanganku. Dia tidak mengubris kata-kataku.


Di kantor.


“Perkenalkan, ini Bu Lisa yang akan menggantikan saya sebagai pemimpin kalian,” Mbak Meli


memperkenalkan Lisa, tunangan Bagas pada kami. Lisa wanita cantik, memiliki


rambut berwarna pirang, tubuh langsing, dan tinggi. Beda 180 derajat sama aku.


Harusnya Bagas suka pada wanita ini.


“ Hai, semua. Mohon kerja sama kalian. Sebenarnya saya tidak punya pengalaman apa-apa dibidang ini, tapi karena Om Freddy meminta bantuan, terpaksa saya harus ada disini,” sapa Lisa ramah pada kami.


“Coba kalian perkenalkan diri kalian satu persatu. Kalo Meli, aku sudah kenal. Kalau kalian?”


“ Nama saya Maureen, Bu,”  Maureen menjabat tangan Lisa.


“Saya Evo, Bu. Evolet Rebecca,” Giliranku yang mengenalkan diri. Lisa menatapku


dengan tajam sesaat.  Lisa kemudian masuk ke dalam ruangan bersama Mbak Meli.


“Sepertinya Bu Lisa tidak suka sama kamu, Vo.”


“ Ssst….,” Aku menyuruh Maureen diam. Maureen benar, tadi saat Lisa menjabat tanganku, dia menekan tanganku dengan keras. Hari ini kami membantu Mbak Meli membereskan tempatnya. Mbak Meli pindah tempat, ke sebelah kami.


“ Kenapa Pak Freddy bisa mengambil keputusan seperti ini ya?” Maureen berkomentar.


“Mbak Meli, kinerjanya bagus, ngga pernah melakukan kesalahan. Heran aku,” kata


Maureen lagi kemudian dia membantu Mbak Meli merapikan buku-buku yang sudah


mereka angkat keluar.


“Pekerjaanku memang bagus, Ren, tapi bukan aku yang punya perusahaan,” ujar Mbak Meli


menanggapi Maureen. Aku dan Maureen saling menatap. Benar kata Mbak Meli. Kadang hidup memang tidak seadil itu.


.


.


.


Siang hari telah tiba. Kami bersiap makan siang. Bagas datang mengunjungiku. Kemudian dia berucap, “Aku lapar, temani aku makan.”


"Ini bukan permintaan, tapi perintah," Bagas menekan suaranya pada kata perintah. Aku yang tau tabiat Bagas, sudah terbiasa dengan hal ini. Kalau Maureen, dan Mbak Meli sudah berubah muka, pucat.


"Bagas!" sapa Lisa keluar dari ruangan.


" Apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu mau ajak aku makan?" tanya Lisa lagi.


" Lisa? Kenapa kamu di sini?" tanya Bagas tak percaya.


"Mulai hari ini, aku disuruh Om kerja. Aku lapar . Ayo kita makan," ajak Lisa.


"Tidak," jawab Bagas dingin. Lisa cemberut.


" Wah, wah, wah ada ramai-ramai apa ini?" Tiba-tiba datanglah Pak Freddy. Beliau memakai kaos biasa, baju tidak formal.


"Siang, Pak," sapa kami bertiga. Pak Freddy senyum menanggapinya.


"Wah, Om Freddy, kok ke sini? Kata Papa hari ini kalian mau main golf?" tanya Lisa lalu menjabat tangan Pak Freddy.


"Om, kesini mau lihat calon mantu. Betah tidak kerja disini? Terus mau mengajak makan siang."


"Ah, Om bisa aja," kata Lisa tersipu.


"Aku sama Bagas juga mau makan, makanya dia ke sini tadi."


Bagas mengangkat salah satu alisnya. Dia tidak pernah mengajak Lisa makan siang bareng.


"Wah, sudah semakin dekat kalian ya. Om ngga usah khawatir kalau begini, "ucap Pak Freddy.


"Oh, iya Pa benar, Bagas memang ajak Lisa dan Evo makan siang. Apa Papa mau ikut?" Bagas tersenyum.


"Eh, tapi Pak, saya....," Bagas menatapku dengan tajam. Seakan bilang, diam kamu.


"Iya, tidak apa-apa. Apakah Maureen dan Meli mau ikut juga?" tawar Pak Freddy. Aku menatap mereka berdua. Berharap agar mereka ikut.


Maureen dan Mbak Meli menggeleng kepala. Mereka tidak mau ikut campur dengan keluarga Pratama


.


.


.


.


Di restaurant.


" Om, mau pesan apa?" tanya Lisa semangat. "Di sini makanannya banyak yang enak Om."


"Iya, restaurant terkenal milik keluargamu ini pasti makanannya enak dan lezat." Pak Freddy memuji. Aku terkejut. Restaurant ini mewah sekali. Rasanya orang kaya aku ngga pantas ikut di sini.


"Bagas mau apa?" Lisa bertanya pada Bagas. Bagas asyik mengotak-atik handponenya.


"Terserah," jawab Bagas.


" Kalau Evo, apa? Kamu aku pesankan aja ya, pasti kamu jarangkan ke tempat mewah kaya gini," kata Lisa. Aku hanya mengangguk setuju. Benar kata dia, aku ngga pernah ke restaurant semahal ini. Pak Freddy dan Lisa terus mengobrol. Aku dan Bagas hanya mendengarkan saja. Kalau ditanya ya dijawab.


"Evo, Apa aku boleh minta tolong?"


"Iya, Bu? Kenapa?"


" Tolong ambilkan aku minum donk," Aku menuruti. Padahal menurutku, dia bisa ambil sendiri.


Drrrt.


Bunyi pesan masuk.


Bagas : Setelah dari sini temenin aku makan ya.


Aku membalas pesan dari Bagas. Oke. Balasku.


Pesanan kami pun datang. Makanan yang dipesan oleh Lisa cukup banyak. Ada kepiting, ikan gurame goreng, dan ayam.


" Vo, aku takut kamu tidak selera dengan makanan ini, aku pesankan kamu tadi mie goreng dan minumnya air putih, ngga apa-apakan?" ucap Lisa, setelah makanan keluar semua.


" Iya, Bu. Tidak apa-apa."


Kelihatan sekali Lisa tidak suka denganku. Makananku saja sampai dipesan berbeda.


"Aku tidak nafsu makan, ini makan kepitingku, Vo," ucap Bagas lalu memberikan kepiting. Lisa tampak tidak senang dengan perlakuan Bagas padaku.


" Makasih, Pak," kataku pun memakan kepiting beserta mie yang dipesan Bu Lisa. Rasa mienya sama sekali tidak enak. Aku mencoba membuka kepiting tersebut, tapi terpental sampai kena Pak Freddy.


"Ya, ampun, Evo! Kamu itu iya, kampungan sekali, makan kepiting aja sampai kena Om Freddy. Bagaimana keadaanmu, Om?" tanya Lisa khawatir. "Cepat, ambil lap, jangan diam saja di situ Vo."


" Iya, Bu," Aku buru-buru minta pelayan untuk mengambil kain untuk melap.


" Memang susah ya, kalau ajak orang yang tidak sederajat dengan kita untuk duduk bareng," ucap Pak Freddy.


"Maafkan saya, Pak," Aku menunduk malu.


" Pergi kamu, Vo!" usir Lisa.


" Kalau kamu usir, Evo, berarti kamu juga mengusir saya dari tempat ini," ucap Bagas yang dari tadi diam.


"Sudah, sudah saya sudah tidak apa-apa, ayo duduk kembali," ucap Pak Freddy mencairkan suasana.