MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Keputusan Bagas



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


Kafe tempat makan siang Bagas.


"Kamu tidak menjawab pertanyaanku tadi." kata Bagas membuka topik.


"Pertanyaan apa?" tanya Mbak Meli pada Bagas.


"Kenapa tiba - tiba kamu bisa di sini?" Bagas mengulangi pertanyaannya.


"Oh, itu. Aku mau minta tanggung jawab kamu sebagai pendiri Perusahaan Pratama di Malaysia. Aku tidak mau jadi pengangguran," canda Mbak Meli.


"Hahhaha, Mbak Meli bisa saja. Aku sudah menunggu jawaban kamu loh!" ucap Maureen.


"Iya, Mbak Meli. Aku juga menunggu jawaban darimu," Dina setuju dengan ucapan Maureen.


"Hahaha, kenapa kalian begitu serius?" tanya Mbak Meli menggoda mereka.


"Lalu apa jawabanmu?" tanya Bagas.


"Aku sengaja datang ke sini untuk membantu kamu. Aku tahu pasti masalah akan menjadi rumit," jawab Mbak Meli pada akhirnya.


"Satu hal lagi, kenapa Mbak Meli bisa jadi pemegang saham terbesar kedua di perusahaan Bagas?" Maureen yang sejak tadi sudah menahan untuk tidak melontarkan pertanyaan ini, akhirnya bertanya.


"Aku hanya ingin membantu. Aku tidak mau Perusahaan Pratama hancur karena oknum yang tidak bertanggung jawab," ucap Mbak Meli.


"Apa maksud kamu?" tanya Bagas tidak mengerti.


Mbak Meli mengeluarkan sesuatu dari isi tasnya. Dia memberikan sebuah amplop kepada Bagas.


"Apa ini?" tanya Bagas.


"Coba kamu buka," perintah Mbak Meli.


Bagas membuka amplop tersebut. Betapa terkejutnya dia melihat hasil dari pemeriksaan tentang penyebab terjadi kebakaran tersebut.


"Apa? Apa kamu yakin dengan ini semua?" Bagas terkejut.


"Tadinya aku tidak ingin memberitahu kamu hal ini, tapi sepertinya kamu harus tahu," ucap Mbak Meli.


"Ada apa, Gas?" Maureen penasaran.


"Apa yang di tulis di situ?" tanya Dina juga penasaran.


"Di sini di katakan bahwa penyebab terjadinya kebakaran di Perusahaan Pratama yang ada di Malaysia karena di bakar oleh seseorang." cerita Bagas.


"APA?" kata Dina dan Maureen berbarengan.


"Setelah mendapat laporan tersebut aku langsung bergegas memesan tiket balik ke Indonesia. Betapa terkejutnya aku ada yang memberi pesan diadakan rapat tanpa kehadiran pemegang saham terbesar kedua." cerita Mbak Meli panjang lebar.


"Bagas, kamu harus menyelidiki ini semua," saran Maureen.


"Iya, Bagas. Orang yang melakukan itu sangat tega pada kamu," ucap Dina.


"Aku akan periksa semua ini," janji Bagas.


"Satu lagi, Bagas! Kamu harus menyelidiki siapa yang menyebarkan video kalian berdua! Menyebarkan fitnah pada kalian." ingat Maureet pada Bagas.


"Benar kata Maureen, Bagas. Aku rasa pelakunya sama dengan yang membakar Perusahaan Pratama yang ada di Malaysia," duga Dina.


"Benar kata Dina. Jangan - jangan pelakunya sama," Maureen membenarkan kata - kata Dina sahabatnya.


"Aku rasa kata - kata Dina dan Maureen. Kita harus mencari pelakunya atau dia akan terus menghancurkan Perusahaan Pratama." pinta Mbak Meli.


"Aku setuju," ucap Bagas. "Sebenarnya ada satu hal lagi yang aku ingin ceritakan padamu, Mel."


Maureen dan Dina langsung fokus ke arah Bagas.


"Aku akan pindah dari apartemenku. Papa dan Mama mau menjualnya untuk menambah bantuan Perusahaan Pratama," jelas Bagas.


"Lalu kalian akan tinggal di mana?" tanya Maureen.


"Rumah kontrakan yang pernah ditinggalkan oleh Evo," Bagas memberitahu.


"Apa? Itukan rumahnya kecil sekali," ucap Dina. Dina pernah sekali ke rumah kontrakan tersebut.


"Sebenarnya aku masih mampu menyewa tempat, tapi Evo bersih keras untuk memakai rumah kontrakan dia dlu," cerita Bagas lagi.


"Aku setuju dengan Evo. Kalian bisa menghemat uang dan mengumpulkannya untuk membeli rumah atau apartemen baru," Mbak Meli memberi pendapat.


Mereka bertiga mengangguk setuju dengan pendapat Mbak Meli.


"Ayo, kita selesaikan makan kita. Lima belas menit lagi rapat sesi kedua akan di mulai," Mbak Meli mengingatkan mereka.


"Ya, benar banget! Kita harus punya tenaga untuk melanjutkan pertandingan ini," ucap Dina semangat.


"Halo, Dina, kita tidak sedang lomba ya!" kata Maureen kesal dengan Dina yang menyebutkan rapat ini adalah sebuah pertandingan.


"Lalu di sebut apa?" tanya Dina.


"Hush, sudah, sudah! Mari kita teruskan makan siang kita," ajak Mbak Meli lagi.


Merekapun meneruskan makan siang. Pertempuran selanjutnya akan segera di mulai. Apapun keputusan hasil rapat, Bagas sudah punya keputusan sendiri.


*****


Rumah Keluarga Dea.


Tok, tok, tok.


Pintu kamar Dea di ketok oleh Bu Heni.


"Dea, makan dulu sayang sudah siang," pinta Bu Heni dengan lembut.


Dea tidak menjawab ajakan Bu Heni, mamanya. Dea sedang sedih mengingat penolakan Bagas padanya semalam. Apalagi Papanya- Pak Hermawan malah membantu Bagas untuk menolak perjodohan ini.


"Sayang, Mama mohon kamu jangan seperti ini. Nanti kamu sakit," bujuk Bu Heni.


"Biarin! Biarin Dea sakit. Papa dan Mama tidak sayang dengan Dea," kata Dea merajuk.


"Jangan begitu sayang, kami tidak ingin kamu sakit. Ayo makan," bujuk Bu Heni lagi.


Pak Hermawan mendatangi istrinya, lalu berkata,"Bagaimana?"


"Dea tidak mau ke luar, Pa," jawab Bu Heni


Tok, tok, tok.


Pak Hermawan mencoba mengetuk pintu kamar anak gadisnya itu. "Dea sayang, apa kamu di saba?"


Dea tidak merespon kata - kata orang tuanya. Tiba- tiba Dea mengingat beberapa tahun yang lalu. Saat Bagas dan Dea masih mesra layaknya sepasang kekasih. Masa- masa SMA yang sangat membahagiakan Dea. Saat itu Bagas dan Dea menjadi sepasang kekasih. Saat itu Bagas menyatakan kisah cintanya pada Dea. Bagas yang selalu ada untuk Dea. Bagas yang selalu menolong Dea dalam setiap kesulitannya. Bagas yang akan selalu membela Dea dan memanjakan Dea. Dea sangat merindukan Bagas yang seperti itu.


Dea mengambil sebuah boneka yang pernah diberikan oleh Bagas waktu ulang tahunnya.


"Tuhan, apakah aku tidak bisa kembali lagi pada Bagas? Apa aku tidak diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan aku pada Bagas?" doa Dea.


****


Hai kamu, iya kamu! Terima kasih sudah membaca kisah Evo. Tetap setia ya membacanya. Evo tunggu kalian di episode selanjutnya. Jangan lupa gabung juga di group chat aku. ❤❤❤