MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Keputusan Bagas



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


*****


Rumah Keluarga Pratama.


Selesai Bagas membersihkant diri. Bagas ke luar dari kamarnya. Dia sudah siap mengikuti makan malam yang diadakan Papa dan Mamanya.


"Jadi apa anak Papa sudah siap dengan perjodohan ini? tanya Pak Freddy anaknya. Bagas tersenyum menanggapi ucapan Pak Freddy.


Bagas mengambil kursi duduk di dekat adiknya, Charlotte.


"Bagaimana skripsimu?" tanya Bagas pada adiknya.


Pak Hermawan, Bu Heni dan Dea belum tiba ke rumahnya.


"Kemarin dosen pembimbingku sudah menyetujui skripsiku untuk didaftarkan buat diuji," cerita Chatlotte.


"Kamu memang hebat!" puji Bagas.


"Anak Papa selalu hebat. Hari ini Papa bahagia kita bisa berkumpul lagi di sini. Apalagi Bagas akan menyetujui persyaratan itu. Dia akan menyelamatkan perusahaan kita," ucap Pak Freddy bangga.


Charlotte dan Bagas hanya terdiam. Charlotte mengerti perasaan Bagas, kakaknya. Keputusan yang dia buat sangat berat.


"Mama, kapan keluarga Hermawan akan datang?" tanya Pak Freddy.


Bu Lina yang sedang sibuk di dapur mempersiapkan hidangan istimewa menghampiri suaminya, "Pukul 8 mereka akan tiba."


"Berarti setengah jam lagi mereka akan tiba," ucap Pak Freddy dengan riang.


*****


Bioskop.


"Indra, terima kasih ya telah menemaniku nonton hari ini," ucap Maureen pada Indra.


"Sama -sama. Aku juga bosan di rumah," ucap Indra.


Maureen dan Indra mencari tempat untuk makan.


"Kamu mau makan apa?" tanya Maureen.


"Apa ya? Terserah, aku ikut saja," kata Indra lagi. Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk makan steak.


Maureen memesan makanan, kemudian gantian Indra.


"Film tadi seru sekali ya, Ndra. Apalagi waktu jagoan datang, semua orang yang ada di dalam langsung senang," komentar Maureen.


"Ren, aku boleh nanya?" tanya Indra.


"Apa?" tanya Maureen balik.


"Kenapa kamu mau minta balik sama aku?" Indra membuka pembicaraan.


"Karena aku yang salah tidak percaya sama kamu. Harusnya aku percaya, karena cinta harus percaya." jelas Maureen.


"Apa yang terjadi kalau aku tidak menerima cinta kamu lagi?" tanya Indra lagi.


"Itu hakmu, aku tidak mau memaksa, karena cinta tidak dapat dipaksa." ucap Maureen sambil tersenyum.


Indra membalas senyum Maureen, kemudian dia berkata, "Ternyata setelah berpisah dengan aku, kamu semakin dewasa ya."


"Keadaan yang membuat aku berubah, Ndra. Terima kasih atas pujianmu padaku."


"Bagaimana keadaan perusahaanmu? Aku dengar sedang mengalami musibah?" tanya Indra. Dia memotong daging sapi menjadi bagian kecil, setelah itu dia masukkan ke dalam mulutnya.


"Awalnya kami bisa mengatasi masalah ini, tapi pagi tadi kami mendengar berita kalau kantor di Malaysia terbakar. Hari ini saham perusahaan anjlok. Para pejabat dan pemegang saham menyerbu kantor kami untuk mencari Bagas, tapi dari yang aku dengar Bagas ke Malaysia hari ini mencari tahu apa yang terjadi," cerita Maureen panjang lebar.


"Apa? Mengerikan sekali. Lalu apa yang kamu lakukan hari ini menghadapi mereka saat Bagas tidak ada di tempat?"


"Aku menyuruh mereka pulang. Aku katakan saja sejujurnya kalau Bagas memang pergi ke Malaysia. Untung saja mereka mau mengerti dan pergi pulang," jelas Maureen lagi.


Tiba - tiba terdengar lagu yang Maureen kenal diputar di Mall yang mereka kunjungi.


"Kutahu kamu pasti rasa.


Apa yang kurasa.


Kutahu cepat atau lambat.


Kamu 'kan mengerti.


Hati bila dipaksakan, pasti takkan baik.


Pantasnya kamu mencintai yang juga cintai dirimu.


Cinta kamu.


Lepaskanlah ikatanmu dengan aku,


Biar kamu senang.


Bila berat melupakan aku, pelan-pelan saja


Tak ada niat menyakiti


Inilah hatiku


Pantasnya kamu mencintai


Yang juga cintai dirimu


Cinta kamu


Lepaskanlah ikatanmu dengan aku


Biar kamu senang


Bila berat melupakan aku


Pelan-pelan saja


Pelan-pelan saja


Lepaskanlah ikatanmu dengan aku


Biar kamu senang


Bila berat melupakan aku


Pelan-pelan saja


Pelan-pelan saja."


(Lagu Kotak dengan judul Pelan - Pelan Saja).


*****


Rumah Dina.


"Sayang aku," panggil Dina manja.


"Apa?" tanya Rafael.


"Aku sangat lapar," ucap Dina lagi.


"Apa yang mau kamu makan?" tanya Rafael lagi. Rafael tahu kalau DIna sudah bersifat manja begini pasti karena kemauan bayinya. Biasanya keinginan dia suka aneh.


"Aku mau kamu bikin kue bolu!" seru Dina. Rafael yang sedang minum tersedak mendengar keinginan istrinya.


"Apa? Aku buat kue?" tanya Rafael tidak percaya. Dina mengangguk.


"Tidak! Aku tidak bisa buat kue," tolak Rafael. Dina manyun mendengar jawaban Rafael.


"Bagaimana kalau kita beli aja? Aku punya langganan kue bolu yang enak," saran Rafael. Dina menggeleng kepala. Dia tidak mau kue yang beli di luar tapi kue buatan Rafael, suaminya.


"Aduh, sayang, kalau kamu suruh aku nyanyi aku masih mau, tapi ini kamu suruh aku untuk buat kue. Ibarat kopral yang tidak mendengar perintah jendralnya, kamu buat aku mati."


Dina tertawa mendengar ucapan suaminya itu, "Hahaha, kamu lucu sekali sayang. Baik - baik aku akan tahan keinginanku untuk makan kue."


"Nah, begitu! Aku senang mendengarnya," ucap Rafael.


"Rafa....," panggil Dina lagi.


"Apa lagi?" tanya Rafael.


"Apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?" tanya Dina lagi.


Rafael memandang tajam Dina. Saat Dina hamil, dia suka sekali minta hal yang aneh - aneh. Pertanyaan aneh apa lagi yang akan dia lontarkan pada Rafael?


"Apa yang mau kamu tanyakan padaku?"


"Kenapa dulu kamu tidak menikah dengan Evo malah memilih aku istrimu?" kata Dina pada akhirnya. Walau dia tidak ingin mengungkit foto kemesraan mereka, dalam lubuk hati Dina penasaran mengapa dulu Rafael lebih memilih Dina dari pada Evo?


Rafael mendekatkan tubuhnya erat pada istrinya, lalu dia merangkul Dina.


"Karena cinta sejati tidak akan salah dipilih. Cinta sejati Rafael hanya pada Dina. Cinta sejati Evolet adalah Bagas. Jodoh tidak akan tertukar, sayang."


Dina tersenyum mendengar ucapan Rafael. Dia lega dengan ucapan suaminya itu. Dina yakin sekarang yang mengirim foto kemesraan Rafael dan Evo memiliki motif untuk merusak hubungan Dina dengan Rafael dan Evo.


*****


Rumah Keluarga Pratama.


Keluarga Alexandrea tiba sedikit terlambat dari perjanjian. Mereka tiba pukul 8.30.


"Maaf, maafkan kami datang terlambat, Fred!" ucap Pak Hermawan pada sahabatnya itu. Dia memeluk Pak Freddy dengan bahagia.


"Halo, Tante Lina, Om Fred!" sapa Dea.


"Astaga, Dea! Hari ini kamu begitu cantik!" puji Tante Lina. "Benarkan, Bagas?"


Bagas tidak menanggapi pertanyaan Bu Lina. Dia lebih asyik memainkan ponselnya dari pada harus berbasa - basi dengan keluarga Dea.


Setelah selesai menyapa satu sama lain, keluarga Dea duduk di tempat yang telah di sediakan oleh Bu Lina.


"Om mendengar kalau kantormu di Malaysia terbakar. Apa kamu sudah tahu penyebabnya?" tanya Pak Hermawan mencari topik pembicaraan.


"Iya, Om. Tadi pagi Bagas sudah terbang ke Malaysia untuk mengecek apa yang terjadi? Menurut kepolisian di sana, mereka baru bisa memberikan laporan sekitar tiga hari lagi." jelas Bagas.


"Om turut prihatin dengan kejadian yang menimpamu," ucap Pak Hermawan.


Bu Lina mempersiapkan hidangan istimewa untuk di makan. Baru kali ini dia yang turun tangan dalam membuat hidangan, biasanya Bu Lina mempercayakan ini semua pada tukang masaknya.


"Ayo, kita makan terlebih dahulu, sebelum semuanya menjadi dingin," pinta Bu Lina pada semua orang yang ada di meja makan.


Hari ini Bu Lina menyediakan banyak menu. Menu yang disajikan di meja ada ayam goreng, sayuran, daging sapi, dan makanan lainnya.


"Wah, banyak sekali menu yang kamu keluarkan, Lin," puji Bu Heni.


"Untuk calon besan tentu harus istimewa," ucap Bu Lina sambil tersenyum bahagia. Bagas yang sedang makan mendengar perkataan Bu Lina menghentikan makannya. Charlotte yang melihat kejadian itu langsung berdoa.


"Apa Bagas sudah setuju dengan persyaratan itu? Dea, kamu akan segera menikah sayang!" ucap Bu Heni bahagia.


"Apa benar begitu, Bagas?" tanya Pak Hermawan.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?  Tentu saja Bagas setuju dengan persyaratan itu! Dia sangat mencintai Dea. Begitu pula dengan Dea. Apa Dea mencintai Bagas?" tanya Pak Freddy menggoda Dea.


Dea tersipu malu mendengar pertanyaan Pak Freddy, lalu menyahut,"Om Freddy selalu mengangguku."


"Tante Heni senang kamu sudah berpikir dengan tepat dan bijaksana. Kita akan menjadi satu keluarga yang tidak terkalahkan." ucap Bu Heni sangat riang.


Bagas hanya membisu. Charlotte yang memandang ke arah kakaknya menjadi sedih dengan perjodohan ini. Charlotte yakin Bagas menentang ini semua.


Pak Freddy yang melihat Bagas terdiam mengulangi pertanyaannya, "Apakah benar kamu setuju dengan persyaratan yang Om dan Tante berikan?"


Bagas tetap diam membisu.


"Jawab pertanyaan Om. Kamu tidak perlu takut dengan kedua orang tuamu, dan takut menyakiti Dea. Om lebih suka kamu berkata jujur sekarang dari pada nantinya malah kalian bercerai di tengah jalan. Om tidak mau hal itu terjadi." tegas Om Freddy.


Bagas berdiri, lalu menurunkan punggungnya sedikit. Ada rasa cemas yang hinggap dipikirannya. Bagas tahu keputusan ini akan menyakitkan orang tuanya.


"Maafkan Bagas, Om. Bagas tidak bisa menikahi Dea. Dea sudah Bagas anggap sebagai saudara Bagas sendiri," ucap Bagas masih posisi tadi.


"BAGAS!" Bentak Pak Freddy.


Dea menangis mendengar ucapan Bagas. Kemudian dia memeluk Bu Heni mamanya. Bu Lina menghampiri Bagas, lalu menampar anaknya itu.


"MAMA!" teriak Charlotte pada Bu Lina.


"Diam kamu, Charlotte! Mas kamu ini pantas mendapatkan ini. Perbaiki ucapanmu sekarang!" pinta Bu Lina tegas. Bagas tidak bergeming dengan keputusannya.


"Kita pulang ya, Ma. Dea tidak sanggup di sini." pinta Dea. Keluarga Dea angkat diri dari rumah Bagas.


"Heni, tunggu Hen!" cegah Bu Lina.


"Aku tidak menyangka bahwa aku akan disakiti seperti ini oleh anakmu," kecewa Bu Heni.


"Tidak, Hen. Berikan kesempatan pada kami untuk membujuk Bagas. Mereka saling mencintai," pinta Bu Lina memohon pada Bu Heni.


"Sudahlah, Lin! Jangan paksakan perasaan mereka," ucap Pak Hermawan lebih bijaksana, "Dea dan Heni akan baik - baik saja. Kami pamit."


*****


BERSAMBUNG.


Ikuti kisah Evo selanjutnya. Terima kasih yang sudah datang untuk membaca. Jangan lupa gabung digroup aku.