MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Kebohongan Bagas



Sebelum kalian membaca novelku, tolong berikan like dan vote ya. Pemberian like dan vote adalah dukungan kalian terhadapku. Terima kasih telah menyayangi, MOY.


*****


Malamnya di tempat Karaoke


"Evo!!" panggil Dina.


Aku baru saja masuk ke ruangan karaoke kami, Dina sudah teriak memanggil namaku. Aku menghamipiri Dina. Di ruangan karaoke baru ada Dina, dan Rafael, lalu aku memilih duduk di sebelah Dina.


"Di mana Maureen?" tanyaku.


"Tadi dia bilang akan di jemput Indra. Aku di suruh duluan jalan, kebetulan Rafael menjemputku lebih cepat," Dina menerangkan.


"Di mana Bagas?" tanya Rafael.


"Oh, iya. Aku akan meneleponnya," kataku. Aku pun segera menelepon Bagas. Beberapa saat aku menunggu Bagas menerima teleponku, tapi yang ditunggu tak kunjung menjawab.


 "Halo," jawab seseorang.


Aku seperti mengenal suara ini.


 "Evo? Ini Evo?"


"Iya, aku Evo. Maaf ini siapa?" tanyaku.


 "Aku Dea. Bagas lagi tidak bisa menerima telepon. Nanti aku akan menyuruh Bagas untuk menelepon kamu balik ya," ucap Dea mematikan telepon.


 Bagas lagi sama Dea rupanya. Pasti dia tidak bisa datang ke sini.


"Ada apa?" tanya Dina melihat perubahan raut muka aku.


"Tidak. Tidak apa - apa. Bagas tidak bisa datang, katanya ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan," dustaku pada Dina.


"Oh, begitu. Sebelum kita mulai, kita pesan makanan terlebih dahulu! Bagaimana?" usul Dina.


"Aku setuju!!" kataku bersemangat.


*****


Di Restoran.


"Maaf aku terlalu lama. Tadi bagaimana kelanjutannya?" tanya Bagas yang baru selesai dari toilet.


"Iya. Jadi nanti di kota Batam akan di keluarkan dana sebesar satu milyar. Papa bilang kamu harus mengecek setiap minggu agar dana yang dikeluarkan tepat sasaran," jelas Dea.


Sebenarnya hari ini hanya alasan Dea saja mengadakan rapat di luar.Padahal bisa saja rapatnya diadakan di kantor. Tadi sore tanpa sengaja Dea mendengar Bagas akan pergi dengan Evo. Oleh sebab itu Dea sengaja menahan Bagas untuk tidak pergi bersama Evo malam ini.


"Baiklah, aku akan mencari orang untuk sidak setiap minggu tanpa pemberitahuan, biar dana keluar tepat sasaran. Apa ada lagi?" tanya Bagas.


Bagas melirik jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam.Sepertinya Bagas tidak bisa ikut dengan Evo dan yang lainnya.


"Gas, maafkan aku. Bisakah kamu mengantarku pulang? Supirku mendadak tidak bisa menjemput, istrinya melahirkan," pinta Dea.


"Oke, tidak masalah. Apa ada pembahasan yang lain?"


"Tidak. Hanya saja aku sangat lapar. Kita makan dulu ya, sudah lama juga tidak makan bersama," ucap Dea.


"Iya, kamu benar. Kita makan dulu, lalu pulang," usul Bagas.


"Horee! Mari kita makan!" ujar Dea dengan hati gembira.


Diam - diam Dea mematikan ponsel Bagas. Dea tidak mau Evo mengganggu kencan mereka. Maaf, Evo, hari ini Bagas jadi milikku dulu.


*****


Tempat Karaoke


Maureen dan Indra masuk ke dalam ruangan.


"Maaf, maaf, maafkan kami datang terlambat ya, guys!" pinta Maureen kemudian duduk disusul dengan Indra.


"Tidak bisa dimaafkan! Kamu harus di hukum!" ucap Dina kejam.


"Hua, Ibu hamil betapa teganya dirimu," sedih Maureen. Kemudian kami tertawa.


"Sudah - sudah! Jangan membuang waktu. Ayo kita bernyanyi!" usul aku membuat semua yang di dalam ruangan berteriak gembira.


Satu persatu kami bernyanyi. Dari suara merdu, sampai fals, kami tidak peduli, yang kami tahu kami ingin bahagia saat ini.


"Sekarang giliran Indra yang bernyanyi!!" usul Maureen.


"Hah? Aku? Tidak, tidak, tidak! Aku tidak bisa bernyanyi!" tolak Indra. Dari dulu Indra paling tidak suka bernyanyi.


"Ayolah, Indra! Rafael saja suaranya fals, mau bernyanyi!"


"Apa katamu?" tanya Rafael agak meninggikan nadanya.


"Maaf sayang. Aku cinta padamu!" ucap Dina mengeluarkan jurus andalannya. Rafael pun meleleh dan kami tertawa.


"Ya, penonton kecewa!" sedih Maureen.


"Ayolah, Dra! Kapan lagi aku dan yang lain bisa mendengar suaramu? Tidak perlu ,alu dengan kami. Suara kami pun tidak ada yang baik!" bujuk aku.


"Betul, betul! Aku setuju dengan Evo!" ucap Dina.


Semua setuju dengan pendapatku. Indra pun mulai terpojok hingga akhinya menyerah dan mencari lagu.


"Baiklah, baik. Aku akan bernyanyi untuk kalian tapi jangan ada yang tertawa ya!"


"Setuju!!" sorak kami semua.


Indra mencari lagu yang bisa dia nyanyikan. Indra pun mendapatkan lagu tersebut dan mulai bernyanyi. Indra menyanyikan lagu dari Padi yang berjudul Menanti Sebuah Jawaban. Lagu ini dia persembahkan untuk Evo. Indra memandang Evo penuh dengan cinta.


"Aku tak bisa luluhkan hatimu


Dan aku tak bisa menyentuh cintamu


Seiring jejak kakiku bergetar


Aku tlah terpaku oleh cintamu


Menelusup hariku dengan harapan


Namun kau masih terdiam membisu


Sepenuhnya aku ingin memelukmu


Mendekap penuh harapan tuk mencintaimu


Menanti sebuah jawaban tuk memilikimu


Betapa pilunya rindu menusuk jiwaku


Semoga kau tau isi hatiku


Dan seiring waktu yang terus berputar


Aku masih terhanyut dalam mimpiku


Sepenuhnya aku ingin memelukmu


Mendekap penuh harapan tuk mencintaimu


Menanti sebuah jawaban tuk memilikimu


Sepenuhnya aku ingin memelukmu


Mendekap penuh harapan tuk mencintaimu


Menanti sebuah jawaban tuk memilikimu


Sepenuhnya aku ingin memelukmu


Mendekap penuh harapan tuk mencintaimu


Menanti sebuah jawaban tuk memilikimu


Aku tak bisa luluhkan hatimu


Dan aku tak bisa menyentuh cintamu"


*****


"Keren! Keren sekali suara kamu! Pantas saja Maureen tegila - gila denganmu!" puji Dina kagum dengan suara Indra.


Aku hanya diam saja. Aku belum ikut memuji Indra. Aku merasa kalau Indra menyanyikan lagu tersebut untuk diriku.


"Jujur, aku tidak tahu suara Indra sebagus ini!" ungkap Maureen.


"Kadang lelaki menunjukkan kemampuannya hanya untuk wanita yang dicintainya!" ucap Rafael.


"Kamu tepat sekali, Fa!" ujar Indra.


"Wah, berarti lagu ini untuk Maureen ya." goda Dina.


"Cukup, Dina! Jangan menggodaku!" pinta Maureen.


"Hahhaa, kamu bisa saja, Din. Bagaimana dengan pendapatmu, Vo? Aku belum mendengar pendapat darimu!" tanya Indra.


"Iya, benar kata mereka, suara kamu bagus. Suaramu mirip dengan Bagas," kataku.


"Wah, berarti kamu sudah pernah dinyanyikan lagu pleh Bagas ya?" ledek Dina.


Mendengar perkataan Dina, mukaku memerah terseipu malu.


"Bagas pernah membacakan puisi untuk Evo untuk menyatakan cintanya," bongkar Rafael.


"Benarkah? Manis sekali, Bagas," kata Maureen.


"Kenapa kamu bisa tahu?" tanya Dina curiga.


"Saat pernyataan itu, aku ada di sana! Hahaha, jangan cemburu ya sayang. Itu masa lalu," kata Rafael sambil tertawa.


"Sudah, sudah! Jangan membahas aku lagi. Mari kita bernyanyi lagi!" ajak aku.


"Setuju!"


Satu jam berlalu tanpa terasa. Kami memutuskan untuk mengakhiri pesta ini.


"Terima kasih semua! Aku sangat bahagia malam ini!"


"Aku juga senang. Kapan kamu akan lahiran?" tanya Maureen.


"Dua bulan lagi. Sebentar lagi aku akan mengambil cutiku," jelas Dina.


"Jaga kesehatan kamu. Jangan jalan - jalan terus," pesan aku pada Dina.


"Benar kata Evo. Dina susah sekali dibilangin. Aku sudah menasehati dia untuk tidak jalan- jalan," Rafael mangadu. Kami tertawa mendengarnya.


"Rafael payah! Kenapa kamu harus mengadu sih?" kesal Dina.


Obrolan masih berlanjut hingga setengah jam. Kamipun memutuskan untuk pulang.


"Sama siapa kamu pulang, Voo?" tanya Indra yang sejak tadi melihat Evo kebingungan.


"Tadi Bagas bilang akan menjemputku, tapi dari tadi aku menghubunginya tidak bisa,"jelasku.


"Bagaimana kalau kamu bareng dengan aku dan Maureen?" Indra menawarkan diri.


"Benar, Vo. Sekalian Indra mengantarku," ujar Maureen.


Aku mengangguk setuju. Akhirnya aku memutuskan pulang bareng Indra dan maureen, karena Bagas tidak dapat dihubungi.


*****


Sesampainya di rumah kontrakan.


Indra membuka pintu mobilnnya untuk diriku. Indra mengantarkan Maureen dulu, baru aku.


"Terima kasih, Indra," ucapku.


"Sama - sama. Aku langsung pulang, sudah malam," pamit Indra.


"Ndra," panggilku.


"Ya? Kenapa?" tanya Indra.


Aku penasaran dengan nyanyian Indra tadi. Apakah lagu itu untukku?


"Evo?" panggil Indra membuyarkan lamunanku.


"Tidak, tidak. Maksudku, terima kasih. Suara kamu bagus sekali," pujiku.


"Terima kasih pujiannya. Apa kamu tahu? Aku sengaja bernyanyi untuk kamu," kata Indra tersenyum lagi melambaikan tangan untuk pamit. Dia pergi dari hadapanku.


Hah? Ternyata dugaanku benar.


"Evolet Rebecca!" panggil seseorang.


"Bagas?" aku terkejut. Ternyata Bagas sudah pulang dan menungguku di depan rumah.


"Kenapa kamu tidak meneleponku? Lalu siapa yang barusan mengantar kamu?" tanya Bagas seperti polisi.


"Aku sudah mencoba untuk menghubungimu, tapi telepon kamu tidak aktif. Tadi Indra mengantarku pulang," jelasku.


Kami masuk ke dalam rumah, lalu Bagas mengecek teleponnya. Benar saja, telepon Bagas mati. Dia tidak sadar akan hal itu.


"Ternyata kamu benar, teleponku mati. Maafkan aku, Vo," pinta Bagas.


"Tidak apa, Gas," kataku.


Aku dan Bagas duduk di sofa. Kami sedang santai.


"Mengapa kamu tidak ikut?" tanya aku.


"Aku tadi rapat dengan klien," jawab Bagas.


"Sama siapa rapatnya? Apa Dea tidak ikut bersamamu?" tanyaku lagi. Seharusnya Dea memberitahu pada Bagas kalau aku menghubunginya.


"Tidak. Aku tidak bersama Dea. Dea sudah pulang. Tadi aku rapat dengan yang lain."


Aku tertegun mendengar ucapan Bagas. Pria itu berbohong padaku.