MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Malaysia



Pagi ini tibalah aku di Malaysia. Untung saja sebelumnya aku membuat paspor. Kalo tidak, aku pasti tidak bisa pergi menemui Bagas. Aku dan Mbak Meli beda pesawat. Mbak Meli berangkat subuh, kalau aku berangkat pukul 7 pagi. Di bandara Malaysia, karyawan Bagas sudah siap menjemputku. Akupun segera diantarkan ke hotel tempat Bagas menginap.


Hotel di Kuala Lumpur, Malaysia.


" Evo, aku kangen sama kamu," Bagas memelukku erat ketika melihat kedatanganku.


"Hai, Bagas," sapaku. Bagas menaruh barangku ke kamar kami.


"Bagaimana perjalananmu?" tanya Bagas kemudian mengajakku duduk di sofa hotel.


"Menyenangkan, Bagas."


Ya, benar sangat menyenangkan. Bagas membeli tiket bussiness class untukku. Benar-benar nyaman.


"Baguslah kalau kamu senang. Aku bahagia melihatmu senang. Papa sudah setuju dengan rencana pernikahan kita, Vo,"Bagas bercerita padaku.


"Perjodohan dengan Lisa juga akan dibatalkan Papa hari ini juga."


" Kenapa Pak Freddy begitu cepat merestui hubungan kita?"tanyaku tidak percaya.


" Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa kamu tidak suka Papa menyetujui hubungan kita? atau jangan-jangan kamu memang ngga mau menikah denganku," Bagas mulai salah paham.


" Bukan begitu, Bagas. Ini aneh," ujarku.


Bagas berdiri, dia mulai tersinggung dengan ucapanku. "Entah mengapa aku merasa, hanya aku yang mencintaimu. Aku merasa kamu tidak pernah mencintaiku."


Aku berdiri, memeluk punggung Bagas, lalu berkata, " Jangan berkata seperti itu Bagas. Maaf, aku telah menyinggung perasaanmu."


Bagas membalikkan badannya. Lalu dia membalas pelukanku. Dia mencium dahiku kemudian berkata, "Aku selalu mencintaimu, Vo. Aku tidak ingin kamu pergi dari kehidupanku."


Tok, tok, tok.


Bunyi suara ketukan pintu kamarku. Aku membuka pintu hotel.


" Bu Lina," ujarku terkejut melihat Mama Bagas sedang ada di depan pintu. Bu Lina masuk tanpa menghiraukan aku yang sedang terkejut.


Bu Lina menampar diriku. Aku semakin terkejut dengan kelakuannya. Lalu dia melemparkan beberapa foto ke mukaku. Foto yang dilempar adalah foto aku dan Bagas saat kami berhubungan.


" Ternyata kamu begitu rendah ya nona Evo. Kamu menjual harga dirimu hanya untuk uang. Kamu tidak pantas untuk anak saya, Bagas," Bu Lina tampak emosi. Aku yang melihat foto itu menjadi malu. Sangat malu.


" Pergi dari kehidupan anak saya atau saya akan membuat hidupmu tidak ada masa depan!" ancam Bu Lina.


" Maaf Bu, tapi aku...."


" Kamu itu cuma menjadi mainan, Bagas, yang akan sebentar lagi dibuang. Sebelum kamu dibuang, lebih baik kamu pergi dari sini," Bu Lina terus berkata.


" Saya tidak bisa, Bu."


Ya, aku tidak bisa meninggalkan Bagas. Aku sudah janji padanya untuk tidak meninggalkannya.


Bu Lina yang kesal dengan ucapanku, menjambak rambutku. " Kamu pikir kamu siapa? Siapa kamu yang berani menolak perintah saya? Kalau sekali lagi kamu membantah, semua teman-temanmu akan saya habisi."


" Ampun, Bu Lina,".ujarku memohon.


" Suami saya sudah memberimu kesempatan untuk memilih, tetapi kamu dengan sombongnya mengabaikan. Dasar wanita brengsek," Bu Lina melemparku ke lantai. Kemudian dia merobek pakaianku. Air mataku mengalir keluar.


" Itu balasan karena kamu tidak mendengarkan saya. Kesempatan terakhir untukmu gadis miskin, pergi dan jauhi Bagas. Jangan pernah berpikir untuk menjadi orang kaya. Kamu tidak pantas," Bu Lina meludahiku. Kemudian dia pergi meninggalkanku. Aku menangis sedih. Harga diriku tercabik-cabik.