
Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
Maureen dan Dina menghampiri Bagas dan Mbak Meli.
“Hasil keputusan yang mengecewakan!” kesal Maureen.
“Pak Freddy tidak adil ya,” rungut Dina.
“Aku juga kesal dengan semua ini! Apalagi Bagas menyuruhku
untuk diam saja,” kesal Mbak Meli juga. Maureen, Dina dan Mbak Meli tidak bisa
menerima ini semua. Keputusan sepihak dari Pak Freddy membuat mereka kecewa.
Padahal hasilnya tadi seimbang. Seharusnya Bagas bisa menang dalam pemilihan
tersebut.
“Sudahlah, sudah ya. Jangan menyesalkan apa yang terjadi,”
ucap Bagas menenangkan mereka.
“Kenapa kamu menyuruh aku diam sih, Gas? Sebenarnya aku
masih bisa melawan Pak Freddy dan Bu Lina. Aku masih punya kekuataan untuk itu,”
ujar Mbak Meli kesal.
“Maaf, Mel. Terima kasih sudah berusaha untuk menolong aku.
Sebenarnya aku memang memutuskan untuk pergi dari Perusahan Pratama. Aku ingin
mencoba membuka usaha sendiri. Aku ingin
membuktikan kepada mereka bahwa aku mampu tanpa kedua orang tuaku,” jelas Bagas.
“Tapi kamu tidak menyadari bahwa para karyawanmu pun kecewa
dengan keputusan Pak Freddy,” ucap Mbak Meli.
“Bagas, hati kamu mulia sekali,” puji Maureen.
“Pantesan Evo cinta mati sama kamu,” goda Dina. Mendengar
kata – kata Dina kami tertawa.
“Ayo kita balik. Ini sudah jam 5. Sudah saatnya pulang,”
ajak Bagas.
“Gas, aku mau tanya,” ucap Dina.
“Tanyalah. Kamu bebas tanya padaku. Aku kan sudah bukan bos
kamu lagi,” ledek Bagas pada Dina.
Dina tersenyum mendengar ledekan mantan bosnya itu, kemudian
dia berkata,”Katanya kamu mau pindah hari ini. Apakah kami bisa membantu?”
“Wah, ide yang bagus!” ucap Maureen.
“Aku juga mau bantu!” kata Mbak Meli tidak mau kalah.
“Apa kalian serius? Nanti kalian capek. Rapat hari ini
sangat melelahkan,” ujar Bagas.
“Tidak. Kami tidak capek. Kami malah senang membantu kalian,”
Maureen berkata pada Bagas sambil tersenyum.
“Aku akan menyuruh Rafael juga membantu kita,” ujar Dina.
“Aku juga suruh Indra,” kata Maureen tidak mau kalah.
“Apa kalian berdua sudah berbaikan?” tanya Dina tidak percaya.
“Apa kalau membantu teman harus minta tolong sama pacar atau
suami? Indra kan kenal dengan Evo juga.
Siapa tahu karena ini kami bisa baikan,” ujar Maureen.
“Ah, dasar Maureen kesempatan dalam kesempitan nih!” ledek Dina membuat yang lain tertawa.
"Namanya juga usaha. Kamu sudah enak punya suami, aku belum," sedih Maureen.
"Aku rasa Indra tidak akan mau membantu kamu, percaya padaku." ledek Dina.
"Aku akan buktikan," kesal Maureen pada Dina.
Setelah berkata seperti itu Dina menelepon suaminya.
"Halo, sayang," sapa Dina pada suaminya.
"Iya, sayang," sapa Rafael juga.
"Aku akan ke apartemen Bagas dan Evo. Mereka berdua akan pindah. Kita bantu dia ya."
"Apa aku perlu menjemput kamu?" tanya Rafael.
"Tidak. Tidak usah. Aku bareng Mbak Meli, Bagas, dan Maureen. Sampai ketemu ya, sayang." ucap Dina.
Giliran Maureen yang mengambil telepon genggam dari tasnya, kemudian dia menekan kontak nama milik Indra. Maureen ingin membuktikan pada Dina bahwa Indra pasti mau membantu Evo walau mereka sudah tidak pacaran.
"Halo, Indra," sapa Maureen.
"Ya, Ren. Ada apa?" tanya Indra.
"Bolehkah aku minta bantuan padamu?" tanya Maureen. Tiba - tiba perasaan Maureen menjadi ragu. Ragu kalau Indra mau membantu Evo.
"Hari ini Evo dan Bagas akan pindah. Apakah kamu mau membantu mereka untuk pindah?" tanya Maureen lagi. Dalam hati Maureen berkata semoga Indra mau, semoga dia mau.
Dengan senang Indra menjawab, "Tentu saja."
Mendengar ucapan Indra, Maureen sangat senang.
"Sampai ketemu di sana," ucap Maureen.
"Oke," kata Indra lagi. Indra tersenyum senang. Ada gunanya juga masih berhubungan dengan Maureen, ucap Indra dalam hati kemudian menutup teleponnya.
"Indra mau. Apa yang aku bilangkan sama kamu? Dia pasti mau," ujar Maureen bangga.
"Baiklah, baik. Aku yang kalah," kata DIna mengaku kalah.
"Sudah, sudah. Ayo kita segera ke apartemen Bagas untuk membantu mereka pindah," ajak Mbak Meli. Mendengar perkataan Mbak Meli, Dina, Maureen dan Bagas bersiap untuk ke apartemen.
*****
Apartemen Bagas.
Ting, tong, ting, tong.
Bel pintu apartemen Bagas berbunyi. Siapa geranga yang datang?
Aku melangkah ke pintu dan membukanya.
"Hai, Evolet!" ujar Dina dengan riang.
"Hai, Evo!" sapa Maureen.
"Apa kabar, Vo?" tanya Mbak Meli.
"Hai, Dina, Maureen, Mbak Meli!" sapa aku tidak percaya mereka semua ada di sini, di depan mataku. Aku memeluk mereka semua.
"Kenapa kalian bisa ke sini?" tanya aku tidak percaya.
Bagas muncul dari belakang tubuh mereka,"Hai, sayang."
"Kenapa kalian semua di sini?" tanya aku lagi pada mereka.
"Aku juga datang," ujar Rafael.
"Hai, Vo," sapa Indra.
"Ya, ampun! Apa yang kalian lakukan?" tanya aku tidak percaya. Kenapa semua orang ada di sini?
"Mereka mau bantu kita pindahan sayang." ujar Bagas.
"Bala bantuan datang. Apa kami sudah boleh masuk atau kami harus menunggumu sadar dulu?" tanya Mbak Meli menyadarkan aku.
"Maaf, maaf. Silahkan kalian masuk!" ujarku pada mereka.
Aku terharu melihat kedatangan mereka. Tidak menyangka kalau mereka akan datang membantu kami.
"Bagaimana hasil rapat tadi?" tanya aku pada Bagas disela-sela kesibukan kami.
"Hasil dari rapat....."
FLASH BACK
"Baik, kami percaya dengan kamu. Sudah saat saya memberikan hasil pemilihan suara ini," ujar Pak
Freddy. Semua memandang ke arah layar.
Hasil dari pemilihan adalah 17 memilih Bagas tetap menjadi pemimpin dan 18 memilih ingin Bagas di pecat dari
perusahaan.
Melihat hasilnya Dina dan Maureen lemas. Bagas terpaksa di pecat dari perusahaan.
"Dari hasil yang dapat kita lihat Bagas akan dipecat dari Perusahaan Pratama!" ucap Pak Freddy senang.
Bu Lina merasa puas telah menghukum anaknya. Bagas yang sudah tahu akan kalah,
tidak banyak komentar.
"Maaf, saya tidak setuju dengan hasil pemilihan suara ini," tegas Mbak Meli. Semua orang yang berada di
dalam ruangan melihat ke arah Mbak Meli.
"Permintaan ketidak setujuan di tolak," ucap Bu Lina.
"Maaf, Bu Lina kamu tidak bisa menolak. Dalam aturan sebuah perusahaan setiap pemegang saham berhak memberikan suara. Saya baru tiba dan belum memilih. Itu tidak sah dan tidak adil bagi saya," kecam Mbak Meli.
"Benar yang dikatakan oleh Bu Meli. Dia berhak untuk memilih!" bela Maureen. Mbak Meli menengok ke arah
Maureen sambil tersenyum
"Betul, itu. Betul sekali!" ujar yang lain yang membela Bagas.
Ruangan kembali ribut.
"Tenang, tenang. Semua tenang dan kembali fokus!" perintah Pak Freddy.
"Jadi apakah saya diizinkan untuk memilih?" tanya Mbak Meli lagi.
"Silahkan kamu memilih," geram Pak Freddy. Dia tahu kalau Mbak Meli akan memilih Bagas sehingga hasil
menjadi seimbang.
Mbak Meli menekan tombol yang ada di depannya. Maureen dan Dina tersenyum senang, karena dia yakin sekali kalau Mbak Meli akan mempertahankan Bagas.
Hasilpun diberitahu kembali oleh operator.
Hasil dari pemilihan adalah 18 memilih Bagas tetap menjadi pemimpin dan 18 memilih ingin Bagas di pecat dari
perusahaan.
Hasil pemilihan suara pun menjadi
seimbang. Maureen dan Dina tersenyum karena Bagas masih punya kesempatan untuk
menjadi pemimpin Perusahaan Pratama.
“Setelah kita tahu bahwa pemilihan ini seimbang. Saya sebagai pemegang saham tertinggi memberi opsi yang ketiga yaitu pembatalan pemilihan suara,” ujar Pak Freddy.
Semua orang di dalam ruangan ramai.
“Apa maksud semua itu, Pak?” tanya salah satu orang.
“Lalu buat apa di buat pemilihan suara?” gerutu yang lain.
“Betul sekali. Menghabiskan waktu dan energi,” marah yang lain.
“Tidak boleh seperti ini! Ini tidak adil!” ujar seseorang.
“Tenang semua tenang!” ujar Pak Freddy pada para anggota rapat.
“Papa kamu benar – benar hebat,” puji Bu Lina. Bu Lina senang sekali bahwa rencana mereka kali ini berhasil.
Bagas perlu di beri pelajaran karena dia telah mempermalukan keluarganya. Dia
memilih wanita yang baru dikenalnya ketimbang kami keluarganya. Itu sangat
menyakitkan Bu Lina dan Pak Freddy.
“Hasil yang menunjukkan seimbang. Saya sebagai pemegang saham paling besar di sini menimbang dan memutuskan kepada kalian bahwa saya akan tetap memecat anak saya Bagas Pratama dari
jabatannya sebagai pemimpin Perusahaan Pratama,” tegas Pak Freddy. Bu Lina tersenyum mendengar kata – kata suaminya.
“Apa?” tanya Maureen tidak percaya di ruangan para pejabat.
“Kenapa bisa begitu? Itu tidak adil!” ucap Dina di ruangan karyawan.
“Benar tidak adil!” ucap teman –teman Dina di ruangan tersebut.
“Kenapa Pak Freddy tega memecat anaknya sendiri? Padahal kinerja Pak Bagas bagus,” cerita yang lain.
“Pak Freddy benar – benar tidakadil,” ujar seseorang menyayangkan sikap Pak Freddy.
“Rapat telah selesai. Saya harap kalian menerima denganlapang dada. Mulai besok Bagas Pratama dibebas tugaskan menjadi pemimpin di Perusahan Pratama. Dia tidak diizinkan untuk ke kantor ini walau alasan apa
pun. tegas Pak Freddy.
Kembali kisah selanjutnya.
"Jadi begitu ceritanya sayang," cerita Bagas pada diriku.
"Jadi Mbak Meli adalah pemegang saham paling besar kedua setelah Pak Freddy dan Bu Lina?" tanya aku tidak percaya. Aku takut salah mendengar cerita Bagas.
"Aku juga terkejut ketika dia datang. Aku juga sempat tidak percaya, tapi kenyatannya benar," tegas Bagas.
"Mbak Meli benar - benar orang yang di luar dugaan ya, Gas. Aku kaget mendengar cerita kamu ini," kataku lagi tidak percaya.
"Bukannya kamu dekat dengannya? Maksudku keluarganya," ujar Bagas.
"Aku tidak pernah menanyakan masalah pribadi padanya. Apa lagi dulu aku adalah bawahannya," kataku.
"Hei, kalian berdua mau ngobrol sampai kapan? Bantu kami mengangkat barang kalian" tanya Maureen.
"Eh, iya! Maaf, maafkan kami!" ucap aku. Aku dan Bagas segera membantu para sahabatku itu.
Siapa sebenarnya kamu, Mbak Mel? tanya aku dalam hati.
*****
Hai kamu, iya kamu! Terima kasih sudah membaca kisah Evo.
Tetap setia ya membacanya. Evo tunggu kalian di episode selanjutnya. Jangan
lupa gabung juga di group chat aku. ❤❤❤