MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Sebuah Syarat



Sebelum kalian membaca, mohon ditekan ya jempol dibawah dan vote. Like dan vote kalian membuat saya semangat berkarya. Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


*****


"Cinta adalah ketika kebahagiaan orang lain lebih penting daripada kebahagiaan kita." H. Jackson Brown, Jr.


*****


"Siapa yang menelepon?" tanya aku ketika Bagas sudah berada di ruang makan. Kami siap untuk sarapan. Makanan sudah siap dihidangkan.


"Dea. Pak Hermawan ingin bertemu denganku. Sepertinya keluarga Dea sudah tahu tentang kejadian ini," jelas Bagas.


Hari ini aku membuat sarapan roti bakar rasa stawberry kesukaan Bagas. Membuatkan minuman berupa jahe untuk meningkatkan energi Bagas. Aku yakin sekali Bagas memerlukan kekuatan untuk melewati semua ini.


"Aku yakin sekali mereka sudah tahu." ucapku pada Bagas, "Makanlah dahulu, biar kamu tidak sakit."


Bagas memotong roti bakar yang ada di hadapannya. Sepertinya dia tidak nafsu makan. Banyak yang dipikirkan Bagas hingga tidak napsu makan.


"Bagas, makanlah," aku mengingatkan. Bagas mengangguk. Bagaspun mencoba dirinya untuk memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Kenapa kamu tidak minta tolong dengan keluarga Dea? Bukankah mereka orang kaya?" kata aku memberikan ide pada Bagas.


"Benar katamu. Aku tidak terpikir sampai ke situ. Terima kasih sayang," ucap Bagas sambil memegang tangaku. Ada serca harapan pada Bagas mendengar ide dari aku. Semoga keluarga Dea mau membantu Bagas.


"Aku senang melihatmu lebih semangat setelah mendengar ide dari aku," ucapku.


"Ya. Aku yakin Om Hermawan dan Tante Lina akan membantu kita. Mereka sangat sayang dengan Papa dan Mama," Bagas menjelaskan padaku.


Aku membenarkan kata-kata Bagas. Om Hermawan dan Bu Heni sangat menyayangi Bagas seperti anaknya sendiri. Bagas pernah bercerita ketika Bagas berulang tahun keluarga mereka memberikan sebuah mobil untuk Bagas. Walau mereka tahu Papa dan Mama Bagas mampu membelinya.


"Bagaimana keadaan Om Freddy?" tanyaku mengingat Om Freddy yang katanya masuk rumah sakit kemarin.


"Untung saja kamu mengingatkan aku tentang, Papa. Dari kemarin aku sibuk sekali mengurus perusahaan. Aku akan coba menelepon Charlotte," ucap Bagas. Dia langsung mengambil ponsel dari dalam tasnya, kemudian dia mencari nama Charlotte. Dia menghubunginya.


"Halo," sapa Charlotte dari seberang.


"Halo, Charlotte! Kamu lagi di mana sekarang?" tanya Bagas ingin tahu keberadaan adik perempuannya.


"Aku sedang di rumah, Mas. Aku mau siap - siapĀ  berangkat ke rumah sakit setelah itu ke kampus. Hari ini penyerahan tugas skripsiku," jelas Bagas.


"Sama siapa kamu pergi ke rumah sakit? Apakah ada supir yang mengantarmu?" Bagas menanyakan lagi.


"Sama Evan, Mas. Pacar Charlotte. Mas tidak perlu khawatir ya," kata Charlotte memberitahu.


"Tanya kabar Pak Freddy, Bagas!" ucapku mengingatkan. Bagas mengangguk.


"Bagaimana keadaan Papa?" tanya Bagas lagi.


"Sampai sejak tadi malam Papa belum sadarkan diri. Mama masih di rumah sakit menjaga Papa. Papa belum bisa di jenguk kata Mama," jelas adiknya itu.


"Ya, Tuhan. Mas Bagas tidak menyangka Papa segawat itu." ucap Bagas.


"Mas Bagas datang ya jenguk Papa. Siapa tahu setelah dijenguk Mas Bagas, papa akan sadarkan diri." pinta Charlotte.


"Iya. Mas Bagas akan menjenguk Papa setelah masalah di perusahaan selesai. Hari ini Mas Bagas mau ketemu Om Hermawan, Papa Dea di rumahnya," jelas Bagas.


"Baik, Mas. Bagaimana keadaan perusahaan kita?" tanya Charlotte.


"Kamu bantu doa ya, sayang. Cepat kelarkan kuliahmu, biar bantu Mas Bagas di perusahaan," Bagas menasehati.


"Selalu aku akan mendukun Mas Bagas dalam doa. Semoga Mas Bagas bisa melalui ini semua. Mas, sudah dulu ya, Evan sudah datang menjemputku. Kita ngobrol lagi nanti," Charlotte minta izin.


"Baiklah. Jaga dirimu," ucap Bagas akhirnya. Bagas menutup teleponnya. Pria itu meneguk segelas air. Dia menghela napas panjang. Dia tidak menyangka Papanya akan parah seperti ini. Kenapa masalah semakin rumit?


"Bagaimana? Apa yang dikatakan Charlotte padamu?" tanya aku yang bingung melihat Bagas mulai lemas lagi. Pasti ada berita yang kurang baik yang diberikan Charlotte padanya.


"Papa belum sadarkan diri sampai sekarang," ucap Bagas dengan wajah sedih.


Aku mengelus punggung Bagas, kemudian berkata padanya,"Kamu pasti akan kuat dan dapat mengatasi ini semua."


"Aku harap begitu, Vo."


*****


Perusahaan Pratama.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Maureen menggelar rapat dadakan dengan timnya, "Kenapa kalian tidak cerita pada saya kalau perusahaan kita mengalami hal seperti ini?"


"Maaf, Bu Maureen. Kami tidak ingin menambah beban Bu Maureen yang sedang sakit," ucap salah satu anak buah Maureen. Ya, Maureen minta cuti selama satu minggu karena sakit. Sakit patah hati.


"Coba ceritakan apa yang terjadi? Kenapa berita seperti ini bisa tersebar? Kenapa kalian tidak bantu untuk menutup berita ini?" omel Maureen pada anak buahnya. Mereka terdiam. Biasanya kalau ada berita buruk mengenai perusahaan, tim editor bisa menangani ini semua.


"Maaf, Bu Maureen. Kami salah, kami tidak bisa berbuat apa - apa karena pemimpin kami tidak ada," ucap mereka lagi.


"Sekarang saya perintahkan pada kalian untuk membuat berita yang baik tentang perusahaan Pratama! Jam 12 siang ini harus terbit! Kalau tidak kalian semua saya pecat!" kesal Maureen. Baru kali ini Maureen sangat kesal dengan anak buahnya. Mereka malah tidak membantu Bagas untuk membuat berita yang baik untuk perusahaan mereka.


"Baik, Bu," ucap anak buahnya.


"Siap, Bu," ujar yang lain.


Maureen teringat Mbak Meli. Dia bekerja di Perusahaan Pratama yang ada di Malaysia. Maureen ingin mengetahui kabar dia di sana. Wanita itu mengambil ponselnya lalu mencari nomor telepon Mbak Meli. Diambilnya gagang telepon kantornya kemudian menekan nomor telepon Mbak Meli.


"Halo," sapa seseorang dari seberang.


"Halo, Mbak Meli. Ini aku Maureen. Bagaimana keadaan dirimu di sana?" tanya Maureen. Dia senang mendengar mantan bosnya itu.


"Maureen! Long time no see. Aku baik sayang. Bagaimana keadaanmu di sana?" tanya Mbak Meli.


"Baik, Mbak. Hanya saja keadaan di sini begitu rumit. Bagas sedang berjuang mempertahankan Perusahaan Pratama." cerita Maureen.


"Aku juga kaget mendengar semua itu. Kemarin aku sedang berbincang dengan Evolet. Aku bingung harus bantu seperti apa di sini!" jawab Mbak Meli.


"Aku punya ide, Mbak. Mbak suruh karyawan di sana membuat berita yang baik tentang Perusahaan Pratama. Siapa tahu ada investor yang mau membantu membeli saham perusahaan kita," ide Maureen.


"Ide yang bagus. Aku akan membuat berita dan menyebarkan hari ini juga," ucap Mbak Meli.


"Siap, Mbak Meli. Semoga Perusahaan kembali stabil," doa Maureen.


*****


"Bagaimana perkembangan, Ma?" tanya Pak Freddy yang baru bisa bertemu dengan istrinya. Sejak sore kemari banyak sekali yang menjenguk Pak Freddy. Bu Lina harus meladeni semua pengunjung tersebut.


"Sampai saat ini sesuai rencana kita, Pa. Dea mengabari bahwa Bagas pagi ini akan berkunjung ke rumahnya. Saat di sanalah Hermawan dan Heni akan mengatakan syarat itu pada Bagas." ucap Bu Lina menjelaskan kepada suaminya.


"Semoga rencana kita ini berhasil," ingin Pak Freddy, "Papa lelah pura - pura sakit di rumah sakit."


"Sabar ya, Papa." ucap Bu Lina memberikan semangat pada suaminya.


Drt, Drt, Drt.


Ponsel Bu Lina berbunyi. Bu Lina menerima telepon tersebut. Telepon dari Charlotte anaknya.


"Mama? Mama ada di mana?" tanya Charlotte yang bingung tidak melihat kehadiran Mamanya di depan ruangan ICU.


"Hay, sayang. Mama lagi sarapan. Kamu ada di mana?" tanya Bu Lina.


"Charlotte di depan ruang ICU. Wah, aku telat ya. Aku bawakan sarapan untuk Mama. Mama di mana? Biar aku yang ke sana ketemu Mama." jawab Charlotte. Bu Lina panik karena dia berbohong pada anaknya.


"Lima belas menit lagi Mama akan kembali. Kamu tunggu saja di sana. Siapa tahu ada dokter yang berkunjung dan memberi kabar baik pada kita tentang Papamu," cegah Bu Lina.


"Oke, Mam. Charlotte aku menunggu di sini," Charlotte sepakat dengan mamanya.


"Siapa? Kenapa kamu begitu panik?" tanya Pak Freddy pada istrinya.


"Charlotte sudah di depan. Mama harus lewat pintu belakang untuk ke luar dari sini. Mama pergi dulu ya, Pak," pamit Bu Lina pada suaminya.


"Hati - hati, Ma. Jangan sampai ketahuan," pesan Pak Freddy pada Bu Lina. Bu Lina menggangguk setuju dengan suaminya. Bu Lina pun pergi dengan perlahan - lahan. Bu Lina segera bertemu dengan Charlotte.


"Mama! Akhirnya Mama datang juga," ucap Charlotte melihat Bu Lina sudah datang.


"Ini siapa?" tanya Bu Lina pada anak gadisnya.


"Evan, Ma. Pacar Charlotte. Evan ini, Mama," Charlotte memperkenalkan pacarnya pada Bu Lina. "Evan pengusaha muda, Ma. Tadi aku dianterin naik mobil sama Evan ke sini."


"Hai, Evan. Tante senang berkenalan denganmu." Bu Lina menjabat tangan Evan. Charlotte langsung tersenyum kecut. Coba kalau dia tidak menjelaskan kedudukan Evan pasti mamanya tidak akan seramah ini.


" Evan juga senang kenalan dengan Tante," ucap Evan.


"Bagaimana keadaan, Papa, Ma?" tanya Charlotte pada Mamanya.


"Dokter bilang kalau Papa masih belum sadarkan. Kita harus menunggu dengan sabar ya. Kita harus bantu dengan doa, sayang." ucap Bu Lina pada anakny.


Aneh, kenapa Papa belum sadarkan diri? Penyakit apa yang diderita Papa? batin Charlotte.


*****


Rumah Keluarga Pak Hermawan.


"Selamat pagi, Om," sapa Bagas pada Pak Hermawan.


"Hai, Bagas!" sapa Dea.


"Bagas, akhirnya kamu datang juga," ucap Pak Hermawan melihat Bagas. Pak Hermawan yang sedang sarapan menghentikan makanannya.


"Apa kabar sayang?" tanya Bu Heni, "Ayo ikut sarapan."


"Bagas sudah sarapan, Tante," ucap Bagas. Kemudian Bagas duduk di meja makan.


"Bagaimana kondisi perusahaan kalian?" tanya Pak Hermawan pada akhirnya.


Bagaspun menceritakan semua kondisi keadaan perusahaan keluarganya. Pak Hermawan dengan sabar mendengar cerita dari Bagas. Pak Hermawan sudah menganggap Bagas seperti anaknya sendiri.


"Om turut prihatin dengan kabar kamu ini. Siapa yang berani melakukan ini padamu? Kamu harus mencari orang yang menyebarkan video terebut," perintah Pak Hermawan.


"Saya sedang mencari tahu, Om Hermawan. Semoga cepat menemukan orang tersebut," jelas Bagas lagi.


"Maafkan Tante ya, Bagas. Sebenarnya Tante tidak suka dengan calon istrimu. Dia tidak baik menjadi pendampingmu," ucap Bu Heni pada Bagas. Bagas menjadi diam dan tidak menanggapi ucapan Bu Heni.


"Mama, jangan bicara seperti itu pada Bagas," bela Dea.


"Memang kenyataannya seperti itu! Seharusnya Bagas sadar. Pernikahan gagal, usaha bangkrut. Berarti wanita itu tidak membawa keberuntungan padamu!" tegas Bu Heni.


"Mam, bisakah tidak membuat keadaan Bagas menjadi lebih buruk? Aku tidak suka Mama menyalahkan Bagas." omel Dea.


"Benar kata Dea, sayang. Cukup," pinta Pak Hermawan pada wanita itu. Bu Heni kemudian diam karena telah ditegur Pak Hermawan.


"Bagas ke sini mau minta tolong sama Om dan Tante," ucap Bagas.


"Apa itu, Nak?" tanya Pak Hermawan.


"Apa yang bisa Dea bantu buat Bagas?" tanya Dea juga. Dea sedih juga dengan kondisi Bagas saat ini. Dia sangat rapuh sekarang.


"Bagas mau pinjam uang ke Om Hermawan dan Tante Heni. Tolong Bagas untuk mempertahankan perusahaan ini," pinta Bagas memohon.


"Om pasti akan membantu kamu, Nak!" ucap Pak Hermawan. Walau tanpa syarat sebenarnya Pak Hermawan pengen membantu anak ini.


"Papa, aku sayang padamu!" ucap Dea senang. Ayo, Papa. Bilang syarat itu.


"Terima kasih, Om. Bagas senang sekali mendengar ucapan, Om. Suatu hari nanti, Bagas pasti akan mengembalikan pinjaman ini," kata Bagas. Dia mulai semangat dengan perkataan Pak Hermawan.


"Tidak usah diganti, Gas. Om iklhlas membantu kamu," ucap Pak Hermawan.


"Tidak bisa, Pap. Mama punya syarat untuk bantuan ini," ujar Bu Heni. Dia mau membantu Bu lina melepaskan Bagas dari cengraman Evo. Dia juga ingin Dea anaknya bahagia dengan pria yang dicintainya.


"Mama, apa maksudmu?" tanya Pak Hermawan.


"Kami akan bantu perusahaanmu tapi dengan syarat kamu menikah dengan Dea."


*****


Bagaimana kisah selanjutnya? Tetap setia ya membaca kisah Evo. Semangat!