
Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
*****
"Jangan tanya alasannya ya, Ndra. Itu saja pintaku padamu. Maaf juga hari ini aku tidak bisa ikut bekerja dengan kamu," ucapku lagi.
Tiba - tiba Indra memelukku, kemudian dia berkata, "Menangislah, Vo. Jangan kamu tahan. Aku tahu kamu pasti sangat sedih. Aku ada di sini untukmu."
Tangis aku pecah dipelukan Indra. Mungkin perbuataan aku dengan Indra akan membuat Bagas menjadi marah, tapi hari ini aku sangat sedih. Lagi - lagi aku dipermalukan oleh keluarga Bagas. Aku dicaci maki oleh mereka. Apa aku harus meninggalkan Bagas?
Aku melepaskan pelukan Indra. Lalu aku menghapus air mataku. Aku tahu semua nasib yang aku tanggung karena memilih di sisi Bagas.
"Terima kasih, Indra," ucapku.
"Mungkin aku tidak bisa banyak membantu kamu, tapi kalau kamu perlu pundak ini aku bersedia meminjamkannya," tawar Indra.
Aku mengangguk dan tersenyum pada Indra. Indra melirik ke arah jam tangannya.
"Sebaiknya aku kembali ke kantor, hari sudah siang. Aku akan mengadakan rapat jam 3 nanti. Aku akan menunggu kamu besok," kata Indra. Indra tahu hari ini diriku pasti tidak akan konsentrasi dalam bekerja.
"Baik. Aku akan datang besok," janjiku.
"Aku akan menjemputmu kalau kamu mau,"Indra menawarkan diri.
"Tidak perlu. Besok pagi aku akan bareng Bagas. Kamu jangan khawatir, aku pasti akan datang. Terima kasih sekali lagi untukmu, Indra. Aku harap kamu tidak menceritakan ini pada siapapun termasuk Maureen. Maureen pasti akan marah besar dan mengadu pada Bagas."
"Aku harap kamu segera memberikan keputusan, Vo. Maaf kalau aku lancang, Bagas tidak cocok untukmu. Restu orang tua adalah hal utama dalam suatu hubungan. Pikirkan baik - baik sebelum kamu melangkah lebih jauh," nasehat Indra. Indrapun keluar dari rumahku.
Perkataan Indra seperti menampar diriku. *Indra berkata benar, restu orang tua adalah hal utama dalam sebuah hubungan, *kataku dalam hati.
*****
Kantin kampus Charlotte.
"Kenapa dengan kamu, Char?" tanya Siska.
Siska mengajak Charlotte ke kantin. Dia mencoba menenangkan Charlotte yang sejak tadi menangis tidak berhenti. Siska bingung apa yang sebenarnya terjadi.
"Char? Cerita sama aku," pinta Siska lagi yang masih didiamkan oleh Charlotte.
Hati Charlotte terluka. Dia tidak menyangka kelakuan dosen pembimbingnya itu pada diri Charlotte. Dia mencium dan menyentuh Charlotte. Itu sangat menjijikan bagi Charlotte.
Siska berdiri, kemudian membeli minuman untuk di minum oleh Charlotte.
"Kamu minum dulu ya. Biar kamu bisa lebih tenang," kata Siska lagi.
Charlotte meneguk minuman tersebut, kemudian dia menenangkan dirinya. Charlotte menarik napas panjang, kemudian mengeluarkan pelan - pelan.
"Apa kamu sudah tenang?" tanya Charlotte lagi.
Charlotte mengangguk, kemudian dia berkata, "Terima kasih, Sis."
"Ada apa? Kenapa kamu menangis? Sejak kita berteman baru kali ini aku melihat kamu menangis," terang Siska. Benar sekali perkataan Siska. Charlotte tipe cewek yang tidak cengeng. Dia selalu bisa mengendalikan dirinya bila ada masalah. Menurut Siska bila Charlotte menangis pasti masalah yang dihadapi Charlotte sangat besar.
"Tadi Pak Dirly telah ...."
Flash Back
"Sudah lama aku ingin mengatakan ini semua padamu. Aku sudah lama memendam perasaan ini padamu, aku sangat mencintai kamu."
"A...apa maksud Pak Dirly?" tanya Charlotte mulai pucat. Sepertinya Pak Dirly sudah mulai gila.
"Aku sangat mencintai kamu, Char. Sekali saja, aku ingin merasakan dirimu. Aku ingin mencium bibir merahmu. Menyentuh lembut kulit tubuhmu," ucap Pak Dirly sambil menyentuh dengan perlahan tubuh Charlotte.
"Tolong, Pak. Jangan begini!" pinta Charlotte tambah takut.
Pak Dirlypun tidak mendengarkan perkataan Charlotte. Dia mencium Charlotte dengan paksa. Charlotte menggigit bibir bawah Pak Dirly.
"AGH!" teriak Pak Dirly. Lalu Charlotte dengan segera pergi ke luar dari ruangan tersebut.
Kembali ke dunia nyata.
"Apa? Gila! Pak Dirly benar - benar sudah gila! Dia berani juga sama kamu!" teriak Siska tidak percaya.
"Apa maksud kamu? Berani juga sama aku?" tanya Charlotte bingung.
"Sudah banyak mahasiswi yang diperlakukan seperti kamu. Malah ada yang melaporkan ke kantor polisi, tapi dia selamat karena mahasisw tersebut tidak punya kekuasaan apapun di sini. Malah Pak Dirly menyebar fitnah dan membuat mahasiswi itu dikeluarkan oleh kampus," cerita Siska.
"Apa katamu? Aku tidak menyangka kalau Pak Dirly bisa sekejam itu."
"Aku malah tidak menyangka, kamu akan diperlakukan seperti itu olehnya. Apa dia tidak takut dipecat ya? Keluarga Pratamakan salah satu sponsor terbesar di kampus ini selain keluargaku. Dia benar - benar minta dikeluarkan dari kampus!" marah Siska.
Benar kata Siska, Papa dan Mama selalu menyumbang setiap acara yang ada di kampus. Seluruh mahasiswa takut dengan aku dan Siska.
"Kamu harus melaporkan semua ini, Char! Pak dirly itu benar - benar penjahat!" seru Siska.
"Jangan Siska! Nanti dia tidak punya pekerjaan. Aku kasihan padanya."
"Inilah salah satu sifat yang aku tidak suka sama kamu. Kamu membela musuh kamu. Padahal kamu tahu dia akan berbuat jahat lagi sama kamu," kesal Siska.
"Aku tahu akan hal itu, tapi aku senang karena kejadian ini."
"Hah? Senang? Apa kamu tidak waras?" tanya Siska bingung.
"Karena kejadian ini, aku bisa berbaikan lagi sama kamu. Kamu mau bicara panjang lebar lagi denganku. Kamu menenangkan hatiku, dan kamu menolongku lagi."
Perkataan Charlotte membuat wajah Siska memerah karena malu. Sudah beberapa tahun Siska tidak bicara apapun pada Charlotte. Setiap ketemu Siska selalu mencari gara - gara pada dirinya. Hari ini, Siska sahabatnya kembali seperti dulu. Dia akan marah pada siapapun yang telah menyakiti Charlotte.
"A... aku hanya ..., ah sudahlah!" ucap Siska masih malu.
"Terima kasih Siska. Terima kasih telah menerima aku lagi jadi sahabatmu," ucap Charlotte memegang tangan Siska.
Mata Siska berkaca - kaca dengan perlakuan Charlotte. Sebenarnya setelah kejadian Evan memberitahu kenyataan tersebut, Siska sudah memaafkan Charlotte. Hanya saja sifat Siska yang gengsinya tinggi mengurungkan niat untuk berbicara dengan Charlotte.
"Dasar cewek bodoh! Memangnya kita sedang pacaran pakai segala memegang tangan aku!" ketus Siska lalu melepaskan tangan Charlotte. Charlotte tersenyum.
"Aku tidak mau tahu, aku akan balas dendam untukmu," kata Siska.
"Bagaimana cara balas dendam pada Pak Dirly?"
"Tenang saja! Pasti Pak Dirly akan menyesal karena telah memperlakukan sahabatku seperti tadi."
******
Sore harinya di rumah kontrakan.
Drt, Drt.
"Halo," sapaku.
"Halo, sayang. Maaf aku baru meneleponmu. Apa yang sedang kamu lakukan? Bagaimana keadaan kamu?" tanya Bagas. Hari ini pekerjaan Bagas banyak sekali, dia saja baru sempat makan siang.
*Aku tidak boleh menceritakan kejadian Pak Freddy dan Bu Lina datang dan menamparku,*batinku.
"Aku baru selesai merevisi novel - novelku sayang. Aku sangat baik karena ditelepon olehmu," dustaku. Padahal aku sedang bersedih karena kejadian tadi pagi.
"Jangan bekerja terlalu berat. Aku tidak mau kamu jatuh sakit," pinta Bagas.
"Iya sayang."
"Apalagi kamu akan bekerja di kantor Indra. Kapan kamu bekerja di kantor Indra?" tanya Bagas lagi.
"Tadi pagi aku sudah menghubungi Indra. Dia bilang mulai besok aku sudah boleh membantunya bekerja," aku menerangkan.
"Baiklah, aku mengerti. Apa hari ini kamu jadi pergi dengan yang lain?"
"Ya, ampun Bagas! Aku sampai lupa, untung saja kamu mengingatkan aku. Apa kamu mau ikut?" tanya aku padanya.
"Aku belum tahu. Aku akan datang kalau pekerjaanku sudah kelar atau nanti kamu akan aku jemput ya?" ujar Bagas.
"Baik, sayang. Jangan lupa untuk makan. Aku tunggu kabarmu," kataku.
"Sampai nanti," pamit Bagas lalu menutup teleponnya.
Setelah menutup telepon dari Bagas, akupun segera menghubungi Maureen.
"Halo, Evo!" sapa Maureen dari seberang.
"Hai, Maureen! Apa hari ini jadi?" tanyaku.
"Tentu saja jadi! Aku sudah pesan tempat karaoke untuk kita menggila hari ini!" ucap Maureen.
"Hahaha, baiklah. Jam berapa kamu pesan tempatnya?" tanyaku.
"Jam 7 ya. Tempat karaoke yang biasa kita kunjungi."
"Baiklah. Siapa saja yang akan ikut?"
"Nanti yang ikut aku, kamu, Dina, Rafael. Apa Bagas tidak ikut?" tanya Maureen.
"Baru saja Bagas meneleponku, katanya dia masih sibuk. Maklum dia baru bekerja di tempat lain, masih harus beradaptasi," jelasku.
"Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu apa aku boleh mengajak Indra?" kata Maureen.
"Tentu saja. Semakin banyak semakin bagus," aku memberi pendapat.
"Benar sekali! Mari kita menggila bareng!" kata Maureen penuh semangat.
Tiba - tiba ada satu pertanyaan yang terusik dalam hatiku. Pertanyaan yang ingin aku tanyakan pada Maureen.
"Ren," panggilku.
"Ya? Kenapa?"
"Apa aku boleh bertanya satu hal padamu?" tanyaku meminta izin.
"Tentu saja. Kenapa kamu jadi sungkan seperti itu? Hahaha" tanya Maureen balik sambil tertawa.
"Apa kamu masih mengharapkan Indra menjadi pacarmu?"
Maureen menghela napas panjang, kemudian dia berkata, "Kalau aku sendiri berharap untuk kembali dengan Indra, tapi Indra tetap tidak mau. Beberapa hari yang lalu aku dan Indra bertemu ...."
Flash back pertemuan Indra dan Maureen
"Pertanyaan? pertanyaan yang mana?" tanya Indra bingung.
"Aku mau kamu kembali padaku," pinta Maureen.
Indra memegang tangan Maureen, kemudian pria itu berkata,"Aku tahu ini berat untuk kita lalui bersama, tapi maaf kita jadi sahabat saja ya, Maureen. Aku tidak mencintai kamu lagi."
"Begitu cepatkah perasaan kamu berubah padaku?" tanya Maureen tidak percaya.
"Aku mencintai wanita lain, Ren. Aku harap kamu bisa pahami itu," ucap Indra.
"Apa tidak ada kesempatan lagi untukku?" tanya Maureen sekali lagi.
"Maaf, Maureen. Tidak. Aku janji padamu apabila kamu membutuhkan aku, aku akan datang membantu kamu," ucap Indra meyakinkan Maureen.
Hati Maureen patah lagi. Ini untuk kedua kalinya dia berusaha untuk baikkan kepada lelaki itu. Dia sangat mencintai Indra.
Tes, tes, tes.
Air mata Maureen menetes di pipinya. Indra yang melihatnya langsung menghapus air mata Maureen.
"Maureen, aku mohon jangan seperti ini ya, jangan membuat aku merasa bersalah. Kalah kita memaksakan perasaan kita, itu tidak baik jadinya. Aku mohon mengertilah," bujuk Indra.
"Boleh aku meminjam bahumu untuk aku sandar? Aku mohon sekali ini saja. Aku ingin menangis sepuasnya.
"Aku izinkan, tapi aku mohon juga agar kamu pelan - pelan melupakan aku. Aku tidak pantas untuk kamu. Kamu berhak mendapatkan lelaki yang baik," Indra memberikan saran.
Kembali ke cerita
"Begitu ceritanya," cerita Maureen. Kali ini tidak ada air mata yang menetes di pipi Maureen. Dia sudah mulai mampu untuk menerima kenyataan ini.
"Kamu sangat hebat," pujiku.
"Waktu dan keadaan yang membuat aku hebat seperti ini, Vo. Ada apa kamu menanyakan ini padaku?" kata Maureen.
"Tidak, tidak. Sudah jangan dipikirkan. Aku akan bersiap - siap. Sampai ketemu di sana," ucap aku mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah, sampai ketemu di sana," pamit Maureen lalu menutup teleponnya. Ada apa dengan Evo? Tumben dia menanyakan masalah pribadiku? Biasanya dia tidak pernah bertanya kecuali aku yang menceritakan. Ah, sudahlah mungkin hanya perasaanku saja.
*****
Hai kamu, iya kamu! Terima kasih sudah membaca kisah Evo. Tetap setia ya membacanya. Evo tunggu kalian di episode selanjutnya. Jangan lupa gabung juga di group chat aku.
NEWS!!
Ada cerita baruku judulnya : CINTAI AKU, MR. KANEBO!
Silahkan dibaca, like, komment, bintang 5 dan share sebanyak - banyaknya. Terima kasih.
❤❤❤