
Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
*****
Perusahaan Pratama.
Maureen baru saja menginjakkan kakinya terdengar bunyi dari ponselnya. Dia menaruh tasnya terlebih dahulu, lalu duduk. Sudah merasa nyaman, dia mengambil ponselnya. Ia menerima telepon tersebut.
“Halo,” sapa Maureen.
“Maureen! Di mana kamu sekarang?” tanya Dina bergebu – gebu.
Maureen sedikit menyingkirkan ponsel dari telinganya. Suara Dina yang terlampau keras membuat telinganya sakit.
“Bisa tidak kalau meneleponku tidak teriak? Kamu ingin gendang telingaku pecah?” omel Maureen.
“Maafkan aku,” ucap Dina.
“Katakan. Ada apa kamu meneleponku?” tanya Maureen. Dia sudah sangat paham dengan kelakuan sahabatnya itu. Pasti ada informasi yang dia dapatkan.
“Apa kamu sudah mendengar berita tadi malam?” Dina bertanya pada Maureen.
“Berita? Berita tentang apa?” Maureen mengerutkan keningnya. Semalam setelah mencoba menelepon Evo, dia tertidur pulas. Sebelum mendengar jawaban Dina, dia mengambil gelas dan mengisi air minum dari teko yang disiapkan diruangannya.
“Bu Lina melaporkan Evo ke kantor polisi atas tuduhan pembunuhan.”
“Uhuk, uhuk.” Maureen tersendak mendengar cerita dari Dina.
“Kenapa dengan kamu?” tanya Dina panik mendengar suara batuk Maureen.
“Ah, sial. Aku tersendak karena cerita kamu,” jujur Maureen. Dia melap air yang ada di mulutnya dengan tissue.
“Hahaha, aku tidak tahu kalau kamu sedang minum,” kata Dina tertawa renyah.
“Kembali ke topik pembicaraan. Apa kamu bilang tadi? Evo dilaporkan ke kantor polisi?” tanya Maureen mengulang cerita Dina. “Dari mana kamu tahu?”
“Sudah banyak berita di televisi maupun di internet. Kamu bisa cari sekarang.”
“Sebentar.” Maureen mengambil laptopnya, kemudian dia menyalakan laptop tersebut.
Beberapa saat kemudian laptop Maureen sudah menyala dan dia segera mencari berita yang dikatakan Dina. Kadang Dina suka salah dalam memberikan info.
“Benar katamu,” ucap Maureen ketika melihat berita tersebut.
“Kamu tidak perlu balas dendam. Evo sudah kena batunya,” ucap Dina.
Tidak sedikit pun Maureen merasa ingin membalas Evo. Sekarang malah Maureen merasa bersalah karena telah berkata tidak baik pada Evo.
“Kamu salah Dina. Aku malah sedih melihat Evo seperti ini. Kita yang salah sebagai sahabat, malah kita tidak percaya dengannya,” ungkap Maureen dari lubuk hatinya yang paling dalam.
“Jadi kamu sudah memaafkan Evo?” tanya Dina tidak percaya.
“Evo tidak salah. Dia tidak seharusnya meminta maaf dan dimaafkan olehku,” tegas Maureen.
“Kamu benar, Ren.”
“Kemarin aku sudah mencoba hubungi Evo, tetapi ponselnya tidak aktif. Entah apa yang terjadi padanya,” cerita Maureen.
Dina terdiam menanggapi perkataan Maureen. Hati Maureen benar – benar mulia. Dia mau memaafkan Evo yang sudah jelas main gila di belakangnya.
Tok, tok, tok.
Salah satu tim Maureen masuk ke ruangannya. Maureen memberikan kode pada timnya tersebut untuk bicara.
“Tadi ada laporan dari Pak Freddy untuk berkumpul di aula. Ada rapat mendadak, Mbak,” katanya memberikan info.
Maureen mengangguk, lalu dia berkata lagi,”Din, aku ada rapat. Nanti aku akan menghubungi kamu kembali selesai rapat.
“Oke. Semoga hari kamu indah hari ini,” ucap Dina lalu menutup teleponnya.
Maureenpun bersiap –siap. Dia mengambil sebuah buku dan pulpennya. Dalam hati dia merasa cemas, rapat apa lagi yang harus dia ikuti? Siapa lagi yang akan dihakimi oleh Pak Freddy?
*****
Para pemimpin dan pemegang saham perusahaan Pratama sudah mulai berdatangan. Mereka memilih tempat duduk. Ada yang memilih di depan, ada juga yang memilih di belakang. Tak jarang juga beberapa orang memilih duduk di tengah.
Maureen merupakan salah satu orang yang memilih duduk di belakang. Dia merasa lebih nyaman duduk di belakang dari pada di depan. Selain bisa bermain ponsel ketika bosan, dia juga ingin menjaga jarak dengan Pak Freddy.
Setelah semua para pemimpin dan pemegang saham berkumpul, Pak Freddy datang bersama dengan istinya. Dia duduk di paling depan dengan Bu Lina.
“Apa semua sudah datang?” tanya Pak Freddy dengan wajah serius.
Maureen yang melihat raut muka Freddy semakin bingung. Wajah Pak Freddy sangat serius. Tidak seperti waktu dia menendang anaknya sendiri keluar dari perusahaan.
“Belum, Pak. Masih ada satu orang yang belum datang pada rapat ini,” ucap staff terpercaya Pak Freddy.
“Siapa orang itu?”
Ceklek.
Dari luar masuklah seseorang. Wajahnya sangat tampan dan begitu familiar bagi Maureen.
“Maaf saya datang terlambat,” ucap dia.
“Pak Freddy ini adalah pemegang saham terbesar pertama di Perusahaan Pratama, Bastian Karel,” ujar staff tersebut memperkenalkan Bastian.
“Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Bastian Karel…, Eh? Bastian? Bukankah itu adiknya Mbak Meli?” tanya Maureen tidak percaya.
“Apa?” tanya Pak Freddy tidak percaya.
“Kenapa bisa dia yang menjadi pemegang saham terbesar saat ini?” Bu Lina juga tidak percaya.
Bastian tidak mempedulikan keterkejutan Pak Freddy maupun Bu Lina. Dia mencari tempat duduk yang nyaman untuk dirinya.
Suasana di ruangan yang tadinya sepi, langsung ramai. Mereka berbisik satu sama lain. Ada juga yang terkejut dengan ucapan staff Pak Freddy.
“Saya sudah datang. Mohon segera dilanjutkan rapatnya. Saya tidak punya waktu yang banyak untuk mengikuti rapat yang tidak penting ini,” ucap Bastian.
Perkataan Bastian membuat kobaran api di dalam hati Pak Freddy dan Bu Lina menyala. Raut muka mereka berubah kesal.
“Terima kasih atas kehadiran kalian di sini dan tentu saja Pak Bastian,” ujar Pak Freddy setelah mampu menenangkan dirinya.
“Di sini saya….”
Drt, Drt.
Bunyi suara telepon dari ponsel Bastian. Suara telepon tersebut sangat keras, sehingga semua orang di ruangan tersebut mendengar dan menoleh ke arah Bastian.
“Aduh, sayang. Kamu jangan menelepon aku dulu ya. Aku sedang rapat. Iya, nanti aku telepon lagi. Oke. Aku juga sayang padamu,” kata Bastian saat menerima panggilan tersebut.
Gila! Bastian berani sekali menerima telepon di saat rapat besar seperti ini! Maureen tidak percaya melihat ini semua.
“Maaf. Maafkan saya. Tadi saya lupa menelepon pacar saya. Sekarang sudah aman. Ayo kita lanjutkan rapatnya,” ajak Bastian sambil tersenyum.
Pak Freddy yang melihat tingkah Bastian semakin kesal. Laki – laki ini sangat tidak menghormati diriku! Kalau saja bukan pemegang saham terbesar sudah aku tendang dia dari perusahaan ini.
Melihat wajah Pak Freddy yang kesal, Bastian tersenyum. Baiklah, pembalasan segera di mulai.
*****
Hai semua! Terima kasih telah membaca cerita Evo. Tetap setia ya dengan MOY. Jangan lupa Senin, 20 April 2020 – 26 April 2020 akan diberikan hadiah 50 koin untuk 2 orang pemenang yang memberikan vote terbanyak diceritaku ini.
*****
NEWS!!
Ada cerita baruku judulnya : CINTAI AKU, MR. KANEBO!
Silahkan dibaca, like, komment, bintang 5 dan share sebanyak - banyaknya. Terima kasih.
❤❤❤