MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Bastian



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


*****


 


 


  Indra merobek bajuku, lalu melepaskan bajunya. Dia mencium bibirku kembali dengan kasar. Dia benar – benar tidak mengampuniku.


 


 


“Agh, ja… jangan, Indra,” pintaku masih dengan menangis. Indra berhenti melakukannya lalu menampar diriku.


 


 


PAK!


 


 


  “Jangan banyak bicara!” katanya. Setelah berkata seperti itu, bajuku yang masih setengah menempel di tubuhku, dilucutinya. Sekarang tubuhku tidak di tutupi apapun.


 


 


  Dengan ganasnya Indra merengut semuanya. Dia berkelana menjelajahi semuanya. Aku tidak bisa berbuat apa – apa. Harga diriku hancur untuk kesekian kalinya.


 


 


BRAK!


 


 


  “Evo!”


 


 


  Seseorang mendobrak pintu hotel tersebut. Orang itu adalah Bastian. Melihat posisi Indra dan aku seperti itu, Bastian segera menghampiri Indra lalu menarik Indra hingga jatuh ke lantai. Darah Bastian mendidih melihat Evo diperlakukan seperti itu.


 


 


BUK!


 


 


Bastian memukul Indra dengan keras, sehingga Indra terluka di sudut bibirnya, dan memaki Indra,“Brengsek!”


 


 


Mataku tidak percaya, Bastian datang ke hotel untuk menolongku. Tubuhku bergetar hebat. Air mataku mengalir deras. Aku senang Bastian datang belum terlambat.


 


  “Siapa kamu?” tanya Indra sengit. Indra membalas pukulan Bastian, tetapi ditangkis oleh Bastian.


 


 


BUK!


 


 


  Hantaman dari Bastian sebagai jawaban dari pertanyaan Indra. Dia terus memberikan pukulan- pukulan yang tidak ada ampun untuk Indra. Hingga Indra tidak berdaya.


 


 


  Mbak Meli dan Maureen yang baru tiba, langsung kaget melihat Bastian memukuli Indra. Mereka juga kaget dengan keadaan diriku.


 


 


  “Bastian, berhenti! Kamu akan membunuhnya!” Mbak Meli mencoba untuk melerai keduanya., tapi Bastian tidak mau berhenti.


 


  “Tidak! Biarkan aku membunuh laki – laki ini, Mbak!” ujar Bastian masih memberikan pukulan yang keras pada Indra, “Beraninya dia menodai Moyku!”


 


 


  Mbak Meli menarik adiknya itu dengan sekuat tenaga. Dia tidak ingin kalau nanti Bastian masuk ke dalam jeruji besi. Apalagi dia melihat Indra sudah berlumuran darah dibuat oleh Bastian.  “Cukup, Bas! Biarkan polisi yang menghukum dia atas kejahatannya.”


 


 


  Maureen menghampiri diriku. Dia menangis melihat keadaanku. Maureen mengambil baju milik diriku lalu membantuku untuk memakainya.


Aku begitu lelah melihat semua ini. Perlahan – lahan mataku tertutup dan aku pingsan.


 


 


  “Evo!” jerit Maureen.


 


 


 


 


  Mendengar jeritan Maureen, Bastian dan Mbak Meli spontan memandang ke arah mereka. Kedua orang itu menghampiri Maureen dan diriku.


 


 


  “Ayo bawa Evo ke rumah sakit!” kata Mbak Meli. Bastian mengangkat tubuhku kemudian segera pergi ke rumah sakit.


 


 


*****


Sesampainya di rumah sakit.


 


 


“Bagaimana keadaan Evo, Dok?” tanya Bastian sangat khawatir.


 


 


  “Pasien hanya shock saja. Sebentar lagi juga akan pulih,” ujar Dokter membuat hati Bastian sedikit tenang, “saya permisi dulu.”


 


 


  Setelah selesai memeriksa, dokter dan perawat pergi meninggalkan ruang rawat diriku. Bastian menatap diriku yang masih belum sadarkan diri dengan perasaan sedih.


 


 


  Nyaris saja Evonya dinodai oleh laki – laki itu. Seandainya Bastian datang lebih lama, maka Evo pasti dinodai.


 


 


  Mbak Meli memegang punggung adiknya. Dia tahu sekali perasaan adiknya saat ini. “Tenanglah, Evo tidak apa – apa.”


 


 


  Bastian mengangguk, dia mencoba untuk menguatkan hatinya. Dia duduk di sebelah diriku. Bastian meraih tanganku, lalu mengecupnya dengan lambut.


 


 


Seandainya aku tidak terlambat bertemu denganmu dan menepati janjiku lima belas tahun yang lalu, kamu tidak akan menderita seperti ini, Vo. Maafkan aku.


 


 


Maureen mengamati Bastian. Perlakuan Bastian menunjukkan bahwa dia sangat mencintai Evo. Maureen menaruh curiga kalau Bastian merupakan Karel, karena tidak mungkin Bastian begitu cepat mencintai Evo.


 


 


  “Apa kamu sudah membereskan Indra, Mbak?” tanya Bastian dengan nada dingin.


 


 


  “Sudah. Aku sudah menyuruh orang untuk membawanya ke kantor polisi. Jangan khawatir,” ucap Mbak Meli.


 


 


  Bastian percaya dengan kakak perempuannya itu. “Terima kasih, Mbak. Semoga dia membusuk di sana!” sumpah Bastian.


 


 


  “Aku tidak menyangka Indra bisa sejahat itu pada Evo,” komentar Maureen.


 


 


 


 


  “Sikap manusia bisa berubah, Ren. Perubahan dapat terjadi karena beberapa faktor. Faktor keadaan dan lingkungan sekitar. Kalau kasus Indra mungkin karena keadaan. Dia tidak mendapatkan Evo, makanya dia memperlakukan Evo seperti ini,” jelas Mbak Meli.


 


 


  Mbak Meli melihat jam tangannya. Jam menunjukkan pukul 5 sore. Tidak terasa matahari sudah pelan – pelan menyembunyikan wajahnya.


 


 


  “Sebaiknya kamu pulang dulu, Bas, ganti baju.” Mbak Meli memberi saran.


 


 


Bastian menggelengkan kepala. Dia enggan beranjak dari sini. Bastian takut kalau akan terjadi sesuatu pada Evo lagi.


 


 


  “Baiklah. Kalau begitu aku yang balik. Aku akan membawakan baju untuk kamu.”


 


 


Melihat Bastian yang tidak mau pergi, Mbak Meli tidak memaksakan kehendaknya. Dia tahu perasaan adiknya saat ini, dan memakluminya.


 


 


  “Bagaimana dengan kamu, Ren?” tanya Mbak Meli.


 


 


  “Aku balik ke kantor, Mbak. Masih ada beberapa barang yang ingin aku ambil di sana,” kata Maureen kemudian bersiap untuk pergi mengikuti Mbak Meli.


 


 


*****


Rumah Dina.


 


 


  “Apa?” tanya Dina tidak percaya.


 


 


  Beberapa menit yang lalu telepon genggam Dina berbunyi. Dengan perut besarnya Dina mencari ponselnya yang dia taruh di meja kamarnya.


 


 


  “Aku melihat sendiri, Din.”


 


 


  “Bukankah mereka kepergok di hotel sedang berbuat mesum? Aku takut Evo sedang bersandiwara padamu.”


 


 


  Maureen yang baru tiba di kantor, langsung menghubungi Dina. Dia masih shock dengan kejadian hari ini. Dia tidak percaya semua yang dia lihat. Indra sangat jahat. Untung saja Indra dan dia putus.


 


 


  “Tidak, Din. Kemarin aku yang salah. Evo yang benar,” Maureen membela Evo, “hari ini aku melihat sekujur tubuh Evo luka lebam. Wajahnya tertampar. Beruntungnya, Bastian datang tepat waktu.”


 


 


  “Ya, Tuhan. Berarti kita selama ini salah ya, Ren?” kata Dina menyesali perbuatanya. Dina ingat sekali telah menuduh Evo sembarangan. Dia menghina Evo tanpa ampun. Pantas saja waktu itu Rafael membela Evo.


 


 


  “Kita salah, Din. Aku sudah meminta maaf pada Evo sebelum kejadian tadi.”


 


 


  “Bertemu di mana?” tanya Dina.


 


 


  “Di perusahaan Pratama. Dia bekerja di sana sejak kemarin,” jelas Maureen.


 


 


  “Apa? Kenapa bisa?”


 


 


  “Ternyata yang memiliki saham perusahaan adalah adiknya Mbak Meli, yaitu Bastian.”


 


 


  “Tunggu, tunggu. Aku pernah mendengar nama itu,” ucap Dina. Dia berusaha mengingatnya, “dia yang disangka Karel itu sama Evokan? Cowok yang datang ke pernikahan aku waktu itu!”


 


 


  “Benar sekali. Ingatan kamu cukup tajam. Ternyata keluarga Mbak Meli orang kaya, Din. Buktinya dia bisa membeli perusahaan Pratama.”


 


 


  “Kamu benar, Ren.”


 


 


  “Besok siang aku akan datang ke rumah sakit menjenguk Evo. Apa kamu mau ikut?” ajak Maureen.


 


 


  “Aku akan memberitahumu, aku harus izin dengan Rafael. Sekarang dia sangat posesif padaku karena perutku semakin membesar.”


 


 


  “Baik, aku mengerti. Aku tunggu kabar darimu,” ucap Maureen kemudian menutup teleponnya. Maureen menghela napasnya. Semoga setelah ini Evo mendapatkan kebahagian dari Bastian.


 


 


   Maureen melihat frame foto dirinya dan Indra yang masih ada di mejanya. Maureen mengambil frame tersebut. Lalu membuangnya.


“Maafkan aku, Indra. Sudah tidak ada cinta lagi buat kamu. Kamu sudah mencelakai sahabat terbaikku.”


 


 


 


 


 


*****


 


 


NEWS!!


 


 


Ada cerita baruku judulnya : CINTAI AKU, MR. KANEBO!


 


 


Silahkan dibaca, like, komment, bintang 5 dan share sebanyak - banyaknya. Terima kasih.


 


 


❤❤❤