
"Paman!" Alastair berteriak.
Altair dan Golden Lion Namean mendekat ke arah Iris dan Carissa. Di bahunya terlihat seekor Epik Beast Violet Mink. Cerpelai berbulu ungu itu seperti sangat kelelahan.
"Maaf, kami terlambat."
"Kyuuu." Epik Beast Violet Mink itu melompat ke bahu Lynelle.
"Violet, apakah ayah yang menyuruhmu menyampaikan pesan? Kamu kehilangan 90 % mana element ruang milikmu. Butuh waktu setengah tahun agar mana element ruang milikmu terisi lagi!" Lynelle mengusap kepala Violet.
Violet menatap ke arah Winter dengan pandangan bermusuhan. Beast jenis ular dan jenis cerpelai adalah musuh utama di alam liar.
"Sudah lama aku tidak melihat Beast Violet Mink. Seandainya kamu adalah Beast jenis Cerpelai ranah Legendary aku akan langsung membunuhmu." Winter berkata dengan dingin.
"Cebol itu, menghancurkan semua rencanaku." batin Carissa.
Iris dan Carissa menarik kembali auranya dan pergi ke arah Altair. Carissa tahu apabila pertarungan dilanjutkan akan menjadi kerugian besar untuknya. Kekuatan Delia, Winter, Altair dan Namean sangat besar. Jika, mereka berempat bergabung bukan hanya dirinya bahkan Kaisar Alcander akan kewalahan.
"Seandainya tidak ada Winter, Delia dan Namean. Aku mempunyai kesempatan 50% untuk mengalahkan Iris dan Altair," batin Carissa.
"Winter, maafkan aku karena telah pergi ke wilayah kamu bersama Namean." Altair berkata.
"Manusia, aku tidak keberatan. Namean hanyalah Legendary Beast yang bahkan tidak dapat menjaga keluarganya." Winter berkata.
Ada aturan tidak tertulis antara para Beast rank tinggi yaitu mereka tidak boleh pergi ke teritorial Beast rank tinggi lainnya. Apabila mereka melanggar mereka akan bertarung dan yang kalah akan mati atau pergi dari wilayah itu, kecuali Beast rank tinggi itu hanya lewat, kerabat atau ingin menjadi pengikut.
"Ular, mari bertarung sampai mati!" Namean memperkuat auranya.
"Namean, apakah kamu masih mencari telurmu? Bagaimana, dengan istri Harimau bersayap mu? Apakah dia meninggalkanmu dan pulang ke Klan? Dia pasti sangat kecewa. Bagaimana, dengan White Slaughter? Aku rasa dia akan datang mencarimu untuk membunuhmu." Winter terus memprovokasi Namean.
"Auuuummm..." Namean menerkam Winter.
Winter dengan cepat menghindari serangan Namean, kemudian mencambuk Namean dengan ekornya. Namean terlempar dan tubuhnya menabrak pohon besar.
"Namean, aku tidak ingin bertarung denganmu. Kamu adalah seekor singa yang sudah kehilangan taring. Aku hanya ingin mengatakan bahwa manusia itu pasti mengetahui keberadaan anakmu." Winter berkata dengan dingin, kemudian melirik Marquis Edgar dan pergi dari tempat itu bersama para Beast pengikutnya.
Semua orang terdiam. Namean dapat dihempaskan hanya dengan satu serangan. Carissa dan Iris sedikit pucat. Mereka sadar akan sesuatu meskipun hal itu samar, tetapi mereka sekarang yakin Winter sudah menembus ranah Mythical Beast.
"Namean, apakah kamu baik-baik saja?" Altair bertanya.
"Altair, aku baik-baik saja. Cepat selesaikan urusanmu. Jalan pikiran Ular itu sulit untuk di prediksi aku takut suasana hati ular itu berubah dan menyerang kita." Namean pergi ke arah Marquis Edgar.
"Nona Carissa, paman Altair, bagaimana jika kita membicarakan ini di dalam kastil Regulus." Alastair membungkuk.
Altair mengangguk, kemudian memanggil Namean untuk ikut. Akan tetapi, Namean menolak. "Altair, aku mempunyai sebuah urusan di sini! Kamu pergi dan selesaikan urusanmu dengan cepat." Namean, mengendus bau Marquis Edgar. Dia penasaran dengan perkataan Winter.
"Bibi, aku ingin terbang bersama Peach dan melihat wilayah Regulus." Lynelle tersenyum.
"Baiklah, tetapi kamu tidak boleh pergi ke wilayah Winter. Jangan bertindak bodoh! Eira akan berada di sampingmu."
...****************...
*Kastil Regulus.
Semua orang, kecuali Marquis Edgar duduk di meja berbentuk oval yang terbuat dari kristal berwarna biru.
"Iris, bukankah Diana menjadi pelayanmu? Aku tidak melihatnya." Delia bertanya.
"Diana, pergi bersama Tuan Urs ke Kerajaan Terra. Beberapa bulan yang lalu." Iris menjawab.
"Siapa Urs?"
"Nona Delia, tuan Urs adalah Dermawan Keluarga Bangsawan Regulus. Dia menyembuhkan putriku Blossom dari rasa takutnya." Alastair menjawab.
"Carissa dan Delia sudah 31 tahun kita tidak bertemu. Sejak, dibubarkan Party Golden Lion, ke sembilan anggota kita tersebar." Altair berkata.
"Semua orang, hentikan basa-basi kalian. Sekarang waktunya serius!" Carissa berkata.
Semua orang terdiam. Carissa adalah urutan ke 20 dari daftar 77 Star Benua Barat. Meskipun, Altair dan Iris juga masuk ke dalam daftar itu. Namun, mereka hanyalah urutan 75 dan 76.
"Carissa, aku sudah mengetahui semuanya dari surat Kaisar Alcander. Lazarus adalah putra dari mantan Putra Mahkota Kekaisaran Boreas sebelumnya Pangeran Arka. Aku hanya ingin meminta maaf karena tidak bisa melindungi Lazarus." Altair berkata.
"Seumur hidupku, aku baru melihat paman Altair meminta maaf." batin Alastair.
"Maaf? Permintaan maaf kamu tidak bisa menghidupkan kembali Lazarus. Iris, mengapa kamu tidak melarang si bodoh itu untuk tidak bertarung dengan Melanthios? Meskipun, kamu sedang hamil, tetapi kamu tahu Lazarus tidak mempunyai kesempatan untuk menang! Altair mengapa kamu memerintahkan Lazarus untuk bertarung dengan Melanthios?"
"Carissa, aku tidak memerintahkan Lazarus untuk bertarung dengan Melanthios. Ketika, Lazarus pergi ke Hutan Eternal Poison, aku sedang bertarung dengan Namean untuk membuat perjanjian." Altair menjawab.
"Carissa, aku sudah melarangnya. Akan tetapi, Lazarus pergi ke Hutan Eternal Poison diam-diam tanpa sepengetahuanku dan para penjaga. Aku mengetahui Lazarus pergi ke Hutan Eternal Poison dari Count Aaron." Iris menjawab seraya meneteskan air matanya.
"Altair, apakah kamu berani bersumpah?"
Iris adalah seorang Saint. Dia adalah seseorang yang jujur. Namun, Carissa masih belum memercayai Altair.
"Carissa, aku bersumpah atas Nama Kaisar, Keluargaku dan Dewi Cahaya Elektra The Great. Aku berkata jujur." Altair bersumpah.
Clarissa mencerna semua informasi. Dia merasakan ada sebuah keganjalan. Mengapa, tiba-tiba Lazarus pergi ke Hutan Eternal Poison untuk menantang Melanthios.
"Tok! tok! tok!"
Seseorang mengetuk pintu ruang pertemuan. Seorang pelayan segera membukakan pintu. Ternyata orang yang mengetuk pintu itu adalah Richard komandan Penjaga gerbang utara yang diangkat menjadi Ksatria Regulus.
Melihat Kaisar Altair Richard segera berlutut.
"Yang Mulia, saya ingin menceritakan sesuatu tentang Yang Mulia Lazarus. Anda boleh memenggal saya karena telah menyembunyikan hal ini. Setiap hari saya selalu merasa bersalah karena tidak menyampaikan hal ini." Richard bersujud.
Altair menyuruh Richard untuk berdiri dan menceritakan apa yang dia ketahui.
"Yang Mulia, 31 tahun yang lalu di malam sebelum tuan Lazarus pergi ke Hutan Eternal Poison. Saya melihatnya dengan seseorang."
"Richard, apakah kamu melihat ayah bersama seseorang!" Altair berteriak.
Altair menyuruh Alastair untuk diam, kemudian berkata. "Lanjutkan, ceritamu!"
"Yang Mulia, saat itu saya sedang berjaga di Taman Kastil Regulus. Saya tidak sengaja melihat tuan Lazarus dan Viscount Vincent Burton sedang membicarakan sesuatu. Wajah tuan Lazarus pada saat itu kelihatan sangat marah. Pada Keesokan harinya dikabarkan tuan sudah meninggal saat melawan Black Dragon Melanthios."
"Iris, apakah dia berkata jujur?"
"Kakak, dia berkata jujur." Iris berkata.
"Richard, kamu boleh pergi." Alastair berkata.
Richard membungkuk, kemudian pergi dari ruangan itu.
"Kakak, apakah kematian Lazarus berhubungan dengan Vincent?!" Iris sedikit berteriak dia bukan orang bodoh.
"Apakah, Vincent berhubungan dengan kematian Lazarus?" Carissa bertanya dengan ekspresi marah.
"Iris, apakah kamu sudah menyadarinya?"
"Kakak, aku sangat bodoh! 30 tahun lebih aku merasakan sesuatu yang janggal. Sekarang aku sudah mengetahui semuanya." Iris menggertakan giginya.
"Iris, aku juga terlalu bodoh! Seharusnya aku mengutus seseorang untuk mengawasi Lazarus. Meskipun, si bodoh itu selalu menolaknya"
Aura membunuh perlahan keluar dari tubuh Altair, Iris dan Carissa. Delia, yang ada di sana sangat bingung dengan perubahan peristiwa yang baru saja terjadi.
"Sejak kematian Lazarus, Vincent bergabung dengan faksi Keluarga Bangsawan Leontios. Sedangkan Aaron bergabung dengan faksi Keluarga Bangsawan Aslan. Apakah kematian Lazarus berhubungan dengan kedua Iblis tua itu?"
"Kakak, apakah kita harus berperang?"
"Iris, aku tidak ingin menjadi Kaisar tirani seperti paman Halbert. Kita tidak mempunyai bukti. Para iblis tua itu pintar memutar balikan Fakta dan kita juga tidak mengetahui seberapa kuat mereka."
"Aku sudah menduga pria itu adalah orang bermuka dua! Dia seorang pengecut! Aku ingat saat dia menggoda tunangan Agenor. Sehingga Lazarus bertarung dengan Agenor. Sebenarnya yang membuat Kekaisaran Lion Heart dan Kekaisaran Albion berperang lebih berlarut-larut bukan Lazarus, tetapi Vincent!" Delia yang diam memperhatikan semuanya tiba-tiba berkata.
Altair dan yang lainnya menatap ke arah Delia. Mereka, tidak tahu tentang cerita itu.
Delia, lupa bahwa pada saat itu hanya ada mereka bertiga. Delia, menceritakan semua hal yang dia tahu.
"Altair, aku dan Kekaisaran Boreas akan membantumu menyelidiki dan berperang melawan Kedua Duke. Memang di Benua Barat ada aturan Kerajaan lain tidak boleh ikut campur masalah Kerajaan Lainnya. Namun, berbeda dengan peraturan Kerajaan di Benua Utara. Untuk saat ini aku sudah menyelesaikan Kesalah Pahaman ini! Aku memaafkan kalian berdua." Carissa berujar.
"Tidak! Kekaisaran Lion Heart akan menyelesaikan urusan mereka sendiri." Altair berkata.
"Baiklah, Altair aku menghargai keputusanmu. Namun, pembunuhan Pangeran Kekaisaran Boreas adalah urusan Kekaisaran Boreas."
Iris teringat dengan cerita Winter.
"Kakak, Winter telah pergi ke Hutan Eternal Poison untuk mencari keberadaan mayat Lazarus. Namun, dia menceritakan suatu hal yang sulit di percaya."
"Ceritakan!" Altair dan semua orang berkata.
Iris mulai menceritakan semua apa yang dia dengar dari Winter.
"Tidak mungkin! Bahkan seseorang ranah Mythical yang tidak mempunyai Skill Imun terhadap racun yang tinggi tidak akan bisa bertahan satu hari pun di Kedalaman Hutan Eternal Poison." Delia berkata.
"Sulit di percaya! Kecuali Lazarus tidak ada seorangpun manusia yang dapat bertahan lebih dari satu hari di Hutan Eternal Poison." Altair berkata.
"Apakah Lazarus masih hidup?" Carissa bertanya. "Winter, juga mengatakan bahwa dia mencium bau Lazarus di sekitar sarang Melanthios."
"Meskipun, itu semua adalah asumsi liar, tetapi aku berharap si bodoh itu masih hidup meskipun kemungkinannya kurang dari 10%." Delia berkata.
Note: Apabila Alyssa berada di ruang pertemuan ini dan mendengar pembicaraan mereka, pasti mereka akan dengan cepat menyadari bahwa pria yang dimaksud oleh mereka adalah Urs/Lazarus.
...****************...
*Sarang Winter.
"Manusia, kamu lumayan kuat! Kamu dapat mengontrak 15 Beast rank tinggi dan berani menantang ku!" Winter berkata.
Lynelle dan Eira terlihat sangat kelelahan dengan bekas penuh luka. Di sekitar mereka tergeletak 15 ekor Beast rank tinggi muda yang penuh dengan luka.
"Peach! Fenris! Kalian semua bertahanlah!" Lynelle menyentuh kepala Peach.
"Tenang saja, aku tidak membunuh mereka semua! Aku yakin dalam beberapa tahun lagi, mereka akan dapat mengalahkanku dengan mudah." Winter berkata. "Apabila, kamu menantang Beast selain aku hanya dengan 15 Beast yang paling kuat adalah ranah Epik Beast. Kamu dan semua Beast milikmu akan mati!" Winter melanjutkan.
"Terima Kasih, Tuan Winter saat aku menjadi lebih kuat. Aku akan menjadikanmu Beast kontrakku! " Lynelle berseru.
"Hahaha. Aku menyukai tekadmu gadis muda. Apakah namamu Lynelle aku mengakuimu! Akan tetapi, aku tidak bisa membuat kontrak denganmu karena aku sudah menemukan Master yang tepat."
"Apa! Siapa orang itu?"
"Aku percaya orang itu masih hidup. Takdir akan menuntunnya kemari. Lynelle, jangan terlalu serakah! Ketika kamu semakin kuat pasti akan semakin besar tanggung jawab. Begitupun, dengan Beast Kontrakmu aku yakin mereka sangat mempercayaimu, tetapi ingatlah mereka adalah keluargamu bukan sebuah alat yang dengan mudah kamu buang."
"Tuan aku mengerti." Lynelle tersenyum.
Winter melihat ke atas langit.
"Sepertinya aku melupakan mengatakan bahwa di sarang Naga pasti akan banyak sekali harta. Namun, saat aku pergi dari sana aku tidak menemukan harta satupun! Hal itu yang membuat aku yakin Lazarus masih hidup!" Batin Winter.
*sementara itu di Kastil Regulus.
"Iris, apakah itu kerangka Black Dragon Melanthios?" Carissa bertanya.
"Ya. Tulang Mythical Beast Dragon ini sangat berharga untuk membuat Artefak Rank Epik dan Legendary untuk memperkuat ekonomi Kekaisaran dan kekuatan pasukan Kekaisaran dan Regulus." Iris menjawab.
"Iris, apakah kamu berkata Winter pergi ke sarang Melanthios?" Altair bertanya.
Iris mengangguk.
"Mythical Beast Black Dragon Melanthios adalah seekor Naga! Di setiap sarang Naga pasti banyak dengan timbunan Harta dan Artefak berharga yang dia jarah!"
"Altair! Aku baru ingat!" Iris berkata dengan ekspresi terkejut.
Pada saat itu emosi Iris tidak stabil. Dia baru ingat bahwa Naga adalah Beast yang sangat kaya. Orang-orang selalu mengatakan "Jika, kamu ingin menjadi orang terkaya di kota maka jarah sarang Naga."
"Iris, kamu sangat pintar, tetapi kamu akan selalu ceroboh dengan hal-hal yang menyangkut Lazarus." Carissa berkata.
Iris mengingat saat Winter bercerita Alastair memotong cerita itu.
Apabila saat ini dia menanyakan tentang Harta Melanthios pada Winter. Winter akan menjawab "Manusia serakah! Aku tidak tertarik dengan harta! Apakah kamu ingin menyuruhku untuk pergi ke Hutan Eternal Poison lagi? Dalam mimpimu banyak sekali Beast kuat di sana."
Iris mendekat ke arah Alastair yang sedang memimpin orang-orang untuk membongkar kerangka Melanthios.
"Alastair." Iris tersenyum.
"Ibu, apakah kamu membutuhkan sesuatu?" Alastair bertanya dia merasakan bulu kuduknya berdiri melihat senyuman Iris. Perasaan yang tidak asing dia tahu bahwa Iris marah kepadanya.
"Ikuti aku ke ruang latihan."
"Tidaaaaak!"
Alastair mencoba melarikan diri dari Iris.
Namun, sudah terlambat Iris segera mengeluarkan Artefak berbentuk tali untuk mengikat tubuh Alastair. Setelah itu dia menyeret Alastair ke ruang latihan.
"Pa–man, to-tolong!" Alastair memohon dengan wajah putus asa pada Altair.
Altair dan Carissa hanya tersenyum. Mereka sudah tahu sifat Iris.
"Cassandra dan Blossom, aku sangat mencintai kalian berdua. Semoga kita dapat bertemu kembali di Taman Eden," batin Alastair yang tanpa sadar meneteskan setetes air mata.
Iris dan Alastair memasuki ruangan latihan. Sesaat kemudian terdengar banyak suara teriakan keputusasaan Alastair di ruang latihan.