Endless

Endless
Chapter 99



Fajar musim semi telah terbit, Malvin terbangun dengan tangan kanan yang sudah di perban. Mata hitam itu berpencar mencari sosok yang dia pikir tertidur di sampingnya. Keningnya berkerut, bukan Andrea melainkan Demetrio yang sedang berbaring sambil menatapnya dari atas sofa.


"Seharusnya bukan kau yang aku lihat."


Demetrio tertawa menangkap bantal yang di lemparkan Malvin. "Aku bahkan berfikir jika kau tidak akan bangun lagi."


"B a n g s a t! Keluar kau! Wajah yang ingin ku lihat adalah kekasihku, bukan wajah dingin mu itu."


Demetrio lebih mengeraskan suara tawanya, beranjak dari sofa melangkah lebih dekat ke arah sahabatnya. "Bagaimana perasaanmu, apa lebih baik?"


Malvin mengangguk pelan. "Apa kau mengancamnya?"


"Sedikit.".


Pria bermanik hitam itu tersenyum. "Aku yakin, dia akan mengadu tentangmu setelah ini, wanita keras kepala itu pasti akan membencimu," ucapnya sedikit bergerak untuk duduk. Dia bersandar pada punggung tempat tidur, bergerak di bawa selimut membuat dia gerah.


"Ya, dia sudah mengatakannya." Demetrio menatap lekat wajah sahabatnya. "Apa kau benar baik-baik saja?" Tatapan yang selalu datar dan dingin itu berubah menjadi kekhawatiran. Jelas terlihat di matanya yang tidak bisa diam, maniknya menelusuri sekujur tubuh Malvin memeriksa apakah ada yang aneh yang mungkin tidak dia sadari.


"Singkirkan wajah khawatir mu itu, kau membuatku bergidik."


Tahu apa yang di maksud oleh sahabatnya, Demetrio membalas dengan pukulan keras di dada tanpa baju yang bersandar manis di punggung tempat tidur.


"Aakh ...." Malvin tersedak seketika, membuat dia sedikit terbatuk.


"Kau pikir aku Gay!"


"Aku hanya bercanda," jawabnya dengan mengelus dadanya yang sedikit sakit.


"Aku akan memanggilkan kekasihmu, jika sedikit lebih lama lagi kau tidak melihatnya, kau akan semakin aneh." Setelah mengatakan itu pria berotot itu segera keluar untuk memanggilkan Andrea. "Kau memang wanita yang spesial. Tanpa kehadiranmu bahkan bisa membuat dia membaik dengan cepat," batin Demetrio.


"Selamat pagi Andrea," sapa Demetrio pada wanita yang baru saja akan menyantap sarapannya.


"Selamat pagi ...," jawabnya dengan lesuh. Wanita bermata abu-abu bahkan tidak menatap dia yang berbicara padanya.


"Jika sarapanmu sudah selesai, bisa kau membantuku untuk membersihkan tubuh Malvin? Aku memberi waktu 60 menit dari sekarang, jika kau terlambat melakukan tugasmu, maka ijin untuk berada di dekat Malvin tidak lagi kau dapatkan."


"What?" Wanita itu menatap marah pada anak buah kesayangan kekasihnya. "60 detik? Kau pikir aku robot?


Bagaimana bisa aku melakukannya dengan rentan waktu secepat itu!"


"Baiklah, kau menolak. Garilla! Lakukan tug---"


"Aku akan melakukannya," potong Andrea saat Demetrio akan menyelesaikan kalimat terakhirnya. Dia berlari menaiki tangga dengan cepat untuk bisa bertemu kekasihnya. Meski hanya 60 detik, dia tidak peduli, asalkan bisa melihat Malvin hari ini, itu sudah cukup.


"Enak saja! Mana mungkin dia menyuruh wanita tua itu untuk membersihkan tubuh kekasihku!" Andrea tiba di kamar dengan napas terengah-engah. Dia masih saja terus mengumpati Demetrio tanpa tahu seseorang tengah menatapnya dengan tersenyum tipis dari atas ranjang.


"Dasar pria tidak punya hati, 60 detik? Huh! Andrea berkacak pinggang, rasa jengkel pada Demetrio semakin bertambah. "Aku akan memohon pada Malvin untuk menyingkirkan mu nanti, tidak akan ku biarkan kau terus menindasku. Dasar pria menjengkelkan!"


"Siapa dia? Aku akan membunuhnya karena telah membuat kekasihku marah seperti ini," ucapnya dengan tertawa.


"Malvin!"


Andrea menatap tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Pria itu merentangkan tangan menunggu kekasihnya berlari untuk menggapai pelukannya.


"Mi manchi davvero. (Aku sangat merindukanmu.)"