Endless

Endless
Chapter 66



Sudah pukul Jam 6 pagi, dua jam lagi pesawat yang Malvin tumpangi baru bersandar di bandara.


Pria itu seakan menunggu ber abad-abad agar bisa mendarat. Gelisah dengan jantung yang terus berpacu cepat, apalagi keberadaan Andrea belum di temukan, membuat dia semakin gila.


"Bagaimana?"


"Kita akan segera mendarat Signore, setelah itu kita akan tahu apa yang sudah terjadi."


Malvin tidak bisa berhenti mengeluarkan napas berat, matanya terpejam dengan segala doa yang dia panjatkan untuk keselamatan Andrea.


"Qualunque cosa tu voglia prendere da me, prendila. A patto che lo salvi dovunque sia. (Apapun yang ingin kau ambil dariku, ambillah. Asalkan selamatkan dia dimana pun dia berada.)"


"Kita sudah sampai Signore."


Suara Demetrio menyadarkan Malvin. Pria itu berdiri, merapikan senjata miliknya yang sudah terisi penuh dengan peluru.


"Persiapkan diri kalian, kita akan mulai berburu, jika ada yang takut akan mati, maka jangan mengikutiku."


"Sì, kami bersamamu Signore."


"Hancurkan hingga tidak meninggalkan bekas."


Malvin terdiam sejenak merasakan tenggorokannya tercegat. "Serang mereka dengan membabi buta." Ucapannya membuat suara riuh bergemuru dengan belasan heli kompter yang sudah menanti. Siap menyerang untuk menemukan wanita yang di kasihi majikan Mereka.


****


Sejak dalam kurungan, Andrea terus saja di siksa oleh Marco, dia sudah tidak sadarkan diri sejak terakhir Marco memaksanya untuk meminum alkohol. Dia tidur seperti terbius, hingga tidak sadar apa yang sudah terjadi.


Siraman air pada wajahnya membuat wanita berambut panjang itu mengerjab kaget. Mata abu-abunya membulat saat sadar dia berada di sebuah gedung kotor dan lembab.


"Buon giorno, Andrea." Ucapan itu membuat maniknya berkedut.


"Di mana ini, apa yang kau-- Aaaw ...." Andrea menjerit karena luka-luka pukulan dari Marco dan dari ikatan pada kaki dan tangannya sudah sangat parah. Luka itu semakin perih saat dia bergerak, gesekan dari tali itu membuat luka.


"Bagaimana kabar Malvin apa dia merindukanku juga?"


"Lepaskan aku, Marco."


Pria berlesung pipi itu berdecak tawa. "Malvin menahan kekasihku Andrea, kau tahu itu."


Pria itu mendekat, menjambak dengan erat rambut cokelat milik Andrea. "Kau pikir aku tidak tahu jika dia menyukaimu, kau membuat kekasihku frustasi karena kehilangan tambang emas seperti Malvin."


Bukannya menjerit Andrea malah tertawa mendengar itu. "Malvin akan membunuhmu, Marco. Dia akan datang dan mengirimmu ke neraka."


Plak ....


"Berani sekali kau mengatakan hal seperti itu kepadaku."


Andrea memejamkan matanya saat Marco dan senjatanya mendekat.


"Tapi sebelumnya dia harus menjerit keras karena kekasihnya yang tiada."


Andrea menggeleng. "Aku mohon jangan lakukan itu Marco."


"Dasar! Wanita mu--"


Kalimat Marco terpotong oleh suara tembakan yang membabi buta. Bahkan satu peluruh melesat di bawa kaki Andrea hingga membuat wanita itu pingsan karena kaget.


Bukan karena Marco, melainkan Daniel dan para anak buah Malvin yang tiba di tempat itu. Mereka bahkan sudah melumpuhkan sebagian anak buah Marco dan mengepung tempat di mana pria itu menahan Andrea.


"Apa itu kau Daniel?" Pria itu menyipitkan mata saat berbalik. Saat matanya menangkap sosok Daniel, dia tertawa dengan keras. Daniel, pimpinan klan yang yang baru saja dia hancurkan berdiri di hadapannya.


"Kau berani menyerangku?"


"Bukan dia, tapi aku!" Marco menelan ludah kasar saat Malvin dengan gagahnya mematahkan leher anak buahnya. Pria itu menyamar sebagai salah satu anak buah untuk menghindari bertemu dengan Andrea. Namun, ternyata wanita itu malah pingsan dan tak sadarkan diri.


"Ma-Malvin!"


"Apa kabar Marco?"


"Kau di sini?"


Satu langkah maju Malvin membuat Marco berteriak, peluru Malvin menembus kulit perutnya dengan sangat tidak sopan. Pria itu terkapar dengan napas yang hampir putus. "Sudah ku peringati, menjauh atau kau akan mati."


Kini fokus mata Malvin beralih pada wanita yang terduduk tak sadarkan diri di depannya, luka pada ikatan kaki dan tangannya membuat mata Malvin bergetar. Dia menahan erangan, menjatuhkan senjatanya dan bersimpuh di hadapan Andrea. Malvin tersenyum miring wajahnya datar di sertai tatapan dingin. "Kau membuatku tidak sabar untuk segera menghabisimu Marco Endrique."