
Setelah mengatarkan Demetrio, Marisa bergegas kembali kekamarnya. Namun, sebelumnya, ia sudah memberi peringatan untuk pria berotot itu untuk tidak lagi mendekatinya. Dia juga menyuruh Demetrio untuk melupakan kejadian di taman tadi. Marisa sama sekali tidak mengenal Demetrio, tetapi pria itu dengan lancang sudah mencuri ciumannya. Mengingatnya saja sudah membuat kepalanya sakit. Kejadian memalukan itu seharusnya tidak pernah terjadi.
Wajah Marisa seketika menjadi merah. Ia tidak bisa menahan diri untuk mengepalkan tangannya. Pria berwajah dingin itu harus benar-benar kasih pelajaran. Hendak tidur, Marisa malah lupa jika ia harus membantu ibunya untuk membereskan dapur dan mempersiapkan bahan-bahan makanan.
"Oh tidak! Aku melupakan tugasku." Marisa mendesah, ia segera beranjak dari tempatnya dan melangkah menghampiri Dayla yang mungkin sedang mengomel di dapur. "Ini gara-gara pria dingin itu, aku jadi lupa harus membantu Mom karena terus memikirkannya."
Lazaro dan Dayla akan mengadakan acara syukuran kecil-kecilan atas hari bahagia keluarga mereka. Tidak akan ada yang di undang karena yang hadir hanya keluarga inti. Marisa sudah menawarkan diri untuk membantu Dayla mengurus perlengkapan di dapur juga dekorasi. Sebelum tidur, harusnya dia sudah menyiapkan segala-galanya agar besok tidak begitu repot. Namun, karena Demetrio yang terus mencari masalah dengannya, dia sampai lupa.
"Hai Mom."
"Dari mana saja kau, lihat! punggungku hampir patah karena terus duduk dan berdiri dari tadi."
"Maaf!" Marisa memegang kedua telinganya dengan wajah memelas. "Aku lupa, jika harus membantumu."
"Ya sudah! Kerjakan sisanya. Aaahh punggungku." Dayla berjalan seperti seorang nenek tua yang kehilangan tongkat. Dan itu membuat Marisa terkekeh di belakangnya.
"Hentikan tawamu dan cepat selesaikan semua itu, dan kembali tidur. Jangan kelayapan Marisa, aku tidak ingin melihatmu melukis di jalanan pada malam hari. Kau seorang wanita mana bisa seperti itu."
"Iya ... Aku mengerti," ujarnya dengan malas. "Lagi pula aku datang untuk mengunjungi keluargaku. Untuk apa aku keluar jika di rumah ada objek yang lebih bagus."
"Anak nakal!"
"Kau pikir semua orang di rumah ini senang menjadi objek lukisanmu? Aku masih ingat saat terakhir kau ingin melukis Andrea, kau membuat tubuhnya menjadi keram karena duduk seharian."
Marisa tertawa keras. "Itu karena dia yang terus bergerak, aku sampai harus berulang kali mengganti kertas karena posisinya yang berubah-ubah."
Dayla menggelengkan kepala, tidak percaya jika anaknya bisa sebodoh ini. "Mana ada pelukis yang tidak bisa mengingat objeknya sepertimu. Bahkan pelukis biasapun bisa melukis burung yang berterbangan di atas langit. Berapa lama kau sekolah melukis, aku penasaran seperti apa bakatmu sekarang."
"Oh Tuhan Mom! Apa kau sedang meremehkan keahlianku. Aku salah satu lulusan terbaik di sekolahku, asal kau tahu itu."
"Ya .... ya .... Maka buktikanlah. Tapi terlebih dahulu selesaikan pekarjaan dapur. Wanita tidak ada apa-apanya jika tidak bisa mengurusi dapur dan keluarganya."
"Huh?" Alis Marisa berkerut, menatap punggung Dayla yang semakin menjauh. "Ada apa dengan wanita tua itu. Akhir-akhir ini dia selalu berbicara tentang dapur, mengurusi keluarga, harus mahir memasak, harus melayani su--"Marisa menjedah ucapannya, ia terdiam seketika memikirkan semua ucapan Dayla saat dia tiba di Puelba hingga tadi. Mata cokelat itu membulat sempurnah saat dia mengerti dengan semua tingkah aneh ibunya.
"Apa dia sedang menyuruhku untuk cepat-cepat menikah?" Marisa mengusap puncak kepalanya dengan pelan. "Jangan bilang mereka ingin melihatku menikah karena Andrea dan Malvin."
.
****