
"Malvin." Paris keluar dari ruang operasi bersama dokter yang menangani Andrea.
Mengabaikan kemarahan Marisa, Malvin bergegas menghampiri Paris. "Bagaimana keadaan Andrea, apa dia baik-baik saja?" tanya Malvin dengan mata mencari penjelasan apa yang akan di katakan dari tatapan Paris yang begitu datar. "Paris aku mohon selamatkan dia apapun caranya. Aku mohon!"
"Kau tidak perlu cemas, Andrea baik-baik saja. Lukanya tidak terlalu dalam dan pendarahannya sudah terhenti."
Malvin membuang napas legah, begitupun dengan Demetrio juga lainnya yang ada di sana. "Terima kasih Paris, aku berhutang dua kali padamu untuk Andrea."
Paris terkekeh. "Tidak perlu merasa berhutang, aku adalah seorang dokter, dan itu sudah menjadi tanggung jawabku." Wanita itu masih menatap Malvin dengan kebingungan. Karena biasanya jika mendapati pasien dengan kondisi hamil, sang pria akan selalu menanyakan kondisi anaknya di banding sang istri. Kali ini ia melihat hal yang berbeda. Malvin sama sekali tidak menanyakan keadaan anaknya. "Apa kau tidak mengkhawatirkan anakmu?"
Malvin membuang napas kasar. "Aku juga sangat mengkhawatirkan anakku Paris. Untuk itu aku tidak bertanya. Dia adalah buah cinta pertama kami, aku takut mendengar kemungkinan yang membuatku kecewa. Lagipula, untuk saat ini kondisi Andrea lebih penting dari segalanya. Jika Tuhan berkendak mengambil anak ku, aku ikhlas. Kita bisa membuatnya lagi. Tetapi jika Andrea yang Tuhan ambil, maka hidupku benar-benar akan hancur."
Paris memberi ketenangan dengan menepuk bahu saudara kekasihnya. "Anak dan kekasihmu baik-baik saja. Namun, kondisi Andrea benar-benar lemah. Saat ini dia belum sadar, karena efek obat bius dari operasi kecil yang baru saja ia jalani. Kau bisa melihatnya ketika Andrea sudah dipindahkan ke ruangan."
Malvin terduduk dengan lemas. Ia benar-benar merasa legah, bahkan tidak tahan menahan rasa legah itu hingga ia meneteskan air mata. "Oh God! Thangs. Sekali lagi terima kasih Paris. Aku berhutang nyawa padamu."
"Aku seorang dokter, melakukan yang terbaik adalah tugasku."
Lagi-lagi, rasa haru itu datang, Hari ini sudah 2 kali Zigo melihat Malvin yang begitu berapi-api menunjukkan betapa Andrea sangat berarti untuknya. Dari semua kalimat yang Malvin ucapakan selama mereka saling mengenal ini adalah kalimat terindah yang pernah Zigo dengar. Rasa takut akan kehilangan wanita itu ternyata jauh lebih besar dari rasa cintanya.
Zigo menarik napas dalam-dalam seolah-olah dia sudah membuat keputusan besar. Dengan mantap, ia melangkah dan berhenti tepat di depan Paris yang sedang menjelaskan keadaan Andrea dan anaknya kepada Malvin dan Demetrio.
"Baby! Do you want to marry me?"
"Huh?" Paris menatap tidak percaya. "Jangan bercanda Zigo."
Paris membulatkan mata. "Apa kau baik-baik saja?" Tangannya meraba di bagian jidat memastikan jika kekasihnya tidak sedang Demam.
"Ada apa?" Zigo menurunkan tangan Paris. "Aku baik-baik saja Baby."
"Apa kau salah minum obat?" tanya Paris.
"Tidak." jawab Zigo serius.
"Lalu kenapa kau aneh."
Zigo menaikan satu alisnya. "Aku melamarmu Paris, kenapa kau malah mengatakan aku aneh."
"Kau aneh Sayang." Paris berlalu setelah mengatakan itu kepada kekasihnya.
"Hei! Kau belum menjawabku? pekik Zigo saat melihat kekasihnya benar-benar mengabaikannya.
Marisa dan Demetrio hampir saja tergelak saat Paris mengabaikan lamaran Zigo dan pergi meninggalkannya.. Padahal dia sudah begitu serius mengatakan isi hatinya. Berbeda dengan Malvin. Pria itu tampak sedikit kesal dengan tingkah Zigo. Bagaimana tidak, dia melamar kekasihnya dengan keadaan Malvin yang sedang terkena musibah.
•
•
Gays ada Giveaway ni buat 2 orang pemenang masing-masing akan dapat pulsa 50K. tapi di novel sebelah yah. Bakal aku umumin tgl 25 nanti. aku bakal ambil 2 top fans 1 mingguan dan 1 bulanan, di Novel aku yang judulnya Rine And Shine. Buruan kasi vote dan dukungan kalian di sana. jangan lupa like dan komentwr sebanyak² nya juga Tekan Fav. agar tiap up selalu ada notif.. 🥰😘