Endless

Endless
Chapter 85



Andrea mengerjab saat merasakan Malvin memeluknya dari belakang. Pria itu mencium bahunya berulang kali mencoba membuat Andrea terbangun.


"Kau melewatkan makan malammu Sayang."


Andrea enggan menjawab ataupun berbalik, dia semakin menenggelamkan wajahnya pada bantalnya.


"Garilla mengatakan kau terlihat sangat murung saat kembali dari taman. Apa ada sesuatu yang terjadi di sana tadi?"


Tidak ada jawaban, perempuan yang memiliki rambut panjang yang lembut itu tetap terdiam. Jika saja Malvin tidak memaksanya untuk berbalik, maka dia tidak akan tahu jika wanitanya sedang menangis. Malvin menegang mendapati pipi mulus itu di penuhi air mata. "Apa yang terjadi padamu, kenapa kau menangis?"


Andrea menggigit bibir bawahnya karena menahan untuk tidak mengeluarkan suara tangisnnya. Malvin yang melihat itu benar-benar bingung, dia meneriaki nama Demetrio dengan keras hingga membuat pria itu berlari seperti sedang di kejar.


"Aku di sini Signore," jawabnya dengan napas terengah-engah.


"Aku tidak apa-apa kenapa kau memanggilnya." Suara tangis Andrea semakin pecah saat melihat Demetrio masuk.


"Karena kau tiba-tiba menangis Andrea. Aku pikir kita akan berburu malam ini karena air matamu itu"


"Berburu?" Mata abu-abunya sedikit mencuri pandangan ke arah Demetrio yang berdiri dengan menyilangkan kedua tangannya siap menerima perintah apapun.


"Sepertinya, ini tidak harus melibatkan orang ketiga Signore. Anda harus menyelesaikannya secara lembuat dan bergairah."


"What!!" Sepasang kekasih itu kompak meneriaki Demetrio yang sudah lebih dulu menghilang.


"Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Malvin dengan raut wajah penuh pertanyaan.


Andrea menggeleng masih dengan air mata.


"Lalu ada apa denganmu, katakan! Jangan membuat ku bingung karena kau yang terus menanangis." Malvin menangkup wajah kekasihnya. "Katakan! Ada apa?"


"Aku hanya sedang merasa sedih dengan diriku sendiri."


"Aku bertemu dengan Sella saat berjalan-jalan di taman. Dia menceritakan bagaimana di bisa selamat dari maut mu."


"Lalu?"


"Itu sangat manyakitiku, bukan karena kau tidak membunuhnya. Tetapi karena aku tidak bisa membalaskan dendam kepada musuhku karena alasan yang bagiku itu konyol. Dia mengatakan melakukan itu semua karena terpaksa dan karena dia adalah seorang pelayan yang tidak ada hak untuk menolak perintah."


"Dan kau menangis karena itu?"


Andrea mengangguk. "Tidak mudah memafkannya."


"Aku tahu. Itu akan sangat sulit."


Perempuan itu tidak lagi bicara, dia duduk dan bersandar pada bahu kekasihnya. "Kenapa kau mengampuninya."


"Bisakah kita tidak lagi membahas tentang ini. Aku tidak ingin lagi bayangan itu terus mengganggu. Kita harus memulai sesutu yang lebih bahagia bukan."


Andrea terdiam, dia menarik napas dalam dan semakin mengeretkan pelukan Malvin. Manik hitam itu tersenyum menatap kekasihnya yang mulai terlelap. Dia menarik selimut untuk menutupinya. "Kau tidak lapar?"


Bukannya menjawab Andrea malah mengigit perut Malvin hingga membuat pria itu menjerit. "Aaakh ...! Apa yang kau lakukan! Itu sakit."


Suara tawa Andrea membuat Malvin tersenyum, itu artinya dia sudah melupakan kesedihanya. Dan seperti ucapan Demetrio tadi bahwa dia harus menyelesaikan itu dengan lembut dan bergairah. Maka darinya dia menarik selimut hingga seluruh tubuh keduanya tertutup dan membuat Andrea menjerit karena merasa sesak dan gelap.


Tanpa permisi, pria itu menghujani bibir kekasihnya dengan ciumannya yang tentu saja lembut dan bergairah. "Aku mencintaimu dari apapun di dunia ini Andrea Pricillia."


"Dan aku adalah wanita yang sangat beruntung di dunia ini karena memilikimu Malvin Alexander."


♡♡♡♡


Adegan selanjutnya di bab baru yeah 😆😆🤭🤭🤭