
Aku sangat tidak sabar melihat bagaimana kau mengemis untuk kehidupanmu Malvin. Hahahahahaha." Wanita itu kembali tertawa hingga suara pintu terbuka dan kembali menampilkan Santos yang kembali datang dengan raut wajah datar.
"Hei! Untuk apa kau kembali? Bukankah kau ha-- Aakh."
Ucapan Arsula di akhiri dengan teriakan rasa sakit yang membuat dia seketika tersungkur jatuh ke lantai. dengan dara segar yang keluar dari lehernya.
"Tuan!" Santos maju dengan dua pria yang sedang mendekapnya. Bukan hanya Santos. Namun, juga Sella, wanita yang menuntut jalan untuk menemukan persembunyian mereka.
Ketika tatapan Malvin bertemu dengan Marco, pria itu seperti kekurangan pasokan oksigen. Saking kagetnya, Marco sampai menabrak beberapa barang yang ada di sekitarnya karena ingin menjauh.
"Malvin ...."
"Ternyata kau terlihat baik-baik saja setelah 2 peluru itu menembus kulitmu." Malvin semakin mendekat. "Sepertinya Semua peluruh pada senjataku harus ku habiskan untuk pria tangguh ini."
Malvin kembali menarik pelatuk dan Santos yang ada di hadapnya tertembak dengan begitu brutal oleh peluruhnya. Malvin menembak tanpa ampun hingga tersisa satu peluruh, dan itu dia tembakan tepat pada kepala Arsula hingga wanita yang pernah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya itu meregang nyawa.
Adegan mengerikan itu membuat Marco semakin ketakutan, dia hendak melarikan diri. Namun, Demetrio dengan cepat memberikan tembakan di bawah kakinya hingga membuat dia kembali ke tempatnya.
Malvin tertawa keras melihat bagaimana pria yang beberapa bulan ini sudah menguji kesabarannya. Pria bermanik hitam itu mengisi kembali pistolnya, membuat Marco kembali menelan ludah kasar. Tanpa bicara, ia maju dengan langkah tegas dan berhenti tepat di depan Marco. Ujung pistolnya di arahkan di bawa dagu mantan kekasih dari wanita yang dia cintai. Mengangkat dagunya dengan wajah yang menunduk.
"Hari ini kau akan mati."
Pria itu berjongkok, bersimpuh di hadapam Malvin. "Malvin, aku mohon maafkan aku. Kau boleh melakukan apapun padaku, asal jangan membunuhku."
Malvin terkekeh. "Apa ini kau, Marco Endrique. Pria malang yang selalu mengusik di setiap kebahagiaanku?"
"Aku tahu, aku salah. Aku akan menembusnya semua dengan menyerahkan diri ke polisi." Marco memohon dengan sungguh-sungguh. Dia bahkan bersujud berulang kali di bawah kaki Malvin.
Sebuah pesan mengalihkan Malvin, dia merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. Pesan itu di kirimkan oleh Garilla. Akan tetapi belum sempat dia membacanya, Marco sudah menusuk pahanya dengan pecahan kaca. Dan itu tertancap cukup dalam.
"Signore!"
Demetrio berlari dengan melepaskan beberapa tembakan. Hanya satu yang menembus kulit Marco dari sekian banyak tembakan yang di keluarkan Demetrio. Dia berteriak keras ke arah luar untuk memanggil Agrio dan juga anak buah lainnya yang sedang berjaga.
"Signore!" Demetrio mengangkat Malvin dan menyandarkan kepalanya pada paha miliknya. "Malvin, bertahanlah. Kau belum membunuh musuh mu."
Dengan helaan napas yang begitu pendek Malvin berusaha untuk tetap sadar. Pecahan kaca itu benar-benar tertusuk dengan sangat dalam. "Bantu aku berdiri Demetrio."
"Sì!"
Sang sahabat yang setia itu mengangkatnya dengan sekuat tenaga di bantu oleh Agrio. Dengan tatapan yang tajam dia menatap Marco yang sudah terlentang dengan satu tembakan di bawah perutnya. Dengan di bantu dua anak buah terbaiknya, Malvin melangkah dengan satu kaki yang terluka parah mendekati Marco.
Tanpa aba-aba pria bermanik hitam dengan julukan dewa kematian itu menarik pelatuk hingga tidak menyisahkan satu peluruh pun pada senjatanya. Suara tembakan di ikuti jeritan keras Marco yang akhirnya mati di tempat. Dan Malvin, dia jatuh tidak sadarkan diri setelah melakukan pembalasan dendam terakhirnya.
"Tuan! Kita harus segera meninggalkan tempat ini, warga sekitar melapor kepada polisi dan sebentar lagi mereka akan tiba."
"Sial!" umpat Demertrio. "Agrio, bersihkan semuanya, jangan sampai mereka menemukan jejak kita. Tidak boleh ada yang tertanggkap, cepat! Tinggalkan tempat ini segera."
"Tuan, lalu bagaimana dengan Nona Arsula. Apa kita akan membawanya juga?
"Bawah dia kembali dan makamkan dengan baik. Biar bagaimana pun dia adalah sahabat ku dan Malvin."
"Lalu yang lain."
"Buang mereka di tengah laut! Biarkan hewan-hewan buas di sana menikmati mereka."