
Malvin mempersilahkan Garilla dan dokter masuk ketika ia sudah selesai dengan Andrea. Perempuan itu bahkan tidak sadar jika Malvin baru saja memakaikan pakaian umtuknya, dia tertidur dengan sangat pulas. Seperti biasa, dia selalu tertidur dengan damai meski orang lain sedang merasa tidak baik-baik saja. Mungkin juga karena bangun terlalu pagi dan juga kondisi tubuhnya yang sedang lemah karena terus-menerus muntah.
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Malvin saat dokter pribadinya selesai memeriksa kondisi Andrea.
Dokter Kriss, dia adalah dokter pribadi Malvin, semenjak dia mengalami trauma Atas kehilangan Daisy, Dokter Kris yang menanganinya, hingga ia memutuskan untuk mempercayakan semua urusan kesehatannya kepada pria itu. Meski sebenarnya dia bahkan sangat sibuk di rumah sakit karena dia adalah dokter umum dengan spesialis psikologi.
Kriss menoleh pada Garilla, dia ingin menjelaskan kenapa Andrea menjadi mual. Namun, sedikit risih karena kehadiran kepala pelayan itu. "Maaf Garilla, apa kau bisa memberiku segelas lemon tea?" Kriss membuat alasan, jika dia mengusirnya tentu saja wanita tua itu akan merasa tersinggung.
"Tentu saja Dokter."
"Terima kasih Garilla, jangan lupa berikan sedikit es di dalamnya."
"Sì, Dokter." Garilla sedikit membungkuk sebelum ia melangkah pergi.
"Apa ada hal serius tentang kesehatannya?"
Dokter Kriss tersenyum, dia meninju pelan pada dada kanan pria yang sudah seperti adiknya sendiri itu. Malvin dan Kris hanya beda 2 tahun dalam soal usia. Namun, jika menghitung soal ketampanan, keduanya berada dalam kategori yang sama. "Apa kau sudah siap?"
Malvin mengedikkan bahunya lalu duduk di tepi ranjang mengelus lembut pada rambut cokelat milik kekasihnya. "Dia akan baik-baik saja bukan." Wajahnya tampak sangat khawatir.
"Kau akan menjadi seorang Ayah Malvin. Kekasihmu sedang mengandung."
Malvin mengerjabkan matanya. "Oh God! Apa ini benar? kau tidak sedang mengerjaiku bukan."
"Apa kau tidak menginginkan kehadirannya?" Kriss menatap Malvin dengan tajam dan tampak megintimidasi.
Malvin beranjak dan meraih Kriss, memeluknya sudah dengan air mata. "Aku sangat bahagia Kriss, sungguh! Aku sangat tidak sabar untuk melihat perkembangannya."
"Aku turut bahagia atas kabar ini, semoga kau bisa meyakinkan kekasihmu untuk tetap mempertahankannya."
Malvin menggaruk keningnya yang tidak gatal. Yang di katakan Kriss memang benar, bagaimana jika Andrea tidak mau, bagaimana kau dia menolak untuk mempertahankan jainnya. Malvin menoleh pada wanita yang masih tertidur di sana. Perasaan yang tidak menentu kini menyelimutinya.
"Aku yakin kau bisa. Katakan dengan penuh pengertian agar dia tidak syok."
Malvin memijat di antara kedua keningnya. "Bagaimana jika dia menolak."
"Tidak ada wanita yang bisa menolak hal seperti itu, bukankah kalian akan menikah. Yakinkan dia Malvin. Ini bukan hanya tentang kalian berdua tapi juga janin yang ada di dalam rahimnya."
"Aku mengerti."
"Baiklah, sampai bertemu lagi. Kabari aku segera jika kau membutuhkan bantuanku."
"Sì, terima kasih Kriss."
Kriss tersenyum. "Aku pergi."
Malvin mengangguk. Setelah Kriss keluar ia mendekati Andrea, pria bermata hitam itu memberikan ciuman berulang kali pada wajah kekasihnya. Pipi, kening bibir, dahi, dia memberikan ke seluruh wajah wanita bermata abu-abu itu. "Aku sangat bahagia Andrea, ku harap kau pun begitu."