Endless

Endless
Chapter 88



Andrea memutuskan untuk mengerdilkan tubuhnya, terdiam sepanjang perjalanan. Demi Tuhan, Andrea, bahkan dia tidak berani menatap Malvin yang sedari tadi terus saja menertawainya. Ini hari yang sangat memalukan baginya.


Pasalnya, dia mengira bahwa wanita yang di maksud oleh Malvin adalah benar-benar seorang wanita, maksudnya adalah wanita sungguhan yang masih bernyawa. Ternyata, wanita yang di maksud oleh kekasihnya itu adalah Daisy, adik perempuannya yang sudah meninggal. Dia sangat malu saat Malvin mengatakan nama itu.


Mereka akan mengunjungi pemakaman hari ini, bunga-bunga itu akan di bawa untuk Daisy karena hari ini adalah ulang tahunnya yang ke 23 tahun. Andrea baru tahu, jika wanita itu lebih tua beberapa bulan darinya. Pantas saja Marco menyukainya, pria itu memang menyukai wanita yang dewasa.


"Ayolah Malvin, hentikan suara tawamu itu, aku tidak menyukainya," ujarnya saat mobil sudah berada di salah satu tempat pemakaman mewah di Kota Verona.


Suara tawa pria itu bukannya meredah malah semakin menjadi. Dia benar-benar tidak menyangka jika Andrea akan berfikir sejauh itu. Bahkan dia tidak mengira jika Andrea akan sangat marah hanya karena dia mengatakan ingin menemui seorang wanita.


"Apa kebiasaan bertanyamu itu sudah hilang? Bukankah itu adalah keahlianmu?"


"Dari mana kau tahu kebiasaanku itu?"


"Garilla memberitahukan beberapa hal yang biasanya selalu kau lakukan."


"Kau sangat memalukan, untuk apa kau bertanya padanya?"


"No! Sayang. Garilla mengatakanya dan memintaku untuk memakluminya saat kau melakukannya nanti."


"What?"


Malvin mengabaikan ekspresi kaget kekasihnya. "Rapikan pakaianmu, Sayang. Kita akan menemui salah satu wanita paling terpenting dalam hidupku."


"Sì," jawabnya dengan tersenyum.


Setelah selesai dengan itu, Malvin mengulurkan tangan Agar Andrea menggenggamnya. Dia selalu tampak gugup jika datang ke pemakaman adiknya. Dan Andrea menyadari itu, tangan pria itu terasa dingin dan berkeringat.


"Hei!


Malvin menoleh saat Andrea menahan langkahnya. Pria itu menaikan kedua alisanya bertanya dengan bahasa isyarat.


"Apa kau gugup?"


"Why?"


"Aku selalu merasa takut."


"Bukankah seharusnya kau bahagia. Tuhan masih memberimu kesempatan untuk terus mengasihi dan membuatnya tersenyum meski dia sudah tidak ada. Jika kau sudah tiada, tidak akan ada lagi orang yang akan datang berkunjung dengan membawa bunga sebanyak ini. Dan itu akan membuat dia sedih."


"Bukankah kita akan bertemu di sana saat aku tiada nanti?"


"No!" Andrea mengelus dagu kekasihnya dengan lembut. "Kematian tidak akan membuat kita bersatu dengan orang yang sudah terdahulu pergi."


Malvin terdiam, dia memikirkan kembali ucapan Andrea, dengan tatapan kosong dia meletakan bunga-bunga itu di atas makam Daisy dengan rapi. Salah satu bunga yang dia bawah adalah bunga Daisy, sesuai dengan nama adiknya.


"Apa karena itu kau gugup setiap kali datang?"


Malvin mengangguk pelan. "Aku selalu berurusan dengan kematian Andrea. Aku takut jika kelak aku mati, dia akan mempertanyakan apakah dendam itu sudah di terbalaskan atau tidak. Dan aku takut tidak bisa menjawab pertanyaan itu." Mata sang dewa kematian itu berair mengucapkannya.


ini ketiga kalinya Andrea melihat air mata Malvin. Dan itu benar-benar tulus. Andrea mendekat, memeluk erat tubuh pria yang sedang bersedih itu. "Dia akan sangat bahagai Malvin. Dendam itu sudah selesai. Kau tidak perlu merasa gugup atau takut jika di akhirat nanti kalian bertemu."


"Aku merindukanmu." Malvin mengelus nisan adiknya mengecupnya berulang kali. "Tidurlah dengan damai. Aku sudah menunaikan kewajiban terakhirku. Kau tidak akan merasa kesepian lagi bukan, aku sudah mengirimnya untukmu. Berbahagialah dengannya di sana."


Malvin menoleh ke arah Andrea, menyingkirkan beberapa helai rambut yang menempel pada wajahnya. "Aku datang dengan maksud memberi kejutan ini padamu. Tetapi, ini malah menjadi terlupakan." Malvin mencium jemari kekasihnya yang ada pada genggamannya. "Daisy, aku perkenalkan. Dia adalah Andrea, kekasihku tercinta. Maukah kau memafkannya? Kisah cintamu membuat aku menemukan berlian ini. Jika ada dendam yang masih tersimpan, aku harap kau menyerahkannya untuk aku selesaikan."


Andrea menatap bingung. "Apa? Dendam. Malvin apa yang kau bicarakan."


"Apa kau tidak dengar? Adikku memberi kekuasaan penuh untuk ku. Kau adalah milik ku sekarang."


Andrea tertawa mendengar itu. "Baiklah, aku bersedia menjadi tawananmu Tuan Malvin Alexander"


Dan Malvin mengakhiri semua kegilaan hari ini dengan bibir yang saling bertaut. Keduanya berciuman tanpa merasa canggung, penuh kelembutan dan cinta yang membara.