
Andrea .... Itu adalah satu nama yang membuat Malvin nyaris kehilangan kewarasannya. Belum pernah dia merasakan seperti ini saat menjalani hubungan dengan seorang wanita. Rasa takut akan kehilangan membuat dia seagresif ini terhadap Andrea. Bukan tanpa Alasan, dua kali dia kehilangan wanita yang benar-benar dia cintai karena sikap cueknya, keegoisannya tidak ingin memanjakan dan memberi perhatian lebih membuat Arsula menghianatinya. Dan dia tidak ingin itu terjadi untuk hubungannya dan Andrea.
Seulas senyum tergambar di sudut bibir Andrea. "Apa tadi kau baru saja cemburu karena ini." Andrea mengedipkan satu matanya untuk Malvin.
Demi Tuhan, Andrea terlihat sangat seksi, membuat dia semakin kesal karena pria yang di godanya adalah Zigo, pria yang memiliki hobby meniduri wanita.
"Oh Tuhan Andrea, hentikan! Jangan melakukannya lagi." Malvin menatap dengan mata yang penuh dengan amarah. "Dan kau tidak boleh melakukan itu kepada pria lain terutama Zigo," ucapnya dengan penuh penekanan.
Andrea tertawa geli melihat kecemburuan kekasihnya.
"Baiklah, aku hanya akan melakukannya kepadamu. Tuan Malvin." Andrea sekali lagi melakukan kedipan mata.
"Sayang, hentikan itu. Kau akan tidak akan dalam posisi aman jika terus melakukannya di depanku."
"Benarkah!" Andrea menduduki tubuh kekasihnya dan terus melakukan kedipan mata. Wanita berdarah Meksiko itu terus saja menggoda kekasihnya yang sedang membara dengan api cemburu.
"Andrea hentikan!" Pria itu mendekap tubuh Andrea agar dia berhenti menggodanya. Sejenak dia menatap wajah cantik itu, lalu membelainya. "Apa yang kau lakukan seharian ini, kau tidak melewatkan sarapan dan makan siangmu bukan?" tanya Malvin lada wanita yang kini tidur di atas tubuhnya.
"Seperti yang kau tahu, Garilla mengatakan aku harus menggoda Zigo agar dia tidak lagi mengganggu ku, dan aku juga tidak melewatkan sarapan dan makan siangku. Kau memperlakukan ku seperti anak kecil, selalu itu yang kau tanyakan."
"Aku hanya ingin tubuh kekasihku selalu berisi. Kau tidak boleh kurus, itu akan membuatmu tidak terlihat seksi."
Andrea mengerucutkan bibirnya, dia beringsut dan tertidur di samping kekasihnya. Dia mengangkat jemarinya dan menatap berlian biru yang menancap di jarinya. "Kapan kita akan meresmikan ini?"
Malvin menggenggam telapak tangan itu, membawanya mendekati bibir dan mengecupnya berulang kali. "Kapan pun kau menginginkannya Sayang. Apa kau ingin malam ini juga? Aku akan menyuruh Demetrio mempersiapkan semuanya."
Andrea menggeleng. "Kau harus ke Puelba Malvin. Temui ayahku sebelum kau menyuruh anak buah gila mu itu untuk menyediakan semuanya."
"Siapa yang berani menolak kekasihku, dia akan berhadapan denganku."
Malvin kembali tertawa, dia mencubit pelan pada pipi Andrea, membuat wanita bermata abu-abu itu menjerit manja.
"Aaw. Sayang!"
"Tidak sopan berkata seperti itu kepada orang tuamu, dia berhak menentukan siapa pria terbaik yang bisa mendampingi putrinya. Dan aku akan menghargai keputusannya nanti."
"Jika Ayahku tidak setuju, apa yang akan kau lakukan."
"Memaksanya, apalagi. Kau pikir aku bisa rela jika pria lain yang bersamamu nanti."
"Bukankah, kau mengatakan akan menghargai apapun keputusannya?" Andrea menjawab dengan bergeliat, mulai tidak bisa menahan cumbuan tangan Malvin di bagian punggungnya.
"Itu hanya kata kiasan Sayang. Aku bisa gila jika keputusan Ayahmu adalah menolakku."
"Aku pun...." Andrea tidak mampu melanjutkan ucapannya karena pria bermata kelam itu sedang melakukan sentuhan-sentuhan yang membuat gairahnya terbangun. Andrea menahan dada Malvin saat pria itu mendaratkan bibir di atas bahunya. Pria itu mempermainkan gairahnya dengan cara yang luar biasa.
"Malvin." Andrea mendesah saat jemari kekar itu mulai menelisik di sela-sela rambutnya hingga berakhir di menyapu bibirnya. Saat bibir keduanya hampir menyatuh, Andrea menahan dada kekasihnya dengan detak jantung yang begitu cepat.
"Malvin, kita belum menyantap makan malam, dan kau sudah mau melakukannya."
"Kita akan menyantapnya setelah hidangan pembuka ini selesai."