Endless

Endless
Chapter 104



Malvin melangkah memasuki Mansion dengan tergesah-gesah. Dia bahkan memarkirkan mobilnya begitu saja. Ketakutan akan Kelakuan Zigo membuat dia tidak sabar untuk segera menemui Andrea.


"Di mana Andrea?"


"Di kamarmu Signore." Dia berlalu meninggalkan Garilla yang hendak mengatakan tentang Zigo.


Dengan langkah panjang Malvin menaiki tangga menuju kamarnya mendorong pintu kamarnya. Namun ternyata pintu itu terkunci.


"Andrea! Andrea buka pintunya!"


Malvin mengedor-ngedor pintu kamarnya berulang kali karena Andrea yang tidak kunjung menyahut. Membuat Pikirannya malah terbawa ke arah yang bukan-bukan.


"Andrea!!" Suaranya semakin terdengar kasar saat bayangan Andrea dengan wajah sensualnya saat menggoda Zigo tadi muncul di benaknya.


Andrea yang baru saja menyelesaikan mandi sampai lari dengan terburu-buru hingga lupa jika dia hanya menggunakan handuk sedada. Dengan melilitkan handuk kecil di kepala dia membuka pintu. "Malvin! Kau sudah kembali?"


Melihat Andrea yang membuka pintu dengan handuk sedada membuat pikirannya semakin kacau. "Sedang apa kau? Aku memanggilmu dari tadi." Pria itu masuk dan langsung melangkah mendekati ranjang.


"Aku sedang mandi Sayang, ada apa? Kau mencari sesuatu?"


Malvin membalikkan tatapannya seketika. "Mandi? Untuk apa kau mandi, dan ...." Mata pria itu tertuju pada handuk yang melilit pada kepala Andrea. "Kau mencuci rambutmu?"


"Si, apa ada yang salah karena itu?"


Sesaat Malvin mengamati wajah kekasihnya dari dekat "Di mana Zigo?"


Andrea mengerutkan keningnya. "Zigo? Mana aku tahu. Mungkin saja dia berada rumahnya, untuk apa kau bertanya kepadaku."


"Andrea ...." Malvin sedikit menjedah kalimatnya sejenak untuk menarik napas. "Apa yang kalian lakukan di belakangku?" Pria itu berjalan mencari di segala sisi kamar hingga terlihat sangat berantakan.


"Apa yang kau lakukan bersamanya tadi pagi? Katakan!" Malvin menatap Andrea, yang jelas dia tidak ingin menyakiti wanita itu dengan kata-katanya. Akan tetapi, video yang di tonton oleh Demetrio terus saja terngiang-ngiang di pikirannya. "Apa kalian melakukannya? Apa dia sudah menyentuhmu?"


Mendengar suara Malvin yang sangat kasar dengan tatapan datarnya, Andrea mengerti. Demetrio pasti sudah menjahilinya dengan menunjukan Video itu. Namun, tetap saja itu terdengar menyakitkan


"Kau pikir aku sama sepertimu yang bisa menyentuh dan di sentuh siapapun? Aku bukan wanita seperti itu."


Wanita itu mangatakan dengan mata yang sudah berkaca.


Melihat itu, Malvin segerah meraih tubuh kekasihnya dan memeluknya. "Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf karena tidak bisa mengontrol emosiku."


"Ada apa, kenapa kau marah-marah dengan mengatakan hal-hal menyakitkan seperti itu padaku. Tidak ada yang terjadi anrara aku dan Zigo." Andrea melepas pelukannya melangkah maju meraih ponselnya di atas ranjang dan memperlihatkan Video yang Garilla rekam.


"Apa ini yang membuatmu Marah?"


Malvin menatap pada ponsel yang di berikan Andrea, benar saja, itu adalah video yang membuat dia marah. Dan kali ini dia menontonnya hingga selesai. Dia menatap kekasihnya dengan ekspresi kaget. "Kau mengerjainya?"


Gadis itu tertawa ringan meski masoh ada rasa sedikit kesal Andrea berjalan menuju walk in closed. "Itu adalah ide Demetrio, Saudaramu itu bahkan pergi sebelum kita memulainya."


"What?" Mata Malvin menatap tajam, mulutnya sedikit menganga tidak percaya.


"Maksudku memulai untuk mengerjainya Sayang, bukan tentang itu. pikiranmu selalu saja kotor."


Malvin memekik. "Ya Tuhan!"


Andrea keluar dari walk in closed dengan senyum yang tidak berhenti mengembang. Dia bahkan tidak ingin kembali membayangkan wajah Zigo saat wanita itu merayunya. Dan kekasihnya yang marah-marah karena berfikir dia dan Zigo melakukan sesuatu.


"Jangan tertawa," geram Malvin, ia menarik pinggang kekasihnya, dengan gerakan tidak terduga Malvin mengecup pada bibir kekasihnya sekilas. "Berhenti tertawa kau membuatku malu."