Endless

Endless
Chapter 54



Andrea berulang kali menghirup udara dan membuangnya dengan kasar, wanita itu berdiri dengan gelisah menunggu sang singa yang masih belum terbangun. Sudah pukul 12 siang, matahari sudah menunjukan kegagahannya setelah dingin menyelimuti semalaman. Tetapi Malvin, belum juga sadar, dia masih terkapar dengan dahi yang sesekali berkerut.


Wanita dengan mata abu-abu itu melangkah mendekat, lalu duduk di samping sang pria yang sedang terlelap untuk melihat lebih dekat ke arah pria yang tertidur dengan beralaskan sofa tipis yang ada di gajebo. Entahlah, apakah dia tertidur, ataukah efek minuman yang membuat dia tidak sadarkan diri.


Andrea mengamati wajah Malvin yang begitu sempurna, pantas saja banyak wanita yang tergila-gila dengannya. Perlahan Andrea menyentuh rambut hitam lebat milik Malvin, mengelusnya dengan lembut, membuat kerutan di kening sang pemilik julukan dewa kematian itu sedikit menghilang. Perlahan, fokusnya kembali pada ujung mata Majikannya. Mata Andrea terbuka seketika, pria itu mengeluarkan air mata dalam tidurnya.


"Apa yang sedang kau mimpikan hingga membuatmu mengeluarkan air mata Signore?"


Kesadaran menguasainya, jemari lentik yang hendak dia ulurkan untuk menghapus air mata itu ia tarik kembali. Andrea merasa tegang, dengan segera dia mundur dan bergegas menjauh dari Majikannya. Namun, saat melihat Demetrio yang menatapnya dari kejauhan dengan sorot mata dingin. Segera dia berbalik dan duduk kembali di samping Malvin. Jika saja Demetrio tidak mengingatkan bagaimana pria itu menolongnya dari ancaman Arsula, mungkin saja dia tidak akan melakukannya.


"Apa yang harus aku lakukan?" Andrea menelan ludah.


"Signore .... Signore ...." Suara lembutnya terdengar begitu manis.


Sekali lagi dia memanggil, kali ini dia melakukannya dengan sedikit sentuhan.


"Signore .... Apa kau mendengarku? Bangunlah, ini sudah sangat siang. Kau akan kepanasan jika matahari semakin tinggi."


Seperti sebelumnya, angin yang menjawab, Andrea semakin merapatkan diri. Kini, dia ikut berbaring di samping tubuh yang sedang terbujur. Andrea lalu mulai bercerita meskipun dia sedikit ragu-ragu.


"Apa yang kau rasakan saat di hianati orang terdekatmu, apa sakit? Aku sudah pernah merasakannya Signore, itu sangat sakit. Aku bahkan mencoba membuat diriku menjadi gila, berulang kali aku mencoba membunuh diri. Namun, yang ku dapatnya malah hanya kesakitan. Untuk itu aku kembali kepada keluarga ku." Andrea menatap langit-langit gajebo yang di ukir seperti sebuah labirin.


"Banyak orang yang masih membutuhkan kita, banyak yang masih mencintai kita. Jangan terlalu tenggelam dalam kekecewaan Signore. itu tidak akan merubah apapun." Wanita itu mendesah sejenak sebelum melanjutkan.


"Hadapilah kenyataan Signore, lawan rasa sakitmu hingga menjadi terbiasa. Kau tahu ...." Andrea memiringkan badan agar bisa menatap wajah Malvin. Namun, saat menoleh dia malah mendapati Malvin yang sudah tersadar. Dengan mata kelamnya, pria itu beradu tatapan hingga membuat gadis berusia 22 tahun itu menggigit bibir bawahnya. Lagi-lagi karena gugup.


"Kenapa berhenti, lanjutkanlah. Aku akan terus mendengarkan. Anggaplah kalau aku masih tertidur."


"Sejak kapan kau membuka mata?"


"Sejak kau mengatakan masih ada yang membutuhkanmu dan masih ada yang mencintaimu."


"Aku bahkan tidak memiliki keluarga Andrea, lalu siapa orang yang masih membutuhkanku dan juga mencintaiku? apa kau tahu siapa?" ujar Malvin dengan nada menggoda.


"Ti-tidak."


Malvin meraih pinggang wanita itu, mengikis jarak di antara keduanya. Dekapan Malvin begitu hangat, padahal ini adalah musim dingin. Mungkin karena musim sudsh mukai berganti, membuat matahari bersinar cukup terik hari ini.


Merasa tatapan Malvin yang begitu tajam menembus hingga ke dalam jantungnya, Andrea sebisa mungkin menguasai dirinya. "Signore, menjauhlah, kita terlalu dekat."


"Bukankah sedari tadi kau yang sedang mendekatiku?"


Andrea mengerucutkan bibirnya dengan kesal, mencoba lepas dari dekapan Malvin. Meski sebenarnya dia tidak kesal, justru dia merasakan wajahnya semakin panas mengingat betapa sangat nyamannya berada dalam dekapan Malvin.


"A--aku hanya."


"Hanya ...?"


"Aku hanya sedang menenangkanmu Signore."


Malvin tertawa mendengar pengakuan Andrea. "Aku sangat tenang, untuk apa kau melakukannya." Ia mengusap pipi mulus Andrea berulang kali. Dan Andrea tidak menolaknya sama sekali. Mungkin, karena dia terlalu fokus dengan apa yang di ucapakan Malvin.


Andrea menyeringai, lalu kembali menggigit bibir bawahnya saat mulai merasakan sentuhan tangan Malvin yang berpindah pada pinggangnya.


Melihat Andrea mengigit bibir membuat Malvin frustasi, wanita di depannya sangat cantik dan menggoda saat dia menggigit bibirnya. Pria itu menatap mata Andrea dalam-dalam "Andrea ...." Suara Malvin terdengar begitu berat.


"Hmm," gumam wanita itu.


Andrea merasakan sentuhan jemari Malvin di keningnya saat pria itu menyingkirkan sejumput rambut yang menghalangi matanya. Dangat lembut, hingga membuat dia seperti melayang.


Malvin mendekatkan bibirnya, sangat dekat hingga nyaris bersentuhan. "Aku menginginkanmu."